archives

Archive for

Great Expectation

Ada suatu malam, ketika saya tergesa-gesa pulang ke rumah, karena saya tidak sabar untuk segera menonton sekeping DVD film drama romantis yang sudah sekian lama saya tunggu keberadaannya dan saat itu sudah ada di dalam tas laptop saya. Perjalanan pulang di atas kendaraan yang membuat saya senewen karena macet dan musti mampir sana-sini, jelas makin membuat saya ingin berteriak, “Aaarrrggghhh!!”

Dengan perasaan yang menggebu-gebu, jelas membuat saya makin berteriak girang ketika jarak tempuh saya dengan rumah sudah semakin dekat. Tapi apa yang terjadi? Sampai di rumah, ternyata listrik padam! Gimana bisa saya nonton DVD – FYI, laptop saya nggak ada cd-rom-nya – kalau listriknya padam? Mau dicolokin ke lubang idung? Kalaupun bisa, emang ada yang rela idungnya dibuat colokan DVD player?

Saya kecewa setengah mampus.
Udahlah nggak bisa nonton DVD, ini ditambah dengan nggak bisa nonton tivi sama sekali. Apalagi laptop juga lupa di-charge sehingga baterainya sekarat. Demikian pula baterei ponsel. That’s so f**king amazing! πŸ™‚ Continue reading

I’m Invisible!

Ketika seorang rekan kerja di kantor harus tergelincir ketika hendak melangkahkan kaki kanannya yang beralaskan stiletto berwarna hitam di sebuah anak tangga pertama untuk mengantarnya kembali ke lantai tiga alias ruang kerjanya, semua orang serentak menoleh. Tidak ada yang berani berkomentar. Semua rekan-rekan kerja saya di lantai dua membisu dengan pandangan mata kosong ke arahnya. Ya, kecuali saya yang saat itu persis berada di belakangnya.

“Mbak N nggak kenapa-kenapa?” tanya saya. Khawatir, pasti. Saya bisa membayangkan betapa sakitnya harus tiba-tiba jatuh terduduk dengan tangan yang mencoba mencengkeram kuat pegangan tangga sehingga urat lengannya tertarik. Pantatnya pasti juga cenut-cenut.

Tak disangka, Mbak N malah meringis. “Sakitnya kalah sama malunya!”

Dan meledaklah tawa seluruh teman-teman kerja saya di lantai dua. Ya, menurut Mbak N, andai tadi tidak ada yang melihat, mungkin perasaannya bakal lebih baik-baik saja. Sakit di bokong dan urat lengan tertarik? Ah, temporary itu mah. Tapi kalau malu karena jadi pemandangan heboh di pagi hari? Stay forever! πŸ™‚

** Continue reading

It’s Not Worthless, but Precious

Dua hari yang lalu, topik obrolan di kantor adalah mengenai sepasang kekasih yang akhirnya musti berpisah karena mereka berbeda agama. Yang membuatnya istimewa adalah sepasang kekasih itu bertahan di dalam hubungan percintaan itu sampai tujuh tahun lamanya! Fantastis, kan?

Seorang kawan, dengan tanpa tedeng aling-aling, segera berkata, “Itu namanya buang-buang waktu!” Dan dari nadanya, entah kenapa, saya menangkapnya sebagai kalimat yang melecehkan pilihan hidup seseorang, melecehkan keputusan seseorang dalam menjalani hidup mereka, sehingga kemudian hati saya seperti berteriak sekalipun hanya cukup untuk konsumsi pikiran saya sendiri.

Diam-diam, saya menulis status di Facebook untuk menuangkan kekesalan saya. Saat itu saya menulis:

Ada obrolan tentang sepasang kekasih yang akhrinya berpisah setelah tujuh tahun pacaran karena berbeda agama. Seorang teman berkomentar, “Mereka buang waktu!” Tapi saya bilang, “Nope. Mereka pasti belajar banyak hal lewat tujuh tahun itu. Pelajaran yang mungkin tidak kamu ketahui, tapi membuat mereka menjadi lebih dewasa..” *Gosh, I hate people who’s being judgmental!*

Ya. Saya menulis begitu karena saya tahu tidak akan bisa meluapkan rasa marah saya kepada seorang rekan kerja yang setiap hari berbagi rejeki di tempat yang sama. Terlebih, kalau saya marah-marah padanya, apa bedanya saya dengan orang yang saya benci?

Setiap orang berhak memiliki pendapat terhadap segala sesuatu. Entah itu bakal sesuai dengan pola pikir kita atau tidak, mereka berhak menyuarakan pendapatnya. Memaksakan pendapat saya jelas bukan pilihan, sehingga yang saya bisa katakan saat itu adalah, “Hum… nggak tahu, deh, Mbak. Tapi aku yakin, kok, kalau mereka belajar sesuatu dari tujuh tahun pacaran itu…”

Karena saya selalu percaya, nothing comes for nothing. Selalu ada pembelajaran. Selalu ada maksudnya. Selalu ada tujuannya. Kamu setuju dengan saya? Continue reading

Senangnya Menjadi Bocah!

Memang sangat menyenangkan menjadi seorang bocah!

Pikiran ini terbersit karena seorang sahabat blogger, Uda Vizon, menempelkan video klip lagu Indra Lesmana yang bercerita tentang masa kecilnya yang menyenangkan di halaman Facebook-nya. Indra dewasa kangen dengan Indra kecil yang setiap hari selalu bermain, berlari, berputar, menari… Tsah! Seneng banget nggak, sih?

Sekonyong-konyong, saya teringat kembali dengan masa kecil saya. Seperti deskripsi Indra di lagunya, saat masih kanak-kanak dulu, tiada hari yang terlewatkan tanpa bermain… Ya. Bermain.

Kemudian, hm.. berlari-lari di jalanan, entah untuk bermain gobak sodor atau benteng-bentengan. Kompak dengan anak-anak tetangga yang ramainya menyurut ketika Maghrib tiba.

Lalu berputar-putar sambil menari… Ugh yeah! Dengan tubuh yang montog dan menggemaskan ini, saya dulu adalah seorang penari yang selalu mengisi acara tujuhbelasan sampai Porseni, dari tingkat lokal sampai internasional! Haha, bukan, saya bukan dikirim ke luar negeri, tapi saya selalu mewakili sekolah dengan menari di sekolah internasional Jepang dan menari dengan kawan-kawan saya.

It was fun!

Bermain..
Berlari..
Berputar..
Menari…
Hampir setiap hari!
Betapa menyenangkannya menjadi bocah, kan?

** Continue reading

2012: (Bukan Tentang) Kiamat

Suatu kali, saya membaca sebuah buku yang tergeletak di sebuah kursi, di rumah kakak perempuan saya. Saya lupa judulnya, tapi isi ceritanya adalah mengenai prediksi suku Maya tentang hari kiamat yang konon bakal terjadi pada tanggal 21 Desember 2012. Dari buku itu saya tahu kalau dari data-data scientific memang menyebutkan perkiraan mengenai peristiwa alam seperti jilatan lidah api matahari yang akan membakar planet-planet seperti Merkurius dan Venus, dan pada tanggal 21 Desember itu tadi, jilatannya sudah mencapai ke bumi.

Doom’s day.
Judgment day.
Kiamat.

….katanya.

Tidak lama kemudian, saya mendengar kalau bakal muncul film yang berjudul 2012. Wah, tentu saja saya senang bukan kepalang karena penasaran. Saya ingin tahu, bagaimana orang-orang hebat di bidang perfilman akan meramu sebuah cheap gossip tentang kiamat dua tahun lagi itu ke dalam sebuah film yang dibintangi oleh artis-artis Hollywood yang sudah punya nama, contohnya Mr John Cussack yang berperan sebagai supir slash penulis buku Farewell Atlantis yang saya bilang one lucky bastard (karena selamat terus dari awal sampai akhir.. hehe).

Makanya, ketika saya memperoleh tiketnya tanpa perlu susah payah mengantri (padahal, sampai hari ini, antrian tiketnya mirip orang antri sembako gratis!), saya merasa sangat beruntung. Sekalipun jam tayangnya hanya satu jam setelah saya pulang kantor dan letak bioskop yang ada di ujung dunia sana -hehe, lebay-, saya tetap nekat berangkat ke sana. Hujan badai saya terjang deh demi bisa duduk di dalam sebuah bioskop yang ramai — mulai dari usia anak-anak sampai embah-embah pun ada! Dipilih, dipilih, dipilih! hehe.

Dan, voila.

Hari Jumat kemarin saya berhasil duduk di dalam bioskop, deg-degan menanti film yang kabarnya bakal ditarik dari peredaran karena dianggap sebagai film yang haram. Yah, sebelum ditarik dari peredaran, saya ingin menjadi saksi kehebatan film yang membuat banyak manusia betisnya linu-linu karena lama mengantri itu!

Dua jam lebih saya menonton film 2012.
Dua jam lebih saya menyaksikan visual effectnya yang memang luar biasa.
Dua jam lebih saya ikut hanyut dalam jalan ceritanya.
Dan setelah dua jam lebih, saya malah tertawa ketika cerita berakhir.

Kamu tahu apa yang membuat saya tertawa?

Ya.

Saya tertawa karena saya ingat dengan label haram yang ditempelkan di film tentang massive destruction on earth karena force of nature ini.

Yaelaaahh…
Haram dari maneeee?????

**
Continue reading

Kereta yang Datang Terjadwal

Entah bagaimana suara isi hatinya ketika Dokter memvonis usianya tidak lagi panjang, tapi semua orang mendengar betapa gaduhnya ruang praktek Dokter ketika istri lelaki itu terjatuh dari kursi dan menimbulkan suara yang cukup jelas sehingga orang-orang mulai berkerumun.

Siapa yang tidak pingsan, kehilangan kesadaran, lalu terjatuh dari kursi kalau mendengar kabar usianya tidak akan lama lagi? Kalau dalam waktu tertentu, lelaki yang telah menemaninya selama bertahun-tahun dan membuat perutnya sempat membesar selama sembilan bulan lebih beberapa hari karena mengandung buah hati mereka yang kini masih berusia tiga tahun itu, akan segera meninggalkannya, anak mereka, juga semua manusia yang masih hidup dan bernafas di muka bumi, di waktu yang seolah terjadwal?

Lain dengan istrinya, si lelaki itu terlihat tenang. Ekspresi wajahnya sangat datar. Air mata tak menetes sama sekali. Ia memang sudah mengetahui resiko tentang penjemputan ajal itu beberapa tahun yang lalu, ketika bibit-bibit kankernya masih tumbuh sedikit.

Dokter mengatakan, “Sebaiknya segera dioperasi, lantas kemoterapi.”

Tapi lelaki itu berujar, “Tidak, Dokter. Saya takut. Saya nggak mau dioperasi. Biarkan saja.”

Bukan hanya takut dengan suntikan jarum, sayatan pisau bedah, jahitan benang yang tajam, atau kemoterapi yang dikabarkan akan membuat badannya panas, tapi ia takut dengan biaya-biaya yang muncul kemudian. Dia hanya seorang office boy. Memangnya dia bakal mendapatkan uang dari mana? Dari hasil sapuan kolong meja di kantor? Atau rontokan pohon uang di pelataran rumahnya?

“Saya nggak mau dioperasi, Dokter. Biarkan saja,” katanya sekali lagi, beberapa tahun yang lalu.

Beberapa tahun kemudian, dia datang ke Dokter lagi dengan keluhan yang lebih berat. Kanker-nya sudah merambat ke mana-mana. Kanker di hidungnya membuat hidungnya membengkak sebelah dan menjalar ke mata kirinya. Dokter bilang, “Kankermu sudah stadium empat. Dan kalau dibiarkan, bola matamu akan copot…”

…dan usiamu tidak akan lama lagi.

Tapi dia tetap tak sudi dioperasi. Dia dengan tenang menjawab, “Biarkan saja.”

Setenang itu dia menjalani kehidupan yang seolah berkelakar dengan keimanannya pada sang Pencipta. Sedangkan istrinya? Ah, perempuan tercintanya itu kemudian terjatuh pingsan dari kursi, lalu terbangun beberapa saat kemudian… dan meraung-raung tanpa henti.

Suaminya sedang memegang sebuah tiket kereta yang sebentar lagi, kalau tidak ada force of nature, kereta itu akan datang tepat waktu. Bagaimana mungkin seorang Istri sanggup untuk tenang, diam, dan tidak meraung-raung?

She’s gonna lose her husband. What do you expect?

** Continue reading

You are My Sunshine!

...sunshine...

Tadinya dia adalah lelaki yang saya anggap sebagai cahaya mentari.

Betapa tidak? Kehadirannya selalu memberikan cerah di setiap mendung. Senyumnya begitu ceria, melenyapkan galau. Gelak tawanya ketika kami bercanda, jelas membuat hati saya tak lagi galau. Ya. He was like a sunshine.. Bright sunshine… sampai kemudian, dia meredupkan cahayanya dan bersembunyi di balik gumpalan awan-awan pekat. Tidak keluar dari situ. Hanya mengintip saja.

Dia berubah. Tak lagi bersinar, tak lagi menerangi. Aura tubuhnya menjadi gelap dan hampir-hampir saya tak mengenalinya. Sama sekali. Tidak ada senyum yang mengembang begitu ceria, tak ada lagi hadirnya yang menghilangkan mendung, dan suara tawanya? Entah pencuri mana yang nekat mencurinya, tapi ia tak lagi tertawa! Continue reading

I’ve told you so!

Sering denger kata-kata seperti judul di atas, nggak?

I’ve told you so…

Atau, di dalam bahasa Indonesianya:
Aku sudah bilang apa

Atau, untuk lebih gaulnya:
Gue udah bilang apa ke elo, sih, Ciiiinnn…

Noup!

Saya sedang tidak menjadi guru Bahasa Indonesia atau guru BGGAMJS alias Bahasa Gaul Gaya Anak Muda Jaman Sekarang. Tidak, tidak. Saya sedang ingin cerita sama kamu soal betapa menyebalkannya kalau saya mendengar seseorang yang berkata, “Gue bilang apa…” atau “I’ve told you so” di telinga saya. Jujur, selain kuping saya memerah, hati saya bisa ikutan panas juga. Beugh! Menyebalkan!

Kenapa buat saya kata-kata itu menyebalkan? Bikin kuping saya merah? Hati saya panas? Continue reading

Tuhan, Tolong!

Sudah sekian lama saya jarang berdoa.

Sholat memang selalu wajib dilaksanakan. Bacaan-bacaan setelah sholat pun terbaca dengan otomatis; doa buat orang tua, untaian doa sesudah sholat fardhu, juga berdzikir dengan seuntai tasbih. Semua itu seolah otomatis. Usai mengucapkan salam kepada kedua malaikat di bahu kiri dan kanan, doa itu terlantun begitu saja. Ya, otomatis itu tadi.

Tapi, sudah sekian lama saya tidak berdoa. Bermesra-mesraan dengan Allah, sang Maha Pengasih juga Maha Penyayang, lalu mencurahkan seluruh isi hati, seluruh gundah gulana, seluruh gelisah yang menggelora, dan menumpahkan seluruh air mata bersamaan dengan luruhnya semua cerita.

Kenapa? Continue reading

Bitter Truth

Suatu kali, saya pernah memakai sebuah celana berbahan denim ketika (mantan) pacar mengajak saya keluar makan di dekat rumah. Celana jeans yang bentuknya pernah happening banget beberapa tahun yang lalu, yaitu sepanjang 7/8 dengan ujung yang melebar itu memang menjadi salah satu favorit saya. Longgar dan bahan denimnya tidak terlalu kaku.

Ketika hendak keluar rumah, mendadak dia bilang, “Ndut, ganti celananya, gih.”

Saya yang tengah bersiap memakai sandal pun menoleh. “Hah? Kenapa?”

“Jelek,” tukasnya.

“Ih, apanya yang jelek?” Saya masih ngeyel.

“Dibilangin jelek, ya, jelek. Udah, sana ganti.”

“Tapi celana ini enak banget, lho…”

“Terserah kamu, deh. Aku nggak mau pergi sebelum kamu ganti celananya.”

Berhubung saya malas bersitegang padahal sudah siap-siap berangkat, akhirnya saya pun nggak banyak cing-cong. Saya memilih untuk masuk kembali ke dalam kamar, menukar dengan celana jeans favorit saya yang lain yang berpotongan lurus. Ketika keluar, dia tersenyum.

“Nah, now you look much better,” kata (mantan) pacar saya itu, sambil menggamit lengan saya dan kami pun berjalan keluar.

Dalam hati saya masih nggerundel.
Segitu banget, sih, sampai saya musti ganti pakaian segala? Emangnya saya tadi keliatan jelek banget, apa?

* Continue reading

Catatan Harian

November 2009
M T W T F S S
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Celotehan Lala Purwono