you're reading...
daily's blings, Thoughts to Share

On the Front Seat

Kamu tahu apa yang paling menyenangkan dengan duduk di kursi depan sebuah mobil yang sedang melaju? Okay, sebelum kamu nuduh saya bisa nyetir mobil, saya mau kasih tau kalau yang dimaksud dengan on the front seat adalah duduk di kursi sebelah kiri, di sebelah kakak saya tercinta.

Ya, back to the question.

Kamu tahu apa yang paling menyenangkan dengan duduk di kursi depan sebuah mobil yang sedang melaju?

Hm..

Bukan karena faktor kenyamanannya saja; di mana di kursi depan selalu mendapatkan privilege tempat yang jauh lebih longgar,ย ย yang otomatis mendapatkan embusan pendingin ruangan paling maknyus…

Tapi karena dari kursi depan, pandangan saya bebas menjelajah ke seluruh penjuru. Menyeberang, sejauh mata saya bebas memandang. Sungguh, sangat senang sekali bisa dengan leluasa memandang dunia dari kursi depan sebuah mobil… apalagi ditambah dengan petikan pelajaran yang bisa membuat saya merasa lebih pintar! ๐Ÿ™‚

*

Sudah beberapa tahun ini, saya selalu duduk di kursi depan mobil sedan hijau milik kakak tercinta. Belakangan, memang sempat menjadi penumpang angkot yang setia, tapi sejak awal bulan Oktober ini, Bro menjadi ‘supir pribadi’ saya lagi. Haha, kakak sendiri di bilang supir, jahat bener ya?

Tapi memang, sejak awal bulan ini, Bro kembali berbaik hati mengantar-jemput saya ke kantor. Maklum, dia sudah pindah kerja di daerah Perak, yang hanya berjarak lima menit saja dari kantor saya…. oh, tapi bukan ini yang ini saya ceritakan.

Saking terbiasanya duduk di sebelah Bro, setiap hari Senin sampai Jumat, saya mendapatkan banyak pelajaran tentang safety riding, khususnya bersepeda motor.

Dengan kakak yang doyan ngomelin pengemudi sepeda motor yang gebleg, saya jadi banyak tahu soal…

1. Hey, sadar nggak, sih, kalian, para pengemudi motor… Kalau kalian nekat mengebut, menyalip-nyalip dengan kecepatan tinggi, lalu tidak mengindahkan kanalisasi… keliatan ngeri banget, tau? Dari dalam mobil, saya merasa ngeri sekali dengan ulah para pengemudi motor yang ngebut di jalanan, nekat memenuhi seluruh ruas jalan, dan membuat para pengemudi mobil menjadi tidak berdaya?

Dan…

2. Helm bukan buat penghias kepala, Darling! Helm dipakai karena berfungsi melindungi kepala kalian… and it’s for your own sake.

Gara-gara seringkali mendapatkan preview cukup mengerikan saat duduk di kursi depan mobil, melihat sepeda motor yang nyelip-nyelip ke tempat-tempat yang mustahil, ngebut-ngebut nggak karuan sampai terkadang melanggar lampu merah hanya karena jalanan sudah sepi, lalu malah ngebut kalau ada orang yang sedang menyeberang jalan *herannya, kadang mereka malah mengambil sisi depan dari penyeberang, bukan milih untuk mengurangi kecepatan lalu mengambil arah belakangnya.. lah ini kok malah nantang, kesannya?*, saya pun akhirnya menjadi pengemudi motor yang baik.

Iya, saya menjadi seorang pengemudi motor yang tahu diri.

Hari Sabtu kemarin, saya berjanjian dengan teman-teman kantor di Tunjungan Plaza. Karena sulit mencari angkot dari kompleks perumahan kakak saya, dengan terpaksa saya meminjam sepeda motornya. Jujur, rada grogi juga harus duduk di belakang kemudi seperti ini lagi, setelah dua tahun lamanya saya meninggalkan si Jemi, motor jet matic saya. Yang terbayang di kepala saya adalah, “Ntar kalo kesenggol mobil, gimana? Kalo kepleset oli, gimana? Kalo tiba-tiba ada yang ngerem mendadak terus jatuh, gimana?”

Trauma, parno, dan kawan-kawannya menyesaki isi kepala saya.. tapi, hey! Maju terus pantang mundur! Apalagi saya diajak kumpul ke Tunjungan Plaza kan dengan iming-iming ditraktir. Jadi, pepatah yang benar adalah “Maju Terus, Pantang Nolak Rejeki!” ๐Ÿ˜€

Saya pun mulai membekali diri dengan ‘perangkat tempur’ yang lengkap. Helm teropong yang sesuai standar keselamatan *sampai geraaaahh banget kepala saya! hehe*, sarung tangan tebel, kaos kaki, jaket berbahan curdoray yang tebel, dan bergaya ala pembalap. Tapi, tapi, pembalap yang patuh lalu lintas dan dengan kecepatan nggak lebih dari empat puluh kilometer per jam! Haha, pembalap insyap?

Penampilan boleh seperti pembalap. Soal gaya? Beuuugghhh… keren, deh, pokoknya! ๐Ÿ™‚ Tapi mengingat-ingat preview yang tertayang setiap hari dari kursi depan mobil sedan hijau milik kakak saya, yang ada saat itu saya mepet ke kiriiiiiii terus. Ada motor berhenti, saya ikutan berhenti, bukannya menyalip dari kanan. Kalau yang lain kebut-kebutan di tengah jalan, saya menghormati bener kanalisasi. Eh, bukan cuman karena saya patuh lho, tapi juga karena saya ngeri!

Iya, ngeri kalo disenggol, ngeri kalo ada penyeberang jalan sembarangan, dan ngeri kalo ada oli kececer di jalan. Parno, trauma, silahkan saja penuhi benak saya! ๐Ÿ™‚

Tapi, dengan tidak ngebut, dengan menghormati kanalisasi, dengan memakai helm yang tepat, saya merasa… oh boy, I am a good citizen! GR? He-eh! Saya bahkan ingin mencalonkan diri sebagai the best safety rider in Surabaya city.. Kurang GR apa coba? *Kurang GR? um, gimana kalau mencalonkan diri sebagai Miss Universe 2010?*

Hari Sabtu itu, saya sampai dengan selamat di Tunjungan Plaza, dan selamat pula sampai ke rumah. Tidak ada cerita soal kesenggol anu inu, tidak ada cerita soal mengerem mendadak sampai ngepot segala, tidaaakk.. tidak ada cerita soal hal-hal yang menyeramkan itu.

Gara-gara saya tahu gimana mengerikannya pengendara-pengendara motor yang ngawur buat orang-orang di sekitarnya, saya nggak mau dong, bikin ngeri orang lain karena ulah saya? Kalau dari quote yang saya baca kemarin, setiap orang harus menjadi example buat orang lain. Ya, siapa tahu, banyak yang akhirnya meniru cara berkendara seorang perempuan cantik seperti saya? *sambil kedip-kedip super ganjen* ๐Ÿ™‚

Hm,

Emang sih, kalau cuman saya aja dan yang lainnya teteeeeppp aja kebut-kebutan kayak orang punya nyawa sembilan biji, it wouldn’t make much difference.

Tapi, tapi.. Sepeti yang dibilang sama Michael Jackson via telepon, eh, via lagunya yang berjudul In Our Small Way, “Maybe you and I can’t do great things. We may not change the world in one day. But we still can change some things today… in our small way…”

Dan my small way adalah dengan menjadi pengendara yang takut ngebut karena takut jatuh dan takut mati… ๐Ÿ™‚

Hm,

Buat kamu-kamu, sahabat-sahabatku yang doyaaaannn banget memacu motornya dengan kecepatan tinggi, meliuk-liuk di jalanan seperti penari balet di atas panggung, dan berkendara tanpa memakai helm… coba deh, sekali-sekali duduk di kursi depan sebuah mobil. Tak perlu mobil pribadi, tapi naik angkot saja. Nikmati pemandangan di depanmu dengan bentangan pandangan seluas-luasnya. Perhatikan ulah-ulah pengendara motor yang menggeber kendaraannya seperti pembalap di sentul.

Kalau kamu tidak melihat sesuatu yang hebat, well, mungkin mobil kakak saya terlalu hebat sehingga saya bisa melihat adegan akrobatik yang luar biasa di depan mata saya…

Menyenangkan, bukan? ๐Ÿ™‚

***

Kantor, Kamis, 29 Oktober 2009, 5.03 Sore

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

9 thoughts on “On the Front Seat

  1. hmmm saya sebagai pengguna motor punya pandangan sendiri mbak!
    kenapa ngebut mungkin karena cuaca panas yang uangetnya minta ampun, jadi kalo bisa sampe di tujuan semakin cepat apa salahnya!
    nah kalo mobil kan enak, nggak kepansan terus nggak kena debu dan yang lainnya!
    jadi mengertilah dengan para pengguna motor yang mungkin agak kenceng ngendarain motornya.
    wkekekekekekeke

    grenggg kaburrrr!

    Posted by trendy | October 29, 2009, 5:38 pm
  2. Bener-bener “mudih” arek iki …

    ngebut jooo …

    Posted by nh18 | October 29, 2009, 7:25 pm
  3. โ€œMaybe you and I canโ€™t do great things. We may not change the world in one day. But we still can change some things todayโ€ฆ in our small wayโ€ฆโ€

    Love this one ๐Ÿ˜€ Kalo setiap orang berubah ke arah yang lebih baikk.. otomatis dunia juga akan berubah menjadi lebih baikk.. (semoga, ahahaha :D)

    Posted by Indah | October 29, 2009, 9:57 pm
  4. Kalau saya duduk di kursi penumpang depan alias nggak nyetir, jadi tahu banyak hal yg selama ini terlewatkan karena harus konsentrasi waktu nyetir … hehehe ๐Ÿ™‚

    Posted by Oemar Bakrie | October 30, 2009, 7:15 am
  5. ohh jadi si bromu yang gemblung itu pindah kantor? pantesan belum berani nyalain ym ;))

    Posted by yessymuchtar | October 30, 2009, 2:46 pm
  6. emang paling susah nyebrang jalan di surabaya.. pengendaranya gak mau ngalah ๐Ÿ˜ฆ

    coba semua pengendara spt Lala… hemmm

    Posted by albertobroneo | November 3, 2009, 7:54 am
  7. horeee, saya sudah tobat!

    Posted by nengbiker | November 12, 2009, 8:41 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

October 2009
M T W T F S S
« Sep   Nov »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: