you're reading...
daily's blings, Thoughts to Share

Abisnya…

Sudahkah kamu tahu kalau saya sedang diet merumput yang artinya hanya makan sayur-sayuran aja? No carbs, hanya sayur mayur dan sedikit lauk saja? Diet macam ini sudah berhasil membuat saya turun sampai delapan kilo pada masa awal-awal saya diet merumput.

Ya. Saya memang berhasil.

Tapi tahukah kamu, kalau saya akhirnya bandel dan mulai kembali menjadi karnivora, yaitu pemakan segala? Selain saya mulai aktif lagi mengunyah nasi, kentang, dan jenis karbohidrat lain, saya bilang “Pemakan Segala” adalah “Pemakan Segala.. yang ada di meja makan”! Alias.. um, rakus! 😀

Lebih-lebih setelah semingguan ini saya menginap di rumah Mbak Piet, kakak perempuan saya. Di mana isi meja makan selalu penuh dengan makanan, kulkas selalu penuh dengan cemilan, dan ada toko kelontong yang jaraknya cuman sepelemparan tombak saja. Bisa terbayang betapa gendutnya saya sekarang, kan? Mungkin saya udah nambah beberapa kilo lagi! U’oh!

Makanya, seringkali saya bilang, “Gara-gara Mbak Piet, sih…”

“Lho, kok bisa salahku?” tanya Mbak Piet.

“Ya, soalnya, di rumahmu banyak makanan!”

“Eh, ya salahin mulutmu, tho, Mbhienk. Wong mulutmu yang ngunyah terus kok nyalahin aku…”

Saya cuman tertawa. Ya jelas ini memang salah saya, sih. Memangnya seluruh makanan yang ada di meja itu tersaji khusus cuman untuk saya semata? Memangnya siapa yang suruh buat menghabiskan cemilan-cemilan enak di dalam kulkas? Dan kalau ada toko kelontong di deket rumah Mbak Piet, memangnya gara-gara saya, dia musti pindah tempat?

Yang salah tuh saya sendiri. Mulut-mulut saya sendiri. Nafsu pingin ngemil saya sendiri.

Mbak Piet, Mbak Meneer (asisten rumah tangganya), Chitato, Biskuit Trendz, es krim, nasi putih punel, sambel bajak yang super delicious, sayur asem yang seger…. jelas bukan mereka yang salah, melainkan saya! Kenapa juga musti menyalahkan orang lain?

Later on, it got me thinking about how I often blame others for things that happened to my life.

Saat berjanjian dengan seorang sahabat di Tunjungan Plaza lalu datang terlambat, saya bilang, “Angkotnya lelet! Kayak semut! Gue sampe stresss! Be there in thirty minutes…

Padahal kalau saya berangkat tepat waktu dari rumah, dengan memperkirakan jarak tempuh berikut dengan perhitungan menitnya, saya mungkin hanya terlambat sepuluh menit kalau memang angkotnya lelet luar biasa. Why should I blame others?

Saat tugas kantor belum selesai juga padahal sudah deadline, saya bilang, “Salah sendiri emailnya baru dateng jam tujuh malem, aku kan udah pulang!”

Padahal bisa saja, kalau saya mengerjakannya tanpa menunda lagi, saya bisa mengumpulkan laporan yang dibutuhkan tepat waktu alias tidak perlu minta kelonggaran sampai sejam. Why should I blame others?

Banyak lagi kedodolan-kedodolan saya dalam menyalahkan orang lain, when the blames were on me.

Saya musti berhenti menyalahkan orang lain dan mulai melihat ke dalam diri saya sendiri.

Apakah saya sudah berangkat tepat waktu?
Apakah saya segera mengerjakan tugas yang dimau tanpa perlu menunda?
Dan apakah saya benar-benar berniat untuk diet ketat no carbs?

Segala pertanyaan itu musti terlontar ke dalam hati kecil saya sendiri sebelum menyemburkan kata-kata emosi jiwa buat orang lain. Maybe, ada beberapa orang yang bisa mentolerir sikap ini, tapi, hey… memangnya semuanya bisa?Dan berapa sih kapasitas toleransi orang lain untuk mentolerir saya? Memangnya saya tahu?

Nah,

Berhubung saya nggak tahu apa-apa soal batasan toleransi orang lain buat saya, memang sebaiknya saya menahan mulut saya agar tidak terlalu sering berkata, “Abisnya…”

…angkotnya lelet.
…emailnya ndadak.
…rumahmu full makanan.

Dan mulai berkata..

…aku tadi berangkat terlambat.
…nanti akan segera saya kerjakan, secepatnya.
…makanku emang kebangetan! Rakus bener!

Dengan begitu, saya nggak perlu bikin sewot orang lain yang nggak merasa bersalah tapi disalahin melulu, seperti nasib kakak perempuan saya yang akhirnya berkata, “Dasar, Sihombing! Kalau pengen kurus, ya nggak usah makan. Beres!”

Daripada diomelin seperti itu, mendingan saya mulai berubah dari sekarang, deh… 🙂

***

Kantor, Kamis, 29 Oktober 2009, 3.14 Sore

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

6 thoughts on “Abisnya…

  1. Dan komentar saya singkat saja …

    “Prove it … !!!”

    Posted by nh18 | October 29, 2009, 3:49 pm
  2. aq jd takut mo ngasih cheese cake…nanti yg ada..”abisnya echa pake bawain cheese cake” ;D

    Posted by echa | October 29, 2009, 8:58 pm
  3. Mungkin lagunya si Milli Vanilli udah meresap masuk tanpa disadari, Laa, ahahaha :p

    Posted by Indah | October 29, 2009, 9:37 pm
  4. abisnya perut mbak lala segede gentong…
    hahahah…

    *kaburrrr…

    Posted by Hasian Cinduth | November 3, 2009, 2:48 pm
  5. Saya setuju..
    Itu juga salah satu kelemahan saya 😦
    Hiks..

    Mau berubah juga kok mbak.. -.-

    Posted by narpen | November 7, 2009, 11:42 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

October 2009
M T W T F S S
« Sep   Nov »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: