you're reading...
daily's blings, precious persons

Mister H; Angel & Demon

Pernahkah kamu duduk di atas sebuah kursi, di sebuah ruangan yang hening, dan di depanmu tidak ada siapapun kecuali seorang lelaki tua, dengan rambut yang hampir memutih di seluruh bagiannya, dengan wajah yang mulai keriput termakan usia, dengan tubuh yang tinggi besar juga gagah, dan senyum yang begitu kamu kenal?

Oh, maaf. Saya bicara soal Boss saya. Kecuali kamu adalah teman kerja di kantor saya atau orang-orang yang pernah mengenal Mister H – saya samarkan namanya – tentunya kamu tidak akan pernah merasakan betapa hebatnya sensasi setiap kamu duduk di atas sebuah kursi, di sebuah ruangan yang hening, dan di depanmu tidak ada siapapun kecuali lelaki tua tadi.

Lima tahun bekerja di sebuah perusahaan pelayaran ini membuat saya berkali-kali duduk di depannya, berbincang tentang banyak hal; pekerjaan, hidup, literatur-literatur menarik, atau berbincang santai soal keluarganya. Tapi di antara lima tahun saya bekerja menjadi salah satu karyawannya, baru setahun belakangan ini saya melihat Mister H sebagai seorang Bapak, seseorang yang menyayangi saya dan kawan-kawan sebagai anak-anaknya, bukan karyawan-karyawan yang pasti tunduk atas titahnya. Awal tahun 2009 ini, saya mengenal Mister H sebagai seorang lelaki yang hebat, seorang ‘Ayah’ yang luar biasa, seorang mentor yang telah mengajari saya untuk terus melangkah mesti hidup mulai terasa getir.

Empat tahun pertama, saya menganggap Mister H sebagai Demon, makhluk yang menyeramkan. Makhluk yang tidak bakal saya dekati kecuali saya nekat mati. Hei, saya tidak berlebihan. Kalau kamu bertanya dengan semua orang yang mengenalnya, mereka akan mengatakan hal yang serupa. Mister H adalah demon yang bisa menyalak hebat ketika marah atau mengetahui ada sesuatu yang tidak beres.

“Jangan cari penyakit,” kata seorang kawan.

“Jangan bikin Mister H marah,” kata kawan yang lain.

“Kalau Mister H marah, suaranya bisa menggelegar seperti petir!” imbuh yang lain.

Saya adalah seorang karyawan baru yang masih hijau dan tidak tahu apa-apa soal karakter seorang Boss yang letak ruangannya hanya dipisahkan oleh satu lembar dinding berbahan gypsum saja. Kalau saya nekat berbuat macam-macam yang memancing kemarahannya, bisa-bisa gypsum itu runtuh dan saya bisa mati tergencet! Lebay? Ah, kata teman-teman saya saat itu, semua bisa terjadi!

Itulah kenapa, selama setahun, dua tahun, sampai tahun 2008 kemarin, saya berusaha menciptakan jarak di antara saya dan Mister H. Saya berusaha untuk kucing-kucingan agar tidak terlibat dalam situasi dimana cuman ada saya dan Boss saya itu.

Sampai tiba di bulan Januari 2009, Tuhan akhirnya menghapus jarak itu dengan memberikan kesempatan pada saya untuk mengenal Mister H jauh lebih dekat. For the first time in years, Mister H menitahkan saya untuk membuat presentasi meeting untuk rapat tahunan di Jakarta. Sesuatu yang tidak pernah Mister H titahkan, tapi akhirnya menjadi kerjaan saya selama berhari-hari sehingga saya harus bekerja lembur hampir tiga hari lamanya.

Awalnya, karena Mister H menyuruh saya untuk membuat laporan yang spesifik hanya menyangkut tentang kepegawaian saja, sampai akhirnya, Mister H berkata, “Wah, bagus juga kerjaannya. Ya sudah, semua datanya saya kumpulkan di kamu saja, nanti kamu yang bikin presentasinya.”

It may sound simple, tidak membanggakan. Tapi buat seorang karyawan yang empat tahun merasa tidak bernyawa, tidak nyata, serta menempatkan jarak sedemikian rupa dengan Mister H, pengakuan dari mulutnya kalau saya adalah seseorang yang pintar pastinya akan melambungkan perasaan saya! Yay! Saya benar-benar GR, Sodara-Sodara!

Sejak saat itu, es mulai mencair. Mister H mulai mendelegasikan beberapa pekerjaannya kepada saya. Membuat statistik tentang market share, membuat laporan ini itu, berdiskusi tentang hal-hal yang akhirnya seringkali membuat saya merasakan, “Ini bukan diskusi antara Boss dan anak buahnya. Ini adalah diskusi seorang Ayah bersama Anaknya!”

Saya semakin sering bertandang di dalam ruangannya. Kadang malah dari pagi sampai menyentuh siang, lalu lanjut lagi sampai sore setelah makan siang. Banyak yang dikerjakan. Beliau memang orang yang sangat brilian, sehingga saya sering sekali terkagum-kagum setiap disuruhnya untuk mengerjakan laporan-laporan yang menyangkut soal strateginya untuk membangun perusahaan. Sekalipun terkadang terserang rasa kantuk yang luar biasa, tapi saya selalu bersemangat saat membantu Mister H dalam menyelesaikan laporan-laporannya.

Ya, ditambah pula dengan pujian, “Kamu pinter, ya? Pasti gara-gara Papamu programmer, ya?”

Okay, kalau kamu jadi saya, memangnya kamu bisa untuk nggak merasa GR luar biasa? Karena jelas saja, saya benar-benar merasa head over heels!

Seperti yang selalu dibilang orang, time will heal everything. Dalam cerita ini, waktu memang tidak menyembuhkan apapun, tapi waktu telah mengubah sosok demon, perlahan-lahan menjadi seorang angel.

Untuk pertamakalinya dalam lima tahun saya bekerja di kantor ini, ulang tahun ke-29 saya tidak hanya mendapatkan ucapan selamat saja dari Mister H, tapi beliau menyelipkan beberapa lembar Rupiah yang sambil tersenyum Mister H berkata, “Jangan kasih tau siapa-siapa, ya…”

Oh well… Maaf  kalau akhirnya saya cerita di sini. Kamu jangan kasih tahu dia, ya? 🙂

Saya pun tersenyum senang. Tentu saja bukan hanya soal nominalnya yang membuat saya kegirangan seperti ini, tapi bahwa dia ingat saya sedang berulangtahun dan bahwa dia ingin memberikan sesuatu yang spesial di hari ulang tahun saya. Sungguh, di momen itu saya benar-benar merasa berarti buat Boss yang seolah tak pernah menganggap saya ada, padahal karena saya yang menempatkan jarak di antara kami berdua.

Perlahan-lahan, Angel mengambil alih posisi Demon. Tidak hanya ke saya saja, tapi juga ke seluruh rekan-rekan kerja.

Emosi Mister H yang biasa naik turun, kini mulai sangat terkendali. Tidak ada teriakan penuh kemarahan, tidak ada bantingan telepon diselipi kata-kata yang membuat hati pedas, tidak ada… tidak ada sama sekali. Mister H berubah menjadi seorang Ayah. Iya, Ayah. Beliau bahkan sering meluangkan waktu untuk mengobrol bersama, bincang-bincang soal ini itu di luar pekerjaan, bahkan menraktir kami minum Starbucks atau sekadar makan soto ayam.

Percayalah. Kalau kamu benar-benar mengenal Mister H, pernah mengetahui temperamen-nya yang meledak-ledak, kamu akan melihat begitu besar perbedaannya. Ini bukan soal traktiran di Starbucks atau Soto Ayam, ini adalah soal dia telah membuang semua jarak dan merangkul kami semua seperti Ayah yang merangkul anak-anaknya.

Lala&Pak HarSaya benar-benar merasa sayang dengan Mister H, lebih dari kapasitas seorang karyawan pada atasannya. Rasa sayang saya buat Mister H lebih seperti rasa sayang seorang anak perempuan pada seorang Ayah yang sudah berusia lanjut. Melihat Mister H seperti melihat Edi Purwono, alias bapak saya sendiri. Dari dua manusia hebat ini saya menemukan fakta-fakta bahwa hidup adalah soal terus berusaha. Tidak ada kata terlambat untuk mencoba. Cobalah terus sampai bisa, sampai lumpuh, sampai tidak bisa apa-apa.

Berkali-kali Mister H mengajari saya tentang hidup. Berkali-kali pula saya merasa jauh lebih hidup karenanya…

Tapi Tuhan memang memiliki rencana yang hanya Dia saja yang tahu. Tuhan memiliki maksud dari semua peristiwa yang terjadi mulai awal tahun 2009 tadi. Tuhan memiliki sebuah master plan yang sampai kini harus berusaha saya mengerti benar agar tidak terlalu bersedih.

Ya. Tuhan memutuskan untuk memisahkan saya dari Mister H, memisahkan beliau dari karyawan-karyawan yang membutuhkannya, anak-anak yang akan merindukan bimbingannya.

Dalam waktu dekat, my Angel, my Boss… akan mundur dari pekerjaannya.
Dan dalam waktu dekat pula, saya akan kehilangan seseorang yang membuat saya bertahan di kantor yang mulai membuat saya gelisah hampir setiap hari.

Entah akhir November, entah akhir Desember, Mister H akan pensiun mendadak karena keputusan management yang tidak disangka-sangka sebelumnya.

Buat kamu yang sempat membaca status-status di Facebook saya beberapa minggu belakangan ini, kamu pasti akan mengetahui betapa mood saya anjlok luar biasa. Status saya terasa sangat mellow, seolah-olah saya kehilangan oksigen untuk bernafas.

Tapi memang, itulah yang saya rasakan. Ketika berita tentang keputusan management ini mulai ramai berdengung di kantor, saya merasa kalau saya melumpuh.

Apalagi saya melihat wajah Mister H setiap hari. Dengan batang rokok yang terisap kuat sambil mengeluarkan asap yang menyesakkan dada, saya meraba betapa kecewanya Mister H menghadapi keputusan ini, betapa sedihnya Mister H menyadari bahwa ia harus berhenti menghadapi kebawelan kami. Dengan penampilannya yang lusuh, kemeja yang tidak rapi, saya tahu, Mister H sedang kalut dan galau. Dan dengan air mata yang menetes dari sepasang mata tuanya saat berbincang-bincang dengan saya… saya tahu. Saya sangat tahu, kalau Mister H sangat sedih!

“Dengan begini, saya merasa tidak dibutuhkan…” katanya pada saya.

Tapi segera saya bilang, “Mister H, jangan pernah beranggapan kalau Mister H tidak dibutuhkan oleh siapapun. Kami semua butuh Bapak. Bapak tahu, kalau tadi pagi saya ngobrol-ngobrol dengan Pak Y? Pak Y bilang, Mister H yang telah berjasa dalam karirnya selama ini. Karena apa? Karena Bapak percaya pada potensi Pak Y. Karena Bapak telah memberikan kesempatan buat Pak Y. Jadi kalau Bapak merasa tidak berarti, tidak dibutuhkan, berarti Bapak salah…”

Mister H menangis.

“Dan asal Bapak tahu, itu adalah satu dari sekian banyak cerita yang saya tahu…”

Beberapa sore yang lalu, kami menangis bersama. Bagaimana mungkin kamu tidak menangis jika melihat Ayahmu menangis, kan? Disitulah saya benar-benar merasa menjadi seorang Anak yang hatinya ikut teriris kalau hati Ayahnya sedang tersakiti…

Sampai hari ini, saya masih belum bisa memanage hati saya agar tidak terlalu cengeng setiap kali memandang wajah tuanya. Sampai hari ini saya musti berusaha sekuat tenaga untuk terus menahan agar air mata saya tidak tumpah setiap kali Mister H mengajak saya mengobrol. Saya musti menjadi seorang anak yang tangguh agar Ayah saya tidak bersedih saat meninggalkan anaknya, tidak kepikiran, tidak kuatir kelak bila saatnya tiba.

Itulah kenapa, mulai hari ini, saya ingin menjadi anak yang baik. Anak yang tidak cengeng. Anak yang pengertian. Anak yang pandai.

Jadi, Mister H.

Besok, saya akan tersenyum lebih ceraaaaaahhh lagi buatmu.
Besok, saya akan mengajakmu bercanda-canda sampai dirimu tertawa terpingkal-pingkal seperti biasanya.
Besok, mungkin, saya akan patungan dengan teman-teman untuk membeli pastel goreng kesukaanmu *kalo jadi lho, ya.. hehehe*

Saya… kami semua, anak-anakmu di sini… berjanji akan menjadi anak yang baik. Tidak hanya selama kamu masih ada di sini, tapi sampai dirimu tak lagi menjejakkan langkah di kantor ini lagi…

We love you, Mister H.

Maaf, kami terlambat mengucapkannya padamu…
Twenty years too late…

**

Kantor, Rabu, 28 Oktober 2009, 4.12 Sore
Untuk Mister H

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

21 thoughts on “Mister H; Angel & Demon

  1. Aku baca aja ya La.
    Nggak perlu dikomen kan?
    Sangat menghanyutkan…

    Posted by Hery Azwan | October 28, 2009, 5:09 pm
  2. Hmm.. pasti rasanya berat bangets ya, Laa.. harus kehilangan sosok sehebat Mister H.

    Nikmatilah waktu yang masih tersisa untuk elo habiskan bersama dengan dia ya, Laa.. and make sure dia tau arti keberadaannya untuk kalian semua 🙂

    Posted by Indah | October 28, 2009, 8:52 pm
    • Iya, Ndah.. beratnya tuh beraaaatttt banget… Tapi gimana lagi? Life must go on, katanya. Jadi? Let it goes on.. 🙂

      Gue udah mempersiapkan sesuatu buat beliau, kok… Bakal jadi hadiah yang mengharukan buat beliau.. mudah2an aja.. hehehehe

      Posted by jeunglala | October 29, 2009, 12:45 pm
  3. Salam kenal mbak Lala!
    Pagi ini jadi terharu setlh mbaca tulisan mbak.. Aku juga punya pengalaman (di dunia kerja) yg mirip dgn kisah di atas… Thanks!

    Posted by Henny | October 29, 2009, 3:25 am
  4. mantap,pertama baca kukira hasil tulisan agatha cristy / pengarang terkenal lain, kunilai bahasanya bagus, critanya menyentuh, kenapa gak jadi pengarang buku / novel non, salut, good work, keep on ….

    Posted by arya kamandanu | October 29, 2009, 9:19 am
  5. nitip salam aja deh La ke Mr.H 😀

    Posted by dimaz arno | October 29, 2009, 9:23 am
  6. hehe..
    cuma mau bilang, udah baca…
    awesome…

    Posted by Pilosopi Bodoh | October 29, 2009, 9:36 am
  7. jadi ikut sedih…
    semoga boss berikutnya bisa sebaik atau lebih baik lagi dari mr. H..

    Posted by Ly | October 29, 2009, 10:51 am
  8. HHHmmmmm …
    Life goes on …
    Demon menjadi Angel …
    Dibutuhkan menjadi (merasa) tidak dibutuhkan …
    Menjabat … menjadi tidak menjabat …
    Teriakan keras … menjadi tangis …

    Saya tidak bisa berkomentar apa-apa …
    Ini kejadian biasa yang sering terjadi …
    Namun entah mengapa …
    Di Tangan Lala Purwono … hal ini menjadi sangat indah …

    Nice Posting La …
    And I am sure … jika Mr H. membaca ini … Beliau akan kembali berlinang …

    Salam saya

    Posted by nh18 | October 29, 2009, 11:24 am
  9. ” … kamu pasti akan mengetahui betapa mood saya anjlok luar biasa …”

    (bukannya dari dulu La ?)
    (kemane aje luuuhh …)

    Posted by nh18 | October 29, 2009, 11:25 am
  10. jempol 4 berdiri smua ……..

    Posted by dini | October 29, 2009, 12:19 pm
  11. ikutan baca soalnya penasaran…tulisannya bagus coba kalo disekeliling saya gak ada orang lain mungkin air mata saya bisa ikutan menetes….

    Posted by dedot | October 29, 2009, 12:44 pm
  12. heheheh…
    Sisi baik orang itu selalu ada, tergantung mana yang lebih sering dikasih makan… 😀

    Posted by Bandit Pangaratto™ | October 29, 2009, 2:43 pm
  13. ceritanya mengharukan ^^

    Posted by mima | October 29, 2009, 3:52 pm
  14. baru baca dan melehlah air mata…

    Posted by shinta soebijandono | November 19, 2009, 2:00 pm

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: It’s Never Gonna be Easy… « the blings of my life - December 21, 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

October 2009
M T W T F S S
« Sep   Nov »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: