you're reading...
daily's blings

Ketika Keponakan Berpuisi

Saya memang sudah menulis sejak usia sebelas tahun, sehingga dengan GR-nya, sampai hari ini, saya selalu menganggap kalau “writing is always the passion of my life” atau “writing is running in my blood“. Ya, tiada hari yang terlewati tanpa menulis. Dari sekedar catatan kecil-kecilan, coretan-coretan di kertas, atau menulis serius di laptop. Mulai essay sampai puisi. Mulai quote sampai curahan hati. Kecuali menulis skripsi dan tesis, saya menulis apa saja! 🙂

Mood menulis bisa saya dapatkan kapan saja; kebanyakan sih pada saat-saat saya sedang emotionally. Entah saat saking bahagianya, atau saking sedihnya. Saat menjadi emotional slut, saya bakal berubah menjadi seorang penulis yang sangat bawel dan cerewet.

Kemarin, saya mengaduk-aduk koleksi tulisan-tulisan lama saya. Cerpen, bangkai-bangkai novel, essay, sampai puisi-puisi. Beberapa di antaranya, tentu saja soal percintaan. Aih, saya kan memang pecandu cinta kelas wahid? 🙂 Dan beberapa di antaranya, adalah tentang keluarga dan sahabat.

Saat kemarin saya mengaduk-aduk koleksi tulisan, mendadak Kiki, keponakan saya bertanya: “Aunty, sibuk apaan sih, di depan komputer terus?”

FYI, sudah semingguan ini saya tinggal di rumah Mbak Piet, seperti yang sudah saya tulis di cerita ini.

Aunty lagi nulis-nulis, Kak…”

“Nulis apaan, Aunty?

“Nulis macem-macem….”

“Ada yang tentang kakak, nggak, Aunt?”

Kemudian saya ingat kalau dulu sekali pernah menulis puisi tentang keponakan saya yang saat itu masih berusia beberapa bulan saja *sekarang dia sudah hampir tujuh tahun*. Sebuah tulisan yang tercipta ketika saya benar-benar merasa terharu dan bahagia dengan kehadiran manusia kecil nan montok yang telah membuat hari-hari saya menjadi sangat ceria.

“Ada, Kak,” kata saya.

“Ada, ya???” Mata Keponakan saya berbinar-binar.

“Ada. Mau baca?” tanya saya.

Keponakan saya mengangguk lalu menunggu saya membuka file tulisan saya tentang dia. Sebuah tulisan yang saya tulis tanggal 14 September 2003, ditulis khusus sambil membayangkan wajah bocah yang lucu dan menggemaskan bernama Eugenea Chiquita Zahrani Assyarif.

kikisemua

“Kakak baca ya, Aunt…” katanya setelah saya membuka file tersebut dan memaparkan satu puisi tentang dia.

“Dunia tak lagi sepi saat kamu ada
Bahkan gemerlapnya bintang begitu cemburu dengan binaran cahaya matamu
Kupikir malah bulan dan matahari berebut berganti posisi demi menyaksikanmu
Karena memang,
kamu makhluk tercinta di mataku.

Wanginya mawar tak bisa tandingi harum tubuh tanpa parfummu
Kicauan burung seperti tak bernada bila kau berceloteh tentang apa saja
Selalu kuanggap panas dan hujan bergantian datang hanya untuk memperhatikanmu
Sungguh mati,
kamu cantik sekali.

Karena itu,
cepat besar ya, Dek…”

Keponakan saya berhenti sebentar lalu bertanya, “Lho? Kok ‘Dek’ sih, Aunt? Kan harusnya ‘Kakak’?”

Saya tersenyum. “Heh, waktu itu kan kamu masih bayi… Adek Keke belum lahir, kaleee…”

“Oh iya, ya…” kata Kiki sambil tersenyum.

“Udah, lanjutin bacanya, gih.. Tinggal dikit lagi…” suruh saya.

“Cepat besar, ya, Dek…
Biar kumbang-kumbang mati lemas karena pesonamu..”

Dunia tak lagi sepi saat kamu ada
Bahkan gemerlapnya bintang begitu cemburu dengan binaran cahaya matamu
Kupikir malah bulan dan matahari berebut berganti posisi demi menyaksikanmu
Karena memang,
kamu makhluk tercinta di mataku.
Wanginya mawar tak bisa tandingi harum tubuh tanpa parfummu
Kicauan burung seperti tak bernada bila kau berceloteh tentang apa saja
Selalu kuanggap panas dan hujan bergantian datang hanya untuk memperhatikanmu
Sungguh mati,
kamu cantik sekali.
Karena itu,
cepat besar ya, Dek
Biar kumbang-kumbang mati lemas karena pesonamu..

Puisinya memang singkat, tapi keponakan saya cukup terengah-engah membacanya.  Well, namanya juga anak kelas 1 SD. Dengan kosa kata terbatas (paling juga soal Budi dan Wati berikut keluarganya.. hehe), tentu saja puisi saya termasuk kelas tinggi. Ah, masih untung bukan membaca puisi-puisinya Alm. WS Rendra… 🙂

Ketika usai membaca, saya tahu, keponakan saya hampir tidak mengerti apa yang sudah dibacanya barusan. Tapi yang membuat saya terharu adalah pelukannya saat membaca puisi saya. Binaran matanya, saat mencoba merangkai huruf-hurufnya. Senyumnya, yang merekah saat usai membaca.

Saya tidak pernah menyangka, puisi saya untuk Kiki, yang saya tulis enam tahun yang lalu itu bakal dibaca olehnya sendiri, dengan suara khas kanak-kanaknya, dengan pelukan erat sayangnya.

Dan saya juga tidak pernah menyangka.

Ketika keponakan saya berpuisi, air mata saya mengalir tanpa kuasa…

**

Kantor, Senin, 26 Oktober 2009, 4.42 Sore
Untuk Kiki tersayang

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

8 thoughts on “Ketika Keponakan Berpuisi

  1. membaca ini rasanya aku seperti tengah dipeluk Farrel anak sulungku. Dia senang sekali memeluk sembari berkata,”sayaaang mamaaaa”

    Wah..
    Kapan ya aku dipeluk anakku sendiri, Mbak… 🙂

    Posted by Riris Ernaeni | October 26, 2009, 4:56 pm
  2. whuaaaah, jadi kangen sama anak2 dirumah 🙂
    Puisinya indah, La.
    Bikinin dong sekali-kali buat diriku…hehehehehe

    Posted by Indahjuli | October 26, 2009, 5:03 pm
  3. Soo sweet bangets seehh, Laa 😀

    *gua malah ngga inget apa yang gua rasakan yaa ketika keponakan2 gua lahir, ahahaha ;p*

    Posted by Indah | October 26, 2009, 10:38 pm
  4. hehehehehhe…

    manis sekalilah itu…

    *terharu

    Posted by Pilosopi Bodoh | October 27, 2009, 8:57 am
  5. kalo puisi “what about us” yang gue bikin buat lo itu..bagus gak, la 🙂

    Posted by yessymuchtar | October 27, 2009, 1:56 pm
  6. Lucu-lucu banget ya?

    Posted by Edi Psw | October 27, 2009, 3:47 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

October 2009
M T W T F S S
« Sep   Nov »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: