you're reading...
Fiktif

Beku

Sudah berhari-hari aku dingin. Tanpa pelukan. Tanpa rangkulan. Yang ada hanya putaran-putaran kenangan masa silam yang makin lama makin tipis dan tajam mengiris relung-relung hatiku, terbitkan sembilu pahit. Aku kangen pacarku, kangen kamu. Seperti tak tersentuh, rasanya ingin menangis saja. Air mata seolah berebut turun mengalir mencari muaranya. Aku sakit, aku membeku. Kamu, membuatku, perasaanku, jiwa dan batinku, dingin dan membeku.

Kebekuan ini seperti mata-mata rantai besi yang membelengguku. Aku memang tetap bisa bergerak, tapi sepertinya aku ngga bisa bernapas dengan lega, tak bisa kemana-mana. Bergerakpun rasanya berat. Jadi aku memang lebih memilih untuk tetap terbeku, daripada mencoba lari tapi jadinya hanya kesal sendiri.

Bukannya aku menyerah dalam beku, karena awalnya aku pun tak mau mengunci diriku dalam satu bentuk ketakberdayaan seperti ini. Bukan aku kalau membiarkan tubuhku terangkul rasa tak kuasa, bukan aku kalau merelakan kebahagiaan dan kebebasanku terenggut secara terpaksa. Itu bukan aku. Tadinya. Karena setelah aku kenal kamu, aku relakan aku terbeku, dalam kamu. Dalam suatu posesi yang tak pernah kumengerti hingga kini. Kubiarkan aku larut dalam angkuhnya bayang-bayang kesetiaan yang sampai detik ini tak pernah kumengerti apakah maknanya. Aku biarkan kamu meresap dalam aliran darahku, menjadi oksigen buat sel-selku, membantu otakku bekerja, dan itupun bekerja hanya untuk mencintaimu.

Aku ngga menyesali hidup terbelenggu, meskipun kadang cemburu pada merpati yang terbang dengan sayapnya sendiri. Aku memang terbang, tapi aku hanya pesawat terbang, jiwaku memang mesinnya, tapi aku terbang karena kamu yang mengendalikannya. Itu bukan mauku, juga bukan maumu. Tapi itu yang terjadi. Dan aku merelakannya.

Aneh?
Tentu, untuk mereka yang mengenal aku. Tapi hatiku lebih pintar dari mereka semua, karena hatiku sendiri yang tau persis bagaimana ia bertutur dan bercerita. Ia yang menyentuh, ia yang merasa. Ia yang menajamkan telinga, ia yang mendengar. Jadi aku tak perlu repot2 mengasah intuisi, karena yang terbaca adalah yang tertulis. Aku menurut saja kalau harus terbelenggu oleh kamu. Toh Tuhan telah menuliskan ceritaNya sendiri, sebelum tanah dikumpulkan dan dikepalkan, sebelum nyawa terhembuskan dalam jasad, jadi buat apa menolak untuk terbekukan olehmu?

Bekumu, kalau otakku berpikir lebih keras, rasanya indah-indah saja kok. Meski dingin, tapi yang teraba di dalam tetap hangat. Jangan protes, karena yang bisa meraba apa yang tak teraba di dalam jiwaku hanya aku. Aku tahu aku bahagia, jadi jangan menyesali pelukan dan rangkulan yang jarang mampir ke hari-hariku. Aku tahu selebar apapun rentangan tanganmu, tak akan bisa merangkul ratusan kilometer yang terbentang di antara kita. Biar langit dengan awannya yang jembatani, biar cinta dan geloranya yang menguatkan kita.

Kebekuan ini memang menyakitkan, seperti kapal tanpa nahkodanya, seperti perahu layar yang layarnya lupa terpasang, terombang ambing mengikuti bentuk gelombang dan pasang surut, ikut dan mengalun tanpa kendali. Tapi perlahan-lahan, kerinduan dan kesetiaan mulai terbentuk, rasa percaya semakin tumbuh dan berakar ke dalam jiwaku. Aku sadar cintaku dan kamu memang tanpa formula, yang tak tahu musti bagaimana cara mengendalikannya supaya tetap sesuai bentuk aslinya, tapi cinta kita seperti cinta yang tumbuh begitu saja, dengan siraman air sayang yang menumbuhkan batang dan ranting cinta, menumbuhkan bunga-bunga rindu, serta akar-akar setia yang makin lama makin menguat. Itulah cinta aku dan kamu, cinta yang lahir bukan karena kompromi dan kondisi, tapi cinta yang memang sudah ada.

Still confuse?
Sudahlah, kata-kata yang terurai sepertinya tak akan pernah bisa menjelaskan seperti apa kamu membelengguku, juga seperti apa aku membiarkan kamu membelenggu aku dengan mata rantai setia dan sayangmu. Jangan salahkan dirimu yang merasa aku terbelenggu dalam kebekuan setiap waktu dan bisa mencair hanya once in a blue moon, karena besi-besi milikmu yang mengikat kedua kakiku menunjukkan jutaan kata cinta yang tak sempat disiulkan burung-burung, tak sempat tersampaikan lewat angin, karena langsung teresap dalam pori-pori kulit kakiku, merasuk masuk dan menjelaskan padaku, bahwa hanya kamu yang aku mau.

Terimakasih Sayang, untuk dirimu yang selalu bisa mengilhami kecerewetanku.

**

Sebuah coretan asal di 27 September 2003,
Yang sekarang kembali teringat🙂

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

3 thoughts on “Beku

  1. Busyeett.. asal aja jadinya kaya gini yaa!!

    But it’s like seeing a different side of you, Laa.. beda “rasa” dari Lalaa yang biasanya “rame” and “ceria”, ahahaha :p

    Posted by Indah | October 26, 2009, 4:18 pm
  2. ooohhhhh….brarti aq lg ngerasain beku ya…..br sadar pas baca ini….:)

    Posted by echa | October 26, 2009, 10:59 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

October 2009
M T W T F S S
« Sep   Nov »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: