you're reading...
Thoughts to Share

Walk in Someone Else’s Shoes

Seseorang memang tidak akan pernah bisa berjalan dengan memakai sepatu orang lain. Okay, not literally, tidak sungguh-sungguh dengan meminjam sepatu orang lain lalu kamu memakainya untuk pergi ke suatu tempat, tapi mencoba memakai ‘sepatu’ orang lain untuk mengetahui bagaimana persisnya menjadi seorang pemilik ‘sepatu’ itu.

Merasakan apa yang orang lain rasakan.
Mendengarkan apa yang orang lain dengarkan.
Menganalisa dan berpikir seperti orang itu.

To walk in someone else’s shoes means to become someone else. Sepaket lengkap dengan cara pandang, cara bereaksi, cara berpikir, cara mengatasi masalah… One whole package… semuanya.

Tidak ada yang berhasil sepenuhnya ‘memakai sepatu orang lain’. ‘Ukuran’nya tidak akan sama, karena setiap orang memiliki ‘sepatu’ yang spesifik. ‘Sepatu’ ini unik karena memiliki bentuk yang mengikuti lekuk-lekuk ‘jemari kaki’ masing-masing orang, yang tentu tidak akan pernah pas buat orang lain.

That’s why, ada pepatah yang mengatakan, “Nobody could walk in someone else’s shoes.

Sekalipun buat saya, everybody has the chance to try it on, untuk mengetahui bagaimana rasanya menjadi orang lain, serta untuk berhenti menjustifikasi setiap keputusan orang lain, yang mungkin saja, terasa terlalu tidak masuk akal untuk pemikiran sempit seorang saya…

**

Hari Jumat kemarin, saya meminjam ‘sepasang sepatu’ orang lain. Ya, saya mencoba menjadi orang yang sama sekali tidak saya kenal, untuk mengetahui bagaimana rasanya menjadi seorang perempuan bernama Retno, makhluk Tuhan yang menghadapi banyak cobaan dalam hidupnya, mulai dari masa kecil yang sulit, sampai setelah menikah dengan suami pengidap HIV Aids dan menjadi janda sebanyak dua kali.

Jumat kemarin saya memang mendatangi sebuah fair bertajuk One Life, Do Something, di Convention Hall, Tunjungan Plaza. Acara yang digagas oleh World Vision Indonesia, yang mencoba untuk memperkenalkan masyarakat awam tentang bahaya penyakit Aids sekaligus meluruskan anggapan kami kalau penyakit Aids tidak menular hanya karena berjabat tangan atau menghirup oksigen yang sama dalam satu ruangan.

s3010443

Suvenir dari acara One Life, Do Something --> tas, buku agenda, buku bacaan, pin, dll...πŸ™‚

s30104411

Pin ini sempet 'ngikut' kemanapun saya pergi, lho... hehe

Bertiga dengan Ly dan Tat, sahabat GangGila, saya pun datang ke lantai enam untuk mencoba salah satu ‘sepatu’ dari lima orang yang merelakan ‘sepatu’nya dipinjam oleh semua orang yang datang ke sana.

s30104381

Berpose di wall of fame; setelah kembali memakai 'sepatu' sendiri-sendiri...πŸ™‚

Saya meminjam ‘sepatu’ Retno, perempuan korban perkosaan, yang menikah dengan pecandu narkoba lalu ketahuan mengidap virus HIV dan meninggal beberapa saat setelah anak keduanya lahir.

Ly meminjam ‘sepatu’ Tasya, bocah kecil usia tiga tahun, pengidap HIV karena Bapak dan Ibunya juga pengidap HIV.

Dan Tat, malam itu dia meminjam sepatu ‘Anjali’, seorang perempuan dari India, yang terlahir dari sepasang suami istri pengidap Aids, yang kemudian harus menjadi tulang punggung dua adiknya yang juga mengidap HIV, karena dia adalah satu-satunya anak yang lolos dari virus tersebut.

Malam itu, kami bertiga bukanlah Lala, Ly, dan Tat, karena malam itu, kami bertiga bertransformasi menjadi Retno, Tasya, dan Anjali. Bermodalkan mp3 player berikut dengan earphone yang menyumpal kedua telinga, kami pun berjalan-jalan dengan sepatu mereka dan dalam tempo tidak kurang dari dua puluh menit, kami tahu, it was never easy to wear someone else’s shoes…

**

Sebagai penggagas acara, World Vision Indonesia patut diacungi jempol. Setiap peminjam ‘sepatu’ akan berjalan-jalan, masuk ke dalam ruangan-ruangan dengan dekorasi ruang yang sangat deskriptif. Saya seolah benar-benar menjadi seorang Retno, karena di sekeliling saya, ruangan-ruangan tersebut seolah bernyawa. Ditambah dengan narasi yang diperdengarkan melalui mp3 player, saya semakin larut dengan suasana.

Ketika narator bercerita tentang kehidupan Retno semasa sekolah, saya berada di sebuah ruangan yang begitu jelas mendeskripsikan meja belajarnya, warung makanan ayah ibunya, berikut dengan botol kecap serta mangkuk berisi mie. Ketika sampai di masa-masa kuliah Retno di Bali, saya berada di sebuah ruangan yang sangat Bali. Saat narator bercerita tentang pemerkosaan Retno oleh Nyoman, teman dekatnya, ketika mereka sedang berjalan-jalan di atas laju mobil, saya berada di sebuah ruangan dengan kursi mobil dan tumpukan baju-baju yang berserakan di atasnya.

Saya terus berjalan menyusuri ruangan demi ruangan, sesuai dengan petunjuk narator yang selalu mengatakan, “Ayo, Retno, tetap tersenyum yaa… Sibakkan tirai di depanmu… jangan takut…”

Masuk ke dalam ruangan dengan narasi yang menggugah perasaan membuat saya terlarut menjadi tokoh Retno, perempuan yang akhirnya diketahui tidak mengidap HIV sekalipun aktif secara seksual dengan penderita Aids (dia baru saja mengetahui suaminya, yang mantan pecandu narkoba, menderita Aids, beberapa bulan sebelum suaminya meninggal).

After twenty minutes, saya mengembalikan ‘sepatu’ Retno lalu kembali memakai ‘sepatu’ saya sendiri, dengan pemikiran yang sama sekali baru…

**

Dua puluh menit menjadi seorang Retno, saya sedikit banyak mengetahui tentang bagaimana perasaannya ketika harus bersekolah dengan rajin agar bisa tetap sekolah, khususnys di sekolah dan universitas negeri.

Dua puluh menit menjadi seorang Retno, saya sedikit banyak mengetahui tentang rasa bahagianya saat berhasil masuk ke sebuah universitas negeri di Bali.

Dua puluh menit menjadi seorang Retno, saya tahu bagaimana rasanya menjadi seorang perempuan baik-baik yang terenggut keperawanannya karena diperkosa oleh teman terdekatnya.

Dua puluh menit menjadi seorang Retno, saya menjadi tahu, betapa tersiksanya harus menjadi istri kedua seorang suami yang doyan kawin dan selingkuh sana sini, hanya karena ketidakperawanannya membuat tidak punya pilihan lain.

Dua puluh menit menjadi seorang Retno, saya tahu bagaimana menderitanya dia harus bercerai dengan suami pertamanya yang ketahuan selingkuh, sekaligus tahu betapa senangnya ketika akhirnya ada seorang lelaki yang mau menerima dia apa adanya.

Dua puluh menit menjadi Retno, saya tahu bagaimana rasanya being rejected dari keluarga besar suami, yang mengusirnya pergi setelah suaminya meninggal karena penyakit Aids.

Dua puluh menit menjadi Retno, saya tahu betapa susahnya untuk survive, membesarkan kedua anak yang beresiko terinfeksi virus HIV.

Dan dalam waktu dua puluh menit menjadi Retno, saya tahu betapa gelisahnya saat menjalani pemeriksaan kesehatan untuk mengetahui apakah ia mengidap virus HIV, dan saya juga tahu, betapa leganya dia ketika tahu bahwa dia dan anak-anaknya baik-baik saja…

Dua puluh menit saja saya berjalan dengan beralaskan ‘sepatu’ Retno, tapi saya sudah merasa kesakitan setengah mati. Bagaimana kalau saya memakainya lebih dari itu? Nggak kebayang!

**

Try to walk in someone else’s shoes and you’ll find out how difficult it is to be that someone..

Berhenti menjustifikasi keputusan orang lain, berhenti menganggap diri sendiri jauh lebih baik ketimbang orang lain *dan sebaliknya*, dan mencoba untuk mengerti bahwa setiap keputusan yang lahir di tangan masing-masing individu, pastilah melalui proses yang tidak mudah.

Not everyday, every single minute and second you wear those shoes, jadi cobalah untuk memahami bagaimana harus berjalan terus-menerus, hari ke hari, bulan ke bulan, tahun ke tahun…. dengan memakai sepatu orang lain.

Saya jamin, you’re gonna miss your own shoes… πŸ™‚

***

Kantor, Selasa, 13 Oktober 2009, 12.25 Siang
Thanks to Lily yang udah ngasih tau soal acara ini…

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

8 thoughts on “Walk in Someone Else’s Shoes

  1. saya paham…..

    intinya: be your self…..

    wah, saya tertarik tuh, sama fairnya….. begitu efektif, dan yang pasti: produktif… hehehe

    Betul, selain “be yourself”, kita juga mesti menghargai keberadaan orang lain… Mereka memiliki dunia mereka, kita memiliki dunia kita… Kita semua bakal berbeda, kok… That’s just how life worksπŸ™‚

    Anyway,
    fair-nya udah berakhir hari Minggu kemarin. Mungkin karena dibiayai dengan budget gila2an oleh luar negeri, sehingga acaranya menjadi sangat optimal. Asyik banget, deh! Nggak rugi udah dateng ke sana…πŸ™‚

    Posted by aurora | October 13, 2009, 2:09 pm
  2. kita gak akan pernah tau karena kita gak di posisi mereka…

    merinding la membayangkan kehidupan mereka ya…😦

    Posted by Ria | October 13, 2009, 2:50 pm
  3. artikel yg bagus untuk direnungkan !! bahwa apa yg kita ketahui tentang seseorang belum tentu mewakili semua hal tentang ybs, jadi jangan mudah menghakimi.

    dua jempol ah buat lala dan penggagas acara itu..

    Posted by Riris E | October 13, 2009, 3:36 pm
  4. Acara yang hebat… ulasan yang juga hebat…πŸ™‚
    Untuk bisa bertenggang-rasa, sesekali kita perlu membayangkan berada di posisi orang lain ya…

    Posted by yaniwid | October 13, 2009, 10:13 pm
  5. Acara yang bagus sekali ya La. Kalau diadakan di Yogya, saya mau juga mencoba ‘sepatu’ Retno. Tentu pengalaman seperti ini akan membuat kita menjadi lebih arif, rendah hati, dan menyukuri apa yang kita miliki …

    Saya suka perenungan-perenunganmu La, dalam banget …

    Posted by Tuti Nonka | October 15, 2009, 10:36 am
  6. Jadilah diri sendiri saja jeng.πŸ˜†

    Posted by Wandi thok | October 15, 2009, 10:34 pm
  7. hemmm acaranya sangat menarik Lala, idenya brillian utk membawa orang masuk kedalam suasana batin dan pengalaman seseorang yang kebetulan “menderita”…

    nice post!

    Posted by Bro Neo | October 16, 2009, 7:33 am
  8. Yeah … i like it

    Posted by Ersis Warmansyah Abbas | October 16, 2009, 3:05 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

October 2009
M T W T F S S
« Sep   Nov »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: