you're reading...
daily's blings, Just a Thinking, Thoughts to Share

It Was More Than Just a Ring…

Cincin itu selalu melingkar di jari manisnya. Cincin bermata berlian mungil, dengan perfect cut, yang berkilau sempurna ketika tertimpa cahaya itu selalu melingkar di jari manisnya dan tak pernah sekalipun tanggal dari sana, mengikuti kemanapun ia melangkah pergi.

Pernah suatu kali seorang teman bertanya padanya ketika ia kelimpungan saat mengetahui jarinya telanjang tanpa cincin berlian mungil itu tadi, “Bukannya tadi kamu sudah telepon ke rumah dan tahu persis kalau cincin itu ada di kotak perhiasan, di meja riasmu? Dan sudah diamankan oleh Ibumu?”

Dan ia mengangguk, tapi sembari berkata, “Iya, sih. Tapi kamu tahu, kan, apa artinya cincin itu buat aku?”

“Mahal?” tanya sahabatnya ngaco.

“Selain mahal,” dia menjawab dengan sebal, “cincin itu juga tanda kalau aku menghargai ikatan perkawinanku sama Andy.”

“Ah, memang kenapa kalau cincin itu nggak sengaja tertinggal di rumah setelah kamu luluran di rumah tadi? Artinya kamu nggak menghargai suamimu? Artinya kamu mencoba untuk mengkhianati perkawinanmu dengan Andy? Itu cuman simbol, kan? Cincin itu cuman simbol dan pastinya, kamu nggak sengaja!”

Dia memandang sahabatnya dengan sebal. “It was more than just a ring, kali. Tanpa memakai cincin itu, artinya semua orang melihat aku sebagai perempuan lajang yang available.”

“Hah?”

“Artinya, aku menciptakan peluang untuk menarik perhatian lawan jenis!”

“Hah???”

“Artinya, aku membuka peluang untuk selingkuh!”

Sahabatnya cuman mendesis dalam hati, “Plis deh! Cuman lupa pake cincin aja artinya dia siap berselingkuh? Yang bener ajeh!”

***

Perempuan itu berusia tiga puluhan, awal tiga puluh. Berambut gelap, ikal, dengan poni serupa Cleopatra yang sering membuatnya dijuluki Cleopatra *ya, apa lagi, memangnya?🙂 * Dia baru saja menikah dengan lelaki pujaanya, Andy namanya. Seorang lelaki berusia tak jauh darinya yang kini sedang merintis karir sebagai pengusaha.

Cincin berlian yang menghebohkan itu memang pemberian dari Andy saat mereka melangsungkan akad nikah, beberapa bulan yang lalu. Cincin berlian dengan ukiran nama Andy itulah yang membuatnya sempat beradu argumentasi dengan sahabatnya ketika mereka sedang hang out di sebuah kedai kopi, di sebuah pusat perbelanjaan, beberapa saat yang lalu.

Irene, sahabatnya, memang tidak tahu persis seberapa besar artinya jika cincin itu tak melingkar di jari manisnya, ketika seluruh pasang mata di dunia sedang mengamatinya. Karena cincin kawin dari Andy itu adalah simbol kalau ia telah menikah dan berkomitmen penuh untuk menjaga keutuhan rumah tangganya. Ya, setidaknya, dengan memakai cincin itu, seluruh syaraf di tubuhnya menginstruksikan dirinya untuk terus mengingat suaminya, mengingat komitmennya. Itulah keajaiban cincin kawin itu; bisa membuatnya tidak lepas kendali!

Jadi, kalau cincin itu sampai tertinggal atau tak melingkari jari manisnya, Moura, perempuan itu, pasti langsung senewen sendiri.

Sama senewennya kalau melihat jari Andy terlihat polos tanpa cincin kawin dengan model yang sama itu. Di dalam benaknya cuman satu, “Kenapa Andy sampai mencopot cincin itu, ya? Jangan-jangan dia…”

Dan jutaan skenario-skenario ala sinetron terus mengisi benaknya dan membuat Andy harus berkali-kali bilang, “Tadi aku lagi betulin mobil, Sayang! Aku nggak selingkuh!”

Tapi Moura, perempuan yang menganggap bahwa the ring is more than just a ring, tetap ngotot.

Cincin itu lebih dari sekedar cincin emas putih, dengan berat sekian gram, dengan berlian tanam yang kecil mungil tapi berkilauan sempurna ketika tertimpa cahaya.

Cincin itu adalah komitmen.

Dan dengan alasan apapun juga, the ring should always stay there, di jemarinya dan Andy.

Nggak pake alesan!

***

Saya adalah perempuan lajang yang akan genap tiga puluh tahun dalam beberapa bulan lagi. Belum pernah menikah, belum lagi bertunangan, atau belum pernah mendapatkan hadiah cincin dari mantan kekasih. Saya belum pernah merasakan nikmatnya merasakan sebuah cincin yang sarat akan nilai-nilai di luar kosmetik, karena memang, cincin-cincin yang pernah melingkar di jari jemari saya adalah cincin yang saya beli untuk gaya-gayaan saja. Pemanis saja.

Tapi sekalipun demikian, saya pasti akan bereaksi seperti Irene jika menghadapi kerewelan sahabatnya cuman karena sebuah cincin yang tertinggal, tanpa sengaja. Karena buat saya, it was just a ring. Tidak memakai cincin itu bukanlah akhir dari dunia. Tidak memakai cincin itu bukan lantas otomatis dunia telah mendudukkan seseorang di bangku kaum lajang yang siap dicolek. Tidak memakai cincin bukan berarti seseorang mengkhianati suaminya.

For God’s sake. Itu tidak sengaja!

Kecuali kalau memang cincin itu sengaja disimpan dalam laci meja rias, kemudian dia keluar dengan seorang lelaki yang naksir berat padanya tapi minus informasi tentang marital statusnya, itu artinya, dia memang sengaja.

Tapi kalau kenyataannya adalah cincin itu tanpa sengaja tertinggal, lalu ia terburu-buru menempuh jarak beberapa kilo meter untuk bertemu dengan sahabatnya di sebuah kedai kopi, mengobrol ngalor ngidul sampai waktu tergerus habis tanpa terasa, dan tidak iseng menggodai lelaki-lelaki di meja lain, masa itu artinya dia tidak menghargai pernikahan dan komitmennya terhadap suami?

Edan, kan?

Bagi saya; cincin kawin bolehlah menjadi simbol bahwa seseorang telah resmi berkomitmen dengan pasangannya, tapi tidak berarti, seluruh dunia berkonspirasi menjadikan saya seorang perempuan gatel yang ingin berselingkuh jika cincin itu tertinggal di rumah, tanpa sengaja!

That’s it.

***

Bagi saya, cincin adalah cincin. Sekadar barang mahal. Sekadar simbol saja. Kelak, jika saya menikah, saya malah pingin dibelikan gelang saja, yang bergrafirkan tulisan nama pasangan saya. Bukan kenapa-kenapa, saya cuman paling teledor kalau memakai perhiasan. Apalagi cincin yang mudah lepas. Kalau gelang, selama pengaitnya tidak rusak, gelang kawin itu akan terus melingkar di pergelangan tangan saya.

Jadi buat saya, tidak penting seseorang memakai cincin kawin. Tidak sedikit yang saya jumpai memakai cincin kawin tapi tetap bermesraan dengan orang yang bukan pasangannya, kok, jadi memakai cincin kawin bukanlah jaminan kalau orang tersebut akan tetap berada di dalam koridor yang semestinya.

Komitmen musti dijaga, with or without a ring (atau gelang? hehe).

Mau dipakai di jari, kek. Dijadikan liontin, kek. Atau kalau dengan sangat terpaksa, di’sekolah’kan di pegadaian, kek… komitmen musti tetap dijaga. No question.

Ring is just a ring.
….sampai beberapa saat tadi.

“Dia ngelemparin cincin itu di depan mukaku, La,” kata seorang teman via telepon, beberapa saat yang lalu.

“Hah? Memang kenapa?”

“Kami bertengkar hebat.”

“Lalu?”

“Dia menuduhku berselingkuh dengan perempuan lain.”

“Emang kamu selingkuh?”

“Gila! Ya, nggak, lah.”

“Lantas, kenapa dia nuduh kamu selingkuh?”

“Jarak jauh membuat dia senewen dan cemburuan!”

“Sudah kamu jelaskan?”

“Sudah, tapi yang ada, dia malah melempar cincin itu di depan mukaku, di depan orang tuanya.”

“Oh ya?”

“Iya. And it was official. Aku nggak bisa menikah dengan perempuan kekanak-kanakan seperti dia. The wedding is off

Cincin adalah simbol dari komitmen yang ia buat dengan calon istrinya. Cincin yang dia beli dengan susah payah, menabung sedemikian rupa, yang prosesi menyelipkan di jari manis kekasihnya itu melibatkan pesta pertemuan antara dua keluarga besar, di mana Bude Pakde, Tante Om, Sepupu-Sepupu dan Keponakan-keponakannya berkumpul di satu ruang lalu menjadi saksi bahwa dia akan menikah di tanggal yang telah ditentukan, dengan perempuan yang ia cintai.

Kalau kemudian cincin itu terlempar di depan wajahnya, dia kemudian menganggap bahwa kekasihnya telah menganggap remeh komitmen yang susah payah dia bangun dan membuatnya harus menghabiskan akhir pekannya menempuh perjalanan yang jauh demi bertemu dengan wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.

He went through all the troubles, he tried his best to be faithful, tapi yang terjadi adalah, cincin yang susah payah ia selipkan sembari menghadirkan seluruh keluarga besar di dalam satu ruangan, malah terlempar di depan mukanya.

Dia marah dan geram.

“Mungkin kalian sedang emosional…”

“Siapa yang tidak emosional? Aku sendiri juga marah, tapi aku nggak berniat sekalipun untuk mencopot cincin itu atau sampai ngelemparin di depan mukanya.”

“Jadi? Kamu nggak jadi kawin?”

“Iya.”

“Yakin?”

“Yakin!”

“Kalau dia mengiba-iba kamu, gimana?”

“Biarin!”

“Kalau dia minta maaf dan berjanji nggak ngulangin lagi, gimana?”

“Bodo!”

“Yakin?”

“Yakin!”

Dan gara-gara percakapan via telepon itu tadi, saya melihat sebuah cincin dari perspektif yang berbeda, karena ternyata…. ya. Memang benar. Cincin boleh jadi cuman sebuah simbol dari komitmen yang telah dibuat oleh sepasang kekasih, di mana tak bisa menghalangi seseorang untuk berjalan di luar koridor, karena komitmen adalah soal keteguhan dan keinginan hati. Tapi kalau cincin itu terlempar ke depan muka saya, dicopot dengan sengaja sambil marah-marah dan menuduh saya macam-macam.. itu artinya, pasangan saya telah tidak menghargai perasaan saya.

Saat itulah, it was more than just a ring that someone threw at me.
It was more than just a shiny, expensive thing.
It was more than that.
Because it was…
Our commitment.

Komitmen yang dengan sengaja terlempar, tercabik, tercarutmarut, hanya karena emosi semata. Uh, plis deh!

***

Kamar, Kamis, 1 Oktober 2009, 00.40 Pagi
Selamat datang kembali di dunia single, Pak!
Tapi jangan ganggu saya, ya…. hehehe…

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

18 thoughts on “It Was More Than Just a Ring…

  1. Wah, serem nih pake lempar-lempar cincin ke wajah. Kalau aku di posisi dia memang sulit juga untuk memaafkan. Belum apa2 aja sudah kayak gitu, apalagi kalau sudah jadi istri.

    Posted by Hery Azwan | October 1, 2009, 7:51 am
  2. horeee….,bisa komen
    di urutan kedua….
    btw, dah gak sabar
    menunggu cincin
    itu melingkar di jari manis
    Jeung Lala, sekaligus
    menerima undangan
    married bersama MS……xixixi
    .-= mikekono´s last blog ..Wanita Memang Materialis ? =-.

    Posted by mikekono | October 1, 2009, 9:25 am
  3. ring… has no ending…!!!

    Posted by bandit sp™ | October 1, 2009, 9:26 am
  4. ring has no ending, menarik sekali!

    nanti juga kalu lala udah ngerasain gimana make ” cincin ” itu juga pasti setuju, kalu it was really more than just a ring “..

    Posted by jones | October 1, 2009, 12:47 pm
  5. La… cincin yg dilempar jatoh kemana.. *nyari-nyari mo mungut* hihihi..

    *jadi inget kalo belum mesen cincin, doh!*

    Posted by Yu2n | October 1, 2009, 2:17 pm
  6. bagoes, kamu sudah mengerti hal yg jauh lebih penting dari hal-hal yang kasat mata semacam cincin itu.

    fyi, bapak ibuku dulu pernah terpaksa menjual cincin kawin mereka untuk membuka usaha, yang akhirnya bisa mendongkrak ekonomi keluarga

    tapi apakah lantas mereka tidak setia? Tidak, mereka setia hingga maut memisahkan.

    dua jempol untuk perenungan lala…
    .-= Riris E´s last blog ..Resep Untuk Memiliki Anak =-.

    Posted by Riris E | October 1, 2009, 3:44 pm
  7. Cincin itu berapa karat yak ?
    harganya berapa yak ?
    kok dibuang-buang sih …
    Sayang atuh …

    Dibeliin Tipi dapet berapa yak ?

    (sangat pragmatis saja …)🙂

    Hai La …

    Salam saya

    Posted by nh18 | October 1, 2009, 5:20 pm
  8. cincinnya di lempar ke saya saja😀 daripa di buang
    .-= andif´s last blog ..Kelapa Muda =-.

    Posted by andif | October 2, 2009, 6:01 pm
  9. Saya malah punya dua cincin kawin, soalnya cincin yang pertama dulu dibuat dari emas 24 karat, jadi terlalu lunak sehingga bentuknya jadi bocel-bocel keseringan dipakai. Lalu suami bikin cincin baru (sepasang tentunya), pakai mata berlian, yang sering saya pakai sampai sekarang. Bukan karena merasa ‘harus’ pakai cincin kawin, tapi karena matching aja dengan cincin yang lain … hehehe …

    Posted by Tuti Nonka | October 6, 2009, 6:36 am
  10. arti cincin kawin buat saya nggak ampe segitu2nya artinya, walo cincinku ini gak pernah lepas, mandi, tidur, kerja full 24/7/365 ya di jari terus ampe gak berasa lagi kehadirannya…heee

    Posted by boyin | October 6, 2009, 1:23 pm
  11. memang yang paling mujarab itu pakai cap besi panas di jidat “sudah menikah”…hahaha kok kaya sapi. tapi kan keliatan jelas, jadi malu kalo selingkuh kalau mau selingkuh harus operasi plastik dulu yang biayanya mahal😀

    baru sempat mampir untuk mengucap maaf lahir batin…

    Posted by geRrilyawan | October 6, 2009, 2:55 pm
  12. Sounds silly…and actually memang silly kalau harus huru hara gara2 cincin yg sebenarnya hanya simbolis ajah. Esensi hubungannya kan bukan pada cincin itu…..pa kabar say? long time ga mampir🙂

    Posted by 1nd1r4 | October 7, 2009, 10:10 am
  13. wallah, lama tak mampir, belum sempat bc jeung, mampir doank, gpp khan..hehe…
    keep blogging

    Posted by Sarah | October 7, 2009, 11:43 am
  14. daripada dibuang, mending cincinnya dikasi ke saya aja jeung…
    saya bersedia menerimanya, hehehe….

    Posted by kejujurancinta | October 7, 2009, 4:25 pm
  15. emosi kadang-kadang menghancurkan sesuatu yang telah tersusun rapi.
    maka dari itu jangan kalah sama emosi🙂

    Posted by indra1082 | October 9, 2009, 10:16 am
  16. pertanyaannya yang penting itu cincinnya atau komitmennya?

    Posted by ciput mardianto | October 9, 2009, 12:51 pm
  17. baru inget, gue juga rencana pengen beli cincin padahal sama cewek gue

    #gapenting

    Posted by Billy Koesoemadinata | October 9, 2009, 5:40 pm
  18. suatu hari, aku kira cincin kawinku hilang…dicari-cari ngga ketemu. sesak napas banget, kayak mau pingsan. setelah suami turun tangan, akhirnya ketemu juga di tempat yang nyelip2 gitu. huh, konyol, ya? but, true, for me it’s not just a ring… :))

    Posted by miSSiSSma | October 15, 2009, 10:43 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

October 2009
M T W T F S S
« Sep   Nov »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: