you're reading...
It's me... today, Thoughts to Share

He didn’t raise me that way…

Saya tahu, dunia tidak hanya bergerak di bawah kaki-kaki saya. Malah, saya tahu persis kalau bola dunia bergerak di milyaran pasangan kaki manusia-manusia yang segelintir di antaranya saya kenal sekali. World revolves under everyone else’s feet, satu kenyataan yang sudah sangat, sangat, SANGAT, saya ketahui.

Tapi ketika hati sedang tak mau kompromi untuk bernyanyi-nyanyi bahkan menyunggingkan sedikit senyum, meski kamu paksa sampai mati, bisakah kamu berpikir kalau dunia sedang becanda tidak lucu padamu?

Dunia cuman menggelitik bawah kakimu?

Dunia cuman berputar-putar di bawah kakimu?

Saya adalah perempuan yang pernah bicara tentang world that revolves not just under my feet, but others too. Rasanya seperti menelan ludah sendiri kalau nekat berkoar-koar tentang, “Kenapa semua orang bisa senyum saat gue lagi sedih gini? Sialan!”

Tapi saya tetap seorang perempuan *yang plin-plan*, dengan emosi yang tidak stabil *alias moody berat*, yang kadang begini kadang begitu, yang ketika sedang berada dalam low self confidence, dia ingin berlari ngumpet di balik ketiak ibunya…

Jadi, ketika hati sedang ogah tersenyum, saya kemudian ingin berlari saja. Lepas dari kenyataan kalau saya pernah menasehati kawan saya, that he should deal with everything, not running from it, saya tetap saja ingin berlari, mencari tempat perlindungan, menangis sekencang-kencangnya di sana, berteriak memaki kalau memang ingin, lalu merangkul kaki yang dilipat sambil mencerocos mirip orang sinting…. dan merasa sendirian.

Menggerutu: why me?
Menggerutu: why now?
Menggerutu: why should?

Tapi di saat seperti ini, selalu di saat-saat seperti ini, I instantly remember my Dad, iya. Edi Purwono, Papi saya yang paling saya kagumi. Beliau bukan orang yang sering menyerah sekalipun hidup menghimpitnya sampai ke pojok ruangan yang menyisakan sedikit oksigen untuk bernafas. Beliau selalu mengerahkan seluruh kekuatan yang beliau miliki demi untuk bisa mendorong himpitan itu dari tubuhnya, agar oksigen itu berhasil beliau hirup dengan bebas. Sepasang mata yang nyaris buta tak membuatnya menyerah untuk menulis, berkreasi, berjalan-jalan, memasak makanan yang enak-enak buat anak-cucunya,  dan selalu bersemangat bahwa hidupnya akan jauh lebih baik dari hari ini.

Sepasang mata yang nyaris buta tidak membuat beliau merasa ini adalah akhir dari segalanya.

Hampir seluruh organ tubuh yang mulai berfungsi tidak baik sebagaimana mestinya tidak membuat beliau harus meratapi nasib yang seolah tidak berpihak pada lelaki yang usianya sudah 59 tahun, sementara lelaki dengan usia yang sama mungkin malah asyik di fitness centre atau asyik mengemudi mobil untuk mengantarkan cucu-cucu mereka!

My dad is not a quiter. Bukan orang yang gampang menyerah. Bukan orang yang mudah berputus asa.

Beliau adalah orang yang menganggap tomorrow will be better, asal kamu percaya. Asal kamu mengusahakannya. Asal kamu menginginkannya.

Dan ajaran itu, pemahaman seperti itu, telah tertanam di dalam otak saya. Karena ketika masih kecil dulu, Papi tidak hanya menyanyikan lagu Balonku Ada Lima atau Lihat Kebunku, melainkan beliau selalu menyenandungkan “ajaran” ini setiap saat setiap waktu, sebagai harapan, kelak, saya akan setangguh dirinya…

Ya.

Ketika hati saya sedang ogah tersenyum, dunia seolah tidak berpihak, dan seluruh kekuatan saya seolah melorot ke kedua jempol kaki, saya mencoba untuk mengingat kembali kata-kata Papi. Saya mencoba untuk membayangkan sosok Papi. Menggali kekuatan dengan mengingat bahwa saya adalah anak perempuan dari Edi Purwono yang tidak pernah menyerah, no matter how hopeless life is.

I am not raised by my father to be a quiter. Untuk lari dari masalah. Untuk menyerah. In fact, I am raised to be a tough girl, perempuan yang sangat kuat untuk menghadapi apapun dengan seluruh kekuatan yang dia miliki…

Siapa yang akan menyangga tubuh saya sendiri kalau bukan saya?
Dan Tuhan telah memberikan jumlah kekuatan sesuai kapasitas masing-masing orang sehingga tidak ada yang over load.
Jadi saya tidak boleh menyerah.

Not because that I was raised to be that kind of girl,
Tapi juga karena saya tahu, problems are designed to make me more clever. Menjadi semakin kreatif!🙂

Jadi?

Silahkan dunia, jungkir balikkan saya. Tegakkan saya lagi. Sungkurkanlah sekali lagi, lalu angkat lagi semaumu.

I am not a quiter.
Because my Dad… he didn’t raise me that way.

***

Kamar, Minggu, 27 September 2009, 2.30 sore
Semangat, ya, La!🙂

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

11 thoughts on “He didn’t raise me that way…

  1. very nice girl!
    and I am proud to be your so called sister!!
    be strong no matter what happened… OK…

    (tapi… kamu boleh menangis di bahuku, virtually)

    EM
    .-= Ikkyu_san´s last blog ..SW 1 – Transportasi =-.

    Posted by Ikkyu_san | September 27, 2009, 3:35 pm
  2. oh…. moody banget ya mbak….
    sama, saya juga masih remaja labil….
    saya pernah berkunjung beberapa kali ke blog embak ini(tak sempat komentar, maaf…) tapi sekarang blognya lebih cocok pakai theme yang ini….

    saya kenal theme ini… kalau tak salah namanya “strange little town” ….

    salam kenal mbak…
    .-= aurora´s last blog ..back to my ordinary life =-.

    Posted by aurora | September 27, 2009, 4:50 pm
  3. wahh lama ga maen kesini

    udah pinky rupanya

    btw post ini touching n inspiring spt biasanya
    🙂
    .-= depz´s last blog ..liburan (yang ga seru) =-.

    Posted by depz | September 27, 2009, 6:54 pm
  4. habis kena serangan berat nih…ayo hajar saja bleh…

    Posted by boyin | September 28, 2009, 10:30 am
  5. bersyukurlah La, dirimu memiliki Papi yang luar biasa itu. semangatnya tak terpatahkan oleh apapun juga. aku sudah mulai sangat mengagumi beliau…

    so, bila dirimu sedang patah, tak perlulah jauh-jauh mencari penyemangat… just look at your dad, you’ll find the answer…

    sebetulnya aku mau ngasi bahu juga buatmu, tapi gak boleh… ya udah, aku ngasi doa aja ya… “Ya Allah, berikanlah kebahagiaan bagi saudariku ini”

    Posted by vizon | September 28, 2009, 11:01 am
  6. aq g perlu minjemin bahuku,kmu kan sudah ta’ ksh cheese cake….huehuehue

    *kayaknya ada bagian yg nyindir aq ini :D*

    Posted by echa | September 29, 2009, 12:43 am
  7. wah jungkir baliknya sekalian ngeglundung aja sampe spanyol :p
    .-= AFDHAL´s last blog ..Lebaran pertama bersama blogger =-.

    Posted by AFDHAL | September 30, 2009, 12:01 pm
  8. Jangan pernah menyerah, tetap semangat, ya! karena tidak ada masalah ataupun cobaan yang melebihi kekuatan kita.
    .-= Riris E´s last blog ..Resep Untuk Memiliki Anak =-.

    Posted by Riris E | September 30, 2009, 3:42 pm
  9. Tetap berpikiran positif, Jeung…
    Salam kenal…

    Posted by Ly | October 23, 2009, 9:32 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

September 2009
M T W T F S S
« Aug   Oct »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: