you're reading...
daily's blings

Kepala Tiga

Aduh, kalau saya nulis “Kepala Tiga” pasti kamu semua nggak ada yang nekat menuduh kalo saya mau cerita soal jumlah kepala saya yang, ternyata, ada tiga biji, kan? πŸ™‚

Ya. Saya masih normal. Masih cantik-cantik aja. Masih menggemaskan. Masih pintar. Masih lebay. Dan.. masih punya kepala satu, nggak ada tambahan kepala lagi di badan montog saya… amit-amit!

Kepala tiga yang dimaksud tentu tidak lain tidak bukan adalah soal usia saya yang kini sudah merambat senja, eh, akhir dua puluhan. InsyaAllah, kalau Tuhan masih memberi jatah, dalam lima bulan ke depan, saya bakal ulang tahun yang ketigapuluh. He eh. TIGA PULUH. Kaget, kan? Nggak nyangka, kan, kalau perempuan secantik dan seimut saya usianya ternyata sudah tiga puluh? *siap-siap mendapat uang sumbangan dari temen-temen untuk beli cermin yang nggak retak* hihi

Kenapa mendadak saya cerita soal kepala tiga? Soal usia? Toh, ulang tahun saya masih bulan Februari tahun depan, kan?

Iya, iya. Saya sih sadar banget kalau ulang tahun saya masih lima bulan lagi (gimana nggak sadar, kalau saya terus ngeliat kalender dan membatin, “Ya, Allah… cepet banget ya harinya.. saya jadi cepet tua dong…”). Saya juga sadar banget kalau masih beberapa bulan lagi saya resmi menjadi perempuan usia tigapuluhan, yang mungkin dianggap sebagai usia yang sangat mendebarkan untuk perempuan yang masih lajang seperti saya.

Tapi, aduuhh… nggak, deh. Saya nggak akan cerita betapa mengenaskannya kisah perjuangan saya dalam menggeret lelaki ke pelaminan dan nggak berhasil juga sampai sekarang. Saya takut kamu semua bakal nangis karena iba melihat usaha saya itu dan berlomba-lomba untuk bikin istighosa bersama secara akbar di lapangan sepakbola dan mendoakan supaya saya enteng jodoh. Oh no! Nggak, deh. Beneran! Saya cukup tau diri! πŸ˜€

Saya bicara soal kepala tiga adalah karena barusan Papi menelepon saya dan tiba-tiba, di antara guyonan-guyonan ngelantur Anak-Bapak, Papi berkata, “Wah, sebentar lagi anak-anak Papi usianya kepala tiga semua, ya?”

Cleguk!

“Ya, iya, Dad,” kata saya.

“Udah tua-tua semua dong, ya…”

Cleguksss!!!

“He eh, Dad…”

Dan selanjutnya, Papi pun melantur ke cerita-cerita lain tanpa menjelaskan maksud dari kata-kata “KEPALA TIGA” dan “SUDAH TUA” itu, sehingga setelah menutup telepon, saya pun mulai berkhayal yang bukan-bukan soal kenapa Papi mendadak bicara soal topik yang sensitif itu *hiyaaah, gaya lu, La… sensitif apaan? elo aja yang keliwat sensi! hihi*

Ada beberapa kemungkinanan jawaban dari Papi kalau seandainya tadi saya memutuskan untuk bertanya, “Emang kenapa, Dad?”

1. “Ya, kamu kan artinya sudah siap nikah, La.. Mau nunggu sampai kapan lagi, sih? Papi pengen cucu!”

2. “Ya, berarti kamu sudah jadi perawan tua, dong!”

3. “Ya, sebaiknya kamu cepat berumahtangga!”

4. “Ya, cepatlah seriusin hubunganmu sama siapapun cowokmu sekarang, daripada begajulan nggak penting begitu!”

Kok kawin mulu, sih, La? Hehe. Namanya juga lagi sensi, mikirnya cuman ke situ doang! πŸ™‚

Tapi untungnya, seingat saya, Papi memang nggak pernah mengusik ‘ranah perjodohan’ saya. Seumur hidup saya, Papi tidak pernah mementingkan, “Kapan nikahmu? Kapan mulai serius mencari jodoh? Kapan mau kasih Papi cucu?” dll, dsb. Yang selalu menjadi perhatian Papi adalah apakah saya berbahagia dengan pekerjaan saya, dengan kegiatan saya, dengan apapun yang saya kerjakan sekarang.

Papi memang tidak seperti orang tua pada umumnya yang selalu belingsatan karena anaknya masih lajang padahal usianya sudah hampir tigapuluh. Buat Papi, yang penting anaknya bahagia. Dengan cara apapun juga, sekalipun mungkin tidak menikah sama sekali. Hebat, kan, Bapakku? πŸ™‚

Jadi, setelah saya pikir-pikir lagi, mungkin saat Papi berkata soal anak-anaknya yang sudah kepala tiga semua, itu artinya, Beliau-pun sudah semakin tua. Bayangkan, anak bungsunya saja sudah tiga puluh, bagaimana dengan beliau, kan? Pasti Papi mikir kalau dirinya pun sudah tua dan sedang menikmati waktu-waktu senjanya… entah, memikirkan hal-hal apa. Bahagiakah? Sedihkah?

Hmmm…

Rupanya memang bukan saya saja yang sedang sensitif karena menjelang menstruasi, karena ternyata,Β Papi tercinta saya pun bisa saja sensitif juga.. πŸ™‚

Ah, Dad…

I love to grow old with you…
And hopefully, someday, I have the chance to show you my kids and tell them, “
Eh, Nak. Ini lho, Nonno, kakekmu yang Bunda bangga-banggakan itu…”

Ya. Papi boleh tua. Tapi, Papi tetap lelaki yang sangat hebat, sampai kapanpun!

Love you, Dad!

Mwah, mwah!

***

Kantor, Rabu, 9 September 2009, 4.39 sore
Buat Edi Purwono

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

12 thoughts on “Kepala Tiga

  1. heheheh….

    saya nyumbang senyum sajalah…

    SAlam Perantau

    Posted by bandit pangaratto | September 10, 2009, 8:07 am
  2. hmmm

    aku udah 41, papaku udah 71….
    itulah kehidupan yang harus dijalankan dan DINIKMATI!

    baru kepala 3 …ARASA (Around thirty) katanya orang Jepang. Waktunya menikmati hidup.

    EM

    Posted by Ikkyu_san | September 10, 2009, 9:11 am
  3. bagi perempuan seperti Lala
    kepala tiga, tak ada
    yg perlu dirisaukan
    sebab Lala merupakan
    wanita mandiri, smart dan kereen
    tak berlebihan bila
    disebut Jeunglala
    termasuk Bukan Perempuan Biasa

    Posted by mikekono | September 10, 2009, 10:22 am
  4. Yah, menjelang usia tiga puluhan. Masih wajar untuk mencari jati diri dan belum dalam batas memulai kehidupan sebenarnya. Seperti orang bijak mengatakan “Live begin at forty”

    Posted by Nazar | September 10, 2009, 4:51 pm
  5. Papaku juga nggak pernah rewel dan nggak pernah ngrecokin status anak-anaknya. Kalau tiba waktunya, pasti anak-anaknya ngomong sendiri. Jadi kami tak pernah merasa “dikejar-kejar”

    Posted by nanaharmanto | September 10, 2009, 7:57 pm
  6. huhehehehe…kita kan gak tambah tua cint! kita tambah cantik dan menggemaskan…huhehehehe…
    peduli amat dengan umur πŸ˜€

    Posted by Ria | September 11, 2009, 3:42 pm
  7. Orangtua yang menyenangkan. Ya.. memang sebaiknya begitu, IMO, nanti nikah untuk membahagiakan diri sendiri, bukan buat memberi cucu pada orangtua, atau memberi menantu pada mertua, atau memberi status di masyarakat.. πŸ˜‰

    Posted by jensen99 | September 11, 2009, 6:12 pm
  8. nanti nikah untuk membahagiakan diri sendiri, bukan buat memberi cucu pada orangtua, atau memberi menantu pada mertua, atau memberi status di masyarakat.. πŸ˜‰

    Ohohohoho.. gua suka bangets ama komennya si Jensen99 πŸ˜€

    Posted by Indah | September 12, 2009, 8:18 am
  9. Tenaang lha πŸ˜‰
    time is something we can’t stop.

    Beruntung papi lu gak rese πŸ˜‰

    Posted by Eka Situmorang - Sir | September 12, 2009, 1:58 pm
  10. Jangan terlalu dipikirkan, yg penting “usaha” dan jangan cuma “wacana” … hehehe πŸ™‚

    Posted by Oemar Bakrie | September 13, 2009, 1:34 am
  11. Senang mendengar seorang anak yang mencintai papanya. Ya soal umur, mengapa setiap membicarakan hal beginian selalu dihubungkan dengan pernikahan (apalagi perempuan). Budaya kali ya. Hm… nikmatin aja deh, semoga hidup menjadi lebih baik lagi dan pada akhirnya … dinikahin aja ^_^

    Posted by Bang Aswi | September 13, 2009, 9:10 am
  12. luckily, gue masih lama banget menuju kepala 3 ituh.. πŸ˜›

    *no offense la!*

    Posted by Billy Koesoemadinata | September 14, 2009, 10:45 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

September 2009
M T W T F S S
« Aug   Oct »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: