you're reading...
It's me... today, Just a Thinking, Thoughts to Share

Will I Ever Meet You in The Intersection?

Semalam tadi, mendadak saya tercenung dan membayangkan betapa hidup setiap manusia seperti sebuah lintasan rel kereta api yang tersendiri. Ya, sebuah rel kereta api yang panjang dan berliku-liku. Yang tertempa sinar mentari yang menggigit atau air hujan yang dingin.

Seperti layaknya rel kereta api, hidup manusia bisa saja lurus dan berada bersisihan. Tak bertegur sapa, seperti ketika kamu duduk di sebuah angkot, bersebelahan dengan seseorang yang sama sekali tak kamu kenal dan dia sedang asyik sendiri mendengarkan alunan musik MP3 dari player-nya. Seperti saat kamu berjalan sendirian ke sebuah mal yang ramai. Seperti saat kamu duduk di sebuah bangku taman sambil menikmati langit yang perlahan berubah.

Tak bertegur sapa. Tak berinteraksi dengan siapapun. Sekalipun banyak kehidupan yang lewat di depanmu, yang berjalan bersisihan denganmu, tapi kalian tak bertegur sapa. Lurus saja, seperti rel yang tertata beriringan, yang tertata bersisihan.

Tapi tepat pada suatu titik, rel itu mungkin akan bertemu. Rel itu mungkin akan saling berjumpa di sebuah titik yang somehow akan membuat hidup saling menyapa.

Saat kamu duduk di dalam angkot, di sebelah seseorang yang mendengarkan MP3 player-nya lalu mendadak barang belanjaannya terjatuh sehingga kamu dengan spontan membantu memungutnya, lalu dia tersenyum sambil berkata, “Terima kasih, ya?”

Saat kamu sedang berjalan sendirian di dalam mal lalu kamu ingin menikmati segelas plastik besar minuman es teh dingin karena haus, lalu kamu menuju ke gerai tersebut dan berkata, “Mbak, bisa minta Teh Gopek yang jumbo, satu aja…”

Dan saat kamu sedang duduk-duduk di atas bangku sebuah taman sambil menikmati langit yang berubah lalu tiba-tiba seseorang datang padamu sambil berkata, “Mbak, saya bisa duduk di sini?” Lalu ibu-ibu tua itu duduk di sebelahmu sambil menyodorkan muffin hangat buatannya sendiri.

Railway Point
The Intersection of Our Railways?

Railway Point
The Intersection of Our Railways?

Ya.

Somehow, rel-rel yang tadinya berjalan bersisihan itu, yang hanya salingmemandang, saling memerhatikan, suatu saat nanti mungkin akan bertemu, mungkin akan bertegur sapa, kelak ketika sampai pada sebuah titik; an intersection where you and their lives meet and greet each other.

Dan seperti layaknya rel kereta api yang sudah di-design sedemikian rupa oleh para pakar sehingga masing-masing titik pertemuan alias the intersection itu tadi sudah tertata sempurna, begitupula ‘rel’ setiap manusia. Our Creator, God Almighty, adalah pembuat rencana yang sungguh hebat. Dia menempatkan intersections terbaiknya untuk setiap makhluk ciptaanNya, karena Dia yang paling tahu, di mana tepatnya rel-rel tersebut harus bertemu.

And, my friends, kamu tidak akan bisa menolak pertemuan itu no matter how hard you try! Kamu hanya punya kuasa untuk bereaksi terhadap siapa yang kamu temui, apa yang kamu hadapi, tapi kamu tak bisa mengelaknya ketika Tuhan menghadirkan masa itu di depan kedua biji matamu. You just have to deal with it, because it’s not anyone’s control. It’s God’s, not yours.

Jika memang Tuhan berkendak membelokkan relmu untuk berpapasan dengan rel lain lalu membuat kalian bertegur sapa, maka itulah yang terjadi. Dan jika memang Tuhan menginginkan agar relmu dan rel seseorang itu hanya berjalan bersisihan, memang begitulah segala sesuatunya harus terjadi.

Suddenly I remember this one man, right across the other side of the globe.

Saya dan dia berada di jalur kereta yang berbeda, sekalipun bersisihan, sekalipun saya memandanginya dan menikmati wajah dan tubuhnya lewat kedua mata saya. Saya hanya bisa berteriak, memanggilnya, dan mungkin ia mendengar lalu menoleh, tapi ia tak bisa menggenggam tangan saya, merangkul saya, atau sekedar menjabat tangan saya dan kami bisa berbincang berdua di bawah langit yang sama.

Dia hanya bisa memandang saya. Dan saya hanya bisa melakukan hal yang sama. Begitu terus, sepanjang rel hidup saya dan dia kini.

Kelak, mungkin saja relnya atau rel saya akan berbelok ke arah lain, lalu saya tak lagi bisa memandangnya. Tak lagi bisa berteriak memanggilnya, lalu ia menoleh. Dan kami saling melupakan.

Tapi kelak, bisa jadi, justru rel kami akan bertemu, dan Tuhan mengijinkan kami untuk saling berbincang sambil berebut oksigen di tempat yang sama.

Entahlah.

Ini bukan kuasa saya. Bukan kuasa siapapun juga, kecuali Sang Maha Pencipta Segala Makhluk di Dunia.

Saya tidak akan pernah tahu kapan rel kami bertemu atau kapan kami tak lagi berada bersisihan, sekalipun kini saya tak pernah berhenti bertanya sampai detik ini:

“Will I ever meet you in the intersection?”

Dan itu membuat saya ingin memejamkan mata lalu bermimpi saja…

**

Life is a series of intersecting lives and incidents, out of anyone’s control…

***

Kamar, Jumat, 4 September 2009, 4.41 Pagi
Untuk kamu yang sedang melaju di atas sebuah rel

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

15 thoughts on “Will I Ever Meet You in The Intersection?

  1. La, kalo kita kali bukan berselisihan lagi ya… tabrakan!!! hahahaha

    cihuyyyy, senada seirama \:D/

    EM

    Huehehehe…
    tabrakan buanget! Ditabrak-tabrakin malah! hihihihi..

    Tos dulu ah!
    😀

    Posted by Ikkyu_san | September 4, 2009, 6:08 am
  2. hehehe…

    manusia diberi hak kok untuk membelokkan relnya sesukanya, iya sesukanya… tapi ada resiko dan hal” lainnya yg harus ditanggungjawabi…

    Nah, repotnya, kalo kita berjalan di luar jalur, yang ada malah bingung sendiri, kan? 🙂

    Posted by bandit pangaratto | September 4, 2009, 8:41 am
  3. Asal jangan lupa pintu lintasan selalu dijaga. Bisa2 kecelakaan lalu lintas ntar.. hihii

    Hahahaha… Penjaga Pintu-nya keren, koooookkk… Canggih dan ahllliiii… hehehehe

    Posted by Ucha | September 4, 2009, 9:13 am
  4. Mmmm …
    just one question …
    Abis nonton pelem Holiwut apa La ?

    hehehe
    🙂

    You really knew me… really really knew me… 🙂

    Posted by nh18 | September 4, 2009, 10:22 am
  5. waduh dalem bgt Mbak Lala. teruslah berkarya…
    banyak yg baca walopun tdk meninggalkan pesan dan komentar.

    salam kenal.

    Haai…
    Salam kenal juga, ya.. Seneng banget dapet komentar dari silent reader seperti kamu… Now you’re no longer a silent reader, ya… 🙂
    Makasssiih yaaa…

    Posted by hamidah qoyyimah | September 4, 2009, 12:51 pm
  6. Betul tuh kata bu EM, kalau jalannya berbarengan di intersection depan pasti tabrakan. Kenapa juga tidak mengambil analogi jalan raya, ga perlu tabrakan lagi. 😀

    Posted by HP | September 4, 2009, 2:35 pm
  7. Itulah kehidupan, banyak hal diluar kontrol dan kekuasaan kita.Allah swt telah mengaturnya.
    Dari rel yang bersebelahan,seirama,mesra,berpisah di persimpangan,jalan sendiri2…dan mungkin bertemu lagi.

    Posted by dyah suminar | September 5, 2009, 7:46 am
  8. Walah.. kayaknya gue kenal sama rel yang satu itu la.. :p

    Posted by p u a k™ | September 5, 2009, 8:10 am
  9. *absen dr rumah, soalnya kalo dr kantor masih error*

    salam saja

    Posted by Bro Neo | September 5, 2009, 11:29 pm
  10. Nasib manusia brada d tangan Tuhan. Meski setiap hari bisa memandangi rel yang bersebelahan namun kalo belum d beri jodoh untuk berebut oksigen di tempat yang sama, kita cuma bisa berharap. Semoga silaturahmi ini bisa terjalin di kemudian hari. 😆

    Posted by Sugeng | September 6, 2009, 12:21 am
  11. Artikel yang menyentuh..dan indah..

    I’m sure a very special girl will cross my railway n meet me in the intersection..n that’s gonna be the most beautiful thing in my life ^_^

    Posted by wellsen | September 6, 2009, 11:21 am
  12. saya kira, kita bukan berada pada rel yang berbeda, tapi pada kereta yang sama, hanya gerbongnya yang berbeda. tinggal bagaimana usaha kita untuk bergerak; mau bergabung di gerbong yang sama, atau tetap pada gerbong masing-masing… 😉

    Posted by vizon | September 7, 2009, 8:31 am
  13. wah ada operasi/sweeping, jadi ganti arah aja lewat jalan pintas hehehee
    OOT

    Posted by AFDHAL | September 8, 2009, 10:39 am
  14. meeting someone in intersection..hmmmmmmm..prosesnya jeung emang yang bikin deg deg an tapi hasilnya bikin ikhlas luar biasa….:)

    Posted by shinta soebijandono | September 8, 2009, 6:37 pm

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: The Blings of My Life « the blings of my life - February 26, 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

September 2009
M T W T F S S
« Aug   Oct »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: