you're reading...
daily's blings, Just a Thinking, Thoughts to Share

where does the love go?

where-does-the-love-goPertanyaan ini menghantui pikiran saya sepagian ini.

“Where does the love go?”

Kemana perginya cinta yang meletup-letup ketika semuanya sudah tidak masuk akal? Kemana perginya rasa sayang yang menggebu-gebu ketika semuanya sudah terasa melelahkan? Kemana perginya sebuah janji yang mereka bangga-banggakan di depan penghulu ketika semuanya seolah sedang bergerak di dua rel yang berbeda?

Ya.

Where does the love go?”

**

Pagi ini saya disambut dengan cerita seorang Kakek yang kebetulan bekerja sebagai office boy di kantor saya. Namanya Pak Suhadak, seorang yang sudah saya anggap sebagai ‘Bapak’ di kantor tempat saya bekerja sekarang, seseorang yang pernah mengilhami tulisan saya : I wanna be rich! yang juga kemudian membuat saya geram dan kesal sekali karena mendadak saya menyesali ‘ketidakbisaan’ saya dalam membantunya. Benar, karena saya bukan orang yang kaya!

Tapi, ini bukan cerita tentang keinginan saya menjadi orang kaya. Ini bukan cerita tentang seorang cucu perempuan yang terlahir prematur dan membutuhkan banyak biaya. Tidak, tidak. Bukan itu yang ingin saya ceritakan lagi, karena sejatinya, ada cerita lain yang ingin saya bagi buat kamu.

Tentang kemana perginya sebuah cinta.
Tentang kemana hilangnya sebuah rasa sayang.
Dan kemana lenyapnya semua rasa yang mengawali sebuah komitmen ketika everything falls apart.

Ya.

Pagi ini, Pak Hadak bercerita tentang anak menantunya, ibu dari bayi prematur itu. Belum lagi duduk lama di kursi depan laptop, Pak Hadak sudah bercerita soal perempuan di usia awal dua puluhan yang sejak hari Jumat kemarin telah melarikan diri dari rumah, meninggalkan anak dan suaminya. Dan namanya saja “kabur”, tentu saja nggak pake acara pamit segala!

“Padahal putuku lagi loro (Padahal cucuku lagi sakit), Mbak…”

Ya. Bayi kecil itu kini sedang di-eksaminasi di rumah sakit Dr Soetomo karena kepalanya membesar dan diduga adalah hydrocephalus yang membuatnya harus menjalani operasi belasan juta Rupiah. Sebuah operasi untuk menyedot cairan yang membuat bentuk kepalanya membesar sehingga tak mampu mengangkat kepalanya meski usianya sudah setahun kurang dua bulan.

Ketika cerita itu usai, isi kepala saya ter-okupasi dengan satu pertanyaan ini:

“Where does the love go?”

Di mana cinta yang digadang-gadang adalah alasan mereka untuk menikah setahun kemarin ketika hubungan mulai memanas? Anak bayi prematur yang lahir membutuhkan banyak biaya, yang kemudian menderita hydrocephalus dan lagi-lagi membutuhkan uang tak sedikit. Semudah itu seorang Istri dan Ibu meninggalkan anaknya sampai tak tahu rimbanya; dan kemanakah cinta itu pergi sampai ia tega?

Lalu akhirnya, pertanyaan itu menggelinding ke hal lain. Ke pertikaian antara suami istri yang menyebabkan perceraian yang menimbulkan derita untuk anak-anak mereka. Sekali lagi, “Where does the love go?”

Lalu ketika seorang suami atau istri yang tega meracuni pasangannya sendiri. It got me thinking, “Where does the love go?”

Dan ketika semuanya tak lagi mudah, ketika keadaan ekonomi membuat mereka terpaksa mengunyah kenyataan pil pahit setiap harinya, ketika pasangan tak lagi nampak cantik atau tampan, ketika anak-anak sedang nakal-nakalnya dan menguji batas kesabaran, ketika pasangan/anak sakit parah… I’m asking myself, “Where does the love go?”

Saya tidak pernah tahu kemana perginya cinta di saat segalanya tak lagi mudah. Saya tidak tahu apakah memang cinta itu pergi atau bersembunyi karena hati sedang kesal. Saya tidak tahu apakah cinta sedang tak ingin ditemui karena pikiran sedang kalut.

Where does the love go?
Or where does it hide?

Yang pasti, pagi ini, cerita Pak Suhadak tentang anak menantunya membuat saya tertegun cukup lama sebelum mulai menuliskan cerita ini di blog.

Sampai akhirnya saya sadar; ada banyak alasan untuk sekeping keputusan. Ada banyak pemikiran sebelum kemudian lahir sebuah tindakan.

Dan kalau ada yang bertanya, “Where does the love go?”

Saya akan menjawab, Maybe love doesn’t go anywhere. It only stays some where we could never find until we open up our heart. And until then, it seems that it’s out of the radar, out of our lives…”

Ya. Itu saja.

***

Kantor, Senin, 31 Agustus 2009, 9.29 Pagi

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

25 thoughts on “where does the love go?

  1. Dalam suatu pernikahn cinta saja tidak cukup La.
    Cinta itu merekatkan namun yang tetap menjaga rekatan cinta itu adalah komitmen.
    Komitmen untuk selalu ada di saat sakit, sehat, senang, duka, kaya atau bahkan miskin.
    Cinta itu bisa memudar, bisa pergi menghilang seiring waktu juga keadaan. Namun komitment tetap ada disana, walau apapun jua.

    Jadi salah satu poin ketika mencari pasangan adalah mencari kekasih hati yang bisa menjaga komitmennya, menepati janjinya.

    Salam, EKA
    (PS. Gue lagi waras karena mendapat jatah maen pet yg sangat sedikit :p hehehe)
    .-= Eka Situmorang – Sir´s last blog ..Balada Asinan Buah =-.

    Posted by Eka Situmorang - Sir | August 31, 2009, 11:00 am
  2. kata emak juga sama dengan kata Mbak Eka…bahwa cinta saja tidak cukup…karena kalau bertanya tentang cinta dimana? yu can feel it everywhere like an air….

    cinta tidak selalu indah bahkan bisa jadi suram kalau tidak diikutin faktor2 penyerta yg baik…susah ya la!
    .-= Ria´s last blog ..Perjalananku Day 5 – Day 7 =-.

    Posted by Ria | August 31, 2009, 11:42 am
  3. Yup, benar kesimpulan kamu, La. Cinta itu mungkin masih ada, hati masih tertutup. Benar juga kapa Pak Eka. Cinta saja tidak cukup, butuh komitmen. Tapi bagiku komitmen rasanya seperti dipaksa. Yah, memang saat cinta memudar, mungkin rasanya komitmen terasa berat. Satu-satunya cara adalah mengingat masa-masa ketika cinta itu masih menggebu-gebu, and it works for me🙂 Satu lagi, ketika sudah hidup bersama, ketika sudah merasakan dicintai, ego kita harus dipinggirkan🙂

    Posted by Cempluk | August 31, 2009, 11:47 am
  4. well, selain cinta + alpha macem-macem itu, perlu diketahui bahwa perempuan itu memang labil dan lemah. Sebelum menikah mengalami Marriage Blue, sebelum melahirkan mengalami Maternity Blue, dan sesudah melahirkan? Dia juga yang harus mengurus bayinya 24 hours a day. selain dia harus mengurus suami dan dirinya. BERAT! Berbahagialah mereka yang ada asisten + baby sitter + ibu sendiri + suami org Indonesia yang masih mau menjaga bayinya.

    Banyak ibu-ibu di Jepang yang akhirnya mengalami paranoid, sampai tega membunuh anaknya sendiri. Tega? TIdak… karena dia tidak sadar waktu melakukannya. Dia tidak tahu bahwa yang sedang dia benamkan di bak mandi itu adalah anaknya, saking penuh kepalanya. Tanpa istirahat, tanpa baby sitter, tanpa pembantu!!!!

    Jadi, sebelum menyalahkan si ibu yang melarikan diri, coba tanyakan dia, apa yang menjadi masalah. Sebelum dia menjadi gila, atau bunuh diri. Orang lain tidak berhak mengadili seorang ibu, tanpa mengetahui alasan yang jelas.

    I’ve been there…..
    Saya memukul tangan dan kepala saya sendiri ke tembok, waktu malam hari, bayiku tidak berhenti menangis. Hanya supaya jangan tanganku menyiksa anakku sendiri. Untung ada Gen yang langsung membawa Riku pergi. 24 jam mengurus bayi sendirian itu SULIT!

    Itu saja pendapat saya, sebagai seorang ibu dari dua anak, tanpa pembantu, tanpa baby sitter, tanpa bantuan suami.

    EM
    .-= Ikkyu_san´s last blog ..Badai datang! Pemilu penentuan! =-.

    Posted by Ikkyu_san | August 31, 2009, 12:30 pm
    • Bener, Sis. Kita nggak pernah tahu apa alasan masing-masing orang dalam melakukan segala sesuatu.
      Sedih juga baca tulisanmu tentang seorang Ibu yang tega seperti itu, walaupun pada akhirnya, apa sih hak kita untuk menghakimi seseorang dan keputusannya?

      Itulah kenapa aku tulis: “Sampai akhirnya saya sadar; ada banyak alasan untuk sekeping keputusan. Ada banyak pemikiran sebelum kemudian lahir sebuah tindakan.”

      We’re the outsider aja..🙂

      Btw, kalo dari kasusnya ini, Sis, kata pak Hadak, ibunya memang sudah nggak kepengen bayi ini lahir… Jadi, dari dulu, yang merawat tuh Nenek, Kakek, dan Bapaknya…

      Posted by lala | August 31, 2009, 1:49 pm
  5. aq setuju dengan Ibu EM
    berat sekali menjadi seorang Ibu yang mengurus segalanya

    aq aja yang baru duabulan berumahtangga, tanpa pembantu, dengan tipikal suami yang menuntut istri untuk memasak dan dengan rutinitas perkerjaan 8 – 6, so yess I’m messed up! jangan ditanya betapa jumpalitannya saya melakukan semuanya

    dan salut sangat dengan Ibu EM yang luarbiasa superwomannya, semoga saya bisa seperti Ibu EM, semangat!!!

    when love goes astray, please see both side, not just see wat meets the eye

    Posted by jones | August 31, 2009, 1:13 pm
  6. hmm….
    where does the love go..?

    and maybe “the love” will answer:
    “I’m going no where… tapi kamu yg tak bisa lagi melihatku (seperti dulu)..!”
    .-= bandit pangaratto´s last blog ..Kelas 2 dan 3 SMP, rasanya dikagumi, ditaksir, dan (dicintai?)…!!! =-.

    Posted by bandit pangaratto | August 31, 2009, 1:22 pm
  7. sepakat dengan mbak Em.

    aku bisa membayangkan betapa pusingnya si ibu itu sampai dia “tega” meninggalkan anaknya yg sakit. memang kesannya dia yg salah. dialah yg seharusnya berada di samping anaknya. tapi utk bisa spt itu, nggak semua orang bisa. kadang memang keinginan utk “lari” dari masalah itu begitu tak tertahankan. dan mungkin dia pergi begitu saja meninggalkan keluarganya tanpa dia sadari. berada dalam kondisi sulit, kepepet, dan semua orang menuntut supaya dia tetap “waras” itu berat.
    .-= krismariana´s last blog .. =-.

    Posted by krismariana | August 31, 2009, 1:37 pm
    • Bener, Mbak. Aku juga setuju dengan pendapat seperti itu. That’s why I wrote about it in the ending of the story, di mana setiap keputusan selalu lahir dengan pemikiran dan alasan-alasan tertentu…

      There’s always a reason for everything. Kalo alasan itu dianggap nggak masuk akal oleh orang lain, tentunya, itu bukan urusan kita… It’s their lives, it’s their decisions. Kita? CUman penonton yang semoga tidak menjadi hakim gadungan…🙂

      Posted by lala | August 31, 2009, 1:57 pm
  8. sebelum memutuskan apakah si ibu beneran salah or tidak, harus melihat dulu latar belakangnya. keputus-asaan dan kebingungan sering membuat orang berbuat di luar akal sehat

    Posted by dee_tresna | August 31, 2009, 1:44 pm
    • Setuju sekali…
      Selalu ada alasan untuk semua hal.
      Dan aku nggak mau jadi orang yang hobi menghakimi orang lain… karena buat aku, selalu ada alasan untuk semua hal… untuk hal paling konyol sekalipun…

      Posted by lala | August 31, 2009, 2:02 pm
  9. tak cukup cuma love.. harus ada juga pride dan trust..Insyaallah langgeng “-)
    .-= kucingkeren´s last blog ..Dia pun Benar Benar Pergi.. =-.

    Posted by kucingkeren | August 31, 2009, 4:01 pm
  10. Where does love go? Hmm.. bukannya cinta itu ramuan hormon-hormon yang membludak dan tengah menunggu waktunya untuk matang? Jadi, kalau pun ia pergi, sama seperti cairan tubuh lain yang kita buang setiap hari.🙂
    .-= hp´s last blog ..Orgasme intelektual =-.

    Posted by hp | August 31, 2009, 4:33 pm
  11. Buat saya cinta juga punya ukuran tersendiri, seperti panjang yang di ukur dengan meter, berat yang di ukur dengan kilo atau suhu yang di ukur dengan celcius. Jadi cinta juga sedikit/kecil/pendek juga bisa banyak/besar/tinggi. Selain itu cinta juga terdiri “zat-zat” tertentu, sepeti air yang terdiri dari 2 atom H dan 0, yang mungkin dalam cinta itu juga ada ketulusan, keikhlasan, keegoisan dll. Semuanya melatarbelakangi sebuah keputusan/pilihan yang harus dijalani di kala cobaan menghadang. Seberapa besar dan Murni cinta itu? Dan itu hanya jika di pandang dari sisi cinta aja, masih ada sisi lain yang terlibat juga khan, seperti keimanan seseorang.
    .-= heri koesnadi´s last blog ..Free ETABS v 9.2 and ETABS V 9.5 =-.

    Posted by heri koesnadi | September 1, 2009, 12:22 am
  12. Saya nggak tertarik untuk menyalahkan siapapun diantara mereka sehingga terjadi demikian, tetapi yang jelas apapun alasannya si anak yang jadi korban…. bagi si Anak nggak penting siapa yang salah atau benar…. yang pasti dia merasakan akibatnya… mestinya ada toleransi dan solusi diantara pasangan demi buah hati mereka.
    mungkin pengalaman pribadi dan hal hal yang seperti ini yang membuat saya menjadi super extra hati hati dalam membuat suatu commitment soal pasangan hidup…. apa saya Phobia…?!
    .-= Panglatu´s last blog ..Hari Minggu di Cause way bay Hong Kong. =-.

    Posted by Panglatu | September 1, 2009, 1:18 am
  13. Atau memang cinta itu memang benar-benar sudah hilang…hilang begitu saja semudah perasaan itu tumbuh kapan saja dan dimana saja. Mungkin perasaan itu memang liar. ketika sudah tidak ada alasan untuk mencinta, love doesn’t here anymore. tapi ketika terikat komitmen, tidak perlu cinta untuk tetap bertahan. itu yang bisa gue simpulkan dari obrolan gue dengan bokap teman gue yang sudah menikah selama 30 tahun.
    .-= frozzy´s last blog ..RAMADHAN-KU, MOMENTUMKU =-.

    Posted by frozzy | September 1, 2009, 3:18 pm
  14. Hmm.. buat gua pribadi ketika “cinta” udah ngga ada lagi dalam pernikahan gua, gua ngga mau tetap stay in that marriage :p

    Karena apa?

    Contoh apa yang mo gua kasih ke anak2 gua dengan stay in a marriage yang tanpa rasa cinta?

    Punya ortu yang always in a fight sama menyiksanya dengan punya ortu yang hidup bagaikan 2 orang asing yang ‘kebetulan’ berbagi rumah yang sama hanya karena terikat janji untuk setia sehidup semati.

    Tapi yaa.. itu balik lagi terserah ke orang masing2 karena there’s no right or wrong in this. Tergantung nilai yang mereka pegang tuh gimana.

    Posted by Indah | September 6, 2009, 12:26 am
  15. thx u lala, telah mengingatkan aku akan komitment yg pernah aku ucapkan

    smoga aku tetap mencintai, setia, dan selalu mendukung istri dalam sehat & sakit, suka & duka, untung & malang…

    amien

    Posted by Bro Neo | September 6, 2009, 10:46 am
  16. mantap, kata2 bijak di akhir tulisan, saya jadi terharu, hiks😀

    Posted by nurrahman | September 8, 2009, 3:54 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

August 2009
M T W T F S S
« Jul   Sep »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: