you're reading...
It's About Me, Just a Thinking

Being Famous

Kamu lihat pemilihan Miss Universe 2009, yang dihelat di kepulauan Bahamas dan disiarkan langsung melalui teve kabel di Senin pagi pukul 8 dan ditayangtunda oleh Indosiar pada malam harinya?

Oh well, hari Senin kemarin saya memang tidak masuk ke kantor sehingga bisa menonton tayangan langsungnya di Star World dan musti ekstra menajamkan pendengaran karena saya sering mendadak budeg kalau mendengarkan percakapan dengan bahasa Inggris! Hehe.

Nah, sesi yang sangat menegangkan (tentunya, selain pengumuman Miss Photogenic yang akhirnya luput dimenangkan oleh wakil dari negeri kita tercinta sekalipun sudah digadang-gadang bakal melebihi prestasi Puteri Indonesia — lupa tahun berapa–, Artika Sari Devi yang dulu menembus 15 besar) adalah ketika sudah sampai lima besar dan setiap kontestan yang tersisa harus menjawab satu pertanyaan dengan sebaik-baiknya, untuk menentukan hasil akhir pemilihan puteri sejagad itu.

One question that moved me the most is a question about being famous. Saya (lagi-lagi) lupa siapa yang mengajukan pertanyaan itu dan siapa kontestan yang dapat jatah pertanyaan itu, tapi menurut saya, itu adalah satu-satunya pertanyaan yang SANGAT MUDAH. Dan tahu nggak, sih. Saya sampai kepikiran, “If only I were the contestant, saya punya jawaban yang sangat tepat – for my opinion, certainly – dan tidak belepotan seperti yang keluar dari mulut kontestan (yang masih saya lupa dari negara mana).

Saya punya jawaban yang bisa dengan suka cita dan riang gembira serta tegas untuk pertanyaan ini:

“Justin Timberlake pernah bilang, kalau menjadi populer akan mempengaruhi privasimu. Nah, kenapa kamu malah ikut kontes Miss Universe yang bisa membuat kamu menjadi populer sehingga kamu bisa kehilangan privasimu?”

(okay, lebih kurang seperti itulah…  kan sudah dibilang, kalau saya sering budeg mendadak… hehe)

Ya.

Kalau saya tahu kalau menjadi populer akan membuat saya kehilangan privasi, di mana setiap lekuk tubuh saya, setiap polah tingkah saya, setiap lelaki yang saya gandeng atau saya telepon, adalah material luar biasa yang bisa membantu pencari berita untuk mengepulkan asap di dapurnya sehingga saya kehilangan seluruh privasi saya… so what?

Kadang saya suka heran dengan artis-artis yang mengeluh kehidupan pribadinya terusik. Okay, memang banyak sekali paparazzi yang suka sekali mengambil gambar tanpa ijin dengan cara nyanggong alias nungguin di depan rumah (atau bahkan di lokasi manapun juga), but when you decided to be a public figure, privasi yang terenggut adalah resiko yang seharusnya sudah diketahui dari awal sebelum kamu terjun ke dalam dunia itu.

Ada seorang Selebritis Hollywood yang pernah mengatakan bahwa kalau sudah jadi artis, ya hadapilah resikonya. Jangan mengambil bagian enaknya aja, lalu melupakan bagian yang nggak enak. Populer sebanding lurus dengan privasi yang hilang. Deal with it.

Berbekal dari situ, saya tahu, being famous, being a public figure, adalah sepaket dengan hilangnya privasi. Dan jangan menye-menye lantas mengeluh kalau kamu tak lagi nyaman. At least, this is what I’ve learned from a famous person from Hollywood (yang again, siapa, ya? hehe).

Itulah sebabnya, kalau kemudian seseorang menanyakan pada saya tentang paketan resiko yang mengikuti kepopuleran seseorang dan kenapa saya tetap memilih untuk menjadi orang yang populer di masyarakat banyak, saya bisa menjawab dengan lantang: “Lantas kenapa? I still want to be popular, no matter what.”

Mungkin bakal ada yang komentar kalau saya ngotot ingin menjadi populer karena kadar kenarsisan saya yang keliwat akut. Oh no. Percayalah. Saya punya alasan lain yang cukup mulia untuk menjadi populer, selain hanya untuk membuat hidung saya kembang kempis karena banyak yang menyebut saya, “Oh, ini kan Mbak Lala yang anu… yang pinter inu… yang jagoan ita itu…

Tidak. Bukan hanya karena narsis sehingga saya ingin menjadi populer. Saya ingin menjadi populer, lengkap dengan segala resiko yang mengintili di belakang saya, karena saya tahu, being popular membuat saya menjadi lebih mudah meng-influence orang lain.

Ya.

Kalau saya terkenal, kalau saya dikagumi banyak orang, kalau saya disukai banyak orang… saya bisa melancarkan propaganda (yang baik). Saya bisa menyampaikan pemikiran-pemikiran saya tentang banyak hal… dan banyak yang mendengarkan dengan antusias. Kalau saya terkenal, saya bisa membagi keinginan saya untuk membuat usaha-usaha sosial yang tidak mungkin saya lakukan sendiri… dan banyak yang tergerak untuk ikut serta dengan mudahnya, tanpa perlu saya mengenalkan diri pada masyarakat, “Hei, saya Lala Purwono. Sekretaris dan Staf Personalia di sebuah kantor Pelayaran Taiwan nomor satu di Surabaya. Saya ingin membuka sebuah panti asuhan, nih. Siapa ingin menjadi donatur tetap?”

Memang, memang bakal ada orang-orang yang tergerak menjadi donatur… but, hey. It will take time, a much longer time. Bayangkan kalau saya adalah seorang public figure, bintang sinetron terkenal yang banyak dipuja masyarakat karena akting saya sebagai tokoh protagonis yang kalem dan banyak nangis. Bayangkan bagaimana mudahnya untuk berkampanye dan men’jual diri’ saya untuk tujuan yang mulia?

Sangat mudah!

Saya tinggal bilang, “Siapa ingin bergabung dengan saya?”

Lalu ketika saya ingin mengajak orang-orang untuk menjadi generasi muda tanpa alkohol, narkoba, dan rokok, saya tinggal menjadi duta nasional lalu berkata, “Saya tidak pernah minum alkohol, karena tidak ada gunanya. Rokok? Cuman bikin paru-paru saya ngos-ngosan. Dan narkoba? Buat apa saya mengonsumsi sesuatu yang tidak pernah berguna buat saya? Jangan deh. Once you tripped, kamu susah bangun lagi, lho…”

I can influence people… much more people…
Dan yang menyenangkan adalah, mereka benar-benar mendengarkan! Tidak sedikit orang yang meniru polah tingkah tokoh idolanya, kan? Jadi, kalau kebiasaan baik saya ini ditiru oleh banyak orang, isn’t it wonderful?

Itulah kenapa saya ingin menjadi terkenal. Ingin sekali bisa membagi dan menulari sesuatu yang positif *dan mereka memang tergerak setelahnya*.

Itulah kenapa saya ingin menjadi terkenal. Ingin sekali mengajak banyak orang untuk berbuat kebaikan… hey, jangan salah. Yang saya maksud adalah MUCH MORE PEOPLE. Bukan lingkungan kecil saya, tapi banyak menyentuh orang.

Dengan segala embel-embel kalau menjadi terkenal membuat saya kehilangan seluruh privasi saya tetap tidak menyurutkan keinginan saya untuk menjadi seseorang yang dikenal oleh banyak orang. Tidak. Tidak akan.

Because being famous, membuat saya bisa melakukan propaganda kebaikan dengan lebih dahsyat lagi.

Sekalipun, ya ya ya. Tentu saja. Kalau saya bandel sedikit saja, saya bakal jadi omongan publik atau banyak fans berat yang kemudian meniru tingkah laku jelek saya.

Tapi bukankah dengan demikian, saya jadi lebih menjaga tingkah laku saya dan jauh lebih berhati-hati?

Jadi,
Menjadi populer?
Yuk, mari… ^_*

being-famous

***

Depan televisi, Kamis, 27 Agustus 2009, 11.15 Malam

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

26 thoughts on “Being Famous

  1. stuju mba 😀

    tp sy g mw jd trkenal ah.. repot..hihii :p

    cukup trkenal di dunia RW aja :p

    Naik dikit lagi deh… Se-kelurahan, gituh… hihi

    Posted by Aira | August 28, 2009, 7:25 am
  2. ikutan aja kontes-kontes di tipi itu La…
    karena Indonesian Idol udah gak tayang lagi, mending ikutan KDI aja… maknyus tuh… hehehe… 😀

    Sebetulnya, aku lebih pingin ikutan API, Uda… hihihi

    Posted by vizon | August 28, 2009, 8:44 am
  3. hihihihih…. iya, setuju dengan tujuannya….

    tapi saya yg orang aneh ini, lebih suka mengenal banyak orang daripada dikenal banyak orang… entahlah.. 😀

    Mengenal banyak orang juga baik… Dengan begitu, kita juga dikenal oleh banyak orang, kan? 🙂

    Posted by bandit pangaratto | August 28, 2009, 9:44 am
  4. Ya Allah, lama banget gue gak main kesini Laaaaaaaaaaa….hehehehehe.

    SEtuju, kalo gue siy La…pengen jadi terkenal….ya karena emang gue narsis lahhhh!! Apalagi! hihihihihi

    But anyway, alasan lo itu mulya banget, say…bangettttttttt 🙂

    Lama, Boss.. Lamaaaaa bangets! 🙂
    Soal alasan elo famous, kan juga sebelas dua belas sama gue.
    Tapi itu juga jawaban sebagai Miss Universe… hahahaha… ga deng… gue emang berhati mulia kok.. *wakakaka… lupa ngaca.. lupa ngaca…*

    Posted by yessy muchtar | August 28, 2009, 10:10 am
  5. Kalau sudah famous …
    Aku cuma pesen satu hal …
    “please jangan ngupil didepan umum yah ? ”
    “pleeeaaaassseee … “

    Beres, beres, Yah..
    Tapi kalo ngutil?? 🙂

    Posted by nh18 | August 28, 2009, 10:48 am
  6. yupe, hal baiknya adalah kita bisa dengan mudah mengajak orang lain untuk suatu hal…tapi yg postifnya yah mbak..

    🙂
    .-= hasian cinduth´s last blog ..Mungkin mudah bagimu =-.

    Posted by hasian cinduth | August 28, 2009, 1:33 pm
  7. Lho… bukannya sekarang udah terkenal di FB dan Blogger…???
    Gimana khabarnya La..?! lama nggak berkunjung, habisnya susah nyari internet disini …. alesan.com…..
    Salam dari Valencia – Spanyol.
    .-= Panglatu´s last blog ..Hari Minggu di Cause way bay Hong Kong. =-.

    Posted by Panglatu | August 29, 2009, 1:29 am
    • Hehe… Agak dikenal sih, iya, tapi kalo terkenal sih belum sampai segitunya deh.. 🙂
      Kabar aku? Not so well… Many things happened dan udah fucked bener… *lah malah curhat* hehe
      Abang susah nyari internet? Ah, paling alesan yang sebenernya tuh Abang keseringan ke pantai dan liat ‘pemandangan2’ indah, kali.. hihihi

      Posted by Lala | August 31, 2009, 7:51 am
  8. Ups…. ketinggalan……
    Selamat menunaikan Ibadah Puasa…..

    Posted by Panglatu | August 29, 2009, 1:33 am
  9. Yoi. Kalau sudah memutuskan untuk jadi seorang yang populer ya harus terjun seutuhnya, satu paket dengan privacymu. Emang tuh, artis2 kadang suka sok bilang merasa kehilangan privacy. Lah itu kan emg resikonya. Santai ajalah, enjoy aja. Toh kenikmatan yg didapat juga lebih banyak kan?
    Menjadi Populear??
    Ayyookk………. 🙂
    .-= zee´s last blog ..duh kualitas menurun nih… =-.

    Posted by zee | August 29, 2009, 10:00 am
  10. setuju banget ^^ btw tolong ambil award di tempatku ya, kan dirimu dah lama ga maen hiks..hiks..ato jangan2 ini efek dari being famous?? lupa pada temen lama? hohoho…piss, miss u ^^
    .-= olvy´s last blog ..Semanggi Suroboyo =-.

    Posted by olvy | August 29, 2009, 1:12 pm
    • Ah, ini bukan efek dari being famous. Tapi efek dari mood yang gebleg, Vi… hihihi… Serius, aku malah udah jarang maen kemana-mana… Maaf, ya… Nanti, insyaAllah aku ke tempatmu, oke.. Thanks before.. 🙂

      Posted by Lala | August 31, 2009, 7:53 am
  11. Hallo La …. lama juga kita nggak saling sapa ya? Tapi bukan berarti sudah saling melupakan, kan?
    Menurut saya sih, Lala punya bakat untuk jadi orang terkenal, lha wong cantik ada, pinter punya, berani sudah pasti. Cuma pesan saya, kalau udah jadi orang terkenal, jangan lupa sama saya ya …. 😀
    .-= Tuti Nonka´s last blog ..Meniko Batik Mas, Mbakyu …. =-.

    Posted by Tuti Nonka | August 29, 2009, 11:26 pm
    • Nggak lah, Bundaaa… I will never forget you… jogja would never be the same without you and Bundaku yang lain, Bunda Dyah… hehehe…
      Makasih buat pujiannya…
      Kapan2 aku liburan ke JOgja lagi ya, Bun.. Siap-siap aku repotin… hihihi

      Posted by Lala | August 31, 2009, 7:54 am
  12. ah sayang kamu bukan pesertanya 😉
    .-= senny´s last blog ..Gossip =-.

    Posted by senny | August 30, 2009, 12:20 am
  13. gk sah masuk tipi kan dah terkenal mbak… hehehe..
    .-= Emy´s last blog ..Semangad 17an =-.

    Posted by Emy | August 30, 2009, 11:47 am
  14. Well, celebrities work hard to become known and then wear dark glasses to avoid being recognized. :mrgreen:
    .-= jensen99´s last blog ..My Slow Rock File [5] True Love? =-.

    Posted by jensen99 | August 30, 2009, 10:56 pm
  15. Couldn’t agree no more with u..
    berbanding lurus selurus – lurusnya tuh tenar dan noprivacy 😉 hehehe
    Hmm… tapi kebalikan lu La, gue males terkenal (makanya bisa ke mall tanpa kaca mata item :p emang lu sapa Ka – dikemplang.com hauhahahahahaa)
    Dukung maksud mulia lu 😉
    .-= Eka Situmorang – Sir´s last blog ..Balada Asinan Buah =-.

    Posted by Eka Situmorang - Sir | August 31, 2009, 11:07 am
  16. hehehehe…there is a price to be a famous people…dan kehilangan privasi salah satunya…

    kalau gw terkenal gimana ya, setiap jalan terus liat iklah di billboard ada foto gw…hahahaha *mimpi kali ye :p*
    .-= Ria´s last blog ..Perjalananku Day 5 – Day 7 =-.

    Posted by Ria | August 31, 2009, 11:32 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

August 2009
M T W T F S S
« Jul   Sep »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: