you're reading...
precious persons

Lelaki Bernama Edi Purwono

Kalau ada yang bertanya, siapa yang menginspirasi saya untuk menulis, tidak lain dan tidak bukan adalah: EDI PURWONO, lelaki usia 59 tahun, yang penglihatannya sudah rabun, bertubuh ringkih, yang kupanggil Papi atau “Dad” ketika saya merajuk manja padanya.

Ya. Edi Purwono, Papi saya, adalah orang pertama yang meyakini bahwa saya bisa menulis. Beliau memang tidak pernah sangat serius menelateni untaian huruf-huruf  yang saya ketik. Beliau bukan penikmat tulisan saya seperti almarhumah Mami yang selalu membaca karya-karya cerpen yang saya tulis sejak SMP. Edi Purwono, Papi saya, hanya tahu kalau puteri bungsunya yang selalu sibuk berkutat di depan komputer itu sedang menulis cerita-cerita pendek yang kebanyakan isinya cecintaan saja. Dan entah kenapa, sekalipun demikian, Papi selalu meyakini, “Suatu saat kamu pasti punya buku. Ayo, kapan mulai ngirim karya-karyamu ke penerbit?”

Kata-kata penyemangat yang keluar dari mulut Papi memang seolah mantra yang menghantui pikiran saya. Bagaimana tidak, almost each and every day, di kala sempat, Papi selalu menuturi saya bahwa di dalam hidup yang hanya sebentar ini,  paling tidak, kita harus mengisinya dengan lebih bermakna. Dan, it may sound selfish and all, tapi kata-kata Papi tentang saya harus membuktikan ke semua orang bahwa saya bisa, jelas telah menantang adrenalin saya untuk mencoba, terus dan terus.

Dan Papi ternyata benar. Sebuah buku telah lahir dari ‘rahim’ saya tahun kemarin. Buku yang saya persembahkan khusus untuk Papi dan Almarhumah Mami tercinta, dua bintang dalam kehidupan yang selalu bersinar sampai kapanpun dalam kehidupan saya. Dan bisa ditebak, orang pertama yang mengetahui kabar gembira ini adalah Edi Purwono, Papi tercinta saya, yang kemudian berkata, “See? Papi bilang apa, kan? Coba kamu nurut sejak dulu…”

Ah, Dad.

Anak bungsumu ini memang bukan anak penurut seperti maumu. Anak bungsumu malah mengkeret ketika harus mengirimkan sebuah karya tulisnya ke sebuah penerbit yang bisa saja akan tertawa saat membaca tulisan yang dibuat dengan sepenuh hati itu. Ketakutan-ketakutan dan rasa pesimis yang berlebihan sehingga membuatnya minder bahkan sebelum mencoba; tidak seoptimis dirimu yang melaju terus meski pandanganmu mengabur dan jejak langkahmu sudah tak tegap lagi.

Edi Purwono, Papi saya, bukanlah Mario Teguh yang membagi semua kebijaksanaannya lewat media televisi. Bukan seorang motivator yang muncul di setiap sesi-sesi pencerahan yang membutuhkan beberapa lembar uang untuk mendapatkan pencerahan sesudahnya. Bukan, bukan. Edi Purwono adalah seorang Ayah dari tiga anak manusia yang di usia senjanya malah memotivasi saya (juga kedua kakak saya) untuk terus melangkah, sekalipun gontai, tapi tetap optimis.

Katanya, “Dengan semangat itu, dengan sisa-sisa penglihatanku yang kian hari kian menurun, aku memaksa untuk berlomba, menghasilkan karya-karya sebelum benar-benar aku harus terkapar tak berdaya, atau maut menjemput. Ya, Allah .. sempatkan aku membuat lebih berarti, di saat-saat ‘injury time’-ku. OK, Boss ?”

Dan saya beruntung, tidak perlu menunggu acara Golden Ways setiap seminggu sekali atau merogoh kocek dalam-dalam untuk lebih bijaksana memaknai hidup, tapi saya memiliki motivator pribadi yang tanpa meminta pamrih, beliau akan selalu memotivasi jejak langkah anak-anaknya. Kapan saja.

Kini,

Motivator kebanggaan saya itu ingin membagi ceritanya buat semua orang, tidak hanya tiga anaknya. Dia ingin menjadi seorang Kakek yang bercerita kepada ‘cucu-cucu’nya dan dengan begitu, hidupnya menjadi semakin bermakna.

Ya, kawan.

Edi Purwono, Papi tercinta saya, kini telah menuangkan isi pikirannya di sebuah situs http://edipurwono.wordpress.com *yang awalnya dibuat untuk mengejutkan saya, tapi akhirnya malah saya yang menjadi editor karena penglihatannya yang terbatas! hihi, dasar Papi!*. Jadilah salah satu dari pembaca cerita-ceritanya dan bersiaplah untuk jatuh cinta padanya, seperti saya yang tak pernah bisa berhenti mencintainya, juga tulisan-tulisannya.

daddy

Saya bangga sekali dengan lelaki itu.

Dengan seorang lelaki bernama Edi Purwono.

Lelaki yang saya panggil… PAPI.

***

Kantor, Selasa, 25 Agustus 2009, 4.46 sore
Untuk Papiku.
Bintang yang tak pernah berhenti berpijar dalam hidupku…


About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

14 thoughts on “Lelaki Bernama Edi Purwono

  1. Lu deket banget sama bokap lu ya La?
    Ok, gue meluncur kesana..
    Mau kenal sama papinya Lala😀

    Posted by Eka Situmorang - Sir | August 25, 2009, 5:19 pm
  2. Kayaknya papinya jeng Lala pinter ya jeng, saya yakin Jeng lala lebih pinter dari papinya.🙄😆
    .-= Wandi thok´s last blog ..Puasa Ngeblog =-.

    Posted by Wandi thok | August 25, 2009, 7:20 pm
  3. Udah, gue udah kenalan sama papimu la.. salut euy!
    .-= p u a k™´s last blog ..Ketika pergi ke hutan.. =-.

    Posted by p u a k™ | August 25, 2009, 8:46 pm
  4. hoooo…

    kerenn..
    meluncur ke papinya dulu ah…
    .-= bandit pangaratto´s last blog ..Perantau tiba di Surabaya =-.

    Nanti balik sini lagi yah… hehehe

    Posted by bandit pangaratto | August 26, 2009, 7:18 am
  5. indah nian kedekatanmu dengan papi La… aku jadi iri…😀
    segera meluncur ke tekape…

    Makasih, Uda..
    Alhamdulillah, biarpun pastinya ada ups and downs, pada intinya sih, I love my Dad sooooo much!🙂

    Posted by vizon | August 26, 2009, 8:06 am
  6. meluncurrrr…
    btw bisa diajak becandaan gak la??
    hehehehe
    .-= AFDHAL´s last blog ..KEMBALI =-.

    Bisa, bisa.. Bisa banget.
    Bisa diajak ke mal terus dibeliin laptop juga, kok, Al… hihihi

    Posted by AFDHAL | August 26, 2009, 10:37 am
  7. Kalo nulis itu begini La … (sok.tau.mode.on)

    Menulis kata-kata yang seperti begini adalah kekuatan kamu …

    Salam saya
    .-= nh18´s last blog ..MENGEMIS =-.

    Iya, Yah. Kalau udah menulis pake hati, ya jadinya begini…🙂
    Matur nuwun sanget..

    Posted by nh18 | August 26, 2009, 10:55 am
  8. Aku dah kesana dan iya2 tulisannya bagus mirip dengan tulisanmu dear😀 pantesan si cantik ini dapet talenta menulis…ahhh buah memang jatuh tidak jauh dari pohonnya…
    .-= Ria´s last blog ..What I’ve Got after 3 Years =-.

    Wah… pujianmu sukses bikin aku GR, Bungsu…🙂 Makasih yah…

    Posted by Ria | August 26, 2009, 1:31 pm
  9. Segera meluncur ke blog si papi…

    Jangan kesandung, ya, Bang…🙂

    Posted by Hery Azwan | August 26, 2009, 1:44 pm
  10. Meluncur ke TKP…. Weiiing….🙂
    .-= Nug´s last blog ..Keindahan Alami =-.

    Meluncur pake Ducati?😀

    Posted by Nug | August 26, 2009, 4:30 pm
  11. Meluncur juga aahh😀
    .-= Indah´s last blog ..When It’s Yours.. =-.

    Awas… ati-ati… ngeluncurnya jangan cepet2…😀

    Posted by Indah | August 27, 2009, 1:05 pm
  12. waa telat..

    langsung meluncur ke tekapeh

    Posted by Ade | September 5, 2009, 12:08 am

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: The Blings of My Life « the blings of my life - February 26, 2010

  2. Pingback: 40 Hari « the blings of my life - March 8, 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

August 2009
M T W T F S S
« Jul   Sep »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: