you're reading...
daily's blings

just when you thought that everything was right…

The last thing she ever wanted to hear was a phone call from her daughter.

The last thing she ever wanted to listen was her daughter’s voice.

The last thing she ever wanted to know was the latest news from her daughter.

Tapi telepon itu tetap berdering.

Sekalipun ia ingin menutup telinganya dan pura-pura tuli, tetap saja ia mendengar suara anak perempuannya terisak-isak di ujung telepon satunya, tetap saja ia mendengar sebuah kabar yang membuat lututnya lemas seketika dan kepalanya mendadak seolah ditusuk oleh ribuan jarum yang menusuknya kuat-kuat.

Sebuah kabar dari mulut anaknya, yang membuat teleponnya berdering beberapa saat yang lalu.

Kabar ini.

“Ma… Evan, Ma… Evan…”

**

Evan adalah lelaki penganut Katolik yang taat, yang dikenal Neen, anak perempuannya, beberapa bulan yang lalu. Tepat dua bulan sebelum ini, Neen memperkenalkan Evan kepadanya dan suaminya sambil tersenyum dengan riang.

Dia ikut tersenyum. Hatinya senang sekali. Baru kali ini dia merasa sangat senang saat Neen datang ke rumah, memperkenalkan kekasih barunya. Mengapa? Karena untuk sekian lamanya, akhirnya Neen memperoleh kekasih yang sempurna; pekerjaan yang bagus, dari keluarga yang baik-baik, memiliki budi pekerti yang santun, dan satu hal yang sangat penting… lelaki ini adalah penganut Katolik. Ya. Setelah sekian lamanya, akhirnya Neen membawa ke rumah calon suaminya yang seiman, tidak seperti pengalaman sebelum-sebelumnya.

“Aku seneng, Dek, akhirnya Neen punya pacar yang seiman,” kata perempuan yang sering dipanggil dengan sebutan BUNDA di kantor tempatnya mendapatkan gaji setiap bulannya.

Semua rekan-rekan di kantornya serentak tersenyum dan ikut bahagia mendengar kabar bahagia itu. Tentu saja karena mereka semua tahu bagaimana perempuan ini selalu berkeluh kesah tentang anak perempuannya yang seringkali berpacaran dengan lelaki yang tidak seiman padahal usianya sudah 27 tahun.

“Namanya Evan, temen kantornya Neen. Sudah dua bulan ini deket sama Neen dan sepertinya serius. Mudah-mudahan, deh… Doain aja memang jodoh ya, Dek…”

Wajah perempuan itu terlihat sangat bahagia.
Dan hanya orang yang tidak memiliki hati saja yang tidak ikut bahagia melihat senyuman secantik itu di wajah seorang perempuan usia 53 tahun yang sudah lama merindukan hadirnya cucu di dalam masa-masa senjanya…

**

Pagi ini, perempuan yang minggu kemarin baru saja bercerita riang soal calon mantunya itu, datang ke kantor dengan mata memerah. Wajahnya pucat, senyumnya hilang. Kedua biji matanya nampak redup seolah kehilangan semua cahayanya.

Perempuan itu datang, duduk di depan saya, sambil tak kuasa menahan getaran tubuh dan bibirnya.

Dari bahasa tubuhnya saya tahu, ada sesuatu yang telah terjadi, dan tanpa perlu saya bertanya, perempuan yang sudah saya anggap sebagai Ibu sendiri ini akan menceritakan semuanya. Saya hanya mengusap pundaknya sambil memandang matanya. Seketika itu juga, cerita itu meluncur dari bibirnya yang bergetar…

“Evan meninggal, Dek.”

Saya terkesiap. Jantung saya seolah berpacu di luar rel-nya.

“Dia sakit demam berdarah, sudah dua mingguan ini…”

Saya masih membisu.

“Dia sempat koma sejak hari Jumat, lalu meninggalnya hari Senin kemarin…”

Jujur, saya tidak tahu apa yang harus keluar dari mulut saya. I was speechless!

“Kasihan, Neen… Dia shock banget…”
Lalu Bunda bercerita soal Neen di hari-hari terakhirnya bersama Evan. Ya, cerita soal kondisi Evan yang drop di rumah sakit, tapi kemudian menjadi bersemangat hidup kembali setelah Neen memutuskan untuk mengambil cuti dari kantor lalu terbang ke Jakarta, tempat kekasihnya sedang tertidur di sebuah kamar rumah sakit karena Demam Berdarah.

Evan yang sempat koma beberapa hari, seolah menemukan kekuatannya ketika Neen datang dan merangkum jari-jemarinya. Keajaiban itulah yang membuat ibunda Evan segera memeluk Neen dan mengucapkan terimakasih karena Neen dianggapnya sebagai Malaikat yang telah menyelamatkan anaknya.

Neen mencintai Evan. Serangkum jemari yang hangat, kecupan di kening dan kedua pipi Evan yang lembut, adalah satu dari banyak hal yang bisa dia berikan untuk kekasihnya. Jadi, dia bukanlah Malaikat. Neen hanya seorang perempuan yang sangat mencintai lelakinya, sehingga menunggui lelakinya di rumah sakit sampai seminggu lebih adalah satu-satunya hal yang ingin ia lakukan saat itu.

“Sampai sekarang Neen bener-bener menyesal karena sempat pulang ke Surabaya, Dek..”

Beberapa hari yang lalu, Neen meminta ijin untuk pulang sebentar ke Surabaya, membereskan beberapa pekerjaannya yang sempat terbengkalai karena sudah seminggu lebih ia tinggalkan. Sekalipun Evan sempat memohon agar Neen tidak pulang ke Surabaya meski sebentar, tapi toh akhirnya dengan berat hati Evan membiarkannya.

Kata Evan pada Neen, “Jangan lama-lama, ya…”
Kata Neen pada Evan, “Cuman dua hari, kok. Aku akan ke sini lagi buat kamu…”

Satu ciuman di kening. Dua ciuman di pipi kiri dan kanan. Serta seuntai janji untuk kembali.

Neen menepati janjinya untuk kembali.
Tapi Evan tidak menepati janjinya untuk menunggu.

“Saat Neen kembali ke Jakarta, ternyata Evan sudah koma, Dek,” kata Bunda sambil terus menyusut air matanya yang tumpah dengan ujung jarinya.

Saya masih membisu.

“Dan setelah tiga hari koma, akhirnya Tuhan memanggil Evan pulang…”

Saya pernah merasakan bagaimana sakitnya kehilangan seseorang yang sangat saya kasihi, jadi sedikit banyak saya tahu, betapa pedihnya perasaan Neen, anak Bunda yang sudah saya anggap sebagai adik saya sendiri itu.

Tapi, ketika Bunda menuntaskan cerita itu dengan kalimat berikut ini, saya tak tahu bagaimana harus berkata-kata…

“Padahal rencananya, Evan akan melamar Neen, tepat saat hari ulang tahunnya yang ke-31, tanggal 28 Oktober nanti, Dek… Dan mereka berencana menikah awal tahun depan… Aku kira Evan adalah jawaban dari doa-doaku dan suami, tapi ternyata, bukan Evan… Kasihan Neen… Kasihan anakku…”

Saya kehilangan semua kata-kata.

**

Life is unpredictable.
Just when you thought that everything was right,
Turned out, that it wasn’t.
Just when you thought that everything was exactly as you planned,
Turned out, that it wasn’t.

That’s why you have to prepare yourself for the worse..
Sekalipun tentu saja…
Good things will come for you, for us, for those who believe it.
Yeah. It will come in the perfect time.
The perfect time, bukan menurut saya… bukan menurut kamu… bukan menurut orang lain… tapi waktu yang tepat menurut Tuhan sang Maha Pencipta…

**

Kantor, Selasa, 18 Agustus 2009, 10.32 Pagi
Selamat jalan, Evan…
Semoga Surga-lah yang menjadi tempat peristirahatan terakhirmu…

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

16 thoughts on “just when you thought that everything was right…

  1. sungguh menyedihkan memang. sesuatu yang sudah di depan mata, tiba-tiba terenggut seketika, tanpa meninggalkan apa-apa…

    tapi, seperti katamu La, hidup memang bukan kuasa kita untuk menentukan episodenya akan dimulai dan diakhiri kapan. kita hanya bertugas menjalaninya dengan sebaik mungkin, sehingga episode yang kita lalui memiliki kesan terbaik…

    aku turut prihatin dengan sahabatmu itu, semoga dia selalu tegar menghadapi semuanya. aku yakin, Tuhan telah mempersiapkan sesuatu yang lebih baik baginya… juga bagimu… 😀

    Hmmm…
    Aku pernah bilang begitu, ya, Uda? Aduh, aku cerdas sekali ya… wekekekeke.. *hus, becanda mulu Neng…*

    Iya, apalah kita ini, Uda? Manusia yang hidup matinya ditentukan oleh Tuhan… Kita tidak bisa menentukan hidup mati, kita hanya bisa menentukan ingin menjadi manusia sebaik apa saat masih diberi kesempatan di dunia….

    Rahasia Allah memang sempurna.
    Mari perlahan-lahan kita nikmati saja dengan hati yang lapang dan ikhlas.. InsyaAllah…

    Posted by vizon | August 18, 2009, 11:48 am
  2. Kisah yang menyedihkan, tapi aku sudah tahu via Facebook statusmu pagi ini, La.

    Kisah soal kematian memang kisah sebuah kepastian; kepastian bahwa seseorang pasti mengalaminya.

    Orang boleh bermimpi terbang ke Eropa dan orang kecewa kalau mimpi itu tak kesampaian, tapi orang tak perlu bermimpi kematian karena itu pasti kesampaian. Semua soal waktu dan cara…

    Turut berduka, La, semoga Evan telah berjumpa dengan Bapa di Surga.
    .-= DV´s last blog ..Indonesia, I Love You, Full =-.

    Aku masih belum bisa berdamai dengan fakta kalau suatu saat kelak aku akan mati juga, Don. Mungkin karena aku masih penuh dengan dosa-dosa yang sampai kini aku sesali… Mungkin juga karena aku belum siap *emang nunggu kamu siap, La?*.. Entahlah. Yang pasti, aku takut sekali.

    Terimakasih buat doanya, Don. Semoga dia menemui Tuhan dan kini sedang bercengkerama bersamaNya..

    Posted by DV | August 18, 2009, 12:08 pm
  3. Ikut berduka, Semoga Yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan. Amin
    .-= Riris E´s last blog ..Yang Dia Ingat dan Yang Ingin DilupakanNYA =-.

    Amin, amin.

    Posted by Riris E | August 18, 2009, 12:46 pm
  4. sedih sekali…
    turut prihatin ya. mudah2an dia kuat menghadapi ini.
    memang mengucapkan saran dan dukungan lebih mudah daripada mengalaminya sendiri, tapi semoga saja dia mendapatkan kekasih hatinya yang sejati, ketika saatnya tiba.

    Bener banget.
    Memang talk is cheap, sometimes. Tapi seringkali, kalimat2 penguat ini adalah satu dari sekian banyak hal yang bisa mendukung kembali langkah-langkah yang gontai.. 🙂
    Amin, aku mengamini doanya, ya…

    Posted by zee | August 18, 2009, 2:57 pm
  5. Always prepare for the worst. But when the worst really happens, be hold still! Remember that how worst thing is, as along as you still have faith to Him, everything will be just fine.
    Love the story.

    Aku sukkaaaaaaa banget sama komentarmu ini.
    Khususnya yang terakhir… everything will be just fine as long as we have the faith to HIM.
    Ya.
    Modal kita memang hanya memercayai bahwa Dia menyayangi umatNya dan tidak pernah berniat mencelakakan ciptaanNya yang DIA ciptakan paling sempurna…

    Posted by uke poet | August 18, 2009, 3:44 pm
  6. sedih la…
    lu ingetin gw bahwa adek gw si bungsu cewek juga lagi dirumah sakit sekarang udah 2 hari di opname dengan sakit yang sama DBD 😦
    gw ngerasain bgt, dan cukup beruntung karena kondisinya sudah lebih baik…

    Semoga arwahnya di terima di sisinya ya la…
    .-= Ria´s last blog ..What I’ve Got after 3 Years =-.

    Wah, mudah-mudahan Adek cepet sembuh ya, Yaaaa…. Yang cowok itu kan?

    Posted by Ria | August 18, 2009, 4:10 pm
  7. semoga diberi kekuatan untuk melaluinya dan bangkit kembali
    .-= depz´s last blog ..persatuan dan kemerdekaan =-.

    Amin, amin.
    Semoga ya…

    Posted by depz | August 18, 2009, 4:21 pm
  8. Hidup ini rahasia Tuhan…
    Btw, sedih jadinya saya…
    .-= Zian X-Fly´s last blog ..Ramadhan=Liburan=Memposting! =-.

    Ya.
    Hidup adalah rahasia Tuhan…
    let’s just being a better person, day by day, ajah.. 🙂

    Posted by Zian X-Fly | August 18, 2009, 4:33 pm
  9. Well, somebody’s been busy at the keyboard! I wish I could understand it all, but it’s good to know you’re over your writer’s block of the other month regardless. Keep on scribbling, Lala; you’re an inspiration in any language!

    Haha. You got it right, Rich!
    I’m over my writer’s block and I thank God for that! 🙂
    I wish I could write some writings in English, but hell… I’m not that good in English, so you should forget it… hehehe…

    Anyway,
    How’s everything, Rich? Been a while since the last time we talked… Please take good care of yourself and I’ll talk to you again, soon!

    Posted by Rich | August 18, 2009, 6:15 pm
  10. Cerita yang menyedihkan. Saya turut berduka. Tapi.. kalo buat saya sendiri, setidaknya lelaki yang dicintai Neen itu pergi menghadap penciptanya dalam status sebagai kekasihnya Neen. 😉
    .-= jensen99´s last blog ..Sedikit ocehan menjelang 17an =-.

    Setidaknya, di akhir hidupnya, dia tahu kalau dia dicintai.. Maybe that’s what really counts.. 🙂

    Posted by jensen99 | August 18, 2009, 7:03 pm
  11. Bagaimanapun, manusia hanya bisa berencana, namun Tuhan jua yang menentukan.
    Karena kita tak bisa mengingkari jika sewaktu-watu dipanggil oleh Nya
    .-= edratna´s last blog ..Menunggu di Bandara Sentani =-.

    Bener, Bunda… Tidak ada yang bisa mengingkari waktu penjemputan itu… dan insyaAllah, jika itu terjadi, semua orang siap…

    Posted by edratna | August 18, 2009, 7:27 pm
  12. Semua sudah diatur La…
    Aku menitipkan doa untuk bunda, Neen juga Evan.
    .-= Eka Situmorang – Sir´s last blog ..EKA, Alnect dan Laptop =-.

    Makasih, Ka…
    Iya, semua sudah diatur. TInggal kita yang ikhlas aja menerima semua…

    Posted by Eka Situmorang - Sir | August 18, 2009, 7:58 pm
  13. Suatu saat kematian akan menjemput, entah waktu itu apa status kita. pacarnya, kekasihnya, pasangan hidupnya, anaknya, ibunya…. apapun status itu, kehilangan seseorang yang dicintai memang amat sulit diterima manusia. Tapi …cinta itu tetap indah di dunia, maupun di alam sana.

    EM
    .-= Ikkyu_san´s last blog ..Summer means … pantai!!! =-.

    Posted by Ikkyu_san | August 21, 2009, 8:14 pm
  14. weewwwww, menyentuh banget
    kok dipanggilnya pada saat2 seperti itu yah
    mudah2an tuhan punya rencana yang baik buatnya

    Posted by Zulhaq | August 22, 2009, 9:15 am
  15. semoga dia tenang di alam sana
    semoga di mudahkan segala urusannya

    Posted by Zulhaq | August 22, 2009, 9:16 am
  16. selamat jalan mas Evan…
    .-= hasian cinduth´s last blog ..Hari yang sempurna!!! =-.

    Posted by hasian cinduth | August 24, 2009, 1:10 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

August 2009
M T W T F S S
« Jul   Sep »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: