you're reading...
Fiktif, Thoughts to Share

Moving On?

moving_onPeople ask me to move on,” katanya. “And what do they really know about moving on, eh?”

Dia menghela nafas.

Perempuan di depannya melakukan hal yang serupa.

“Menguliti kepala, membuka bongkah kepala, mencari selipan kenangan di dalam jutaan sel-sel otak, lalu membuangnya di tong sampah… gitu?” Dia tersenyum sinis. “Memangnya mudah?”

Sebelah tangannya mencari kotak rokok di dalam tas kecilnya. Marlboro merah favoritnya itu entah terselip kemana. Dan yang menyebalkan, lighternya pun kini bersembunyi di balik belantara isi tasnya! Sebal.

Dia mengaduk-aduk isi tasnya, menggerutu panjang lebar tanpa henti, sampai berhasil menemukannya di bagian paling bawah. Dia mengambil sebatang racun nikotin itu, dibakarnya pelan, lalu diisapnya sampai ujungnya terbakar dengan sempurna.

Perempuan di depannya melakukan hal yang serupa. Menghisap dalam-dalam rokoknya.

“Kalau yang disebut ‘moving on‘, ‘melanjutkan hidup’, atau apa lah itu namanya bisa dilakukan dengan mudah, gue juga nggak kepengen kok masih di sini!”

Dia diam. Memandangi perempuan yang ada di depannya; perempuan yang juga diam dan berbalik menatap matanya dalam-dalam.

“Memangnya enak, nangis setiap hari? Memangnya gue mau ngabisin waktu gue buat ngolesin eye concealer setiap saat tangisan itu bikin mata gue bengkak karena nangis hebat? Gue nggak pernah berniat untuk nangis kayak orang gila hampir setiap saat. Siapa yang kepingin, heh? Yang pasti, gue nggak!”

Nafasnya memburu. Frekuensi mengisap rokoknya menjadi jauh lebih cepat daripada sebelumnya. Ini tentu karena setiap kali dia merasa hatinya berdebar, dia cenderung mengisap rokoknya lebih cepat, sekaligus diembuskannya cepat-cepat.

Perempuan yang di depannya sama gelisah. Seolah berbagi nyawa, hati, dan rasa.

“Gue benci dengan orang yang terperangkap di masa lalu,” katanya pelan. “Yang seolah minta dikasihani karena memiliki secuil kenangan yang buruk di salah satu bagian otaknya. Setiap orang punya masa lalu yang mungkin lebih menyakitkan daripada yang gue miliki sekarang dan buktinya mereka bisa melanjutkan hidupnya. Sementara gue? Gue masih di sini, masih meracuni paru-paru gue dengan nikotin yang sama, masih nggak bisa kemana-mana dengan exceed baggages berupa masa lalu yang belum gue bongkar dari tahun ke tahun…”

smokingDia mematikan rokoknya, menekan ujungnya di asbak sambil menghela nafas. “…dan gue capek. Banget,” katanya. “Capek musti ngeladenin perasaan gue sendiri, juga capek musti ngeladenin mulut-mulut orang lain yang nyuruh gue move on, make peace with myself, lah… atau, atau… everything happens for a reason, lah… Blah-blah-blah. Gue juga tauuuu…”

Nafasnya memburu, membuat perempuan yang di depannya juga ikut terengah-engah mengikuti irama nafasnya.

“Gue tau… tau banget kalau gue musti move on, seperti kata mereka. Tapi, hell… Do they really know how it feels to be me? To wear my shoes? Hm… they told me to move on, but do they really understand me? Or at least, tried to listen to me? Spend hours and hours not just hearing me, but LISTENING to me?” Dia menghela nafas, lalu mengembuskannya pelan-pelan, seolah mencoba untuk membuang semua resahnya dalam satu kali hembusan dan tarikan nafas yang berat. “They never did. Mereka hanya berkomentar… in evil ways… atau mencoba being nice by giving me their advices padahal gue nggak lagi pingin dinasehatin, cuman pingin dimengerti. Or… um.. being listened to.

Dia mematikan rokoknya. Memandang perempuan di depannya dengan mata yang sedih. Perempuan itu balik memandangnya, dengan mata yang sama sedihnya.

“Bisa nggak sih mereka berhenti nyuruh gue move on? Bisa nggak, sih, mereka cuman meluk gue, ngasih bahu mereka buat gue, dan memberikan nasehat ketika gue meminta mereka melakukannya?” Dia meneteskan air mata. “Gue capek banget… Capek banget.”

Dia memandang perempuan di depannya. Lekat-lekat dengan kedua matanya yang semakin deras oleh air mata. Berharap agar perempuan itu memeluknya, meneduhkan hatinya, dan mengusir pergi semua gelisahnya.

Tapi perempuan itu tetap di sana. Ikut menangis bersamanya. Ikut berjuang menghapus air matanya sendiri yang juga ikut tertumpah, bersamaan dengannya. Ikut menghela dan mengembuskan nafas dengan irama yang sama.

In silence.

In front of her.

Inside the mirror.

***

Kantor, Jumat, 14 Agustus 2009, 2.33 Siang

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

Comments are closed.

Catatan Harian

August 2009
M T W T F S S
« Jul   Sep »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: