you're reading...
It's me... today

What do I want?

Ketika seorang sahabat menyatakan tidak ingin menikah, not ever, sepanjang umurnya, seorang sahabat yang lain memberikan kabar kalau dia sudah menemukan lelaki pilihannya dan lelaki itu telah menyematkan cincin pertunangan di jari manis sahabat saya.

Bayangkan saja; dua kondisi yang sangat kontras.

Yang satu menganggap pernikahan bukan satu-satunya jalan untuk mencapai kebahagiaan, di mana ultimate happiness for each person can be different, tidak melulu bisa dicapai dengan cara menikahi seorang lelaki, beranak, dan tua bersama-sama, sedangkan yang satu lagi menganggap kalau pernikahan ini akan menyelamatkan kesendiriaannya, membawanya menuju ke kebahagiaan yang sudah lama dicarinya tapi tak juga ketemu sampai akhirnya ia menemukan calon suaminya.

Sahabat yang satu, menganggap marriage is nothing, sementara yang lainnya menganggap marriage is everything.

Betapa sebuah kata yang sama persis, plek ketiplek, akan menjadi dua ideologi yang berbeda dan sama sekali lain untuk dua orang yang sudah sebelas tahun berkawan dan menghabiskan masa remaja sampai menjelang usia tiga puluh bersama-sama. Kata “MENIKAH” menjadikan sebuah pemahaman yang sama sekali berseberangan jika ditilik dari kepentingan masing-masing orang.

Oh my….

Anyway,

Saya adalah salah seorang sahabat mereka, seorang perempuan yang dalam kurun waktu tujuh bulan lagi, insyaAllah akan genap berusia 30 tahun. Bersahabat lekat dengan mereka selama belasan tahun membuat saya sering merasa sehati dan sepikiran dengan sahabat-sahabat saya.

Ketika Ly, sahabat saya memutuskan untuk tidak menikah, saya menganggap bahwa sah-sah saja seorang manusia memilih untuk melajang seumur hidupnya. Adalah keputusan yang sangat berani dan bukanlah tolol untuk memutuskan tidak menikah dan saya salut karenanya. Mengapa? Karena saya selalu mengagumi orang-orang yang tahu sekali apa yang mereka inginkan sementara saya terjebak dengan apa yang sesungguhnya benar-benar saya inginkan.

Ketika Yun, sahabat saya mengabari kalau dia telah menemukan lelaki pilihannya dan malah telah memutuskan untuk mengikat janji pertunangan, hari Senin kemarin, saya pun menganggap bahwa ini adalah keputusan yang tepat, mengingat saya tahu persis betapa Yun telah menginginkan sebuah hubungan yang settle, membutuhkan lelaki yang baik, lelaki yang bisa membawanya keluar dari kesendiriannya. Saya juga salut dengan keputusannya, karena saya tahu, memutuskan untuk menikah dengan seseorang yang relatif baru saja dikenalnya beberapa bulan saja adalah sangat berani. Saya salut karena dia tahu persis tentang resiko apa yang mengekor di belakang keputusan itu dan berani menghadapinya. She knows what she wants, she knows what she needs, and most of all, she knows herself.

Saya menghargai keputusan-keputusan mereka; seperti mereka juga menghargai sikap saya yang seringkali tidak stabil, berubah-ubah seperti air. Oh boy, saya tidak ingin menyalahkan zodiac sign saya yang melambangkan air, sehingga katanya saya cenderung labil, tapi memang pada kenyataannya, saya sering tersesat dalam menerjemahkan apa keinginan hati saya.

What do I truly want in life?

Jika kamu tanyakan itu pada saya, jujur, saya tidak bisa menjawabnya. Oh maaf, ralat. Saya tahu apa jawabannya, tapi tentu saja, jawabannya terlalu general, terlalu umum, dan tidak spesifik. Karena saya hanya akan menjawab dengan sangat diplomatis, kalau yang benar-benar saya inginkan dalam hidup adalah TRUE HAPPINESS. Ya. Kebahagiaan yang sejati, yang saya tahu persis, itu adalah permainan otak semata, itu adalah pintar-pintarnya saya memandang segala sesuatu dengan mata hati yang lebih bijaksana.

True happiness buat saya adalah dasar dari segala macam keputusan yang akan saya ambil dalam hidup ini. Mencapai true happiness itu sendiri juga bisa lewat cara yang macam-macam; bisa dengan cara menikah, memiliki karir yang sempurna, berhasil menulis serangkaian buku best seller, membahagiakan orang tua, atau menjadi the lajanger dengan kehidupan yang extravagant.

Jadi, sebetulnya, jawaban saya memang tidak spesifik, karena semua orang juga tahu kalau setiap orang memiliki ukuran kebahagiaan masing-masing. Dan satu lagi; manusia selalu akan melihat kekurangan dalam setiap kesuksesan yang ia miliki, sampai ia memutuskan untuk memandang segala sesuatunya dengan mata hati yang lebih bijaksana… and that’s my friend, what I call… TRUE HAPPINESS.

Hm.

Balik ke cerita tadi, saking labilnya, ketika Ly berkata soal ia tidak ingin menikah, saya pun mulai menggali-gali lagi apa yang saya rasakan. Do I really need to get married? Or am I just soooo afraid of being end up alone? What’s my reason to get married anyway? Cuman untuk menghilangkan status single gal semata? Mengapa harus sepenting itu sehingga saya tergesa-gesa untuk mencari pasangan sebelum usia tiga puluh?

Okay. Akibatnya saya menjadi seorang perempuan yang males banget menikah *dan bilang pada sahabat saya, “Hey, thanks to you.” Dan sahabat saya cuman terkikik geli.

Tapi, setelah beberapa saat saya ‘settled’ dengan keputusan untuk menikmati saja waktu lajang saya dan menghentikan perburuan eligible bachelors (haha! Desperate banget ga, sih?), muncul kabar gembira dari Yun kalau dia telah bertunangan dengan pacarnya yang sekarang. And suddenly, I felt… um… ultimately jealous, maybe? J

Iya, iya. Saya juga bahagia. Jahat sekali kalau saya cuman cemburu doang padahal sahabat saya sedang bahagia-bahagianya. Saya senang, kok, mendengar kabar itu, sekalipun tidak bisa saya pungkiri, saya cemburu juga dan muncul pertanyaan nggak penting ini, “When’s my turn?”

Huh. Saya sebel dengan diri saya sendiri. Kenapa juga musti cemburu, kenapa juga musti bertanya-tanya kapan giliran saya. Sampai akhirnya saya menyadari… oh, wait, wait the minute. Kalau saya merasa cemburu dan bertanya kapan giliran saya, itu artinya… I want to get married too…. Rrrrrrriight?

Padahal… hallloooowww… apa kabar dengan Miss Lala ‘Wanna Stay Single to Pursuit True Happiness’ Purwono? Katanya males nikah. Katanya menganggap menikah itu bukan satu-satunya jalan untuk meraih kebahagiaan. Katanya lebih mementingkan menulis buku-buku best seller daripada menikah dan melahirkan bayi-bayi dari perutnya. Apa kabar dengan perempuan cerewet yang tadinya sudah settled dengan keinginan itu?

Hahaha.

Saya memang plin-plan. Saya memang bukan perempuan yang tahu apa yang sesungguhnya dia inginkan. Ketika seorang sahabat memutuskan tidak menikah, saya manggut-manggut dan menganggap logis semua alasan-alasan. Dan ketika sahabat yang lain memutuskan menikah, saya juga kepingin menikah seperti dia.

Lalu, apa yang sebenarnya saya inginkan? Menikah? Atau tidak menikah? Menikah: penting, atau tidak penting?

Well, it’s not a good start in the morning to think too much about marriages and stuff. Dan lagipula, mau sampai jontor juga saya nggak bakalan tahu apa yang saya inginkan; menikah atau melajang saja, karena saya belum tahu apa yang sebenarnya saya inginkan..

Tapi, tapi…

Tunggu dulu.

Sebetulnya saya tahu apa yang sebenarnya saya inginkan pagi ini.

Kamu mau tahu apa itu?

Ummm…

A cup of hot coffee.

With one tea spoon of low calorie sugar.

And sip it slowly with my lips.

Ya.

Cuman itu saja keinginan saya pagi ini… ^_^

Good day, everyone!

***

Kantor, Rabu, 12 Agustus 2009, 8.29 pagi
(tulisan yang sejatinya ditulis sambil menunggu tebengan di jalan tol)

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

Comments are closed.

Catatan Harian

August 2009
M T W T F S S
« Jul   Sep »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: