you're reading...
those were the days

Learn From Your Own Mistakes

Seorang sahabat membuat saya terperanjat kaget dengan keputusannya. Okay, tidak hanya saya, tapi siapapun yang mendengar kalimat-kalimat itu meluncur keluar dari mulutnya.

Coba, seandainya kamu mendengar kalimat berikut ini, apa reaksi kamu, hm?

“Gue udah manteb untuk nggak nikah, La.”

Kurang dramatis? Okay. Bagaimana kalau kemudian dia melanjutkan kalimatnya dengan kalimat-kalimat ini:

“Gue sudah cukup bahagia dengan keadaan hidup gue. Gue nggak mau ruin itu dengan kawin dengan laki-laki yang bisa jadi nggak malah bikin gue lebih bahagia, tapi justru bikin gue lebih menderita.”

Masih kurang dramatis juga? Okay. Bagaimana kalau dia melanjutkan lagi dengan kalimat ini:

“Gue tahu, hidup ini nggak tertebak. Dan bener banget, it’s all about choices. Dan, ya, ya. Gue tahu banget kalo perkawinan tuh seperti gamble, berjudi. Kita nggak bakal pernah tahu ntar bakal seperti apa. Menderita atau malah super duper happy, cuman rahasia Tuhan. Orang bilang, hidup memang penuh spekulasi, taruhan. Tapi, lo tau, kan? Gue bukan orang yang mau-maunya spekulasi untuk hal-hal yang gue anggap nggak terlalu penting? Emang salah, kalo gue pingin main aman aja?”

Kalimat-kalimat mencengangkan itu saya dengar sambil makan sepotong paha atas ayam goreng bumbu tepung kesukaan saya. Dan, sumprit. Baru kali itu saya merasa susah sekali menelan daging ayam favorit sekaligus mencerna kalimat-kalimat yang keluar dari mulut sahabat saya. It’s something familiar, I know. Secara, saya dan sahabat sudah kayak dua manusia kembar yang sekalipun seringkali berseberangan pendapat, tapi hobi banget hang out berdua sampai malam. Jadi, tentu saja, kalimat-kalimat itu adalah standarnya ‘dia’ banget, sekalipun baru kali ini suasananya terasa berbeda.

Yes.

It was the day she dumped her boyfriend, dengan alasan, “Gue males nikah, La. Setelah dipikir-pikir, ngapain juga gue musti ngasih harapan ke banyak orang, sekalipun dia udah bilang bakal rela nungguin gue sampai keinginan itu muncul dengan sendiri, entah kapan? Iya, kan?”

Saya manggut-manggut.

“Gue nggak berniat untuk nikah. Not in the mood for having a relationship. Jadi, buat apa gue pacaran, kan?”

Oh, boy. Memangnya saya bisa ngapain lagi selain manggut-manggut dengan semua kata-kata yang keluar dari mulutnya? Saya kenal betul dengan sahabat saya; maybe I know her too well, sehingga kata-katanya seolah terasa benar dan masuk akal banget. Lagipula, I have no right to say anything to her face.

She’s a grown up.

I think she’s aware of that.

**

Tapi rupanya, tidak semua orang bisa seperti saya. I mean, mengerti apa yang sedang bermain-main di dalam benak sahabat saya dan malah menganggap kalau sahabat saya itu sedang.. um… losing her mind, barangkali?

Ada banyak yang berkomentar, “She lives in her fear. Namanya hidup kan soal mengambil keputusan, nggak bisa selamanya sembunyi dalam ketakutannya. Dia musti keluar dari sana…”

Saya hanya bisa berkata, “She doesn’t live in her fear. She lives in world where she thinks that maybe, being single, doesn’t sound bad at all.”

Lalu ada yang berkomentar, “Cuman orang-orang bodoh aja yang nggak kepingin kawin. Menikah itu enak. Lebih enak lagi kalo menikahi orang yang tepat…”

Saya ikut menjawab, “Dan bagaimana seseorang bisa tahu mana yang tepat mana yang salah? Memangnya ada barcode khusus untuk menandai lelaki yang tepat dan bukan, atau mungkin ada teknologi canggih di bidang kedokteran untuk mengetahui nama di tulang rusuk tubuh perempuan-perempuan, sekedar untuk memudahkan perempuan mencari pasangan jiwanya?”

Dan terakhir, mereka hanya bisa bilang, “Ya… mungkin karena dia belum ketemu lelaki yang tepat, sehingga keinginan itu belum muncul, La…”

Then I told them, “Aku udah nanya sama dia… and guess what. Sahabatku cuman bilang, ini bukan masalah gue belum ketemu orang yang tepat, tapi karena dengan siapapun gue nggak bakal punya keinginan untuk menikah. Elo nanya, apa karena I couldn’t picture him in my future. Tapi di dalam pikiran gue, masa depan gue nggak ada hubungannya sama kawin-kawinan.

Jadi… seperti yang sahabatku bilang, ‘Ini bukan soal belum ketemu lelaki yang tepat, tapi soal seseorang yang udah ngerti bener apa yang dia inginkan dalam hidup’. Cuman segelintir orang yang tau persis apa yang mereka inginkan. Dan aku iri dengan mereka…”

Setelah sok jadi pahlawan dengan cara menjelaskan ke semua orang kalau sahabat saya itu telah melakukan tindakan yang benar, bahwa dia tidak keliru, dan keinginan untuk tidak menikah bukanlah keinginan yang harus menimbulkan kernyitan di dahi orang… akhirnya saya capek sendiri.

Saya capek menerangkan ke semua orang kalau ada banyak hal yang tidak diketahui orang lain tentang sahabat saya.

Saya lelah harus menjelaskan ke semua orang yang mencemooh sahabat saya yang pemikirannya mungkin di luar kotak dan extraordinary.

Saya juga lelah meredam rasa kesal karena beberapa orang mengatakan kalau sahabat saya ini aneh… Hey, you don’t even know her. Try to live in her shoes and find out for yourself how difficult her life is.

Saking lelahnya, saya akhirnya memutuskan untuk berkata ini saja jika sewaktu-waktu ada yang berkomentar soal keputusannya untuk melajang selamanya setelah memutuskan pacarnya yang terlihat begitu sayang padanya dan bisa menjadi suami yang baik untuknya:

“My best friend has the right to make her own decisions, for this is her life, not ours. She has all the right to make a mistake… and also, she has all the right to learn from it. So? Just let her do whatever she wants to do… She’s a grown up, she knows what she’s doing. And until then, I just wish that she’ll be okay…

Saya harap, mereka bisa mengerti prinsip hidup sahabat saya, mereka bisa memahami kalau keputusan untuk tidak menikah bukanlah keputusan yang bodoh dan tolol atau karena ia adalah seorang perempuan yang tidak berani berspekulasi lantas hidup dalam ketakutan-ketakutannya saja.

Dia adalah perempuan hebat yang tahu apa yang ia inginkan.

Dan saya… iya, Lala Purwono, sangat bangga sekali dengan keputusan yang ia ambil.

“Gue tau, elo sering banget berseberangan pendapat sama gue. Elo sering kaget dengan pemikiran-pemikiran gue. Mungkin sekarang elo masih mikir kalo keputusan gue ini bukan keputusan yang tepat, tapi thanks, ya, La, elo tetep mau ngebela gue.”

Dan saya cuman bisa bilang, “Hei. I’ll stand beside you, through better and worse. After all, where else would I be, hm?”

It was Monday, a week ago.
Banyak hal yang mungkin bisa berubah dalam kurun waktu satu bulan ke depan, enam bulan ke depan, atau mungkin dalam beberapa helaan nafas berikutnya.
Tapi satu hal yang tidak pernah berubah: she will always be a bestfriend for me…

So, people.
Will you please just respect her decision and let her learn from her own mistakes?

Because sometimes, it’s much better that way…

mistakes_0(gambar dari sini)

***
Kantor, 10 Agustus 2009, 2.50 Siang
untuk seorang Sahabat, dengan penuh cinta…

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

10 thoughts on “Learn From Your Own Mistakes

  1. Menikah itu sebuah keindahan dunia atau bisa disebut Surganya Dunia…indah karena kita bisa berbagi…jikapun ditengah perjalanan terjadi pertengkaran itu adalah sebuah bumbu…

    saya dulu takut untuk menikah tapi ketika merasakan ada yang membutuhkan saya rasanya saya bangga menikah diusia 26 dan sayapun berhasil ngomporin sahabat seangkatan saya untuk segera menikah dengan menghilangkan keinginan untuk sukses dulu
    .-= omiyan´s last blog ..Perempuan Dan Sebuah Kehormatan =-.

    Posted by omiyan | August 10, 2009, 4:25 pm
  2. Pertama2, Laa.. gambarnya kereeeennnn!! 😀

    *ngga ada kedua or ketiganya seeh, hehe ;p*
    .-= Indah´s last blog ..Sama vs Beda =-.

    Posted by Indah | August 11, 2009, 7:37 am
  3. dan kitapun bisa belajar dari kesalahan sahabatmu itu La. bahwa, keputusan untuk melajang adalah sebuah kesalahan dalam peradaban timur, maka sebisa mungkin kita tidak terjebak dalam paradigma yang sama, dengan mempelajari sebab musabab ia memutuskan itu semua…

    tanpa mengurangi rasa hormatku pada keputusannya, aku cuma mau bilang, bahwa menikah itu hampir sama dengan kebutuhan kita akan makan… I mean it! 😀

    Posted by vizon | August 11, 2009, 9:10 am
  4. gue ga akan nyebut itu kesalahan, atau benar. karena itu semua adalah pilihan. dan juga salah-benar itu kan relatif. tergantung juga sama pandangan orangnya sendiri.

    so, biarlah dia mempelajari apa yang akan terjadi nanti. karena hidup, adalah pilihan.. 😉
    .-= Billy Koesoemadinata´s last blog ..REKOR! =-.

    Posted by Billy Koesoemadinata | August 11, 2009, 12:49 pm
  5. salah atau benar? it’s purely about making decision la. Tapi menikah itu penyempurnaan separuh dien kita sebagai muslim 🙂
    .-= 1nd1r4´s last blog ..Tasmania…a beautiful coldness (2 – Tamat) =-.

    Posted by 1nd1r4 | August 11, 2009, 2:32 pm
  6. waktu sampai kata2 “Dan saya…iya Lala Purwono…” jantungnya udah ‘makdeg’…
    Kupikir lanjutannya: “Dan saya…iya Lala Purwono pun memutuskan untuk tidak menikah.” Ouch…

    Btw, menikah atau tidak itu keputusan masing2 pribadi. Dan nggak ada yang berhak memaksa ataupun menilai, menduga2 alasannya, dll tetek bengeknya….

    Hmm…salut sama orang2 yang “bisa” memutuskan untuk tidak menikah dan bahagia karenanya…
    .-= yustha tt´s last blog ..busy… =-.

    Posted by yustha tt | August 11, 2009, 7:01 pm
  7. *mantuk-mantuk….mikirin commentnya uda vison*

    kebutuhan makan?? 3 kali sehari donk?? hmmmm :p
    .-= AFDHAL´s last blog ..Bandzermash =-.

    Posted by AFDHAL | August 12, 2009, 11:26 pm
  8. Hmm… menurutku, keputusan untuk menikah atau tidak tergantung dari masing-masing pribadi, saya menghargai apapun keputusannya.
    masalahnya bukan mistake or not, tapi bagaimana menjalankan keputusan itu secara bertanggung jawab
    .-= Bro Neo´s last blog ..Kopdar Jakarta (lanjutan) =-.

    Posted by Bro Neo | August 13, 2009, 12:08 am
  9. lulaaa, jones here,
    i’m married.. emmm a week ago, appx, ehehehhe

    i do respect ur bestfren’s dec,
    I aint’ say any word againts her dec also
    all i’m goin to say is.. I’m so happy bein’ married,
    this is the moment I live for

    having my own family is beautiful, la.. really beautiful…

    Posted by augzarifi | August 14, 2009, 12:04 pm
  10. Dulu, gue punya pikiran yang sama La,
    married kan gambling.. buat apa… mending single toh sudah komplit semuanya.

    Namun ketika ketemu Adrian, proses merubah pikiran gue. Menikah tentu bukan jangkar kebahagian, tapi sekolah kehidupan yang jujur membuat gue lebih dewasa dan lebih mengenali diri gue sendiri.

    Salam buat temen lu La 🙂
    .-= Eka Situmorang – Sir´s last blog ..EKA, Alnect dan Laptop =-.

    Posted by Eka Situmorang - Sir | August 19, 2009, 6:15 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

August 2009
M T W T F S S
« Jul   Sep »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: