archives

Archive for

Lima Setengah Jomblo!

Kemarin, saya meng-update status di FB. Isinya sih kurang lebih seperti ini:

“Sejak ada FB, kayaknya semua orang jadi lebih sering kumpul-kumpul sama temen-temen lama, deh!”

Dan status itu saya tulis ketika menuju ke acara Buka Puasa Bersama teman-teman alumni SMPN 3 Praban, Surabaya, lulusan tahun 1995, yang diadakan di Kebon Pring, sebuah resto yang menyajikan masakan Indonesia yang mendapatkan full recomendation dari saya. Iya, karena enak dan murah! Continue reading

where does the love go?

where-does-the-love-goPertanyaan ini menghantui pikiran saya sepagian ini.

“Where does the love go?”

Kemana perginya cinta yang meletup-letup ketika semuanya sudah tidak masuk akal? Kemana perginya rasa sayang yang menggebu-gebu ketika semuanya sudah terasa melelahkan? Kemana perginya sebuah janji yang mereka bangga-banggakan di depan penghulu ketika semuanya seolah sedang bergerak di dua rel yang berbeda?

Ya.

Where does the love go?”

** Continue reading

Being Famous

Kamu lihat pemilihan Miss Universe 2009, yang dihelat di kepulauan Bahamas dan disiarkan langsung melalui teve kabel di Senin pagi pukul 8 dan ditayangtunda oleh Indosiar pada malam harinya?

Oh well, hari Senin kemarin saya memang tidak masuk ke kantor sehingga bisa menonton tayangan langsungnya di Star World dan musti ekstra menajamkan pendengaran karena saya sering mendadak budeg kalau mendengarkan percakapan dengan bahasa Inggris! Hehe.

Nah, sesi yang sangat menegangkan (tentunya, selain pengumuman Miss Photogenic yang akhirnya luput dimenangkan oleh wakil dari negeri kita tercinta sekalipun sudah digadang-gadang bakal melebihi prestasi Puteri Indonesia — lupa tahun berapa–, Artika Sari Devi yang dulu menembus 15 besar) adalah ketika sudah sampai lima besar dan setiap kontestan yang tersisa harus menjawab satu pertanyaan dengan sebaik-baiknya, untuk menentukan hasil akhir pemilihan puteri sejagad itu.

One question that moved me the most is a question about being famous. Saya (lagi-lagi) lupa siapa yang mengajukan pertanyaan itu dan siapa kontestan yang dapat jatah pertanyaan itu, tapi menurut saya, itu adalah satu-satunya pertanyaan yang SANGAT MUDAH. Dan tahu nggak, sih. Saya sampai kepikiran, “If only I were the contestant, saya punya jawaban yang sangat tepat – for my opinion, certainly – dan tidak belepotan seperti yang keluar dari mulut kontestan (yang masih saya lupa dari negara mana). Continue reading

Lelaki Bernama Edi Purwono

Kalau ada yang bertanya, siapa yang menginspirasi saya untuk menulis, tidak lain dan tidak bukan adalah: EDI PURWONO, lelaki usia 59 tahun, yang penglihatannya sudah rabun, bertubuh ringkih, yang kupanggil Papi atau “Dad” ketika saya merajuk manja padanya.

Ya. Edi Purwono, Papi saya, adalah orang pertama yang meyakini bahwa saya bisa menulis. Beliau memang tidak pernah sangat serius menelateni untaian huruf-huruf  yang saya ketik. Beliau bukan penikmat tulisan saya seperti almarhumah Mami yang selalu membaca karya-karya cerpen yang saya tulis sejak SMP. Edi Purwono, Papi saya, hanya tahu kalau puteri bungsunya yang selalu sibuk berkutat di depan komputer itu sedang menulis cerita-cerita pendek yang kebanyakan isinya cecintaan saja. Dan entah kenapa, sekalipun demikian, Papi selalu meyakini, “Suatu saat kamu pasti punya buku. Ayo, kapan mulai ngirim karya-karyamu ke penerbit?”

Kata-kata penyemangat yang keluar dari mulut Papi memang seolah mantra yang menghantui pikiran saya. Bagaimana tidak, almost each and every day, di kala sempat, Papi selalu menuturi saya bahwa di dalam hidup yang hanya sebentar ini,  paling tidak, kita harus mengisinya dengan lebih bermakna. Dan, it may sound selfish and all, tapi kata-kata Papi tentang saya harus membuktikan ke semua orang bahwa saya bisa, jelas telah menantang adrenalin saya untuk mencoba, terus dan terus.

Dan Papi ternyata benar Continue reading

Chubby!

What is it with Chubby lovers?

Pertanyaan itu sempat terbayang-bayang di dalam isi kepala saya ketika mengetahui kalau beberapa teman lelaki saya sangat ‘kecanduan’ dengan perempuan-perempuan bertubuh extra large alias chubby!

Ini jelas mencengangkan, karena setahu saya, di dalam pikiran lelaki, women are supposed to be sexy, with big boobs, pinggang yang ramping, kaki yang jenjang, dan wajah yang cantik. Malah, beberapa kesan yang saya dapat adalah, biarpun cakepnya kayak apa, tapi kalau sudah ‘montog’, ‘padat karya’, and too much ‘love handle’, mereka jadi mundur teratur.

Dan… saya KELIRU! Continue reading

Chubby!

What is it with Chubby lovers?

Pertanyaan itu sempat terbayang-bayang di dalam isi kepala saya ketika mengetahui kalau beberapa teman lelaki saya sangat ‘kecanduan’ dengan perempuan-perempuan bertubuh extra large alias super chubby!

Ini jelas mencengangkan, karena setahu saya, di dalam pikiran lelaki, women are supposed to be sexy, with big boobs, pinggang yang ramping, kaki yang jenjang, dan wajah yang cantik. Malah, beberapa kesan yang saya dapat adalah, biarpun cakepnya kayak apa, tapi kalau sudah ‘montog’, ‘padat karya’, and too much ‘love handle’, mereka jadi mundur teratur.

Dan… saya KELIRU!

Not everyone adores goddess with big boobs, pinggang espanyola, kaki yang seksi panjang, dan wajah yang tirus dengan tulang tinggi yang memesona. Tidak semua lelaki langsung ngiler dan hatinya rontok karena melihat pemandangan seperti itu. Oooookkay. Mereka tetap ngiler, tetap deg-degan horny *aih, bahasakuuuhhhh*, tetep nggak bisa melepaskan pandangan dari sosok yang melenggang begitu seksinya di depan mereka, tapi one thing for sure, mereka justru memilih perempuan-perempuan yang bertubuh montog, ‘padat karya’ dan berpipi chubby!

What the hell is wrong with them??? Kenapa mereka justru lebih tergila-gila dengan perempuan yang mungkin jauh dari kesan seksi, seperti pandangan umum dimana seksi adalah tubuh ala gitar Spanyol?

“Aduh, La. Aku juga nggak tau kenapa bisa suka sama perempuan-perempuan yang chubby. I think.. mereka sangat seksi!” kata seorang teman yang selalu berpacaran dengan perempuan-perempuan bertubuh XL.


“Nggemesin kali, ya, La… Mungkin karena mereka enak dipeluk-peluk, bukan berasa tulang berbungkus kulit doang, jadi lebih nyaman aja…” kata teman yang lain sambil terkikik geli.

Ujung-ujungnya memang cuman satu hal.

Kalau sudah soal hati, La, what else can I say? Reaksi kimia itu nggak bisa dikendalikan. Dan mungkin, hormonku baru bisa bekerja hanya untuk cewek-cewek ukuran XL doang! Who knows?”


Ya.
Chemistry. Memangnya bisa kita kendalikan? Ini adalah reaksi yang terjadi dengan sendirinya, yang spontan, yang cuman Tuhan saja yang tahu kenapa bisa terasa getaran serupa gesekan sayap kupu-kupu di atas perut setiap kali kita melihat seorang lawan jenis di depan mata. Atau, setiap dekat dengan perempuan atau lelaki pujaan, yang mungkin far below our standard, not our type, bukan selera masyarakat pada umumnya, tapi gesekan sayap kupu-kupu itu terasa dengan sangat hebatnya.

It’s just a matter of what your heart tells you, kan? Mau kemudian suka yang ukuran XL atau XS, kalau udah masalah hati, you just follow your heart.

Saya pun akhirnya mengerti kenapa beberapa kawan saya begitu tergila-gila dengan perempuan yang ukurannya XL atau lebih dari itu (at some point, saya lega sekali, karena sekalipun badan saya nggak langsing, saya masih punya kans untuk bertarung dalam arena perjodohan! haha… lebay banget, deh!). Saya pun akhirnya mengerti kalau pada akhirnya, ini adalah masalah hati dan masalah selera saja.

Sama seperti saya yang, tanpa alasan, sangat menyukai lelaki-lelaki dengan janggut yang lupa tercukur sehingga membuatnya nampak sangat jantan.
Sama seperti saya yang, tanpa alasan, sangat jatuh cinta sekali dengan lelaki-lelaki yang tidak berpenampilan metroseksual, tapi terkesan cuek sekalipun wajib hukumnya untuk selalu wangi.
Dan sama seperti saya saat ini, yang tanpa alasan jelas, malah jadi inngggiiin sekali memiliki kekasih yang bertubuh chubby dan tinggi.

And in the end, saya ngerasa malu sendiri karena sempat merasa heran dengan teman-teman yang selalu ngerasa jantungnya berdebar setiap bertemu dengan perempuan-perempuan bertubuh XL atau lebih.

Mengapa begitu?

Because somehow, itu artinya saya harus siap-siap ditanya, “Kenapa sekarang elu mendadak pingin punya pacar gendut dan berewokan?”
Percayalah, saya nggak punya jawabannya.

Dan, bisa nggak, sih, kamu berhenti bawelin saya dengan pertanyaan nggak penting macem itu??? Suka-suka saya dong.. Mau gendut kek, kek. Berewokan, kek. Nggak rapih, kek. Bodo! Yang pentin gue cinta, wekkk… Bawel amat!

*Yeee… gue kan bales nanya, Laaaa…. Kenapa situ malah nyolot sih?*

Hehehe.
Iya juga sih… Kenapa saya malah nyolot, ya? ck-ck-ck… ^_^

***

Depan televisi, Senin, 24 Agustus 2009, 12.06 Pagi
Masih belum ngantuk dan nulis sekenanya aja 😀


Super Secret Boyfriend

Do you ever have a secret boyfriend?

Okay, sebaiknya saya bicara secara general saja. Do anyone of you have secret boyfriends/girlfriends? Kekasih yang sangat kamu cintai setengah mati tapi kamu nggak bisa mengungkapkannya ke seluruh penjuru dunia dengan alasan yang sangat spesifik? Bisa jadi karena:
…ow, he or she’s actually not my type. Far below my type… but I love her/him!
… um, dia beda status sosial. He/she’s not the kind of boyfriend/girlfriend that will steal my mother’s heart away..
… although I like her/him very much, tapi tetap saja… pekerjaannya yang cuman pegawai rendahan sepertinya nggak cocok dengan level director, pekerjaanku yang sekarang… *biasanya sih ini perempuan*
Dan mungkin… ini…
Dia itu pacar orang laen!
atau…
suami/istri orang laen!

Beberapa teman saya pernah memiliki pacar rahasianya. Dengan alasan yang sungguh spesifik.

Seorang teman berpacaran dengan seorang lelaki yang usianya jauuuuuhhh di bawa usianya. Beberapa kali saat saya ingin berkenalan dengan lelaki manis di usia awal dua puluh itu, dia bilang, “Gue malu, Jeung!” Ya. Karena he’s too young dan buat kawan saya, “Kayaknya gue belum bisa kenal-kenalin dia ke kalian deh…”

Lalu ada teman yang lain, yang berpacaran dengan perempuan yang tidak selevel dengan dirinya. Maksud saya, “Dia tuh cuman SPG biasa, La…” SO WHAT? “Lo kan tau karir gue kayak apa, La… kesannya gimanaaaa gitu kalau gue pacaran sama SPG…” Yeah, yeah. SO WHAT?

Dan seorang kawan lain yang berpacaran dengan suami orang. Hebatnya, ini sudah tahun yang kedua, kali. Pas saya nanya kenapa dia nggak meninggalkan kekasihnya yang notabene masih berstatus suami orang dan belum ada niatan untuk cerai dari istrinya, dia malah bilang, “You have no idea to be me, La. He’s gorgeous. And I love him so much!”

Banyak alasan yang kemudian membuat mereka memiliki pacar-pacar rahasia; yang mereka pacarin di saat-saat tertentu, yang mereka gandeng di momen-momen yang sangat spesial (baca=ketika tidak ada orang yang peduli dengan status), yang mereka temui..secretly.

It got me thinking, why do they even bother to have a relationship when they’re afraid that everyone will find out?
Kenapa juga harus susah-susah menjalin hubungan dengan seseorang, not just physically, but also emotionally, kalau kemudian hubungan itu harus disimpan rapat-rapat dan mungkin.. umm.. going nowhere?
Kenapa juga harus berpacaran kalau merasa malu?
Kenapa juga harus berpacaran kalau harus sembunyi-sembunyi?

Sampai akhirnya saya berhenti bertanya, because soon afterward, I realize and know the exact answer to those questions.

Why do they even bother to do that?
Because one thing for sure, a relationship is too personal.
Sangat, sangat personal.
Hanya melibatkan dua hati; lelaki dan perempuan. Lingkungan memang sangat berarti; keluarga, teman, tetangga, rekan kerja, SEMUANYA adalah sangat berarti. Remember, kita adalah makhluk sosial yang at some point, we do NEED each other.
Tapi pada intinya, pada akhirnya, yang terpenting adalah dua hati itu sendiri. Environment maybe is important, tapi kalau dua hati itu sudah keukeuh sumerekeuh dan solid, saya rasa, hubungan itu bisa berjalan dengan baik.

Jadi, bodo amat apa yang dibilang oleh bisik-bisik tetangga. Yang penting, mereka bahagia…

Hah? Semudah itu? Sesederhana itu?

Ya. Sesederhana itu.
Memangnya sejak kapan cinta bisa dianalisa? Sejak kapan cinta bisa dilogika dengan baik dan benar? It’s a matter of what your heart says, jadi logika susah sekali untuk diajak kompromi, kan?

Jadi, kembali ke soal topik “SUPER SECRET BOYFRIEND/GIRLFRIEND”. Rasanya sah-sah saja kalau mereka mau get through all the troubles just to keep their relationship from being noticed by everyone else. Afterall, who am I to judge their choices? Saya cuman teman mereka yang tetap akan menajamkan telinga kelak kalau mereka ingin curhat, atau malah meminjamkan bahu saat mereka butuh shouldier to cry on…

Dan satu hal lagi… saya pun pernah punya Super Secret Boyfriend, yang tidak akan pernah saya bagi sama kamu, NOT EVER 🙂
Apapun alasan kenapa saya tidak ingin membaginya sama kamu semua,
tapi satu hal yang pasti…
I loved him so much. VERY MUCH.
Dan percayalah, until today, it was the best relationship I had so far in my life…

***

Depan televisi, Minggu, 23 Agustus 2009, 11.12 Malam



Gonna Miss That!

Besok, hari Sabtu, tanggal 22 Agustus, adalah hari pertama puasa bulan Ramadhan di tahun 1430 H (eh, kalo salah, mohon dikoreksi, ya..) Sekalipun sepanjang tahun saya juga beberapa kali puasa Senin-Kamis dan puasa membayar hutang karena puasa yang bolong, tetap saja, puasa di bulan Ramadhan terasa begitu deg-degan!

Iya. DEG-DEGAN!

Dan entah kenapa saya merasa deg-degan seperti ini; merasa seperti kembali menjadi anak kecil yang membayangkan bahwa mulai besok saya musti bersikap sangat hati-hati dan o-oh, feeling starving from 4 o’clock in the morning, ’til 6 in the afternoon. Membayangkan kalau mulai besok sampai sebulan penuh ke depan, saya bakal nggak bisa ngemut permen seenaknya during office hour atau nyeruput kopi susu yang biasanya tersaji di atas meja kantor dan harumnya menyergap hidung saya dengan jahatnya!

Padahal sudah tahun yang ke… umm… *ngitung bentar* sudah tahun yang ke-22 saya menjalankan puasa penuh. Seharusnya saya nggak perlu memikirkan hal-hal yang seperti itu lagi, kan? Udah mau 30 taun, tapi masih takut batal puasa karena mencium aroma mie instan goreng yang dimasak oleh teman yang non muslim saat lunch break di kantor? Najis tra-la-la banget, tho? 🙂 Continue reading

Selamat Puasa….

Selamat menjalankan Ibadah Puasa, ya, Guys…
Jangan banyak bolongnya, okay? 🙂

***

Kantor, Jumat, 21 Agustus 2009, 4.25 sore
Sudah nggak sabar pulang kantor buat berangkat ke Masjid.. ^_^

www.fairy-tales.com

Kamu kenal Cinderella?

cinderellaPerempuan cantik, tinggal bersama Ibu dan Adik-Adik tirinya yang super duper kejam dan lebih diperlakukan seperti pembantu daripada seorang anak perempuan cantik yang butuh kasih sayang dan perhatian karena Ayah kandungnya meninggal dunia?

Ingat bagaimana kisahnya bertemu dengan Ibu Peri yang kemudian mengubah hidupnya menjadi Puteri Semalam dengan sepatu kaca yang tertinggal sebelah di tangga sebuah kastil kerajaan, persis ketika pukul dua belas malam? Ingat bagaimana kemudian Pangeran Tampan mencari pemilik pasangan sepatu kaca itu dengan menyelenggarakan sebuah sayembara yang membuatnya berkeliling desa? Ingat bagaimana girangnya Cinderella ketika tahu bahwa Pangeran mencarinya? Ingat bagaimana senyumnya ketika akhirnya mereka menikah dan… mmm… lived happily ever after?

Haha.

Dosa banget kalau kamu sampai bilang, “Cinderella? Anaknya siapa, tuh? Kuliah di mana? Punya Facebook, nggak? Eh, blogger bukan, sih?”

Sumpah. Saya akan menimpuk kamu dengan durian satu truk kalau kamu nggak kenal siapa Cinderella, karena menurut saya, popularitas Cinderella melebihi popularitas manusia-manusia yang living and breathing dalam kehidupan nyata. Popularitas Cinderella, yang meski hidupnya ada dalam gulungan rol pita film atau tercetak dalam printed media, mengalahkan banyak tokoh-tokoh yang mungkin kisah hidupnya lebih masuk akal.

Ya.

Masuk akal.

Happily ever after… adakah?

That kind of excitement ketika hendak menikahi orang yang baru dikenalnya semalam… adakah? Continue reading

Catatan Harian

August 2009
M T W T F S S
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Celotehan Lala Purwono