you're reading...
Thoughts to Share

Can You Really Forgive Someone Who Cheated on You?

Lelaki itu pulang, ketika senja sudah lama menghilang.

Lampu ruang tamu rumahnya sudah nampak padam dan sunyi menyelimuti seluruh isi rumah sehingga bunyi setiap langkahnya terdengar dengan jelas di kedua daun telinganya. Dia sudah turun dari dalam mobil yang membawanya pulang dari kantor, setengah jam yang lalu, dan berjalan menuju pintu rumahnya, memasukkan kunci ke dalam lubangnya, dan membuka pintu itu dengan perlahan.

Dia hanya membayangkan tidur yang nyenyak, didahului dengan meneguk secangkir teh manis hangat lalu mengobrol sebentar dengan istrinya kalau saja perempuan tercintanya itu masih mampu menahan kantuknya.

Sudah pukul setengah satu pagi.
Dia tidak berharap terlalu banyak Istrinya masih terjaga, sekalipun setiap kali lelaki itu pulang, perempuan itu segera bangun dan mulai menyiapkan teh manis, menghangatkan lauk, memasakkan air untuk mandi, dan menemaninya ngobrol sekalipun dengan mata yang berat.

Dia mencintai Istrinya, itulah alasan mengapa dia tidak tega membangunkan perempuan yang sudah dinikahinya selama lima tahun dan memberinya seorang puteri cantik itu.

Dia melangkahkan kakinya, memasuki ruang tamu, melangkah menuju ruang keluarga, dan mengintip sebentar ke dalam kamar tidurnya. Istrinya tergolek di atas ranjang, di balik selimut tebal yang melindunginya dari hembusan pendingin ruangan, memeluk buah hati mereka yang mendengkur dengan lembut.

Senyum segera mengembang di wajahnya. Apa yang lebih menyenangkan dibandingkan melihat orang-orang yang dicintainya tengah tertidur tenang seperti itu? Wajah mereka yang nampak tenang dan damai adalah penghibur segala lelahnya setiap hari. Hilang sudah segala penat dan kesal yang mengukir hari-harinya di kantor. Hilang, tidak berbekas.

Dia menghela nafas.
What could he ask for more, kalau keindahan dunia itu sudah nampak di kedua biji matanya? Kalau keindahan dunia sudah terpampang jelas di kedua wajah yang sedang tersenyum dalam tidurnya itu?

He could never ask for more.
His family, his wife and kid, adalah nyawanya.
Iya.
Nyawanya.

***

Beberapa hari berikutnya, lelaki itu pulang.
Masih sama, ketika senja sudah lama menghilang.

Seperti yang sudah-sudah, malam tetap sesunyi biasanya. Lampu, sudah sama gelap seperti hari-hari kemarin. Dia tetap berjalan perlahan, membuka daun pintu perlahan, melangkah menuju ruang tamu yang gelap, menyusuri ruang keluarga, sampai ke ruang makan… masih sama seperti yang sudah-sudah.

Hanya satu yang berubah malam itu.
Dia tidak melihat istrinya di atas ranjang.
Dia tidak melihat istrinya sedang merangkul puteri cantiknya di atas ranjang.
Dia tidak melihat istrinya di manapun, malam itu, di tempat sang istri biasa ia lihat setiap ia pulang dari kantor, dari tekanan pekerjaan yang menjengkelkannya itu.

Tapi dia hanya menemukan secarik kertas yang ditempelkan di pintu lemari es, ditempelkan dengan magnet kulkas yang berwarna-warni beraneka bentuk.

Tulisan tangan istrinya.
Tulisan tangan perempuan yang telah menjadi segalanya.
Tulisan tangan seorang kekasih hati yang kemudian membuat tubuhnya seolah mengejang seketika, yang membuat paru-parunya mendadak amnesia lalu lupa untuk bernafas, membuat otaknya tak bisa berpikir apa-apa dalam sekejab.

Perempuan itu telah membuat tubuhnya limbung dengan kalimat-kalimat ini:

“Ayah,
Aku ada di kamar tamu.
Aku menunggumu di situ.
Aku nggak berani memandangmu, Ayah. Aku nggak berani melihat wajahmu yang selalu tulus mencintai aku. Aku merasa sangat berdosa setiap kali aku melihat senyummu. Aku merasa sangat berdosa setiap kali kamu mencium bibirku, memeluk tubuhku, dan setiap saat kita bercinta.
Aku berdosa, Ayah.
Karena aku telah mengkhianati cinta kita…
I’m having an affair with my ex boyfriend…. and I’m not proud of it.

Ayah,
Aku tahu, kamu pasti marah sama aku. Kamu pasti merasa sangat jijik saat menyentuhku. Kamu pasti tidak akan pernah memaafkan aku.

Aku nggak ingin berbohong lebih lama lagi, Yah. Aku ingin menyudahi semuanya. Aku telah memilihmu, memilih lelaki yang telah menikahiku dan membahagiakanku selama ini.

Kalau kamu memaafkanku, aku sedang menunggumu di dalam kamar.
Kalau kamu nggak bisa memaafkanku, kamu bebas mengusirku pergi…

Bunda cinta Ayah..
Maafkan Bunda..”

Beberapa tetes air mata segera jatuh ketika lelaki itu selesai membaca surat pengakuan dari istrinya; dari seorang perempuan yang kini sedang menunggu di dalam sebuah kamar, menunggu sebuah pintu yang entah terbuka, entah tidak akan pernah…

***

Ingatannya melayang pada hari pernikahannya. Mempersunting seorang perempuan yang telah menjadi kekasihnya selama bertahun-tahun, menikahi seorang perempuan yang telah menjadi belahan jiwanya ketika usianya masih sangat muda. Hari pernikahan, ketika bibirnya menyentuh dahi perempuannya, lalu diikuti dengan bisikan lirih di telinga kalau ia sangat mencintai istrinya.

Ingatan itu melayang terus ke beberapa bulan berikutnya, ketika ia tergopoh-gopoh pulang dari kantor cuman untuk memeluk istrinya yang beberapa saat yang lalu mengatakan, “Sayang… selamat, kamu bakal jadi Ayah…”

Ingatannya masih terus melayang. Kali ini ketika lelaki itu dan istrinya tengah sibuk mencari-cari nama buah calon buah hati mereka. Pertengkaran-pertengkaran konyol mereka soal mana nama yang paling pantas buat bayi mereka membuat suasana menjadi semakin mesra. Dan biasanya, diskusi itu berlanjut ke pelukan mesra, ciuman lembut di bibir, dan mereka tertidur merapat seperti manusia yang terlahir tidak sempurna. Berlekatan, dengan si lelaki yang memeluk hangat tubuh istrinya dari belakang.

Lalu ingatan itu melayang pada hari ketika Gabriella, buah hatinya, lahir. Tangisan pertama Gaby yang memecahkan sunyinya Subuh dan membuat suaranya terbata-bata ketika melafalkan Adzan untuk menyambut kehadiran bayinya. Di hari itu, ia telah merasa lengkap.

Ingatan itu meloncat-loncat terus. Tidak berhenti. Setiap kenangan lelaki itu bersama Istrinya berulang terus di dalam isi kepalanya.
Senyum istrinya.
Hangat peluk istrinya.
Sentuhan hangat saat ia pulang dari lelahnya perjalanan dinas.
Elusan lembut di belakang kepala ketika sedang uring-uringan di balik kemudi mobil yang terhadang macet dan membuat mobilnya tak bisa bergerak sama sekali.

Hatinya perih seketika.
Bagaimana mungkin seorang Bidadari seperti istrinya bisa melukai hatinya sedemikian hebat?
Bagaimana mungkin seorang Bidadari secantik istrinya, selembut istrinya, sebaik istrinya, sesempurna istrinya, bisa menghancurkan kesetiaannya?

Lelaki itu diam di depan pintu kamar tamu, di depan sebuah kamar tempat istrinya entah sedang melakukan apa. Diam merenungi kesalahannya atau menangis atau entahlah apa.

Secarik kertas itu digenggamnya erat-erat.
Kemudian dia berjalan menuju kamarnya, menemui buah hatinya yang sedang lelap dalam tidurnya, mengecup ubun-ubunnya dengan hangat lalu membopong tubuhnya keluar.

Membawa Gaby pergi.
Dan membiarkan istrinya sendiri.

***

Dan suatu kali, aku menemaninya minum kopi. Lusinan puntung rokok di dalam asbak menandakan kalau sudah cukup lama aku dan temanku itu bercengkerama di sebuah coffee shop favoritnya itu. Malam itu sudah pukul setengah sepuluh lebih dan tidak nampak tanda-tanda kalau temanku itu akan menyudahi malam yang semakin larut itu.

“Jadi, Gaby masih di rumah Ibu?” tanyaku, setelah menyesap larutan kopi di cangkir kedua.

Dia mengangguk sambil terus menghisap batang berisi racun nikotinnya.

“Sampai kapan?”

Dia menggeleng. “Nggak tahu,” tukasnya pendek.

“Dia nggak nyari Mia?” tanyaku hati-hati. Mia adalah nama istrinya.

“Menurutmu?” dia balik bertanya.

Aku mengangguk. “Ya, ya. Pertanyaanku retoris banget, ya?”

“Hmm…”

“Oh ya, aku boleh nanya?”

“Apa?”

“Mm, kenapa kamu nggak berani pulang dan ketemu sama Mia? It’s been two months..”

Dia menghela nafas.
“Aku nggak bakal bisa melihat dia seperti dulu lagi, La. Nggak bakal bisa. Nggak akan pernah bisa…”

Dia bercerita soal imajinasinya tentang tubuh Mia yang pernah disentuh oleh tangan lelaki lain. Dia bercerita tentang pedihnya membayangkan bibir orang tercintanya mengecup bibir lelaki lain. Dia menangis setiap membayangkan tubuh Mia bertindihan dengan lelaki lain, ketika membayangkan keringat Mia berbaur dengan keringat lelaki lain. Di ranjang mereka sendiri. Di rumah mereka sendiri.

Sambil menangis, temanku itu berkata, “Bagaimana aku bisa melihat Mia seperti dulu, kalau aku nggak pernah bisa berhenti membayangkan tubuhnya pernah berlekatan dengan orang lain, La? Apalagi, di saat yang sama, paginya kami usai bercinta dan berpeluh bersama…”

Kugenggam tangan lelaki itu; lelaki yang tengah terisak di depanku dan membuat jantungku berdebar seketika. Kukenal dia sebagai lelaki yang sangat tangguh, yang selalu tahu apa yang dia lakukan, yang menjadi pimpinan di divisi-nya, dan segala kalimat dari mulutnya adalah titah yang wajib dipatuhi. Dan lelaki hebat ini… sedang menangisi kesakitannya.

What do you expect?
Hatiku diam saja, air mataku tak mengalir, dan jantungku berdebar teratur?

Oh tidak.
Aku juga ingin menangis saat itu juga!

“Ndra…”

Dia masih menangis.

“Aku nggak tau musti ngomong apa.”

Dia masih terisak.

“Aku cuman mau bilang… um… if you can’t really forgive her.. please just forget her fault. Tapi kalau kamu nggak bisa melupakan salahnya… um…please remember the day you fell in love with her…”

“…”

“Dan kalau itu nggak membantu juga… aku nggak bisa ngomong apa-apa lagi.”

“…”

“Karena kalau aku jadi kamu, Ndra… Aku tidak mau menghabiskan hidupku bersama seseorang sambil terus membayangkan wajah perempuan lain sedang memeluk tubuhnya, mencium bibirnya, membisikkan kata-kata cinta di telinganya…


Tidak.
Aku tidak akan pernah bisa.
I maybe forgive him.
But nope, I won’t forget the day he cheated on me, no matter what.”

Lelaki itu memandangku dengan sepasang mata yang penuh dengan air mata. Aku balik memandangnya, lalu menggenggam tangannya.

“It’s just who I am, Indra. You have all the right to be different…”

Dan malam itu berakhir dengan ingatan Indra yang melayang-layang tanpa bertumpu; sama halnya dengan ingatanku pada seseorang di masa lalu, yang memohon-mohon maaf di lututku dan memintaku untuk kembali padanya, tapi tak pernah kulakukan sampai hari ini…

***

Ruang keluarga, depan televisi, Senin 27 Juli 2009
Buat temen-temen FB yang udah ngasih inspirasi lewat jawaban statusku, beberapa jam yang lalu.
Thanks Guys! You’re the best, deh! :)

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

26 thoughts on “Can You Really Forgive Someone Who Cheated on You?

  1. aku selalu akan memaafkan nya…..semoga semua kita bisa memaafkan ya
    .-= nyegik´s last blog ..Matahari pagi tanda Shark Attack….. =-.

    Posted by nyegik | July 28, 2009, 12:26 am
  2. forgiven but not forgotten .. (The Corrs)

    Posted by p u a k™ | July 28, 2009, 10:34 am
  3. OMG La..

    mungkin karena gue lagi moody banget, tapi gue langsung speechless baca postingan inih

    jadi keingetan sama orang lama..
    .-= Billy Koesoemadinata´s last blog ..The Journey, vol.11: The Occurence =-.

    Posted by Billy Koesoemadinata | July 28, 2009, 4:47 pm
  4. ya…makanya berhati2lah dengan kepercayaan…
    lala…postingan ini keren gila! keep writing babe…
    .-= Ria´s last blog ..Perjalananku (Day 3 – day 4) =-.

    Posted by Ria | July 28, 2009, 6:06 pm
  5. bnr2 tulisan dr dlm hati..
    persis sama yg ak alamin bedanya ak yg “cheated” tp lucky me, ak dimaafkan :p
    .-= ipi´s last blog ..back to routine =-.

    Posted by ipi | July 29, 2009, 9:15 am
  6. memafkan dan melupakan
    1 paket yang paling sulit
    sigh……
    .-= depz´s last blog ..sahabat (repost) =-.

    Posted by depz | July 29, 2009, 9:16 am
  7. bagusnya posting
    .-= days of dee tresna´s last blog ..rumput, template, captured and holiday =-.

    Posted by days of dee tresna | July 29, 2009, 10:05 am
  8. yang dibutuhkan oleh mia bukan maaf dari indra, tapi ampunan dari Tuhan…
    konsepnya sudah jelas:
    syukur nikmat = bertambah,
    kufur nikmat = azab

    mia telah kufur akan nikmat Tuhan. punya suami yang setia dan menyayangi, itu adalah sebuah nikmat yg luar biasa. perselingkuhannya tak ada ruang untuk ditolerir.

    sebagai lelaki, aku sepakat bila Indra melepaskan Mia. Tidak sekedar harga diri, tapi juga karena kesucian sebuah pernikahan…

    nice post La… I love this

    Posted by vizon | July 29, 2009, 12:41 pm
  9. Indra, kembalilah kepada mia
    .-= AFDHAL´s last blog ..Hikmah Meng’Input =-.

    Posted by AFDHAL | July 29, 2009, 6:17 pm
  10. saya sungguh berharap bisa memaafkan kesalahan akan perselingkuhan..tapi jujur aja, saya sampe sekarang ga mampu dan ga bisa..untungnya masih dalam tahap belum merit sih..jadi begitu ketauan selingkuh ya mending sudah lah..im only human with flesh and bone..mo gimana lagi..i can’t forgive nor forget..i choose to walk away and don’t give a damn about him..hehhehe..apa kabar La??rambutnya tambah pendek..:P

    Posted by stey | July 30, 2009, 10:15 am
  11. maaf aku yah
    .-= harry seenthing´s last blog ..Playing Bingo Online and Enjoying the Winning Time =-.

    Posted by harry seenthing | July 31, 2009, 3:24 am
  12. Hmmmm….yaahhh
    Sebaiknya memang berpisah karena utk dapat menjaga hati masing-masing……..,mencintai tetapi tidaklah harus selalu memiliki secara fisik……
    Masih banyak yang lebih baik dapat ditemukan….. saya tidak ragukan kesempatan itu ada…..;-)
    .-= Mia Arizona´s last blog ..Tips Jadi Pria Penuh Pesona =-.

    Posted by Mia Arizona | July 31, 2009, 5:57 am
  13. Postingannya bernyawa 🙂
    Keren!
    .-= DV´s last blog ..Jas, Dasi dan Sepatu Olahraga =-.

    Posted by DV | July 31, 2009, 6:01 am
  14. soal indra dan mia ?
    ya……,itu fenomena
    keseharian kita…….
    btw, postingan Lala
    slalu top abiezz……,
    takut salah kalau mau komen
    hmmmmm 🙂
    .-= mikekono´s last blog ..Menang Saja, belum Tentu Juara….! =-.

    Posted by mikekono | July 31, 2009, 10:18 am
  15. memaafkan tak selalu sama dengan memaafkan…
    sebetulnya tergantung dari seberapa besar cinta suami isteri itu…karena manusia terkadang memang lupa.
    .-= edratna´s last blog ..Teh rasa buah, oleh-oleh dari seorang sahabat =-.

    Posted by edratna | July 31, 2009, 12:59 pm
  16. Setuju dengan teman-teman yang lain, postinganmu ini bagus banget. Membawa kita larut kedalam ceritanya. Saya setuju Indra meninggalkan mia, tetapi bukan mengambangkannya dengan tidak adanya keputusan cerai atau tidak, Kesalahan seseorang janganlah dibalas dengan kesalahan kita juga….

    Posted by Nazar | July 31, 2009, 3:25 pm
  17. Kalau saya mungkin bisa memaafkan tetapi tidak mungkin bersatu lagi. Pasti suatu saat kita akan ingat terus perbuatan pengkhianatan itu. Lebih baik pisah dengan baik2 daripada selalu menjadi ganjalan.
    Coba bayangkan, ketika kita makan bersama, ingat itu lagi.
    Ketika piknik bersama anak, ingat lagi.
    Apalagi kalau sedang ditempaf tidur, pasti deh ingat kebusukan itu lagu.

    Salam dari pakde di Surabaya.
    .-= Pakde Cholik´s last blog ..STOP PRESS : Abdulcholik’s Blog juara ke-2 contest ITT =-.

    Posted by Pakde Cholik | July 31, 2009, 5:51 pm
  18. Hm.. I like this story, La.. Very realitic and happen in the real life..
    I guess it is simply because we all human, not angel..
    None of us will be clean from sin. We all do make mistakes.. Small or Big mistakes are relative. But, the bottom line is no one perfect.

    So, if the GOD could, why we can’t..? I guess we should forgive others.. Although for sure it is not going to be easy and may take times…
    .-= Nug´s last blog ..Setangkai Bunga =-.

    Posted by Nug | July 31, 2009, 11:09 pm
  19. semoga si Indra bisa lebih dewasa n punya keberanian untuk memaafkan karena hal tersebut mungkin yang terberat dalam hidupnya
    .-= cow´s last blog ..SEO DASAR =-.

    Posted by cow | August 1, 2009, 12:55 am
  20. my poor Gaby…

    salam saya,
    .-= Bro Neo´s last blog ..Penelitian Selama Bertahun Tahun =-.

    Posted by Bro Neo | August 1, 2009, 3:01 am
  21. Saya speechless membacanya mbak..
    .-= narpen´s last blog ..Mbak, bukan mas, apalagi pak.. =-.

    Posted by narpen | August 1, 2009, 9:34 am
  22. Awalnya bisa memaafkan tapi belum melupakan…

    tapi seiring waktu akan bisa lupa juga.

    Anw.. memaafkan dan melupakan itu soal keputusan.
    Mau atau tidak ? 🙂
    .-= Eka Situmorang – Sir´s last blog ..Sidak ! [Alnect Komputer] =-.

    Posted by Eka Situmorang - Sir | August 1, 2009, 2:27 pm
  23. langsung ingat lagu ‘how could an angel break my heart’ nya Tony Braxton….

    pukulan paling sakit adalah saat kita tidak menyangka akan dipukul..

    makanya, percaya seseorang cukup 99%, keep the 1% to yourself…

    untuk soal perselingkuhan dalam pernikahan…wew….susah untuk melupakan..bisa memaafkan tapi mungkin akan banyak yang harus di work-out.. harus ‘berobat’ ke pihak ketiga alias konsultan pernikahan..

    Posted by hawe69 | August 1, 2009, 3:57 pm
  24. buat mas indra, sabar ya mas…. i know its hurt so much.

    time heal everythings… just take ur time for a while…

    Orang bisa salah, kita juga bisa salah. Setidaknya ada niat baik dari mia, dia udah mau mengakui, menyadari dan memutuskan untuk kembali ke keluarganya. Adalah sesuatu hal yang membutuhkan berjuta2 keberanian untuk bilang kaya gitu.

    Untuk memaafkan mungkin sulit, tapi ga ada salahnya dicoba pelan2. Klo masalah balik lagi atw ga c…. ga juga ga tau. Yang pasti sech apapun keputusan mas, pastikan gaby bahagia mas. 🙂

    Semoga keluarga mas bisa kembali utuh…
    .-= ayamcinta´s last blog ..Mati lampu =-.

    Posted by ayamcinta | August 1, 2009, 5:13 pm
  25. memaafkan memang mudah tapi melupakannya yang membuat semuanya jadi serba sulit…Only time can heal it…

    miss u sist’
    .-= olvy´s last blog ..Pe-eR Award Pertamax =-.

    Posted by olvy | August 3, 2009, 12:34 pm
  26. Melupakannya itu yang susah.. hiks
    if i’m on his side, mungkin lebih baik berpisah
    .-= Ade´s last blog ..Saya kembali 😉 =-.

    Posted by Ade | August 14, 2009, 9:48 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

July 2009
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: