you're reading...
Just a Thinking, just trying to be serious, Thoughts to Share

do you see what I see?

Mendadak sebuah lagu terngiang. Tanpa alasan. Tak diketahui bagaimana awalnya, tapi tiba-tiba saja lagu ini terngiang dalam isi kepala dan membuat saya bernyanyi seadanya. Ya. Sesiangan ini, saya menyenandungkan sepotong lirik dari Joan Osbourne, What If God Was One Of Us. Persis di bagian lirik yang ini:

What if God was one of us?
Just a slob like one of us
Just a stranger on the bus
Trying to make his way home…

Ya.

Mungkinkah Dia menjadi manusia ceroboh, sama seperti saya? Atau Dia berwujud seorang lelaki yang sering saya temui ketika menanti angkot saat jam pulang kantor? Mungkinkah Dia berwujud perempuan yang sibuk menata perasaan karena sakit hati? *d’oh, tega bener deh, kalau sampai Tuhan dibikin broken heart!*

What if God was one of us?


Pernah terbayang, nggak?

Oh, damn. Saya sih tidak seekstrim Joan Osbourne yang mendadak memunculkan pertanyaan itu lalu menuangkannya ke dalam melodinya itu. Saya bahkan tidak berani membayangkan Tuhan berwujud seperti manusia yang kesana kemari menenteng tas Hermes klasik yang harganya puluhan juta atau asyik menyodok bola biliar di sebuah sudut tempat hang out.

Tidak. Tuhan memiliki sosokNya yang tak ingin saya ketahui, tapi saya ingin Dia dekat. Dia memang tidak berwujud seperti seseorang yang bisa saya peluk atau saya ciumi dengan sayang, tapi saya tahu, Dia yang melakukannya untuk saya.

So, I won’t write about God and the possibility that He is one of us, a slob guy, an ordinary guy that I met in the bus on his way home.

Tidak.

Saya cuman tiba-tiba teringat dengan pertanyaan favorit saya setiap kali saya melihat sesuatu di pinggir jalan atau berpapasan dengan seseorang.

Ya, saya selalu bertanya di dalam hati: “Do other people see what I see? Seorang lelaki pendiam di sudut meja dengan rokok yang tak pernah berhenti ia isap lewat bibirnya yang menghitam? Atau perempuan yang nampak tenang mengunyah berondong jagung di tangannya, yang sedang berdiri di dekat pintu masuk bioskop, jauh di ujung sana?

Apakah mereka melihat yang saya lihat?
Atau itu hanya halusinasi saya semata?”

Ya, kawan.

Silahkan sebut saya aneh, tapi beginilah keadaannya. Saya memang sering bertanya-tanya, “Jangan-jangan apa yang saya lihat ternyata hanyalah sosok yang cuman nampak di depan mata saya saja?”

Dan setelah usai dengan pertanyaan itu, saya segera bergidik ngeri karena takut kalau-kalau saya memang melihat hantu!

***

Do you see what I see?

Pertanyaan itu selalu menggoda isi kepala saya setiap kali rasa iseng dan penasaran menghampiri saya. Sebuah pertanyaan sederhana yang kemudian terasa mendalam ketika saya benar-benar meluangkan waktu untuk berpikir, “Hey, bukankah hidup juga seperti itu?”

Ini bukan bicara masalah hantu. Ini bukan bicara apakah benar sosok yang saya lihat memang berwujud seorang lelaki ganteng atau makhluk jejadian yang kedua kakinya melayang-layang. Ini bukan cerita soal hal-hal menyeramkan yang melibatkan Mbak Kuntil dengan kawan-kawannya.

Saya hanya teringat dengan satu pemahaman bahwa apa yang kita lihat belum tentu sama dengan yang dilihat orang lain.

Ya. Misalnya, ketika saya melihat satu sosok lelaki yang sedang duduk menyesap kopi di sebuah kafe, bisa jadi saya bilang, “Aduh! Ganteng banget!” Tapi bisa pula yang dilihat oleh kawan saya, “Aih, Lala… Gitu kok dibilang ganteng sih, Say…” Lalu kawan saya malah bilang kalau lelaki yang ada di meja lain berwajah lebih ganteng.

Atau, bisa pula saya menganggap stiletto adalah super duper gorgeous, tapi orang lain menganggapnya torture device.

Hm.

Obyek yang dilihat boleh sama. Obyek yang kami kenakan boleh sama. But still, when it comes to different people, yang terjadi adalah tidak ada perasaan yang sama persis, penglihatan yang plek-ketiplek, atau melulu setuju satu sama lain.

Tuhan sangat pandai dalam menciptakan semua makhluk-Nya. Bahkan orang kembar pun bisa jadi berbeda karena salah satunya memiliki tahi lalat di pantatnya, kan? Who knows! Memang kamu mau periksa? (oh, lebih tepatnya, apakah mereka bersedia kamu periksa?) 🙂

Jadi, jadi, apa yang bisa diharapkan dari jalinan syaraf manusia-manusia yang berbeda? Selalu sepaham? Selalu sependapat? Selalu mengerti apa yang kamu rasakan?

Ah! Betapa membosankannya hidup ini kalau manusia-nya cakep-cakep kayak saya semua, kan? Pinter-pinter kayak saya semua, kan? Baik budi, tidak sombong, dan lemah lembut kayak saya semua, kan?*siap-siap ditembak pake bedil* 🙂

Perbedaan itu justru membuat semua orang terlihat unik. Perbedaan selera berpakaian akan menguntungkan para pencipta fashion dan orang-orang yang berkecimpung di dunia garmen. Dan perbedaan selera lelaki juga membuat kompetisi perebutan calon suami tidak terlalu ketat! Haha..
Isn’t that fantastic or what? 🙂

***

Pemikiran ini menggelinding ke pembicaraan saya dengan seorang sahabat beberapa waktu yang lalu, ketika kami berseberangan pendapat tentang sesuatu dan sempat membuat saya sebel setengah mati (dan mati-matian saya tahan supaya tidak membuat percakapan kami menjadi debat kusir semata).

Ya, saat ini saya baru menyadari kalau percuma saja saya memaksakan sahabat saya itu untuk melulu setuju dengan semua pemikiran ajaib-ajaib saya. Kalau dia bisa melihat sesuatu dari perspektif yang berbeda, lantas apa masalahnya? Tidak akan mengubah wujud yang dilihat, kan? Hanya apa yang terlihat dan terasa di hati saja yang membuatnya berbeda.

Sama seperti sepasang mata sehat saya (alhamdulillah) yang melihat segala sesuatunya pasti sangat berbeda dengan sepasang mata minus tujuh seperti teman saya. Obyeknya tetap sama, tapi yang terlihat tidak akan pernah sama persis.

Oh well. That is how life works.

Jadi percuma saja berdebat dan memaksakan orang lain untuk sependapat, because when it comes to our own perspective, semua bisa jadi sangat berbeda… dan sama-sama benar! 🙂

Sudahlah.

You will never see what I see.
Or even if so, those images you see won’t be exactly as the same as I see with my eyes…

***
Depan Televisi, di ruang keluarga
Rabu, 1 Juli 2009, 00.17 Pagi
Wow! Sudah dua tulisan dalam waktu sejam! ^_^

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

14 thoughts on “do you see what I see?

  1. Laa.. bukan Alanis Morissette dhe, tapi si Joan Osbourne 😀
    .-= Indah´s last blog ..Charles & Camilla =-.

    Aih! Bukan yaaa? Hihihi.. repisih dulu…

    Posted by Indah | July 1, 2009, 1:42 am
  2. Anywayy.. it’s indeed right, Laa.. life would be soo very boring if we all think alike, walau yaa perbedaan bisa menimbulkan friksi2 juga seehh.. terutama ama orang2 yang ngga bisa terbuka terhadap perbedaan, ahahaha :p

    Dan lagi2 benar, gua rasa secara ngga sadar pasti kita nganggap pendapat kita yang paling bener, makanya kita berpendapat demikian, kalo kita ngerasa pendapat kita itu salah, udah barang tentu kita akan mengubah pendapat kita menjadi sesuatu yang benar khan?!

    Ahahaha.. gua kok ngomongnya muter2 yaa :p

    Posted by Indah | July 1, 2009, 1:48 am
  3. La, jadi inget kata2nya Om MT, dalam hal relationship, ga semua hal harus disetujui atau disepakati tetapi menerima beberapa hal untuk ga sepakat.. berbeda pendapat itu biasa tapi bagaimana menyikapinya aja.. *sok wise mode on terus hehehe*
    .-= Ade´s last blog ..Pelajaran itu berharga 1 juta! =-.

    Posted by Ade | July 1, 2009, 2:57 am
  4. perbedaan lah yang membuat sesuatu menjadi indah,, kalo di dunia semuanya sama pasti rasanya bosan.. 🙂
    .-= emfajar´s last blog ..Sebuah Objek Tontonan Baru Masyarakat Yang Bernama Kemiskinan =-.

    Posted by emfajar | July 1, 2009, 6:21 am
  5. bokan morissete lalaaa yang nyanyi, tapi Joan Osbourne
    this kind a one hit wonder, waktu pertama edar, jaman gw SD kyny, ni lagu bo0ming banget, sampe2 di kritik sm yang mulia paus paulus di Vatican, karena mempertanyakan TUHAN…
    but great lyrics by the way

    Hihi.. salah yaa.. perasaan kok Alanis… 🙂
    Ya wis, aku repisih dulu, ya, Bu… dan emang bener, liriknya MANTABS!

    Posted by jones | July 1, 2009, 7:16 am
  6. alanis?
    tp komen2 diatas bilang joan osbourne
    bukannya lisa loeb ya?
    😀

    perbedaan itu indah
    .-= depz´s last blog ..hunting wiken kemarin =-.

    Posted by depz | July 1, 2009, 7:42 am
  7. lala bukunya udah terbit belom?
    aq cari digramed pim belom nongol tu
    aq mau donk dapet gratisannyaa

    Posted by jones | July 1, 2009, 9:11 am
  8. itu bukan lagunya iis dahlia yak !!!
    hehehe…

    memang tidak selamanya yang kita lihat, sama dengan yang dilihat orang lain…
    tp perbedaan itu indah kok…tul gak??

    Posted by AFDHAL | July 1, 2009, 10:46 am
  9. see? hmm.. belakangan ini sih, pertanyaan yang lebih ngena di gue adalah, “do you feel what i feel?”

    KENAPA?
    karena sepertinya energi kosmis -halah- lagi berperilaku aneh di sekitaran gue. karena di suatu sore, gue ngalamin kejadian aneh pas pulang naek busway. karena gue tiba2 ngerasa tangan serba sakit dan berat, padahal ga kenapa2 sebelumnya. karena gue tiba2 aja hampir pingsan, badan dan dengkul lemes, mata kunang2, telinga budeg, dan bulu kuduk merinding. karena ga semua orang tau apa yang gue rasain.

    kalo itu ada penjelasan ilmiah, gue salut. tapi, bisa jadi ini gara2 ‘faktor’ keturunan. sebuah faktor yang bukan genetis, atau biologis. tapi lebih ke mistis..

    hiii…

    *jangansampeduluterjadilagi*
    .-= Billy Koesoemadinata´s last blog ..The Journey, vol.9: The Strange Coincidence =-.

    Posted by Billy Koesoemadinata | July 1, 2009, 2:20 pm
  10. saya dari kecil selalu penasaran, seperti apa cara orang lain memandang sesuatu. saya ingin bisa masuk ke tubuh orang lain cuma kepingin tahu, apa aja sih yang dilihatnya, apa sama seperti saya. dengan begitu paling nggak bisa menebak apa yg ada di pikirannya.

    mungkin macam kaya film “being john malkovich” gitu mungkin…udah pernah nonton? kalo belum coba deh jeung…
    .-= geRrilyawan´s last blog ..CREATIVE THEME DAY #2: CAPRES DEEEH…!!! =-.

    Posted by geRrilyawan | July 1, 2009, 7:52 pm
  11. sesuatu ituh bssa berbeda sudut pandang, tp kita ttp harus menghormati sudut pandang org lain kan mbak?
    .-= Myryani´s last blog ..Diusia Senja,,, =-.

    Posted by Myryani | July 1, 2009, 8:24 pm
  12. hmmm i see that what you see is not same as my see… halaahahhh

    matanya beda, otaknya beda, perasaannya beda, lingkungannya beda… ya bedalah cara pandangnya… tp perbedaan itu yg memberi warna
    .-= bro neo´s last blog ..Cape Deh.. =-.

    Posted by bro neo | July 1, 2009, 11:03 pm
  13. c’est la vie …
    .-= oemar bakrie´s last blog ..Jangan sok tahu dong ! =-.

    Posted by oemar bakrie | July 2, 2009, 8:08 am
  14. Awesome & Fantastic Blog I love it terus berkereasi & good luck always!…

    Thanks Lizy.

    Posted by Shoe Lover | September 5, 2009, 1:25 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

July 2009
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: