archives

Archive for

What’s your reason to smile today?

Pagi ini saya berangkat ke kantor dengan mata sembab dan sukses ditanyain sama beberapa teman kantor, “Kamu habis nangis, ya, La?”

Well, saya sedang malas ngeles dengan bilang, “Astagah.. ini trend make-up terbaru, kali… Model-model sembab gituh…” Nope, I wasn’t in the mood to do such a thing 🙂

Saya memang sedang sedih. Semalam, saya menangis sampai hidung saya mampet-pet-pet. Entah ada berapa lembar tissue yang sudah saya pakai demi menampung ingus yang sukses saya srot-srotin supaya saya bisa bernafas dengan lebih lega, tapi yang pasti, tangisan saya semalam bener-bener dahsyat 😦 Continue reading

Advertisements

Can You Really Forgive Someone Who Cheated on You?

Lelaki itu pulang, ketika senja sudah lama menghilang.

Lampu ruang tamu rumahnya sudah nampak padam dan sunyi menyelimuti seluruh isi rumah sehingga bunyi setiap langkahnya terdengar dengan jelas di kedua daun telinganya. Dia sudah turun dari dalam mobil yang membawanya pulang dari kantor, setengah jam yang lalu, dan berjalan menuju pintu rumahnya, memasukkan kunci ke dalam lubangnya, dan membuka pintu itu dengan perlahan.

Dia hanya membayangkan tidur yang nyenyak, didahului dengan meneguk secangkir teh manis hangat lalu mengobrol sebentar dengan istrinya kalau saja perempuan tercintanya itu masih mampu menahan kantuknya.

Sudah pukul setengah satu pagi.
Dia tidak berharap terlalu banyak Istrinya masih terjaga, sekalipun setiap kali lelaki itu pulang, perempuan itu segera bangun dan mulai menyiapkan teh manis, menghangatkan lauk, memasakkan air untuk mandi, dan menemaninya ngobrol sekalipun dengan mata yang berat.

Dia mencintai Istrinya, itulah alasan mengapa dia tidak tega membangunkan perempuan yang sudah dinikahinya selama lima tahun dan memberinya seorang puteri cantik itu.

Dia melangkahkan kakinya, memasuki ruang tamu, melangkah menuju ruang keluarga, dan mengintip sebentar ke dalam kamar tidurnya. Istrinya tergolek di atas ranjang, di balik selimut tebal yang melindunginya dari hembusan pendingin ruangan, memeluk buah hati mereka yang mendengkur dengan lembut.

Senyum segera mengembang di wajahnya. Apa yang lebih menyenangkan dibandingkan melihat orang-orang yang dicintainya tengah tertidur tenang seperti itu? Wajah mereka yang nampak tenang dan damai adalah penghibur segala lelahnya setiap hari. Hilang sudah segala penat dan kesal yang mengukir hari-harinya di kantor. Hilang, tidak berbekas.

Dia menghela nafas.
What could he ask for more, kalau keindahan dunia itu sudah nampak di kedua biji matanya? Kalau keindahan dunia sudah terpampang jelas di kedua wajah yang sedang tersenyum dalam tidurnya itu?

He could never ask for more.
His family, his wife and kid, adalah nyawanya.
Iya.
Nyawanya. Continue reading

Mengenang Mami

It’s been seven years already, Mom, and I’m getting tired of being sad all the time on your birthday celebrations.

Bukan berarti I love you less, kan, Mi? Bukan berarti, aku nggak lagi sedih dengan kenyataan kalau aku tak bisa berbisik di telingamu, mengucapkan selamat ulang tahun, mengecup kening dan kedua pipimu, dan menghadiahimu dengan barang-barang yang sedang Mami inginkan. Jujur, Mi, I will never stop missing you, missing our moments together, when you were still here with us. With me, Dad, Mbak Pit, dan Bro.

Tapi kali ini, aku ingin mengingat Mami dengan senyum. Dengan tawa. Mengingat kembali sejumput kenangan yang tak pernah hilang pergi dari ingatan. Mengingat kembali masa-masa ketika tawa dan canda adalah menu makanan yang selalu tersaji di dalam tudung saji rumah kita.

Mami,

Ini adalah cerita-cerita kita berdua. Janji, jangan marah kalau ini aku bocorin ke temen-temenku, ya? Tos dulu dong, ah! ^_* Continue reading

in a blink of an eye

Beberapa jam yang lalu, saat makan siang di food court sebuah Mal bersama Mbak Pit, kakak perempuan saya, berikut dengan rombongan sirkus kecilnya, tiba-tiba kakak saya itu nyeletuk, “Kebayang nggak, sih, Mbhienk (oh ya, ‘Mbhienk’ adalah panggilan kesayangan Mbak Pit buat saya), kalau di suasana yang seramai ini, tiba-tiba ada bom yang meledak?”

Pertanyaan itu terlontar keluar dari mulutnya yang masih belepotan dengan menu makan siangnya tadi; bebek goreng dan nasi putih yang hangat.

Saya bengong sejenak.

Dia melanjutkan lagi, “Kamu tahu, kan, kalau bom yang di Jakarta itu dipasangin mur-mur yang punya efek melukai ketika bomnya meledak?”

Oh tentu. Tentu. Saya melihat beberapa tayangan televisi yang memuat cuplikan rekaman pita cameraman tentang sebuah laptop yang berisi bom berikut dengan mur-mur yang sudah ditata sedemikian rupa itu.

“Gimana, ya, Mbhienk, kalau seandainya itu kejadian di sini? Saat kita lagi makan siang enak-enak begini, becandaan begini, ketawa ketiwi begini.. tau, tau… bom meledak?”

Oh, my Dear Sister. Bisa nggak, sih, ngasih pertanyaan yang nggak mengerikan seperti itu? Karena, sumprit, Mbak… Adikmu ini langsung ngeri sendiri! Continue reading

Someone Else’s Shoes

Seorang teman bertanya, “Jadi, dia masih jalan sama cowoknya yang itu, La?”

Saya mengangguk.

Teman saya itu menggelengkan kepalanya, lalu berdecak. Bukan kagum, pastinya, karena saya menangkap ada sebuah cemoohan dari caranya mendecak, memandang saya, lalu yaa… kedua matanya. Saya bukan paranormal, tapi saya bisa membaca gerak-gerik seseorang lewat tingkahnya.

“Kenapa?”

“Aneh aja, La.”

“Anehnya?” Continue reading

Why People Are Getting Married?

married-with-bagage“I just don’t understand why people chose to get married,” katanya.

“Why?”

“They really don’t make any sense and I don’t get it.”

Dia berhenti bicara sejenak untuk mengunyah potongan kecil tahu bumbu yang tersaji di atas meja.

“Maksudku… um… I’ve spent my lifetime, bertanya-tanya pada semua orang yang telah memilih untuk menikah, apa alasan mereka saat memilih melakukannya.”

“Lalu?”

“Tidak ada yang memuaskan!” Continue reading

…lelah.

Saya tidak pernah ingin menjadi seorang perempuan yang terlalu bawel soal urusan berat badan. Yang selalu mengeluh soal berapa sendok nasi yang masuk ke dalam lambung saya, yang terkunyah oleh gigi-geligi saya. Yang terlihat rewel dan kemayu karena musti menelan ‘rerumputan’ setiap hari tapi mengeluh karena bosan dan bosan terus dengan apa yang saya makan.

Saya benci dengan sosok perempuan yang akhirnya seringkali memuntahkan makanan ketika merasa perutnya terlalu kenyang.

Saya benci dengan sosok perempuan yang selalu menyesal di ujung hari hanya karena dia melahap risoles di luar jam makannya yang sudah diaturnya sedemikian rupa.

Saya benci dengan perempuan itu.

Saya tidak pernah ingin menjadi perempuan seperti dia, seperti saya.

Dan ketika banyak yang mengatakan kalau saya berlebihan… saya hanya akan menatap orang itu sambil bertanya, “Have you seen my childhood?”

Continue reading

Tentang Waktu

time-fliesPernahkah kamu berkata dalam hati, “Waktu berjalan sangat cepat. Oh, ralat. Sekarang waktu memilih terbang!”

Ketika tahu-tahu hari sudah berubah malam, lalu gelap menjadi terang dalam hitungan jam saja, tanpa terasa. Ketika tahu-tahu minggu sudah mencapai ujungnya, lalu kita bersenang-senang kembali dalam pelukan keluarga; menikmati akhir pekan dengan bercengkerama di tempat-tempat kesayangan. Ketika tahu-tahu sudah tiba lagi pay check day atau tahu-tahu kamu sudah harus meniup lilin yang bertengger di atas kue tar ulangtahunmu yang berikutnya, sekali lagi. Continue reading

Sleep Like a Baby…

Keke, keponakanku, saat masih umur sehari...

Keke, keponakanku, saat masih umur sehari...

Keke, keponakanku, saat masih umur sehari…

Entah bagaimana awalnya, tapi pagi tadi, saya terlibat dalam sebuah percakapan dengan seorang rekan kerja satu ruangan yang membahas tentang kebiasaan tidur anak sulungnya yang kini sedang hendak masuk sekolah dasar.

“Niel itu, La, kalau tidur selalu harus dikelilingi dengan bantal dan guling, samping kiri dan kanannya. Dan kalau ada orang yang ada di sebelahnya, entah aku atau Papanya, dia selalu minta dipeluk.”

“Oh, ya?”
“Iya. Dia malah sering ngeluh nggak bisa tidur kalau nggak dipeluk.”
“Setelah dipeluk?”
“Tidurnya langsung nyenyak!”

Saya pun ikut nyerocos dengan posisi saya saat menjelang tidur (okay, saya bilang menjelang, karena biasanya dalam beberapa menit berikutnya, posisinya udah kacau balau lagi! haha). Kebiasaan Lala Purwono sebelum tidur adalah memastikan bahwa bagian, sisi kanan kiri, dan kaki harus di’ganjal’ dengan bantal dan guling. Yup, mirip seorang bayi mungil yang dikelilingi bantal guling untuk menghindari bayi itu terantuk sesuatu.

Oh, ya. Tentu bukan karena alasan saya takut terantuk atau apa sehingga saya memilih untuk tidur ala bayi begitu, tapi entahlah, saya selalu merasa lebih nyaman jika tidur dikelilingi bantal guling seperti itu. Feel so safe and warm; perasaan yang selalu diinginkan setiap orang kala memilih untuk memejamkan mata dan berpasrah pada maut yang mungkin menjemput.

Mungkin saya terlihat sangat konyol dan kekanak-kanakan. Bayangkan saja. Untuk satu orang gembul di atas tempat tidur king size seperti ini, saya musti menyediakan bantal sekurangnya tiga pasang dan guling tiga biji! Kebayang betapa ramainya tempat tidur saya, kan? Very crowded!

Tapi, hell.. bodo amat.

Selama saya bisa merasa sangat nyaman dan bisa tidur dengan tenang, saya tidak peduli kalau banyak yang bilang, “Idih, La… emang lu takut apaan, sih? Lagian, umur udah mo kepala tiga tapi tidurnya masih kayak bayi!”

Hayah. Terserah saya, kan? Daripada saya meminta temen saya itu untuk meminjamkan suaminya buat nemenin saya tidur, masih jauh lebih baik kalau saya memfungsikan bantal dan guling milik saya sendiri dengan sebaik-baiknya, kan? ^_*

Jadi, ya, ya, ya. Saya tidak akan berbohong sama kamu soal betapa ‘culun’nya gaya saya menjelang tidur. I sleep like a baby, dengan bantal guling di sekeliling saya. Just to feel safe. Just to feel warm. Just to have the same kind of feelings that I used to have… years and years ago..

***

Saya ingat, dulu sekali ketika masih sering tidur berdua dengan Alm. Mami, saya selalu menyisipkan kedua kaki saya di kaki Mami. Ada perasaan hangat yang membuat tidur saya nyenyak seketika.

Saya juga ingat, dulu sekali, ketika Mami masih belum berpulang ke pangkuan Tuhan, saya selalu meminta Mami untuk memeluk saya saat tidur. Hanya sebelah tangan yang menumpang di atas bahu saya, tapi sungguh sensasi yang saya rasakan adalah sangat luar biasa! I slept like a baby!

Saya tidak tahu, apakah karena kenangan-kenangan di masa kecil itu yang membuat saya selalu ingin tertidur dalam ‘sentuhan’ bantal dan guling, membuat saya selalu ingin merasa dilindungi oleh semacam barikade empuk berbahan bulu angsa itu. Sungguh, saya tidak tahu apa yang membuat saya selalu tak bisa berhenti untuk tidur dalam kondisi yang sama setiap harinya (okay, kecuali saya menginap di rumah teman di mana saya tak mungkin meminta dia menyediakan guling tiga biji dan bantal tiga set, kan?).

Tapi yang saya tahu, sebuah pemandangan yang saya lihat sore tadi, dalam perjalanan pulang dari kantor, di dalam sebuah angkot yang mengantarkan saya ke pemberhetian paling dekat dari rumah, telah menjawab rasa penasaran saya kenapa sampai hari ini masih tidur seperti Baby Huey yang menggembol botol susunya kemana-mana… ^_^

***

Seorang ibu. Seorang anak. Mereka berdua duduk persis di depan saya. Wajah gadis kecil itu nampak kuyu sekali. Saya tidak tahu apa yang membuatnya lelah, tapi dari kantong belanja yang terisi penuh, saya menduga, Ibu dan gadis kecilnya itu telah belanja seharian di sebuah mal paling hip di Surabaya.

Saking lelahnya, tidak sampai lima menit duduk di dalam angkot, si kecil mengeluh, “Maaa… ngantuk…”

Lalu dengan sayangnya, si Ibu segera menyuruh buah hatinya yang berusia kira-kira tujuh tahun itu untuk tidur dengan membaringkan kepalanya di atas pangkuan Ibunya. Gadis kecil itu menurut, lalu ia mulai tidur di pangkuan ibunya lalu tertidur pulas sampai setengah jam kemudian.

Kamu tahu apa yang membuat saya terkesan?

The mother’s hand.

Iya. Tangan Ibunya yang tak berhenti mengelus sayang rambut anaknya sambil terus menjaga agar si Anak tidak terjatuh dari duduknya. Tidak berhenti sama sekali! Dan percayalah, I saw it! Pemandangan itu terlalu indah untuk dilewatkan, sehingga sambil mencuri-curi pandang, saya mencoba untuk menikmati pemandangan yang indah itu persis di depan kepala saya.

Hm.

And then I began to think.

Apakah saya merindukan sentuhan itu di kala saya tidur? Perasaan aman bahwa ada seorang Ibu yang menjaga saya? Atau perasaan nyaman karena saya tahu ada seseorang yang ada di samping saya? Yang akan membangunkan saya ketika saya sedang bermimpi buruk?

Apakah dengan adanya tumpukan bantal, guling, dan selimut tebal yang membungkus tubuh saya adalah substitusi dari sentuhan Mami yang dulu selalu berhasil meninabobokkan saya?

Oh my.

Saya merasa sangat kekanak-kanakan saat ini. Benar-benar merasa seperti seorang Baby Huey dengan peniti segedhe gambrengnya!

Tapi kemudian saya menyadari bahwa saya memang merindukan sentuhan-sentuhan Mami. Saya merindukan sentuhan yang dulu selalu menjaga saya, setiap saat saya ingin memejamkan mata saya. Oh, ya. Asal kamu tahu saja, saya baru benar-benar tidur sendiri setelah Mami pergi. Biasanya, saya tidur dengan Mbak Pit dan setelah Mbak menikah, saya memilih untuk tidur bersama Mami di kamarnya… Gangguin orang tua pacaran? BIARIN! 🙂

Ketika saya bicara soal kebiasaan ini, seorang teman, lagi-lagi tertawa. Dia malah bilang, “Kenapa nggak kawin aja, La? Cari temen tidur, gih…”

Hm. Kalau suami cuman berfungsi sebagai bantal dan guling, kenapa saya musti menikah, dong? Saya bisa beli bantal guling di carrefour! Kadang pake acara diskon pulak! 🙂

Lalu coba tebak, apa kata teman saya?

Dia, dengan bawelnya, hanya bilang, “Ya, paling nggak, pas elu susah tidur, elu bisa memanfaatkan waktu elu buat ngelakuin hal yang lain!”

HAHA! Kurang ajar bener dia..

Apapun itu, saya menyadari kalau saya memang mirip dengan seorang bayi yang tidurnya harus selalu dijaga bagian bawah, atas, kiri dan kanannya. Dan ya. Saya tidak akan marah disebut bayi gedhe atau semacamnya.

Karena tentu saja, it really doesn’t matter for me.

As long as I can sleep like a baby every nite, saya akan memanfaatkan segala macam ‘alat tempur’ yang saya punya di atas ranjang saya.

Kalau akhirnya saya menikah juga… oh, tentu saja… suami tercinta saya itu akan menggantikan semua fungsi alat tempur yang saya miliki tadi…. Yang ini sih, wajib sifatnya… hehe…

***

Depan televisi, ruang keluarga
30 Juni 2009. 11.56 Malam
Tulisan ngasal karena tangan gatel udah lama ga nulis..

do you see what I see?

Mendadak sebuah lagu terngiang. Tanpa alasan. Tak diketahui bagaimana awalnya, tapi tiba-tiba saja lagu ini terngiang dalam isi kepala dan membuat saya bernyanyi seadanya. Ya. Sesiangan ini, saya menyenandungkan sepotong lirik dari Joan Osbourne, What If God Was One Of Us. Persis di bagian lirik yang ini:

What if God was one of us?
Just a slob like one of us
Just a stranger on the bus
Trying to make his way home…

Ya.

Mungkinkah Dia menjadi manusia ceroboh, sama seperti saya? Atau Dia berwujud seorang lelaki yang sering saya temui ketika menanti angkot saat jam pulang kantor? Mungkinkah Dia berwujud perempuan yang sibuk menata perasaan karena sakit hati? *d’oh, tega bener deh, kalau sampai Tuhan dibikin broken heart!*

Continue reading

Advertisements

Catatan Harian

July 2009
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Celotehan Lala Purwono