you're reading...
Just a Thinking, Thoughts to Share

Collecting the Pieces…

puzzle

Hidupku seperti puzzle yang tak akan pernah lengkap,” katanya sambil menyesap single shot espressonya. Dalam sekali hisapan, kopi itu tandas, dan akibatnya, dia memanggil seorang pelayan sambil berseru, “Satu lagi. Make it double.”

Ketika pelayan itu pergi, dia melanjutkan ceritanya. “Kamu tahu, kan, gimana complicatednya hidupku?”

Dia memang banyak cerita soal kehidupannya. Seringkali, cerita itu ia bagi ketika dia mengajakku minum kopi di sebuah gerai kopi yang tidak murah sambil mengemil roti lapis Amerika atau kentang goreng ala Perancis. Berjam-jam duduk di kedai kopi sampai menghabiskan bercangkir-cangkir espressonya, dia bercerita tentang hidupnya yang mirip seperti menaiki wahana roller coaster.

Ya, boleh dibilang, hidupnya terlalu tragis. Ratusan jam yang kami habiskan berdua sampai pagi menjemput sudah lebih dari cukup untuk menyimpulkan kondisi kehidupannya yang berantakan.

Jadi, kuanggukkan saja kepalaku.

“Kadang capek,” katanya. “Kadang malah ingin membongkar puzzle itu dan berhenti saja collecting all the pieces left…”

“Tapi kamu sudah setengah jalan, kan?” Aku tidak kuasa untuk bertanya.

Dia menganggukkan kepalanya, bertepatan dengan double shot espresso yang dibawa oleh seorang pelayan manis yang kemudian meletakkannya di atas meja kami.

Usai mengucapkan terimakasih dan pelayan itu berlalu, dia memandangku dengan hangat. “I know, I’m half way there,” katanya pelan.

O-oh. Aku mendengar but-sound. Jadi kutunggu saja kelanjutan kalimat-kalimat yang akan meluncur keluar dari bibirnya.

“Tapi kalau tahu kepingan puzzleku itu tidak akan pernah terkumpul semua dan membentuk sebuah puzzle yang utuh, lantas buat apa aku melanjutkannya?”

Tanpa ampun, aku kehilangan kata-kata.

***

I’ve spent the whole life time trying to find all my pieces every where, but look what I got? Nothing! I’m exhausted! I’m old! I’m terribly fucked up!

Jalanan itu kususuri dengan perasaan gelisah. Kata-kata itu masih terekam dalam setiap gulungan pita ingatanku dan terulang terus dan terus seperti sebuah DVD player yang kehilangan fungsi tombol stop, rewind, forward, next, or even pause. Otakku terus menghadirkan kalimat-kalimat yang baru saja kudengar dari mulut sahabatku yang berhasil menghabiskan lima espresso dan selusin rokok Marlboro merah dalam waktu enam jam.

Kalimat-kalimat itu seperti bisa ular yang terus mengalir masuk ke dalam pembuluh darah dan bersifat mematikan dalam beberapa waktu ke depan!

Bagaimana tidak deadly kalau kemudian aku malah memikirkan hal yang sama, di sepanjang jalanan Surabaya yang kususuri dengan perlahan diimbuhi imaji-imaji yang bertebaran di isi kepala, berikut dengan untaian kenangan yang sampai sekarang melekat dalam angan.

Apalagi kalimat-kalimatnya yang ini, yang kutangkap oleh indera pendengaranku ketika kami berjalan menuju lobby depan, tempat ia mencegat sebuah taksi untuk membawanya pulang.

Why should I even bother to collect all the pieces? Percuma. Nggak akan pernah selesai juga, kan? Jadi sia-sia!

Kamu tahu apa yang aku pikirkan sekarang?

Buang puzzle itu di tong sampah, berhenti mikirin kepingan puzzle yang nggak akan pernah ketemu itu, dan live a day by day!

Sometimes, kita terlalu sibuk mikirin kepingan puzzle yang hilang, terlalu sibuk mikirin dimana letak kepingan itu hingga menempati tempat yang sesuai sampai terbentuk bingkai gambar yang sempurna..

Kita terlalu sibuk memikirkan itu sampai lupa kalau sebetulnya we don’t live and breathe to make the picture becomes perfect. Masih ada hal-hal yang lain yang musti dilakukan daripada sekedar collecting the pieces left to make it perfect…

Maybe it’s supposed to be imperfect, after all.

Atau bahkan, puzzle itu memang seharusnya tidak pernah ada…

There.

Tepat di saat otakku mengulang semua kalimat-kalimat sahabatku itu, aku merasa jantungku malas berdenyut seketika. Ya! Mendadak aku kesulitan bernafas, karena tiba-tiba terbayang dengan semua yang aku lakukan sampai hari ini, yang membuatku lelah setengah mati, padahal aku tak tahu apa yang sesungguhnya aku inginkan.

Do I really have a big puzzle picture with missing pieces?

Atau sesungguhnya, aku hanya berfantasi kalau gambar itu nyata dan aku mencari kepingan-kepingan itu hanya karena aku ingin terlihat sebagai seorang manusia yang memiliki tujuan dan arah?

Geez, aku butuh brainwash segera karena pikiran ini terlalu menyakitiku dengan kebenarannya!

***
Depan televisi yang bisu, di ruang keluarga
28 Juni 2009, 2.15 Pagi
I’ve told you, it’s always nice to have my fingers dancing like crazy…

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

10 thoughts on “Collecting the Pieces…

  1. The beauty is in the details, but others think that the devil is in the details … However, see the big picture and don’t miss the perspective …
    .-= Oemar Bakrie´s last blog ..Novel Gading-Gading Ganesha (3G) =-.

    Posted by Oemar Bakrie | June 28, 2009, 6:57 am
  2. Menurut saya sih… justru sisi “Mystery” itulah yang membuat hidup semakin menarik… Unpredictable… justru membuat kita selalu berusaha..,seandainya seorang Lala tau bahwa Buku berjudul “Ballada Seorang Panglatu” (misalnya) yang membuatnya jadi terkenal dan menjadi Penulis Besar… mungkin Lala akan males dan nggak akan pernah menulis The Blings Of My Life dan Life Talks bukan…?!
    So… biarkanlah hidup ini mengalir seperti Air…. membasahi dan menyejukkan semua yang disentuhnya…
    .-= Panglatu´s last blog ..Hari Minggu di Cause way bay Hong Kong. =-.

    Posted by Panglatu | June 28, 2009, 6:17 pm
  3. I’ll be there as soon as I can, but I’m busy mending broken, pieces of the life I had before ..

    *numpang nyanyi Unintended*
    .-= Muzda´s last blog ..Mimpi Buruk =-.

    Posted by Muzda | June 28, 2009, 8:28 pm
  4. I like this…

    ” hello darkness my old friend, i’ve come to talk w’ you again, because the vision softly creepin’, left inside while i was sleepin…”

    me, sometimes, affraid of the picture that planted on my brain..
    but i keep move on..

    every wound has a scar, every scar tells a story, a story that said : I SURVIVED

    ( my puzzle almost complete now ;P)

    Posted by jones | June 29, 2009, 7:38 am
  5. Hmm.. gua kadang mikir hati kita itu ibarat terdiri dari kepingan2 puzzle yang mana tiap bagiannya ngga ada yang sama 😀

    Jadii.. ketika ada yang terhilang, tempatnya ngga akan bisa digantikan oleh yang lain.

    Mungkin tempat mencari the “missing” pieces-nya kali, Laa, yang perlu diganti karena di tempat yang sekarang, semua kepingan yang bisa diambil udah terkumpul semua, ahahaha 😀

    Gua jadi ingets ama salah satu kalimat di novel elo yang berkesan bangets, itu tuh di “Why Married” yang tentang si.. mm.. gua lupa dhe nama tokohnya tapi yang di HongKong itu lho, Laa 😉

    Posted by Indah | June 29, 2009, 8:04 am
  6. kalo emang bener hidup ituh puzzle yang tercerai-berai, berarti gue keseringan menghilangkan potongan puzzle kali ya.. coz ga kelar2 disusun nih..
    .-= Billy Koesoemadinata´s last blog ..angkat tanganmu untuk INDONESIA! =-.

    Posted by Billy Koesoemadinata | June 29, 2009, 5:01 pm
  7. gw sih setuju dengan life is juz like a puzzle
    sekarang masalahnya “gambar jadi”nya sesuai dengan keinginan ngga?n dpt ga kita merangkainya?

    *kok jd bingung sdri ya*
    .-= depz´s last blog ..hunting wiken kemarin =-.

    Posted by depz | June 29, 2009, 6:36 pm
  8. setujuuuuuuuuuuu,,,,,,,,,,, karena potongan2 puzzlle ituh kadang gk ada, tapi ttp aja kita cari2,,,
    .-= Myryani´s last blog ..Setelah Setahun Berlalu,,, =-.

    Posted by Myryani | June 29, 2009, 11:19 pm
  9. Yang penting usaha menyelesaikan puzzle nya itu mba dengan cara yg benar,, Klo pun nanti dalam usaha penemuan kepingan itu ada puzzle lain yang pantas untuk diselesaikan,, kenapa tidak??

    Kecuali kita udah mutlak tau kepingan2 pelengkap itu emang ga bakal ada, ya DIHENTIKAN saja!!
    .-= chichi´s last blog ..Transformer Vs Star Trek =-.

    Posted by chichi | June 30, 2009, 12:19 pm
  10. setuju tuh sama panglatu…
    btw tulisannya bagus 🙂
    *pujian tulus dari seseorang yg ga bisa nulis* hehehehe
    .-= Fandhie´s last blog ..Percaya Atau Tidak Internet Merubah Hidup Gue =-.

    Posted by Fandhie | June 30, 2009, 6:58 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

June 2009
M T W T F S S
« May   Jul »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: