you're reading...
precious persons

The Wind Beneath My Wings

Seekor burung Gereja nampak kuyup dari balik jendela. Rupanya, hujan yang turun terlalu lebat dan langit yang menangis mendadak membuatnya tak sempat berteduh di tempat yang lebih layak; tidak lebih layak daripada di tempat ini, sebuah tempat kecil, persis di sisi luar sebuah jendela yang membuat pantry kantor nampak terang sekalipun tanpa cahaya.

Dingin menimbulkan gigil di tubuh mungilnya. Berkali-kali dia menggerakkan kedua sayapnya; mungkin untuk menjaga agar tubuhnya tetap hangat. Mungkin pula, untuk menghilangkan air yang terlanjur meresap ke dalam pori-pori kulit dan bulunya. Entahlah apa yang sedang bermain-main dalam isi kepalanya, tapi yang terlihat adalah, burung Gereja itu nampak sibuk seiring dengan tetesan hujan yang mulai berhenti.

Saya menyaksikan makhluk kecil itu dari balik jendela. Melihat gerak tubuhnya yang terlalu sibuk sampai-sampai saya tertegun memandangnya dengan cangkir yang masih tergenggam di jari-jemari sebelah kanan saya; sebuah cangkir berisi teh hangat dengan sedikit gula yang belakangan menjadi pengganti larutan kopi yang tadinya mensugesti pikiran saya agar lebih tenang.

Seolah melihat sebuah cincin bermata berlian berukuran besar, perfect cut, dengan kilauan yang cemerlang, dengan karat yang sempurna, dan dipersembahkan oleh Kekasih tercinta; seperti itulah saya memandang burung Gereja itu. Bukan, bukan berteriak kegirangan lalu memeluknya, tapi saya diam saja. Speechless. Seolah saya melupakan seluruh alfabet.

Ya. Saya diam. Terdiam, lebih tepatnya. Memandangi burung Gereja itu tanpa kata, tapi dengan pikiran yang melayang-layang seperti balon gas yang benangnya tergelincir dari genggaman jemari anak kecil. Melayang tanpa kendali. Bermain-main di dalam alam khayal saya.

Mendadak,  I heard the philharmonic in my head, melantunkan melodi lagu cantik Bette Middler yang berjudul The Wind Beneath My Wings, yang secara sekejab mengubah beberapa menit itu menjadi satu potongan adegan film musikal seorang Lala…

It must have been cold there in my shadow,
to never have sunlight on your face.
You were content to let me shine, that’s your way.
You always walked a step behind…

Burung Gereja kecil itu mengingatkan saya dengan pada diri saya sendiri. Bukan secara fisik, pastinya. Kalaupun saya menganalogikan diri saya dengan seekor binatang, saya rasa, kuda nil ngambek adalah penggambaran yang sempurna 🙂 Ya; gendut, males, dan doyan makan!

Tapi, tidak bisa tidak, ketika melihat seekor burung Gereja yang bersiap-siap terbang kembali ketika hujan tak lagi turun dan matahari mulai genit mengintip, saya justru teringat dengan saya dan Mami tercinta saya yang telah meninggal tujuh tahun yang lalu. Ya, ini adalah salah satu lagu yang saya anggap merupakan pengungkapan indah rasa cinta seorang anak kepada orang yang disayanginya, seseorang yang tanpanya, hidup tidak akan berarti.

Hanya saja, tepat ketika saya teringat dengan Mami, terbit rasa sedih yang membuat saya tertegun lebih lama dan mengusap buliran air mata yang mendadak jatuh ke pipi.

Bukan.

Bukan karena saya masih mewek dan terlalu sedih lalu menolak kenyataan kalau Mami sudah lebih bahagia di pelukan Tuhan yang saya cintai, tapi karena sebuah wajah terlintas perlahan di dalam setiap kedipan mata.

Wajah seseorang yang lama tak nampak di pandangan.

Wajah seseorang yang jarang sekali mendapatkan pengakuan atas keberhasilannya dalam mendidik ketiga anak-anaknya.

Wajah seseorang yang sangat jarang saya tuliskan dalam ratusan cerita-cerita saya selama ini, kecuali cerita-cerita tentang kepedihan karenanya yang mengiringi pertumbuhan jiwa saya sampai hari ini.

Wajah seorang Ayah.

Iya.

Papi.

***

So I was the one with all the glory,
while you were the one with all the strain.
A beautiful face without a name for so long.
A beautiful smile to hide the pain…

Papi adalah orang pertama yang pernah mengatakan pada saya, “Kamu bisa menulis.. Jangan malu!”

Papi adalah orang yang tak pernah malu sekalipun prestasi akademis di tahun pertama kuliah saya yang hancur berantakan karena saya benci dengan Kimia, Fisika, dan Matematika, dan malah berkata, “Sudahlah. Setahun pertama ini pasti memang butuh adaptasi. Nanti pasti terbiasa.”

Papi adalah orang yang selalu ada di balik setiap langkah saya; menopang ketika saya gagal, tak malu ketika saya pulang membawa kekalahan, dan terus menyulut api semangat saya setiap saat kegelisahan dan kerisauan itu menjadi mendung yang menggayuti pikiran saya.

Kenapa saya bisa melupakan seorang Ayah yang sedemikian baiknya, hanya karena kesalahannya di masa lalu?

Kenapa saya bisa melupakan betapa bangganya saya kepada seorang Ayah yang tetap bersemangat sekalipun kebutaan mengancam penglihatannya, hanya karena saya tak bisa mengunyah kesedihan itu dengan baik?

Seringkali saya mengatakan, Mami adalah segalanya. Seringkali saya mengatakan, Mami adalah angin yang berhembus di balik sayap-sayap saya, membantu saya terbang menuju langit tertinggi; paling tinggi, yang saya mau.

Tapi, saya melupakan kenyataan kalau seorang Ayah… Papi… adalah seseorang yang selama ini secara nyata telah menjadi SEGALANYA buat saya. Dia tidak pernah mundur. Dia tidak pernah menyerah. Dia masih terus mendukung saya dan mendoakan saya di usianya yang kini menjelang senja.

He’s my wind beneath my wings..
He helps me to fly… teaches me how to pursuit a new horizon…

Dan kenyataan kalau saya telah melupakan betapa pentingnya seorang Ayah dalam kehidupan saya selama ini, membuat air mata itu terbit dan melumpuhkan perasaan saya.

There. In the pantry. I suddenly cried…

***

It might have appeared to go unnoticed,
but I’ve got it all here in my heart.
I want you to know I know the truth, of course I know it.
I would be nothing without you.

Did you ever know that you’re my hero?
You’re everything I wish I could be.
I could fly higher than an eagle,
for you are the wind beneath my wings….

Meskipun saya tahu, butuh bertahun-tahun untuk bisa melupakan luka yang pernah Papi torehkan di hati saya, tapi saya ingin Papi tahu, kalau Lala, putri bungsunya, tak akan pernah habis mencintainya. TIDAK AKAN PERNAH.

I love you, Dad…
You’re really my Super Dad…

***

“Boleh saja kedua mata Papi hampir buta,
Tapi Papi nggak boleh patah semangat…”

(Kata Edi Purwono kepada Lala, putri bungsunya)

Kalimat yang sukses membuat saya menangis sekaligus bersemangat kembali…

Kantor. Selasa. 9 Juni 2009. 5 sore
Untuk Papi, Mami, Mbak Piet, dan Bro, dengan penuh cinta…

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

18 thoughts on “The Wind Beneath My Wings

  1. jadi inget Ibu….
    Akhir2 ini kenapa pada posting tentang ortu si…..

    Jadi inget Bapak…
    yang sendiri di rumah & hanya bisa kukunjungi setiap weekend…

    Luv u Mom…Dad…

    Jeung, lu bikin gw pilek ni…Ah…

    Posted by yustha tt | June 9, 2009, 5:26 pm
  2. jadi inget almarhum papa 😥

    Posted by Chic | June 9, 2009, 5:57 pm
  3. as i write on your FB:

    bukti keyakinan papa: LALA BISA NULIS!!!

    Posted by bro neo | June 9, 2009, 7:44 pm
  4. Selamat atas lahirnya buku keduanya yaa.. Aku pesen 1 yak 😉
    Papi bener, anaknya memang bisa nulis!

    Posted by Ade | June 9, 2009, 11:01 pm
  5. Ah, Papi pasti bangga pada anak bungsunya ini ….
    Bukan hanya cantik dan pintar, tapi juga kaya dengan bahasa dan kata-kata indah.
    Wah, bukunya yang kedua sudah mau terbit lagi? Lha yang pertama sja aku belum dapet … ihiks … 😥

    Posted by Tuti Nonka | June 9, 2009, 11:43 pm
  6. Baru sadar, aku juga jarang menuliskan tentang Ayah.
    😀

    *buru-buru pulang, menyempurnakan draft yang kutulis tentang Ayah*

    Posted by Muzda | June 10, 2009, 1:58 am
  7. iya nih, sama kayak muzda
    kayaknya aku nyaris ga pernah posting bout my dad
    hmmm

    Posted by depz | June 10, 2009, 8:27 am
  8. dalam budaya kita, memang peran ayah selalu dikesampingkan, bahkan tidak dianggap penting. ibu selalu mendapat posisi maha sempurna di hati kita, karena budaya kita mendukung untuk itu. prototype ayah selalu diidentikkan sebagai mesin pencari uang, bukan sebagai penentu baik buruknya generasi…

    miris memang…

    maaf, ekspresi ini bukan karena saya sebagai ayah, tapi karena saya melihat “kesenjangan” di budaya kita, karena tidak menempatkan orangtua sebagai kesatuan yg utuh dalam rumahtangga. “surga di telapak kaki ibu” telah menjadi vitamin atas jasa ibu, tapi sekaligus menjadi racun bagi peran ayah…

    La… kalau boleh aku meminta kepadamu, tulislah sesuatu tentang ayah di hari minggu ketiga bulan ini…

    Buat Papi-nya Lala… salutku atas semangatmu, keikhlasanmu telah berhasil menjadikan seorang “LALA”

    maaf, kalau aku terlalu sentimentil…

    Jujur, Uda.. Ketika aku menulis cerita ini, aku terbayang dengan komentar Uda di beberapa postingan yang lalu. Jadi ini sekaligus aku persembahkan buat Uda Vizon, lho… 🙂

    Oh ya, Uda… minggu ketiga bulan ini? Ada apa, ya? Ntar aku coba tulis deh… InsyaAllah mood-nya dapet, ya, Uda…

    Posted by vizon | June 10, 2009, 9:06 am
  9. hmm.. perasaan saya campur aduk baca postingan ini..

    Posted by Billy K. | June 10, 2009, 12:06 pm
  10. Uda Vizon benar, tapi kalau saya bukan merasakannya sebagai kesenjangan tapi lebih pada pembagian peran. Kalau hal-hal yg menyangku kehalusan budi mungkin ibu yg lebih mampu mengajarkannya sementara etos kerja, tegus pada prinsip dll. saya memperolehnya dari ayah.

    Salam untuk semua ‘precious people’ -nya Lala ya …

    Posted by Oemar Bakrie | June 10, 2009, 12:23 pm
  11. Akh.. sesungguhnya peran orang tua sangat penting untuk kita bisa sampai pada posisi kita hari ini. Dan ada peran yang berbeda antara ibu dan ayah..

    Hm.. jadi inget kemarin malam duduk hingga jam 23.00 dimeja berdua Risa (anakku yg terkecil) mengajarinya matematika untuk ujiannya hari ini. Selalu ada adegan mewek jika pola target, fokus dan disiplin diterapkan pada awalnya. Tapi selalu ada tawa ceria dan ciuman sayang untukku saat dia udah bisa mengelesaikan soal2 sulitnya dan merasa semuanya menjadi mudah…

    Aku yakin orang tuamu (dimanapun mereka berada) akan tersenyum bangga melihat anaknya, seorang Lala yang akan segera meluncurkan buku keduanya.. 🙂

    Posted by Nug | June 10, 2009, 1:43 pm
  12. bapak saya TOP bgt dech,,

    Posted by Myryani | June 10, 2009, 8:56 pm
  13. La… setiap minggu ketiga bulan juni adalah Father’s Day

    Aku ingin tahu, bagaimana pandangan jujur dari seorang Lala terhadap peran ayah dalam hidupnya, atau bagaimana seharusnya ayah bersikap

    Posted by vizon | June 11, 2009, 11:13 am
  14. Darling, Setiap orang khan punya kesalahan…. kesalahan papi yang lalu harus bisa Lala maafkan ya… Gimanapun juga Papi khan orangtuamu juga…

    Sekarang Papi pasti lebih bangga denganmu yang sudah begitu hebat memiliki 2 buku.

    Salam unt Papi ya,papi sehat khan?

    Posted by Retie | June 11, 2009, 11:49 pm
  15. Ayah…. Nothing

    Posted by Tinta | June 12, 2009, 2:59 pm
  16. jadi ingat alm.papa saya…sama juga, nggak pernah patah semangat. pernah jatuh tapi coba bangkit lagi, meskipun akhirnya dalam masa bangkitnya itulah beliau harus dipanggil.
    apalagi kalau dengar cerita orang, jadi kebayang kerasnya usaha papa saya untuk ngurusin istri dan anaknya ini….

    berdoa…

    Posted by geRrilyawan | June 13, 2009, 6:36 pm
  17. jadi inget ayah n pengen ke makassar
    🙂

    Posted by AFDHAL | June 15, 2009, 10:55 am

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: The Blings of My Life « the blings of my life - February 26, 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

June 2009
M T W T F S S
« May   Jul »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: