you're reading...
Thoughts to Share

Perahu yang Berlayar

sailingsunbreakPernahkah kamu berlayar? 

Okay. Mungkin kata ‘berlayar’ akan dengan segera menciptakan kesan kalau kamu sedang berada di atas sebuah kapal pesiar lalu pelesir ke pulau-pulau perawan dan menghabiskan waktu dengan minum cocktail atau menyelam di laut yang masih jernih bersama ikan-ikan yang bersembunyi di balik terumbu karang. Sebuah wisata istimewa; mahal sekaligus romantis, yang tidak mudah terlupakan, malah mungkin juga akan menagih.

Ya, ya. Mungkin itulah yang terbayang ketika saya bertanya, “Pernahkah kamu berlayar?”

Tapi bukan itu saja yang saya maksud, karena ‘berlayar’ yang saya tanyakan tadi adalah kegiatan menumpang sebuah kapal, entah pelesir mewah dengan cruise ship atau hanya berdesak-desakan di kapal feri untuk mengantarkan kamu menuju ke sebuah tempat yang terpisahkan oleh lautan yang sangat luas, juga dalam.

Iya. Berlayar yang seperti itu.

Jadi, jadi.

Saya tanya sekali lagi.

Pernahkah kamu berlayar? Dengan apa saja; kapal pesiar nan mewah, kapal feri penumpang, atau perahu layar pribadi. Pernahkah kamu?

Kalau jawabanmu adalah ‘tidak’, itu artinya, saya akan berpanjang-panjang cerita dengan kamu di sini. Nah, kamu mau menjadi korban kebawelan saya? Kalau iya, haha, silahkan ambil nomor antrian, duduk manis, dan selamat membaca… 🙂

***

Kalau dulu saya pernah mengibaratkan hidup adalah semacam roller coaster, naik turun dengan kecepatan tinggi, doyong kanan kiri masih tanpa mengurangi kecepatan, berputar sampai tiga ratus enam puluh derajat tanpa peduli pada manusia-manusia yang perutnya sudah mual bahkan kebelet pipis saking paniknya… well, kini saya menganggap perjalanan hidup adalah seperti menaiki perahu.

Iya. Perahu. Sebuah alat transportasi yang sanggup membelah laut dan memudahkan saya untuk bisa sampai ke suatu daratan lain yang terpisah lautan yang sangat dalam. Iya, perahu.. perahu. Persis seperti yang ada di bayangan kamu semua.

I imagine my life as a boat. Perahu yang berlayar dari pelabuhan menuju ke sebuah teman yang saya idam-idamkan. Sebuah tempat yang menjanjikan kesenangan. Ke sebuah tempat yang saya tahu saya akan menghabiskan waktu dengan tertawa, bercanda, minus rasa sedih yang terlalu berlarut-larut. 

I imagine my life as a boat. Perahu yang berlayar mengarungi lautan yang tidak terukur kedalamannya, yang bisa jadi memiliki pusaran-pusaran air yang mampu menyedot masuk seluruh benda yang terapung di atasnya. Yang only God knows, sedahsyat apa ombak-ombak itu bergelung, merangkul, menjilati sisi-sisi lambung perahu, mendorongnya maju ke depan, mendoyongnya ke samping kiri dan kanan, bahkan bisa jadi memeluk habis perahu itu dan membawanya sampai ke dasar.

Life is a boat, indeed. Bukan perahu yang terparkir di dek suatu pelabuhan, melainkan perahu yang berlayar. Menyusuri lautan yang tak pernah kita tahu seberapa dalam. Menyusuri lautan yang tak pernah kita sangka seberapa berbahaya.

Hidup dimulai ketika perahu itu mulai mengangkat sauhnya, mulai bergerak meninggalkan pelabuhannya, mulai bergerak menuju ke tempat yang saya inginkan, yang menjadi tujuan saya dari awal.

sailingSeperti sebuah perahu yang berlayar menyusuri lautan dalam, saya tidak akan pernah tahu apa yang kelak akan terjadi. Sekalipun dari awal saya berharap agar perjalanan nanti akan selalu menyenangkan, smooth sailing ride, dengan ombak yang tenang dan angin yang bersahabat serta langit yang secerah vanila, tapi saya harus tahu persis kalau bisa saja di dalam perjalanan nanti, saya akan menjumpai ombak yang bebas menggulung siapapun di atasnya, angin yang berubah menjadi badai dahsyat, dan langit yang menangis hebat.

Siapapun juga, tidak hanya saya, yang menginginkan perahunya berlayar dengan tenang dan softly reaches the perfect shore.

Siapapun juga, tidak hanya saya, yang mendambakan perjalanannya mulus-mulus saja, minus muntah, minus ketakutan-ketakutan, minus resah gelisah, dan perasaan yang tidak menyenangkan lainnya.

Siapapun juga. Dan itu termasuk kamu. Juga saya.

Tapi sekali lagi… apakah mungkin ombak akan tenang-tenang saja? Menurut saja ketika saya berucap, “Hey, Ombak! Be gentle with me, will ‘ya?”

Dan apakah hujan segera berhenti tumpah dari langit saat saya memohon padanya sambil berkata, “Hujan… I’m scared. Berhenti jatuh dari langit, please…“?

Tidak.
Ombak tetap akan bergulung.
Hujan akan tetap turun dengan dahsyatnya. 

 Because that’s what life is. 

Tidak ada yang sempurna. Tidak akan selalu mudah dan managable, tapi bisa jadi akan sangat menakutkan, menyebalkan, meresahkan, dan membuat saya putus asa. Tapi juga tidak melulu menyebalkan dan menakutkan, karena smooth sailing bisa saja terjadi. Buktinya, banyak sekali perjalanan dengan kapal feri yang berhasil mengantarkan ribuan penumpangnya setiap hari, kan?

Itulah kenapa, saya mengatakan, I imagine my life is a boat. Mungkin bakal ada debur ombak yang terlalu keras tapi bisa jadi, ombak dan angin malah sangat bersahabat… Not always smooth sailing, I know. But once the boat is sailed, I have to deal with any hurricanes along the way…. 

(Dan karena saya tahu kalau hidup adalah sebuah kapal yang menyusuri lautan yang tak terduga,  saya memang harus rajin-rajin memantau prakiraan cuaca dan menyiapkan safety jacket, just in case… ^_^ )

***

Di depan televisi, di rumah seorang teman
Kamis. 4 Juni 2009. 11:27 Malam
Terinspirasi, somehow, dengan postingan Afdhal yang ini.
 

 

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

26 thoughts on “Perahu yang Berlayar

  1. Wahai seorang penulis dari Surabaya yang sedang mencari penerbit 🙂 tulisanmu bagus sekali, aku setuju hidup adalah seperti halnya berlayar… 🙂

    Hey… itu kata-kataku di Milis Pasar Buku… hihihi…
    makasih ya, Don, buat pujianmu..
    ANd btw, gimana kabar perahumu? Smooth sailing, hm?

    Posted by DV | June 5, 2009, 3:56 am
  2. Laa, kok tiba2 jadi inget film Cast away ya 🙂

    Aku malah jadi keingetan sama film Sleeping with The Enemy, Uni… Pas dia nekat terjun dari kapal layar karena ingin menghindari suaminya yang abusive…

    Posted by Ade | June 5, 2009, 6:13 am
  3. “menyiapkan safety jacket dan memantau perakiraan cuaca”
    nice
    always ready for the worst
    coz life offers us the bests n the worsts

    He eh, Depz. Be ready for anything that might come along the way… 🙂

    Posted by depz | June 5, 2009, 7:43 am
  4. berlayar? naek speedboat sampe mual berkali2 sering..
    kalo naek feri atau perahu sejenisnya, belum tuh.. maklum, fobia renang.. karena ga bisa renang 😛

    yang pasti sih, gue cuman perlu seorang kapten yang baik.. yang ngerti apa yang dipengenin sama ABK atau penumpangnya..

    meski kadang si kru atau penumpang udah teriak2,, tapi kapten kapal masih aja belum ada tindakan..
    atau, guenya aja yang harus lebih sabar ya?

    cih, bukan mental pelaut yang bagus nih..

    Posted by Billy K. | June 5, 2009, 11:48 am
  5. Berlayar…..ingat nggak kata-kata yang diucapkan pada mempelai….”Selamat mengarungi samudra kehidupan..”
    Karena hidup memang seperti berlayar, kadang diterjang ombak besar-besar, kadang bisa menikmati cuaca cerah dan pelayaran dilanjutkan dengan damai, dan kadang menemukan pulau dan mengisi air untuk persediaan.
    Ungkapan yang sesuai, Lala.

    Posted by edratna | June 5, 2009, 3:25 pm
  6. saya suka naek kapal feri, mbak…
    pertamane muntah2 sih…
    tapi kalo udah biasa, mau ombak segede apapun yg nendang2 badan kapal, tetep aja jojong… (jojong itu bahasa indonesia-nya apa ya? nggak tau ding…)

    saya malah pernah liat lumba2 waktu lg nyebrang selat sunda naek feri…
    trus kadang2 dapet kapal yang pengamennya keren2 (kita bisa request lagu)..

    hal2 ‘menyenangkan’ itu terjadi di atas kapal yang saya nggak bisa prediksiin dengan pasti bakal nyampe dengan selamat sampe tujuan ato malah tenggelem di tengah selat.
    gitu kali ya, mbak… hidup ini…
    adaada aja yang di sodorkannya ke depan muka kita. gak bisa lari. mo nyebur ke tengah laut? hahah… aku nulis apa tho ini kok gak jelas banget…

    *janganceburinsayakelautmbak…*

    Posted by yoan | June 5, 2009, 4:12 pm
  7. ombak,
    amis laut,
    panas pantai……
    *kangen

    Posted by komuter | June 5, 2009, 5:52 pm
  8. saya takut naek kapal mbak….

    hmmm,, palagi berlayar,,,,

    Posted by Myryani | June 5, 2009, 8:47 pm
  9. Saya sudah lama ngerencanain liburan ke kepulauan seribu, berlayar dari 1 pulau ke pulau lain, tapi krn sampai skrg cuaca masih ga nentu jdnya ketundah terus deh liburannya

    Posted by exort | June 6, 2009, 2:39 am
  10. petuah jadul:
    seorang nakhoda tangguh, takkan terlahir dari laut yg tenang

    ada lagi:
    siapkanlah perahumu, karena lautan itu dalam.
    cukupkanlah bekalmu, karena perjalanan ini akan jauh

    maka, janganlah takut dg besarnya gelombang, karena itu akan menjadikanmu kuat. dan siapkanlah dirimu, karena laut itu ganas!

    sstt… emang “dia” ada di pulau seberang ya… hehehe…. 😉

    Posted by vizon | June 6, 2009, 8:31 am
  11. “… lihatlah sebuah titik jauh di tengah laut…”
    “..sailing…i am sailing….”
    ” I sail over seven seas… to find…”
    “… nenek moyangku sorang pelaut…”
    ” …angliyak numpak prau layar.. ing dina minggu …”

    lho kok jadi nyanyi nyanyi yg berhubungan dg berlayar sih… (minjem istilah om NH: jayus yach.. )

    stuju jeung lala:
    …. prepare safety jacket because of dealing with hurricane along the way…

    kalo aku tambah dikit:

    I believe there are some ports or shores to take a rest, to take water, and to strengthen us and then “i am saling….” again

    Posted by bro neo | June 6, 2009, 8:31 am
  12. nambah dikit:

    mohon ijin nambah link ksini yach…

    Posted by bro neo | June 6, 2009, 8:32 am
  13. ojo lali nggowo minyak kayu putih 🙂

    Posted by AFDHAL | June 6, 2009, 10:06 am
  14. Pengalaman naik kapal cuman pas nyebrang madura ama bali tok luckily it was a smooth sail, yeah hidup akan lebih enak jika di analogikan dg berlayar tentu akan ada badai tentu akan angin dan tentu akan ada ombak, tapi selalu ada masa tenang setelah itu, dimana laut bagaikan berhenti tak ada angin tak ada ombak yang ada hanya kesunyian dan ketenangan…

    :).

    Posted by Jazili | June 6, 2009, 10:31 am
  15. Sekarang sering berpikir dua kali kalau mau naik kapal feri dan sejenis buat angkutan massal di negara yang bernama INdonesia. Umur dari angkutan ini dan juga prosedur keamananya suka nggak jelas.
    Bukan maksut mau menjelekkan Angkutan tertentu dan dinas yang terkait, tapi kenyataan sekarang masih seperti itu.
    Semoga Indonesia kedepannya tidak seperti itu.
    Malah curhat ne saya, bukan kasih koment. 🙂
    Tapi dulu pernah sekali pas study tour ke Bali, itu juga pas SMP
    Salam,

    Posted by Turn on the lamp | June 6, 2009, 11:11 am
  16. Beda sama,.. “mengarungi lautan bersamamu”, ya La?.. hehehe.. kapal yang satu ini emang beda..

    So, Lala.. Tulisan lo ini memompa motivasi gw..
    Thanks ya, Sis..

    luvya..

    Posted by p u a k™ | June 6, 2009, 12:15 pm
  17. sayah sayah !

    sayah suka naik kapaL (feri seL.latsunda)

    sayah seLaLu senang berdiri di tepian dan memandangi Lautan di saat maLam
    terkadang sayah sempat kan untuk “menuLis” sesuatu..

    di tengah Lautan sayah merasa tenang, cemas, takut, dan keberanian sayah di uji (gabisaberenangsii :mrgreen:)

    tapi sayah seLaLu menyukai itu 🙂

    Posted by tuannico | June 6, 2009, 7:08 pm
  18. inspiring sista
    postingan Lala semakin
    matang dan kaya dengan wisdom
    dan mampu mengubah mindset pembaca
    btw, semoga pelayaran hidup kita
    sampai pada biduk tujuan 🙂

    Posted by mikekono | June 7, 2009, 10:41 am
  19. berlayar butuh kekuatan…dan itu ada di tiang…

    Posted by imoe | June 7, 2009, 5:03 pm
  20. Suatu saat aku bakalan jadi mualim 1 yang tugasnya disamping si kapten…tapi say…cariin gw captennya dulu dunk!!!

    😀 😀 😀

    Posted by Ria | June 7, 2009, 10:41 pm
  21. Pertama kali berlayar, Banjarmasin – Surabaya. Muntah ra keru-keruan.
    Kedua ketiga kali seterusnya, tak lagi. Sekarang berlayar itu menarik, menantang, dan ketika aku sampai pada satu tujuan, beristirahat dan menikmati daratan, aku rindu laut lagi
    😀

    Posted by Muzda | June 8, 2009, 1:38 am
  22. Masalah Cuaca … kita tak bisa mengaturnya
    Masalah Laut … pun kita tak bisa memanagenya

    Yang bisa kita handel adalah …
    Tetap menjaga agar perahu kita tidak bocor …

    itu saja …

    Salam saya

    Posted by nh18 | June 8, 2009, 8:27 am
  23. wuih bener sekali La…
    sepertinya saya harus segera belajar menyadari betapa sempurnanya ‘perahu’ saya, betapa sempurna juga ombak dan badainya..

    Posted by *hari | June 8, 2009, 3:17 pm
  24. bener juga neh,
    kalo gitu saya juga lagi berlayar nih,
    plus lagi belajar law of attraction supaya bisa sampai tujuan dengan selamat 🙂

    Posted by mascayo | June 8, 2009, 10:45 pm
  25. hmmm…..iya juga sich mbak… 🙂
    aq setuju..

    Posted by joicehelena | June 15, 2009, 2:08 pm
  26. Mengingatkan ku akan sebuah ayat dalam al quran 🙂

    Posted by nelrahmi | August 8, 2012, 6:37 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

June 2009
M T W T F S S
« May   Jul »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: