you're reading...
daily's blings

Sebuah Rumah

Ada sebuah rumah, di sebuah gang, persis beberapa meter dari rumah saya. 

Rumah dua lantai itu berselimut cat hijau muda yang terlihat bersinar ketika mentari menimpanya setiap pagi dan berdiri tegak dan kokoh sejak puluhan tahun yang lalu, ketika saya belum lagi bisa mengeja huruf ABC, apalagi berhitung.

Saya bertumbuh seiring dengan berubahnya rumah besar itu. Tadinya, rumah yang setiap hari menjadi tempat bermain saya saat masih kanak-kanak, adalah rumah besar yang kondisinya sama sekali jauh dari mewah. Malah, yang terkesan di mata anak kecil seperti saya saat itu adalah rumah berhantu, dengan ruangan-ruangan yang gelap dan langit-langit yang bocor sana-sini. Dinding yang terkelupas catnya ikut menciptakan suasana yang sedikit horror setiap saya bermain boneka dan masak-masakan di sana.

Dengan berjalannya waktu, rumah itu berubah. Bak seekor ulat bulu yang kemudian bermetamorfosa menjadi kupu-kupu paling cantik, seperti itulah rumah itu berubah. Tahun demi tahun, rumah itu dipugar. Bermodal kerja keras seorang Ibu yang ingin memberikan rumah yang layak buat anak-anaknya, akhirnya hilang sudah image rumah berhantu yang dulu selalu terekam dalam ingatan saya. 

Rumah itu bertumbuh menjadi dua lantai. Dengan tambahan kamar-kamar yang terpisah untuk kelima anaknya. Dengan tiga kamar mandi yang membuat para penghuninya tak perlu ribut-ribut setiap pagi. Dengan teras di lantai dua yang sering menjadi tempat kongkow yang menyenangkan sekaligus tempat mengusili tukang Sate yang lewat-lewat di depan rumah.

Rumah itu menjadi kebanggaan seorang wanita yang dengan tangannya sendiri, beliau berhasil memugar rumah tuanya itu. Dengan modal nekat, berjualan kue dan nasi, mulai dari pasar sampai katering, akhirnya wanita seumuran almarhumah Mami itu berhasil membuat anak-anaknya berlindung di dalam rumah yang sangat nyaman.

Bertahun-tahun sudah rumah itu berdiri. Dengan kokohnya, dengan tegarnya. Tetap melindungi manusia-manusia di dalamnya dengan sangat sempurna, meskipun satu persatu manusia di dalamnya mulai menghilang dan pergi. Seorang perempuan, yang saya panggil Tante. Seorang lelaki, yang saya panggil Om. Dan beberapa perempuan yang saya panggil Mbak.

Tante yang meninggal, persis satu bulan sebelum Mami meninggal.
Om yang meninggal, beberapa bulan menjelang putri keempatnya melahirkan.
Dan dua kakak perempuan yang menikah.

Saya selalu berpikir, rumah itu akan terus setia menemani penghuninya yang tersisa; tiga orang perempuan yang menjadi sahabat saya sejak masa kanak-kanak dulu. Yang selalu memakai baju kembaran, dengan warna yang sedikit berbeda. Yang dulu bermain boneka bersama, lalu iseng memotong rambut boneka-boneka itu karena berharap akan bertumbuh seperti rambut manusia.

Ya, saya selalu berpikir rumah itu akan selalu ada buat mereka, bersama-sama dengan rumah saya yang sudah puluhan tahun saya tempati, berjarak beberapa gang saja dari rumah itu.

Tapi ternyata, ketika semalam saya bermain ke sana, saya melihat sebuah papan yang tergantung di depan pagar, dengan kalimat-kalimat yang jelas-jelas berkata, “Rumah Dilelang.”

Sebuah tulisan yang dengan seketika merampok pergi senyum di wajah saya…

***

I knew that this moment would come.

Berita tentang pelelangan rumah itu sudah saya dengar setahun yang lalu, ketika di sebuah pagi, sahabat saya, Lia, bercerita dengan isakan tangis saat kami berada di dalam sebuah taksi yang membawa kami ke kantor.

Cerita tentang seorang kakak perempuan yang pergi membawa lari sejumlah uang yang didapatkannya dari menjaminkan sertifikat rumah di Bank. Menyisakan hutang sampai enam ratus juta Rupiah lebih dan membiarkan adik-adiknya menanggung sisa utang itu. They’re not rich people. Enam ratus juta adalah jumlah uang yang terlalu besar, sehingga mereka harus merelakan rumah itu dilelang karena mereka tak mampu menebusnya.

Segala usaha untuk mencari kakak  pertama Lia itu tak membawa hasil apapun. Seorang perempuan bernama Dewi dan suaminya Zainal itu seolah lenyap di telan bumi atau teleportasi ke planet lain dengan bantuan aliens.

Tidak ada yang bisa mereka lakukan selain akhirnya berpasrah dan mengikhlaskan rumah kebanggaan Mami tercintanya itu lenyap di tangan orang lain, some total strangers… Ya, meskipun dengan deraian air mata yang sepanjang malam tadi mengiringi percakapan saya dengan Lia, di rumah yang sebentar lagi tak bisa saya kunjungi lagi dengan bebasnya.

“Kamu inget, kan, La, gimana Mami dulu susah payah bikin rumah ini?”

Tentu saya ingat, betapa sibuknya Tante menyiapkan kue-kue, jauh sebelum Subuh. Saat menginap di rumahnya, saya menjadi saksi kesibukan tiap pagi itu.

“Dulu rumah ini kan cat-nya nggak karuan gitu, La… Langit-langitnya bocor di mana-mana…”

Rumah ini adalah rumah kedua saya; tempat saya mencari perlindungan dan membutuhkan pelukan sayang dari sahabat-sahabat saya sejak kecil.

“Kenangan-kenangannya itu, lho, La… Nggak terbeli…”

Bagaimana mungkin saya bisa melupakan semua kenangan yang pernah ada di rumah itu? Rumah itu mungkin menjadi saksi bisu pertumbuhan saya dan Lia, juga adik dan kakak-kakaknya. Seandainya rumah itu memiliki mulut yang mampu berbicara, dia akan menjadi narasumber yang hebat untuk mengetahui seperti apa masa lalu kami berdua.

“Aku tahu hari ini bakal terjadi, La. Tapi tetap saja, aku masih nggak bisa ngilangin rasa sedih ini…”

Lalu saya merangkul tubuhnya, menangis bersamanya. 

Saya tahu, tangisan ini tidak akan mengembalikan rumah ini. Saya tahu, pelukan ini tak mampu menghalau kesedihan karena kehilangan rumah ini. Saya tahu, hanya uang sejumlah ratusan juta Rupiah saja yang bisa membuang pergi semua gelisah.

Tapi saya tak memiliki itu.

Saya hanya bisa memeluk dan menguatkan hatinya.

Itu saja.

***

Dan semalam tadi, saya menginap di rumah itu lagi. Tidur di dalam sebuah kamar lalu bercerita sampai larut. Saya merasakan betul emosi yang naik turun sepanjang malam tadi. Mulai dari emosi karena menahan sedih, kecewa, marah, sampai akhirnya kami memutuskan untuk let go saja.

Dan semalam tadi, saya menghisap banyak-banyak ‘aroma’ kenangan yang melayang-layang dengan bebasnya di dalam setiap ruangan yang saya jejaki.

Dan semalam tadi, saya tahu, bahwa ini mungkin adalah kali terakhir saya bisa bercerita sampai semalam suntuk, di sebuah rumah yang telah menjadi tempat ‘pelarian’ saya sampai umur dua puluh sembilan ini. Rumah yang indah, berlapis cat hijau muda, dengan rerumputan di pekarangan depan, dengan kucing-kucing yang berkeliaran dan berebut ingin dielus lembut, dengan dinding-dinding yang menyimpan sejuta kenangan masa kecil kami…

Ya. Sejuta kenangan masa kecil yang tak akan pernah bisa hilang… sampai kapanpun…

***

House for sale
You can read it on the sign
House for sale
It was yours and it was mine
And tomorrow some strangers
Will be climbing up the stairs
To the bedroom filled with memories
The one we used to share…
(House for Sale — Lucifer)

 

***

Kantor. Rabu, 3 Juni 2008. 9.48 Pagi
Be strong, Atta, Lia, Lena…
 

 

 

 

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

25 thoughts on “Sebuah Rumah

  1. Yang begini ini aku suka La …
    This is your strength …
    Swer saya merinding …

    One of your best post !!!
    and I am not kidding …

    Salam saya

    Makasih, Om.. Om tahu, kan, kalau komentar Om itu means a lot to me? 🙂
    Doain temen2ku itu baik2 aja, ya, Om..

    Posted by nh18 | June 3, 2009, 9:57 am
  2. ya ampun jeung, ak baca ini emosi berat. Kisah nyata namun seolah fiksi. Ih jahat banget kakak perempuan itu. Kok tega2nya ngebiarin adiknya nanggung utang2 itu semua dan ngebiarin mereka ga punya rumah. Kejaaaaaaaaaaammmmmmmmmm….bukan masalah nominal tp kenangan yang ga akan terbayar oleh rupiah. Semoga aza kakak itu cepat ditemukan biar rumah itu g jd dilelang.
    *tlp termehek2 buat cari kakaknya Lia

    Itulah, Pi. Betapa ironisnya perlakuan seorang kakak terhadap adik2nya sendiri. Sampai sekarang aku masih nggak habis pikir kalau ‘penjahat’ itu bisa berwujud seorang kakak yang selama ini tumbuh bareng… Menyedihkan sekali..
    Ah, Ipi.. aku jadi kepingin majang photo Dewi dan Zainal supaya ada yang bisa bantu cari mereka…. Jahat nggak sih, kalau aku ngelakuin itu?

    Posted by ipi | June 3, 2009, 10:22 am
  3. wow.. jadi ikut merasakan kesedihan Lia
    be strong aja ya La.. bilang ama sahabat lu itu
    God loves them so much..

    IYa, I will. Makasih ya, Nanc… 🙂

    Posted by nanzzzcy | June 3, 2009, 10:51 am
  4. jadi keingetan waktu saya juga ‘kehilangan’ rumah saya dulu. sebuah rumah yang dibangun dengan susah payah. rumah yang dibangun dengan cita2 dan juga harapan.

    sayang, akhirnya musti dilepas juga karena gagal dalam ngurus bisnis dan juga usaha.

    tapi, saya punya cita2 sendiri. suatu saat nanti, rumah itu akan saya beli kembali. berapapun harganya, pasti saya beli. HARUS!

    Oh My! What a sad story, Bills…
    Tapi aku percaya, dengan sifatmu yang tak pernah mau berhenti berusaha, you will get the house again, sooner or later! I believe that, Bro! Beneran……

    Posted by Billy K. | June 3, 2009, 11:21 am
  5. hmmm…jadi ingat rumah ortuku…..rumah tempat aku tumbuh besar…Ibuku ingin menjualnya karena pengen memberi modal anak-anak laki-lakinya…..

    Aku hanya bisa sedih walaupun sepenuhnya mendukung…bagaimanapun itu aset orang tuaku…dan hak mereka untuk memanfaatkan aset itu untuk apa…

    Ingiiiiiiin banget kubeli sendiri..apa daya dana ga cukup dan aku ga bakal tinggal disana lagi…My life is in Jakarta…

    cuma…jika kejadiannya seperti itu……betapa double, triple malah sedihnya…dikhianati oleh saudara kandung sendiri…

    Sama seperti rumahku, Mbak Dewi. Pernah hendak dijual karena Papi ingin memberikan modal buat anak-anaknya. Cuman, kami masih melarang Papi melakukannya… Sayang sekali kalau sampai terjual…

    Nah, kalau dengan niat begitu aja nyesek, apalagi kalau dikhianati dengan saudara kandung sendiri… Menyedihkan… Ironis.. Sampai nggak habis pikir.. Kok bisa seorang kakak seperti itu ke adik2nya… sumpah.. it sucks! 😦

    Posted by Dewi | June 3, 2009, 11:46 am
  6. Jadi teringat rumah kami dulu di Rawamangun mukaselatan… persis didepan Gardu PLN, rumah itu kini sudah berpindah tangan dijual Kakak saya masa Krismon dahulu… sedih sekali, tetapi hidup harus berlanjut terus… mungkin akan ada rumah rumah lainnya sebagai gantinya… meskipun tidak akan penah sama kenangannya…
    Great Post…

    Rumah yang dekat Yessy itu, ya, Bang?
    Well, life goes on… Lia, Atta dan Lena juga percaya kalau Tuhan tidak pernah tidur… Bahkan berkedip sekalipun. Let the memories remain in heart… Kenangan yang nggak akan pernah bisa terbeli dengan apapun..

    Makasih ya, Bang, udah sempet komentar..
    How’s your day? Masih sibuk? Take care, yah…

    Posted by Panglatu | June 3, 2009, 1:41 pm
  7. OOT :
    wah jadi inget rumah’nya aco yang belum berdiri setelah 3 tahun yang lalu diluluhlantakkan gempa

    Jadi inget sama posting kamu yang soal gempa itu, Al… Nggak kebayang deh, gimana paniknya kamu saat itu…
    Well, semoga rumah Aco bisa berdiri tegak lagi, Al… Salam dari Aunty Lala buat si jago catur itu, ya… Sekaligus cubitin pipinya, okay? 🙂

    Posted by AFDHAL | June 3, 2009, 2:34 pm
  8. Lagu House for Sale itu lagu kenangan masa saya SMP dulu, cukup membekas meski orangtua saya selalu tinggal di rumah dinas sampai pensiun. Kenangan tinggal di rumah (yg silih berganti penghuninya) sampai kini masih sering kami obrolkan kalau ada acara kumpul keluarga. Bahkan kalau mudik saya dan adik-adik selalu menyempatkan diri menengok “bekas” rumah kami itu meskipun hanya bisa melihat dari jalan …

    Terharu baca komentarnya pak Grandis.
    Aku jadi inget sama cerita pribadi. Dulu, rumah dinas Papi letaknya persis di depan rumah Lia, tapi kami pindah beberapa tahun kemudian karena Papi membeli satu rumah di gang yang berbeda. Sampai sekarang, setiap saat main ke rumah Lia, aku selalu nyempetin diri ngeliat rumah itu…

    Posted by Oemar Bakrie | June 3, 2009, 3:03 pm
  9. Waahhh….semoga diberi yang terbaik aja mbak….:)

    Pasti ada hikmah dibalik itu semua…

    http://sendit.wordpress.com

    Amin, amin.
    Aku juga percaya, kok, kalau ada hikmah di balik peristiwa apapun..
    Salam kenal, ya
    makasih udah mampir….

    Posted by Dita | June 3, 2009, 3:20 pm
  10. Salam buat ketiga teman – teman mu ya La

    sedih bacanya, but its true life muz go on…

    hirup dalam2 aroma rumahnya la..

    mungkin rasanya akan beda sebentar lagi

    Life must go on.
    Iya, Eka. Hidup emang terus berjalan, mau kita siap atau nggak. Mau kita bersedia, atau nggak. It’s moving forward and not the other way around. Jadi, buckle up and go…

    Mereka percaya itu semua, Ka. Tapi memang, it takes time to heal…
    Karena itulah, semalam aku menginap di sana lagi… Menghirup kenangan2 itu lagi…
    You’re right, it won’t be the same again….

    Posted by Eka Situmorang - Sir | June 3, 2009, 4:17 pm
  11. walahhhh…sedih bgt ya la kalau sampai harus kehilangan rumah yang sangat amat kita sayangi…*tiba2 jadi inget rumahku di Bekasi….nelp mama ah*

    salam buat temenmu ya…semoga dia kuat ngejalani hal seperti ini…pasti ada hikmanya…pasti!

    Dan kehilangannya karena Saudara sendiri, lho, Ya.. Nyesek banget, gak, sih??? 😦
    Iya, dia malah udah baca komentar2 kalian… Makasih, katanya… 🙂

    Posted by Ria | June 3, 2009, 6:17 pm
  12. Ikut sedih bacanya.. kenangannya pastinya ga akan terganti dengan rumah lainnya, apalagi rumah itu dibangung dengan kerja keras dan perjuangan ibunda..

    Iya, Uni.
    Aku melihat sendiri bagaimana rumah itu bermetamorfosa. Aku lihat sendiri bagaimana kerja keras Tante Freddy membangun rumah itu… Dan sungguh, aku benar-benar nggak rela… 😦

    Posted by Ade | June 3, 2009, 6:35 pm
  13. Rumah, tanah, maupun negara bisa menjadi bencana yang maha dahsyat jika tidak kita rawat, tidak kita kelola dengan baik, dan di diami oleh orang yang dzalim. Kita sering menyaksikan keluarga bubar karena rebutan hak waris rumah, kita juga sering melihat terjadinya pembunuhan ataupun kekerasan lain karena rebutan tanah. bahkan dalam tataran negara Palestina dan Israel perang dari jaman dulu karena masalah wilayah (maaf tidak bermaksud sara). Titip pesan buat Lia dan saudaranya , jika dia ikhlas maka Allah pasti akan mengganti dengan rumah yang lebih besar dab Barokah…. Pasti!!!!!!!!.

    Semoga itu nggak pernah terjadi dalam keluargaku, Mas. Memang, sudah jamak terjadi peristiwa-peristiwa perebutan warisan antar saudara kandung yang ujung2nya malah pertikaian dan perpecahan. Sedih juga, ya, karena cuman masalah harta, yang ada malah kehancuran.
    Aku mengamini doamu, ya, Mas… Maturnuwun..

    Posted by Nazarudin | June 3, 2009, 7:57 pm
  14. kehilangan hati nurani sungguh memilukan ya Mbak, membuat orang tega berbuat apa saja.
    dipikir-pikir tak kan habis dipikir,
    meskipun tak tertutup kemungkinan kita bisa saja berlaku serupa,
    ah AAJB lagi deh ..
    Jaga hati agar tak khilaf diri,
    Semoga temannya mbak diberi kekuatan. Amin

    Iya, Mas. AAJB. AAJB.
    Karena memang, urusan harta, semua orang bisa menjadi mangsa yang empuk….
    Semoga kita semua tak khilaf diri… Amin.
    Dan semoga Lia diberi kekuatan… Amin.
    Makasih, ya, Mas…

    Posted by mascayo | June 3, 2009, 11:49 pm
  15. Kualat bener tu yang bawa lari ..

    Kualat BANGET!

    Posted by Muzda | June 4, 2009, 2:48 am
  16. Sulit untuk tak setuju dengan Om NH. Gaya penulisanmu yang seperti ini yang justru terasa kuat. Menjejak tapi juga membumi. Meluruh, tapi juga penuh luapan emosi batin.

    Aku bosan membaca khayalan-khayalanmu tentang lelaki dan cinta yang menyek-menyek tak karuan. Justru tulisan seperti ini yang dapat membentuk karaktermu sebagai penulis.

    Well, soal cerita di atas, tak selamanya apa yang kita miliki akan berada terus di tangan kita. Berat harus kehilangan? Tentu saja. Tapi ini kan dunia, bukan surga 😉

    Go on, Girl!

    Makasih, Mas. Mendapat pujian dari Daniel Mahendra, gituuu… Penulis favoritku… *uhui!* 🙂
    Iya, aku sendiri juga bosen sama tulisan cinta, lelaki, dan menye itu… Tapi gimana lagi? I’m in love… *halah*
    Btw, aku suka sekali dengan kalimat ‘Ini Dunia, Bukan Surga’. Itu menjadi kalimat favorit untuk selalu optimis menghadapi apapun juga… 🙂

    Posted by Daniel Mahendra | June 4, 2009, 6:03 am
  17. phiuhhhhh….
    dunia yang menggila
    demi uang mengorbankan keluarga
    couldnt agree for more
    nice post

    Dunia memang sudah gila…. Atau orang2nya yang memang pada gila semua, ya? *kecuali akuu… hehehe*
    Makasih, depz… Seneng deh kalo kamu mampir ke sini…. *kedip2*

    Posted by depz | June 4, 2009, 7:47 am
  18. saya suka padamu La
    (oops….maksudnya suka pd
    kisah Rumah ini La), hehehe
    btw, Rumah kita di masa kecil
    memang menyimpan sejuta
    kenangan indah dan bernilai historis
    tapi, sebagai hambaNya yang baik
    kita pun dituntut hrs sll siap
    kehilangan orang dan barang
    yang kita cintai

    Haha.. Abang bikin deg-degan aja, sih.. Lala udah maen GR aja, lho… hihihi…
    Abang benar; sebagai hamba yang baik, kita memang harus selalu siap kehilangan. Karena apapun yang kita miliki di dunia ini sifatnya hanya sementara…

    Posted by mikekono | June 4, 2009, 8:45 am
  19. Reading this made me cry, hope the house will be back to the owners someday someway

    Amin…
    Thanks ya, In…

    Posted by 1nd1r4 | June 4, 2009, 10:32 am
  20. gak perlu sedih La…
    kalian telah punya “rumah” yg takkan bisa tergadaikan dan takkan terbelikan yg telah mampu menyatukan dalam berbagai situasi, yaitu “hati”…

    ikut larut dalam kisah ini, semoga memperoleh ganti yg lebi baik…

    Untuk setiap manusia yang bisa mempelajari jalinan cerita dalam hidup, apapun kesedihannya, pasti akan bisa memetik hikmah. Mudah2an, kita bisa menjadi manusia yang seperti itu, ya, Uda…..

    Posted by vizon | June 4, 2009, 11:13 am
  21. Gue idem sama DM, La…

    Btw, rumah dimana kita pernah lahir dan besar benar2 tidak akan terlupakan dengan segala suka dan dukanya.
    Sampai hari ini pun gue selalu ingin pulang ke rumah yang masih didiami orang tuaku..

    Dan.. semoga teman2 lu itu bisa menghadapinya..

    I’m living a home where I grew up… Menyenangkan, ya? 🙂
    Tapi disitu sudah nggak ada Papi…. 😦
    Well, semoga saja, siapapun yang berada di kondisi seperti itu, bisa menjalaninya dengan baik… Amin.

    Posted by p u a k | June 4, 2009, 12:06 pm
  22. ini tulisan kedua favorit gue setelah are we growing up ? 🙂 keren la…

    Makasih, Yessy…. 🙂 Kalo tulisan elo yang paling gue suka tuh, cerita tentang anak-anak yang BUKAN Laskar Pelangi itu… 🙂

    Posted by yessy muchtar | June 4, 2009, 9:28 pm
  23. saya sech dari lahir n sampe sebesar ini hanya tinggal disatu rumah, gk pernah pindah2… jadi kalo pergi kemana2, bawaannya pengen plg ke rumah ini aja,, istilah rumah Q istana Q ituh ternyata bener jg,,
    dan kenangan mmg takkan tergantikanlah,,,

    moga temen mbak bisa mendapatkan yg terbaik,,,

    Posted by Myryani | June 5, 2009, 12:47 pm
  24. saya… malah kebalik kayaknya…
    untung di rumah masih ada bapak saya…
    kalo bapak saya ikut2an meninggal juga…
    saya ngga tau bisa tetap tinggal di rumah itu apa engga…
    terlalu banyak kenangan yang bikin capek…
    capek nangisnya…

    :peace mbak:

    Posted by yoan | June 5, 2009, 4:28 pm
  25. tulisan yg sangat bagus, bikin aku merinding.
    apalagi waktu ngebayangin lagu house for sale dengan nada yang menyayat namun tetap tegar itu..

    jadi inget waktu pindah kontrakan dulu.. kontrakan aja trasa berat ninggalinnya, banyak kenangan. itu baru 2 th lho..
    lha ini, dah belasan, bahkan puluhan tahun, dengan sejarah panjang usaha sang ibu… hemmmm pasti berjuta juta kenangan.

    tapi setuju live must go on…

    Posted by bro neo | June 6, 2009, 8:58 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

June 2009
M T W T F S S
« May   Jul »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: