you're reading...
It's me... today, Just a Thinking

In Doctors’ Hands…

Dokter.

Sebuah profesi yang mulia, yang pernah menjadi salah satu cita-cita masa kecil saya, tapi musti terkubur karena saya tidak lolos UMPTN dan Papi malah mendorong saya untuk masuk ke Fakultas Teknologi Pertanian, jurusan Food and Nutrition Technology.

Keputusan tidak  menjadi dokter adalah keputusan yang paling tepat, karena tidak terbayang bagaimana menderitanya kalau saya musti bertahun-tahun mempelajari materi kuliah berikut dengan praktikum-praktikum yang berhubungan dengan benda-benda yang tadinya ada di dalam tubuh manusia seperti saya!

Oh tidak! 

I hate to see blood dan paling ngeri melihat luka-luka tubuh. Selain itu, saya juga sudah cukup menderita dengan praktikum-praktikum di fakultas pertanian yang memakan waktu berjam-jam sampai tubuh saya berbau bahan kimia instead of spray cologne yang sering saya pakai sebelum berangkat ke kampus. Praktikum meneliti kandungan ini itu di dalam bahan pangan sudah membuat saya tepar, teler, dan kepingin cepat-cepat lulus dari kampus. Tidak terbayang kalau saya musti menjalani kuliah untuk menjadi seorang Dokter seperti Uni Hemma atau Mbak Tanti, dua dokter yang kebetulan sangat pintar menulis ini. Saya pasti bakal kurus kering (atau gendut bengkak) saking menderitanya!

Lebay?

Oh, ini bukan lebay. Saya tahu persis dengan kapasitas saya sendiri. I know I’d be doomed kalau tetap nekat menekuni kuliah di jurusan kedokteran (sekalipun di tahun kedua mencoba UMPTN, saya diterima juga di fakultas kedokteran hewan). Jadi sudahlah, saya tidak mau memaksa diri lalu bergelar menjadi Dokter Cantik yang Hobi Semaput di Ruang Operasi. Thanks, but no thanks! 😀

Itulah kenapa, sampai hari ini, saya mengagumi profesi Dokter. Oh tentu, saya juga mengagumi profesi Penulis seperti seorang Ayu Utami dan Djenar Maesa, tapi Dokter tetaplah suatu profesi yang menurut saya sangat membanggakan!

But, still…

Dokter juga manusia.

Sekalipun saya mendewakan profesi yang telah berhasil membantu penyembuhan stroke ringan yang pernah dialami Papi, tahun 2005 kemarin, juga yang telah membantu proses kelahiran dua keponakan-keponakan tercinta saya lewat operasi Caesar yang biayanya belasan juta Rupiah, tetap saja, Dokter juga bisa melakukan kesalahan. 

Dia bisa salah diagnosa, salah menulis resep obat, salah suntik (barangkali), atau salah dalam melakukan pertolongan pertama. Dan menurut saya, yang membuat Dokter merupakan profesi yang sangat hebat adalah, karena sekecil apapun kesalahan seorang Dokter, di situlah dia bertanggungjawab pada keselamatan nyawa orang lain. Tidak main-main. Ini soal nyawa; yang tidak bisa ditebus dengan apapun juga.

Seperti cerita yang keluar dari mulut rekan kerja seruangan saya. Pagi tadi, dia bercerita soal keponakannya yang mendadak menjadi sering tertawa-tawa sendiri dan mendadak lupa ingatan sekalipun baru saja bercakap-cakap. Syarafnya tidak bekerja dengan baik semenjak operasi Caesar yang dia alami untuk mengeluarkan bayi pertamanya di usia 35 tahun. 

Menurut pengakuan Dokter, keponakannya yang kini masih terbaring di ranjang rumah sakit itu mengalami gangguan di syarafnya karena proses pembiusan yang tidak sempurna. Dibilang tidak sempurna, karena sebelum operasi benar-benar selesai, keponakannya sudah tersadar dari pengaruh obat bius. Entah, apakah tindakan yang diambil Dokter sudah benar, tapi ketika Dokter memberikan obat bius untuk yang kali kedua, ternyata berakibat sangat fatal.

Terjadi sesuatu pada syarafnya.

Dia menjadi sering tertawa-tawa sendiri.

Dan tidak ingat siapapun.

Pagi tadi, lidah saya benar-benar kelu, tak mampu mengucapkan sepatah kata apapun kecuali untaian doa dalam hati agar sang keponakan berangsur sehat dan pulih kembali sehingga bisa bercanda-canda dengan anak pertamanya yang lahir tanpa sorakan gembira orang tua dan kakek neneknya. 

Saya teringat dengan peristiwa serupa yang terjadi pada seorang Ibu yang kini dirawat di rumah sakit Jiwa di Bogor selama bertahun-tahun lamanya. She was a perfect woman, with a perfect smile. Dan kini? Perempuan itu tinggal dalam ranjang berbalut kain sprei putih dan tertawa-tawa sendiri, bahkan berteriak-teriak sampai gaduh.

You have no idea how magical the Doctors’ hands could be…

Tapi saya tidak ingin menyalahkan Dokter, karena bagaimanapun, mereka tidak menginginkan kenaasan-kenaasan itu terjadi. Mereka bisa dituntut malpraktik sampai ratusan juta Rupiah, jadi berbuat salah dengan sengaja adalah pilihan yang tak mungkin diambil. Ya, ya. Kecuali kalau sang Dokter adalah seorang miliarder sinting yang rela mengeluarkan ratusan juta Rupiah dan dijebloskan ke penjara sekalian.

Lagipula, siapa lagi yang saya tuju ketika perut saya membesar karena produksi asam lambung yang berlebihan, kalau bukan seorang Dokter?

Siapa yang bakal menulis resep untuk migrain yang sering saya alami, kalau bukan seorang Dokter?

Dan ya. Kalau kelak saya melahirkan bayi-bayi saya, jujur, saya nggak ingin berkonsultasi ke dukun beranak. Saya akan datang ke Dokter dan meminta pertolongannya untuk proses persalinan saya.

Jadi, bagaimanapun cerita tentang keapesan seorang Dokter, saya tetap menganggap profesi Dokter adalah sangat mulia.

Saya tahu, Tuhan adalah Sutradara di balik segala skenario.
But in Doctors’ hands, I know God gives them the power to heal…

… dan semoga saja, setiap Dokter akan terus memegang sumpah setianya untuk selalu melindungi Pasien dengan segenap nyawanya…

 

 ***

Kantor. Senin. 1 Juni 2009. 5:21 Sore
Mending nulis,
Daripada ngamuk2 nggak jelas gara2 bored di kantor… 🙂 

 

 

 

 

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

27 thoughts on “In Doctors’ Hands…

  1. pasrah dan berdoa aja kali ya La kalo pergi ke dokter 🙂
    semoga yang berprofesi doketr benar2 pegang sumpahnya beneran 🙂

    anw gue juga gak tega liat darah..
    pas adek gue kepleset trus gak sengaja kakinya kena gelas kac.. ngeliat darhnya kepala ku langsung pusing dan berkunang-kunang….

    memang profesi doketr ini dibutuhkan talent khusus juga
    at least talent untuk liat darah ahhaha

    Bener, Ka… gue juga bukan orang yang tegaan, gitu.. Jadi kalo ngeliat darah, langsung bawaannya pingin mual, pusing, tapi sok diberani2in.. hehehe…
    Tos dulu Ka! 🙂

    Posted by Eka Situmorang - Sir | June 1, 2009, 5:39 pm
  2. nonton patch adam deh mbak…niscaya akan ketemu sosok dokter lainn

    Aku udah liat… 🙂

    Posted by imoe | June 1, 2009, 8:04 pm
  3. @Eka…

    sekali kamu punya anak…. kamu akan bisa tahan darah. Siapa yang akan menyelamatkan anak kita kalau bukan ibunya sendiri?
    Aku pun dulu tidak tahan lihat darah. Tapi waktu Riku dan Kai berdarah-darah, masak kita mau biarkan anak kita sendiri?

    Ibuku perawat yang tidak tahan darah, sehingga dia berhenti. Tapi siapa yang menggunting kuku anaknya untuk mengeluarkan batangan pohon, dan memakaikan rifanol? Ya ibuku juga.

    Sama saja darah, muntah, kotoran… begitu itu berhubungan dengan anak, darah dagingmu sendiri… BISA dan HARUS BISA.

    EM

    Posted by Ikkyu_san | June 1, 2009, 8:38 pm
  4. @ Lala…

    ada kasus di Jepang,
    operasi caesar, dibius dan…. si ibu tidak bangun-bangun lagi.
    Dan tidak lama sesudah itu aku harus dioperasi caesar dengan bius total. Tanpa ditemani Gen…. Pasrah
    Dan… memang aku antara terbangun dan tidak, waktu bayi dikeluarkan. Karena aku mendengar tangis bayi….

    Percaya, jangan ragu pada kemampuan dokter itu saja sudah memberikan energi positif.

    EM

    Betapa leganya membaca komentarmu ini, Sis… *sampai speechless*

    Posted by Ikkyu_san | June 1, 2009, 8:42 pm
  5. saya sech taunya the doctor, si valentino rossi ituh lho mbak…

    Hehehe…

    Posted by Myryani | June 1, 2009, 10:36 pm
  6. Mending nulis,
    Daripada ngamuk2 nggak jelas gara2 bored di kantor
    setuju 😀

    btw ngakak baca komennya myryani
    😀

    Nah, bukankah itu ide yang bagus? *eh, kemana aja… kok lama nggak keliatan… sehat, kan?*

    Posted by depz | June 2, 2009, 9:29 am
  7. mending ke apotek deh daripada ke dokter 🙂

    Kenapa, Al?
    Apotekernya lebih cantik dibandingin dokternya? hihi…

    Posted by AFDHAL | June 2, 2009, 10:19 am
  8. Semoga Menjadi Dokter yang mabrur..loh…eh..

    tapi aku lebih suka The doctor…p hubungannya coba, hehehe
    Salam………

    Hihi… aku juga suka sama Dokter… Apalagi kalo dokternya ganteng, baik, kaya…. *halah.. ngimpi.com aje…* 🙂

    Posted by indra1082 | June 2, 2009, 12:00 pm
  9. saya selalu kepengen supaya adik saya yang paling kecil jadi dokter. ga laen, supaya ada tradisi baru di keluarga besar saya.. supaya, kalo ada anggota keluarganya yang sakit – terutama saya, bisa berobat murah.. 😀

    Kalo gitu, aku berobat di adikmu aja, yah… 🙂

    Posted by Billy K. | June 2, 2009, 12:14 pm
  10. Saya juga takut melihat darah … makanya sejak semula sudah tidak bercita-cita jadi dokter meskipun kerabat sering blang saya cocok untuk jadi dokter dari segi penampilan … hehehe 🙂

    Hahahaha…. dan Lala pun setuju kalau penampilan Pak Grandis memang cocok sebagai pemeran dokter di sinetron2… Jadi artis aja yuk, Pak? 🙂

    Posted by Oemar Bakrie | June 2, 2009, 12:57 pm
  11. -saya juga gak mau jd dokter wong saya urukan kok.
    -entar pasiennya malah semaput dengar tertawa dan ngomong saya….Jombang rekkkkk
    -blog mantep,sedep kayak yg punya
    -salam

    Lho… jadi dokter yang urakan itu trademark tersendiri, lho… Jarang2 kan nyuntik pasien sambil akrobat? 🙂
    Blog mantep, mantep kayak yang punya… (alias lemu… hihihi)
    Salam balik…

    Posted by Abdul Cholik | June 2, 2009, 1:13 pm
  12. hmh….mashkah sumpah dokter itu dipegang ?
    http://id.wikipedia.org/wiki/Sumpah_Dokter_Indonesia

    Mari berdoa bersama-sama….

    Posted by frozzy | June 2, 2009, 1:19 pm
  13. nanya nih…Lala di TPG IPB?

    Bukan, Mbak.
    Aku kuliah di Unika Widya Mandala, Surabaya. UMPTN nggak tembus… :p

    Posted by Dewi | June 2, 2009, 4:00 pm
  14. Saya tidak takut darah …
    Saya tidak jijik lihat apapun juga …
    Saya tidak muntah lihat muntah …

    Tapi dari kecil … entah mengapa … saya tidak ingin jadi dokter …
    saya justru phobia lihat ruang praktek dokter … hehehe …

    Saya dari kecil … kepingin jadi Guru …

    Aku bercita-cita jadi dokter anak karena saat itu kepengen ngobatin temen2 sekolahku, Om.. hehehe… Padahal kalo dipikir2, aku bakal jadi dokter Anak buat anak2 mereka, bukan buat mereka, kan? hihi…

    Kalau Om dari kecil kepengen jadi guru, berarti kesampaian dong… Trainer kan sama aja kayak guru, Om…

    Posted by nh18 | June 2, 2009, 4:41 pm
  15. saya takut sama dokter dan mantri suntik….bukan takut ding cuman sungkan aja 🙂

    ya, tapi dokter juga ada yang suka bersembunyi di balik jubah putih dan citra malaikat yang melekat di dirinya sebagai kamuflase….itu yang suka bantu aborsi, menjadikan pasien bahan percobaan obat, gitu-gitu deh…

    Yaiks.. kok bisa sungkan sama dokter dan mantri suntik, sih? Dulu pernah lupa bayar, ya… hihi…
    Nah, itu, dia. Soal dokter yang menyambi praktik aborsi itu… Serem juga… *tapi gimana dengan manusia-manusia yang datang ke sana untuk minta diaborsi, ya? Mereka sama-sama evilnya, kan?*

    Posted by geRrilyawan | June 2, 2009, 5:40 pm
  16. Apapun profesi kita, jika dijalankan dengan baik dan ikhlas akan menjadi profesi yang mulia…, Meski profesi itu tukang becak, dia dapat menolong orang (ibu yang mau melahirkan), ketika sulit mendapatkan kendaraan….

    Betul.. aku setuju sekali dengan pendapat ini… Dengan catatan, pekerjaannya halal… 🙂
    Apa kabar, Nazar? Lama nggak kelihatan….

    Posted by Nazar | June 2, 2009, 5:42 pm
  17. Astaghfirullah .. Innalilahi
    mbak ceritanya serem ah ..
    mana emaknya zia lagi 2 bulan lewat 2 minggu nih
    dan kemungkinan besar juga cesar lagi (*pertama cesar juga sih)
    AAJB ah .. Amit Amit Jabang Barcelona … Hidup Barcelona!!!

    InsyaAllah semuanya lancar ya, Mas… Hore, Zia bakal punya adikk…. *sambil mikir, kok aku nggak punya2 sampai sekarang.. hihi..*

    AAJB! Amit-amit jabang Britney ajaaa… 🙂

    Posted by Mascayo | June 2, 2009, 7:08 pm
  18. Aku juga ga berani jadi dokter, La.. hehehe padahal bokap (alm) adalah seorang dokter.. Untungnya beliau ga maksain anak2nya buat ngikutin jejak beliau.

    Nah.. nggak beraninya tuh, kenapa, Uni? Cerita dung…

    Posted by Ade | June 2, 2009, 11:41 pm
  19. Di sini menjadi dokter adalah benar-benar satu jalan yang luar biasa sulitnya.
    Benar-benar “gift” untuk menjadi dokter dan prosesnya memang dibuat sedemikian rupa supaya ia tidak main-main dengan profesinya.

    Seingatku, tahun-tahun akhir menjelang keberangkatanku kemari, aku sering melihat mobil-mobil kinclong keluar-masuk fakultas kedokteran universitas terkenal di Jogja.

    Mereka adalah calon-calon dokter yang juga mendapat ‘gift’ dari orangtuanya berupa mobil dan sekolah ilmu kedokteran 🙂

    Demi derajat, demi pangkat dan semoga demi kemanusiaan 🙂

    Mungkin karena biaya praktikumnya mahal, Don, jadi perlu kesiapan dana yang cukup… 🙂
    Nggak apa2, yang penting tujuannya baik… Begitu, ya, Don ? 🙂

    Posted by DV | June 3, 2009, 6:35 am
  20. Cita-cita yang mulia juga kok menjadi dokter..
    Semoga seorang dokter adalah benar-benar dokter yang dengan ketulusannya..

    Gue bw dulu hari ini boss.. sebelum bener2 kolaps.. hahaha!
    (I miss you too, gal! 😉 )

    Cita-cita mulia gue yang lain, nih, Chris…. menjadi ibu rumah tangga! Iya. Ibu rumah tangga saja… Lalu sibuk menulis di rumah… 🙂
    Jangan sampai kolaps ya… Go get your target, Babe! Abis kelar semuanya, kita ngobrol2 lagi ya, Cint… Mwah!

    Posted by p u a k | June 3, 2009, 9:15 am
  21. Turut prihatin dengan ceritamu ini La…

    itulah makanya gue suka bawel dan cerewet kalo kedokter…karena gue kan harus tadu apa diagnosanya? obat apa saja yang dia berikan…

    Gue gak pernah menyebut diri gue sebagai pasien, karena akan amat sangat terlihat pasrah…gue menyebut diri gue sebagai konsumen medis. Dan gue berhak tau tindakan apa saja yang di lakukan dokter tersebut terhadap badan gue atau badan anak gue.

    Sayangnya..dokter senior dan sudah tua berkesan arogan..mereka tidak membuka jalur komunikasi dengan konsumen medisnya. Lain halnya dengan dokter yang masih berusia cukup muda…mereka mau berdiskusi…dan somehow..itu bikin lega lo 🙂

    jadi kapan lo mau cerita tentang kunjungan dokterlo yang waktu itu 😛 *ampun La…jangan di tabok:P hihihihi*

    Setuju banget sama komentar lo ini, Boss.. Sumprit, gue suka banget… *tos dulu ah!*
    Kita memang harus jadi konsumen medis yang pintar…. harus tahu apa yang bakal dikasih ke tubuh kita… huaa.. love this very much… *gue jadi inget kalo dulu pernah cerita ini pas Tangguh sakit, ya, Boss?*
    Nah..
    cerita soal kunjungan dokter gue itu…. aduhhh… AIB, tuh, yes! AIBBBB!!! hahahahha…

    Posted by Yessy | June 3, 2009, 9:41 am
  22. Kayaknya kita senasib deh..
    Dulu gw juga pernah bercita-cita menjadi seorang dokter.. tapi gak lulus UMPTN juga.. dan gw bersyukur buat itu hehehe..

    Tapi walaupun ada dokter yg gak menepati sumpah dokternya.. walaupun ada dokter malpraktek.. tapi gw tetep butuh mereka untuk nyuntik gw waktu sakit hehehe..

    Haha… tos dulu, Boss…. sama banget ya … plek ketiplek! 🙂

    Posted by nanzzzcy | June 3, 2009, 10:32 am
  23. @ Mbak EM

    mungkin ya mbak… naluri ibu untuk melindungi dan menyelamatkan itu kan pasti muncul kalo liat anaknya kenapa2… Mau darah ato apapun juga pasti dilakoni…

    Intinya : punya anak itu merubah hidup wanita 🙂

    Jadi?
    Kapan punya anak? 😀
    so sweeet…

    Posted by Eka Situmorang - Sir | June 3, 2009, 4:21 pm
  24. takut nyuntik, takut salah diagnosa, takut operasi..
    and i’m not that good to people sometimes.. takutnya menyakiti hati sang pasien.. orang sakit malah tambah satu penyakit, sakit hati gara2 ketemu dokter yang seperti saya 😀

    Haha.. jadi takut karena itu, tho..
    Bener banget… kita kan berhubungan dengan nyawa seseorang, jadi emang nggak boleh sembarangan dan musti ekstra hati-hati.
    Aku juga takut menyakiti pasien, Uni.
    Takut nggak bisa membalas cinta pasien itu…. hehehehehe…

    Posted by Ade | June 3, 2009, 6:38 pm
  25. Dulu gak pernah becita-cita jadi Dokter.
    Tapi sekarang, ada rasa-rasa “ngiri” gitu tiap kali jalan ma temenku yang dokter, suka disapa orang, “pagi Dok.. halo Dok .. pa kabar, Dok …”

    Kok tiba-tiba panggilan “Dok” itu bisa jadi keren yaa …

    Ya udah…
    Instead of panggil kamu ‘DEK’, sekarang aku panggil kamu ‘DOK’.
    Gimana, Dok? 😀

    Posted by Muzda | June 4, 2009, 2:57 am
  26. dokter memang profesi mulia
    untung saja saya tak jadi dokter,
    soalnya saat menjalani tugas
    saya pasti tdk akan kuat
    menghadapi pasien-pasien
    kereeen and smart seperti
    Lala, Yessy, Tutinonka, Imelda, dll
    hehehe 🙂

    Kalo pasiennya kayak Lala, nih, Bang… dateng ke Dokter Agus, nggak bakal bayar, deh.. hihihi

    Posted by mikekono | June 4, 2009, 8:49 am
  27. Nice writing.. Intinya sih gak ada dokter ataupun orang yg mau malpraktek.. Anyway, jurusan kamu itu berarti yg what so called ahli gizi kan ya..?

    Posted by titiw | June 7, 2009, 10:38 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

June 2009
M T W T F S S
« May   Jul »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: