you're reading...
Fiktif

Hantu di Dalam Ruangan

Ruangan itu berhantu.

Aku mendengarnya dari mulut sahabatku saat kami bercengkerama di sebuah coffee shop sambil menyesap kopi dan mengunyah kentang goreng ala Perancis. Malam itu, Surabaya sedang basah. Hujan tumpah dari langit seolah seluruh isi sungai Brantas dituangkan perlahan-lahan; banyak, tiada berhenti. Coffee shop itu adalah satu-satunya tempat berlindung yang menyenangkan daripada harus terburu-buru pulang ke rumah saat banjir belum lagi surut dan macet di mana-mana.

Jadi, sudah satu setengah jam ini aku ‘terjebak’ di coffee shop tengah kota, dengan seorang sahabat yang sengaja kujemput dari kantornya lalu kupaksa untuk menemaniku menanti hujan. Tentunya dengan embel-embel free-coffee-for-tonite-only.

“Dari mana kamu tahu kalau ruangan itu berhantu?” tanyaku setelah menyedot isi gelas tinggiku untuk yang kesekian kalinya.

“Dia yang cerita,” kata sahabatku dengan tenang.

Oh, ya. Yang dimaksud dengan ‘Dia’ adalah lelaki yang baru kukenal beberapa waktu lalu, di sebuah acara meeting antar kantor pelayaran yang kebetulan diadakan di ruang meeting kantorku. Lelaki dengan hazel eyes, rambut rapi, dan blackberry di tangan yang berdering terus tanpa henti saat meeting usai persis pukul tujuh malam.

Namanya Ahmad. Seorang sales manager, yang juga atasan sahabatku di kantornya.

“Ups, bukan hanya dia yang cerita, sih. Tapi aku pernah melihatnya sendiri…”

Aku terhenyak. Hatiku berdebar.

“Melihat sendiri?” tanyaku.

“He eh.”

“Bagaimana sosoknya?”

Kemudian sahabatku bercerita tentang hantu itu; bagaimana wujudnya, bagaimana kehadirannya, bagaimana seorang Ahmad seringkali tak bisa berkonsentrasi penuh saat bekerja.

“Jadi Hantu itu berambut panjang lurus sepunggung?”

Sahabatku mengangguk.

“Saat kulihat, dia sedang memakai pakaian yang manis sekali. Feminin, sekali. Aku sampai nggak percaya kalau dia adalah hantu yang jahat…”

“Jadi, dia jahat?”

Sahabatku menganggukkan kepalanya sekali lagi.

“Ahmad bilang, dia hantu yang jahat.”

“Kenapa?”

“Entahlah.”

“Hm… tapi lucu banget, ya?”

“Apanya?”

“Kalau hantu itu jahat, kenapa Ahmad nggak pernah mau pergi dari ruangan itu, ya?”

Kami berdua terdiam. Bising suara musik dari stereo set yang terpasang di setiap sudut ruang telah membungkam mulut kami. Yang berbicara hanya intuisi masing-masing yang bertanya, “Iya, ya. Kenapa, ya, Ahmad tetap membiarkan hantu itu berkeliaran di sana?”

**

Ahmad; lelaki dengan hidung tinggi, wajah sedikit berjerawat, kulit bersih kecoklatan, dan senyum secerah pagi yang cerah, adalah jenis spesies lelaki yang akan membuat semua perempuan menoleh untuk yang kedua, bahkan ketiga kalinya, setiap berpapasan dengannya.

Sales Manager sebuah pelayaran terkenal di Surabaya, dengan mobil Honda City terbaru, dan gaya bicara yang kocak tapi berisi itu, telah beberapa kali mengajakku berkencan setelah pertemuan perdana kami di acara meeting bulanan itu.

Kepiawaiannya dalam mengubah suasana yang kaku menjadi lumer, cair, dan menyenangkan adalah satu nilai tambah untuk lelaki yang belakangan aku pikir terlalu sempurna untuk menjadi kenyataan. Bayangkan saja. Dia memiliki segalanya; karir yang cemerlang, otak yang cerdas, dan attitude yang sangat sopan. Bagaimana aku tidak klepek-klepek saat dia mengajakku berkencan?

Sayangnya, ada satu keanehan dari Ahmad yang sangat menggangguku. Ternyata, setelah satu bulan terakhir aku dekat dengannya, aku baru mengetahui kalau dia memelihara seorang hantu perempuan di dalam ruangan!

Gila, kan?

“Dia nggak memelihara, Bawel,” kata sahabatku. “Hantu itu yang nggak bisa pergi dari ruangannya…”

“Harusnya dia panggil ghostbuster atau Pemburu Hantu, deh, supaya hantu itu pergi…”

“Memangnya kamu pikir, kamu siapa?”

“Hah?”

“Kamu tuh ghostbuster yang dia cari, Bawel!”

**

Satu hal, aku bukan ghostbuster. Aku bukan pembasmi hantu, apa lagi pemburu hantu. Lebih baik aku memburu Zara yang sedang sale daripada harus memburu hantu perempuan yang doyan mengganggu dalam ruangan itu.

Tapi kata-kata sahabatku telah mengusikku; mau tidak mau.

Bagaimana mungkin aku adalah seorang ghostbuster yang ditunggu Ahmad sekian lamanya? Kenapa bukan orang lain yang lebih kompeten? Aku bukan perempuan yang punya kemampuan untuk mengusir hantu itu pergi dari dalam ruangan. Aku bahkan tidak punya nyali untuk melakukannya! Dengar ya. Aku tidak punya nyali. SAMA SEKALI!

Aku bukanlah seorang ghostbuster. Aku bukanlah seorang pembasmi hantu. 

Jadi, lupakan saja, Ahmad.

Aku tidak bisa membantumu.

**

Ruangan itu memang berhantu. 

Suatu kali, Ahmad pernah mengajakku ke dalamnya ketika kami usai menghabiskan waktu dengan makan malam yang sangat romantis di bawah timpaan cahaya bulan. Malam itu adalah malam yang sangat menyenangkan buat aku, ketika akhirnya Ahmad menyatakan keinginannya untuk menjadi kekasihku.

Aku mengangguk saja ketika Ahmad mengajakku masuk ke dalam ruangan itu, sepulang dari sana. Menghabiskan waktu di dalam ruangan; membagi kisah-kisah lucu sembari bertukar ciuman di bibir sampai berkali-kali.

Ah, apa salahnya? Dia adalah kekasihku, sekarang.

Ketika sedang asyik bercumbu, mendadak hantu itu datang. Dengan rambut panjang yang halus dan lembut, dengan wajah yang cantik memesona, dan wangi tubuh yang menyesakkan rongga paru-paruku. Ya, Tuhan! Hantu itu terlihat jelas di depan mataku!

Aku tak bisa bernafas. Demikian pula dengan Ahmad yang hanya terbata-bata saat melihat hantu itu datang.

Hantu itu lalu tersenyum, meski kedua matanya memandang kami dengan pandangan yang melukai. Aku gemetar. Aku tidak menyangka akan menemui hantu itu sekarang! Dan ya. Aku pikir, hantu itu hanyalah sosok yang tidak akan pernah kutemui selamanya! 

“Jangan takut…” Hantu itu berkata dengan suaranya yang lembut.

Bagaimana aku tidak takut denganmu, hey, Hantu! Kamu adalah hantu. Hantu. Dan jujur, aku sangat takut padamu!

“Bukan kamu yang sengaja masuk ke sini, kan?” lagi, katanya, dengan lembut.

Aku tidak pernah ingin masuk ke dalam ruangan ini… Tidak, dengan kamu di dalamnya.. Tidak, dengan sosokmu yang berkeliaran di dalamnya…

“Jadi sudahlah… Keluar dari sini dan jangan kembali…”

Aku tak bisa berkata apa-apa. Ahmad juga tidak membela diri sama sekali. Lelaki yang baru saja menciumku habis-habisan itu sama sekali tidak menolong. Dia bahkan tidak berdiri dari sofa dan hanya menundukkan kepalanya.

“Kecuali kamu punya nyali untuk membasmiku, jangan pernah injakkan kakimu di sini lagi…”

Hantu itu berkata dengan nada tenang, nafas yang teratur, namun dengan mata yang memerah marah. Aku tidak punya pilihan lain, selain angkat kaki dari ruangan lalu membanting pintunya keras-keras.

Aku lari sekencang-kencangnya dari sana, sambil merasakan mulutku menghisap cairan asin yang keluar dari kedua mataku. Ya. Ternyata aku menangis ketakutan…

**

“Aku nggak mau nekat jadi pembasmi hantu,” kataku pada Sahabatku, persis di keesokan harinya, saat aku mengajaknya makan siang di Sup Konro dekat kantornya.

“Tapi Ahmad benar-benar membutuhkanmu,” kata Sahabatku.

“Ahmad tidak melakukan apa-apa saat hantu itu hadir,” sindirku.

“Karena dia memang tidak bisa,” belanya.

“Harusnya dia bisa melakukannya, tanpa ada aku sekalipun.”

“Tapi dengan adanya kamu, dia memiliki keinginan untuk mengusir pergi hantu itu…”

“…hh… entahlah.”

“Hantu itu jahat; dia menyiksa Ahmad. Lelakimu itu terkurung di dalam ruangan yang akan menyiksanya, setiap saat, setiap waktu. Tidakkah kamu kasihan?”

“Ah, sudahlah. Aku bukan pembasmi hantu. Aku tidak mau berurusan dengan hantu. Hidupku sudah cukup menyeramkan tanpa hantu perempuan itu!”

Aku menyelesaikan makan siangku dengan cepat. Sudah menjelang pukul satu siang dan aku sudah harus segera kembali ke kantor untuk menyelesaikan laporan yang due besok pagi.

Urusan hantu, jelas bukanlah urusanku.

Sekalipun sejujurnya, saat mengintip ke dalam ruangan itu, aku merasa betah tinggal di sana…

**

Hantu itu bernama Anggia. Perempuan cantik, seumuranku. Sejak aku lari sambil menangis hebat dari ruangan itu, bertemu kembali dengan Anggia adalah hal terakhir yang ingin aku lakukan.

Tapi nyatanya, Anggia datang menemuiku, tepat ketika aku lembur mengerjakan laporan mingguan yang harus diterima head office, di Taiwan.

Jelas, aku bergidik.

Jelas, aku ketakutan.

Aku tidak mau bertemu dengan Anggia. Aku takut bertemu dengannya.

Tapi, dia sudah nampak jelas di depanku. Dengan wajah cantiknya. Dengan senyum di wajahnya. Dengan kedua mata yang nampak bersahabat. Ah, aku tak berkutik karenanya, sehingga aku hanya diam, sembari mencoba menata degup jantungku yang kuharap tidak meloncat keluar dari relnya.

“Kamu tahu kenapa aku datang ke sini?”

Aku menggeleng.

“Supaya kamu tahu, kalau aku adalah nyata…”

Aku terdiam.

“Dan supaya kamu tahu, kalau aku benar-benar tak suka kamu ikut menyesakkan ruangan itu…”

Aku masih tak bisa berkata-kata.

“Kamu tahu, Ratna, kenapa aku tidak pernah pergi dari ruangan itu?”

Aku menggeleng. Heran, kemana semua kata-kata yang biasanya lancar keluar dari mulutku yang bawel ini? Kenapa mendadak aku kehilangan semua koleksi kata-kataku?

“Karena Ahmad tidak pernah mau mengusirku pergi,” katanya perlahan. “Karena Ahmad tak punya nyali untuk melakukannya…”

Aku tak bisa bernafas.

“Ahmad menyuruhmu masuk ke dalam ruangan dengan maksud untuk membuat aku keluar dari ruangan itu, dengan mauku sendiri. Tapi kamu tahu, kan, kalau aku tidak akan pernah mau pergi, sampai kapanpun?”

“…”

“Jadi, lupakan saja semua usahamu untuk mengusirku pergi. Percuma saja. Aku sudah bertahan selama tujuh tahun di dalam ruangan itu dan Ahmad tidak pernah keberatan…”

Anggia berlalu.

Sementara aku hanya menangisi kebodohanku.

***

Ruangan itu berada di dalam hati Ahmad.

Ahmad telah mengajakku masuk ke dalamnya lalu aku mencoba melakukannya dengan segenap keberanianku.

Tapi kini aku tahu, aku takkan pernah bisa berkompetisi dengan Anggia.

Ya.

Anggia. Hantu perempuan itu, adalah kekasihnya selama tujuh tahun yang tidak akan pernah bisa terhapus dengan mudahnya…

***

Kamar. Senin. 1 Juni 2009. 1:55 Dini Hari
Iseng, sambil menunggu kantuk tiba…  

 

 

 

 

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

19 thoughts on “Hantu di Dalam Ruangan

  1. (komen ga nyambung)
    Lala jam 1:55 belum tidur..?? ck ck ck.. pagi-pagi kan kerjaaa.. 😀

    *penakut ga berani baca yang hantu-hantu* hihi..

    Lebih tepatnya, aku baru tidur setengah jam kemudian, Neng Yuyun… hehehe…
    Akibatnya, sekarang ngantuk banget.. padahal kerjaan bejibun pol! 😀

    *FYI, pas nulis cerita ini, aku juga merinding sendiri.. hahahaha.. nulis hantu kok penakut… *

    Posted by Yuyun | June 1, 2009, 7:29 am
  2. hiyyyyy
    ceyemmmm
    *tutup mata*

    Hantunya cakep kok.. suwer… 😀

    Posted by depz | June 1, 2009, 7:46 am
  3. Lala.. kereen.. suka dengan gaya bercerita yang khas Lala *acung jempol*

    Horeee… Makasih, ya, Uni.. *peluk2 Uni yang baik* 🙂

    Posted by Ade | June 1, 2009, 8:00 am
  4. yaaaa….ga happy ending ya….

    He eh, nih… Biar seru ajah.. hehe..

    Posted by Dewi | June 1, 2009, 8:08 am
  5. hehehe… cerita ini jadi mirip sekelompok band baru bernama “kuburan”, the comedian horror…
    kalau cerita ini aku beri judul: the beautiful horror…. hehehe… 🙂

    Hihihi.. baca komentar ini, malah jadi inget sama band yang penampilannya sangar tapi lagunya santai gitu… Nggak nyangka aja kalo mereka dulunya adalah wedding singer… hihi…
    Beautiful horror by a beautiful writer, ya, Uda? *haha… maksa banget*

    Posted by vizon | June 1, 2009, 9:19 am
  6. ini bedanya Lala dengan saya.. kalo begadang, Lala menghasilkan satu tulisan keren kayak gini.. sementara saya? dapet berat badan nambah 1 kg, soalnya begadang dengan cemilan seabrek… 😆

    Hahaha..
    kalo gitu, mulai besok-besok, setiap mau begadang kamu sediain barbel lima kiloan di samping laptop, Say… biar begadang sambil fitnes gitu, dah.. hihi

    Posted by Chic | June 1, 2009, 9:52 am
  7. Ati-ati la, ntar Angia bener-bener ada di belakang kamu gimana? Kamu cuma bisa mencium wangi bunga dan perasaan hadirnya …..kikikikiikiiiiiiiii

    Hiiiiiiii….. Nggak kebayang deh, kalo bener-bener adaaaaa….. *siap-siap bikin untaian kalung dari bawang putih* hahaha..

    Posted by Ikkyu_san | June 1, 2009, 11:46 am
  8. kalo di gue la, anggia itu nama cowok loh.. 😀

    Di mana? Di mana????
    Anggia bukannya nama cewek, yah? *atau temen SMA gue itu benernya cowok yah? huakakakaka*

    Posted by Billy K. | June 1, 2009, 1:18 pm
  9. jangan sering iseng-iseng ya….kalo sering iseng gini deh, bikin tulisan hantu-hantu’an…

    ihhhh, takuttt…

    Haha.. daripada aku isengin kamu yang lagi sibuk, Al? Pilih mana, hayo? Hehe….

    Posted by AFDHAL | June 1, 2009, 1:27 pm
  10. emmmm… lebh cantik mana ma hantuny !?!? hehehe 🙂
    sedikit demi sedikit, hantu itu akan terlupakan kok 🙂

    Haha… cantikan hantunyaaa… 🙂

    Posted by afwan auliyar | June 1, 2009, 4:43 pm
  11. eh koq bisa mirip dengan nama seseorang yah… Anggi juga namanya…..

    Ups… padahal aku nggak sengaja, lho, Bang.. hehehe…
    Btw, apa kabar? Kangen nih lama nggak ngobrol2.. 🙂

    Posted by Panglatu | June 1, 2009, 7:50 pm
  12. Huaa.. Padahal dari judul udah horor tapi kenapa gua tetap nerusin baca ya? :p Untung bacanya siang2 jd bs ampe tuntas, ha3 😀

    Tapi isinya nggak horor, kan, Ndah? 🙂

    Posted by Indah | June 2, 2009, 2:58 pm
  13. Fiktif ???

    OK … !

    Komentar yang singkat, padat, jelas… mirip telegram! 🙂

    Posted by nh18 | June 2, 2009, 4:42 pm
  14. keren…..kirain horor.
    susah emang ngelawan hantu yang kayak gini…apalagi kalo masih ada. ngelawan yang masa lau aja sulit….(lho kok curcol?) :mrgreen:

    Hehe… makasih yah…
    Makasih udah dibilang keren..
    makasih udah curcol di sini.. hihi..
    Tapi memang bener; melawan masa lalu aja sulit, apalagi berkompetisi dengan yang masih living and breathing, ya? 🙂

    Posted by geRrilyawan | June 2, 2009, 5:48 pm
  15. my takut ah ma hantu,,,

    Saamaaaaa…

    Posted by Myryani | June 2, 2009, 7:18 pm
  16. asemik! tebakan gue salah … kirain …

    kikikikikik….. maaf, Anda belum beruntung.. 🙂

    Posted by mascayo | June 2, 2009, 9:33 pm
  17. tp karena ini fiktif,,,,,,,,,,

    lanjutkan,,,,,,,,,,,,,,,

    hihihi… silahkaann…

    Posted by Myryani | June 2, 2009, 11:37 pm
  18. Sebenarnya sih aku udah baca ini di FB.. tapi demi mengejar ketertinggalan angka dan menaikkan akumulasi, aku berkomen 😀
    *lebay*

    Gak kok, Mb’ .. aku gak pernah berambisi untuk mencapai posisi itu, argghh ..

    Cuma mo bilang. TULISAN INI KEREN BANGET, dan capslock-ku gak eror.
    Gak sempet komen di FB, coz tiba-tiba listrik di rumah njeglek

    😀

    Hehe…
    Ayo, Dek… Bulan kemarin kamu yang juara… Jangan mau kalah… Ntar bakal aku kasih hadiah.. hehehe…
    Makasih buat pujiannya. InsyaAllah bisa bikin tulisan-tulisan yang KEREN lagi.. (maklum, moodnya suka datang dan pergi, malah kadang mendadak njegleg juga kayak listrik di rumahmu.. hihi)

    Posted by Muzda | June 4, 2009, 3:01 am
  19. morning La….
    kalau ‘hantu’nya Lala
    siapa takut……………..
    🙂

    Hehe… *GR deh*

    Posted by mikekono | June 4, 2009, 8:51 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

June 2009
M T W T F S S
« May   Jul »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: