you're reading...
It's About Me, Penting Ga Penting...

Fashion Kills!

a3909black-stiletto-postersSuatu kali, saya berjalan-jalan dengan seorang sahabat ke suatu mal. Dengan pakaian yang (menurut saya) super trendy, kami berdua berjalan seolah-olah pemilik Mal yang  sedang menginspeksi seluruh isi Tunjungan Plaza!

Ya. Begitulah yang terasa di dalam pikiran saya ketika saya sedang merasa cantik. What can I say, perempuan selalu ingin terlihat cantik, kan? Memangnya kenapa diciptakan make up, alat pengeriting atau pelurus rambut, stiletto yang menjulang tinggi seperti menara Eiffel *okay, lebay, nih! hehe*, dan baju-baju dengan model yang selalu berganti setiap bulannya? Karena perempuan ingin terlihat menarik, that’s what it’s all about.

Jadi, saat itu, saya dan seorang sahabat melenggang dengan percaya dirinya menyusuri isi mal. Mengintip koleksi-koleksi sepatu, mengaduk-aduk koleksi buku di Gramedia, mencoba beberapa baju, lalu duduk di sebuah coffee shop untuk menyesap kopi favorit, semuanya kami berdua lakukan dengan sangat percaya dirinya. 

Well, saya memang sedang merasa cantik dengan rambut pendek saya, dengan celana jeans yang berpotongan pensil, tank top berwarna abu-abu di balik cardigan warna hitam, serta tentu saja… my perfect stiletto sembilan senti yang telah setia menemani saya kemana-mana.

Sahabat saya? Ho, ho. Dia jauh lebih nendang. Blouse cantik berwarna krem kalem dengan renda-renda, celana jeans dengan model yang sama, sabuk besar melilit pinggang rampingnya, dan tak lupa, her perfect stiletto, sembilan senti pula, yang hari ini membuatnya nampak jauh lebih jangkung dari sebelumnya.

Enough said, I felt so much confidence than ever… and, damn, it was a good feeling!

Berjalan-jalan sambil sesekali melirik ke kaca, menikmati refleksi di kaca-kaca etalase lalu senyam-senyum sendiri karena merasa cantik… haha! Najis banget, kan? Tapi itulah yang terjadi saat itu. Betapa saya merasa sangat percaya diri dengan sepatu kebanggaan saya yang membuat tubuh saya menjadi setinggi 168 sentimeter. Paling tidak, I looked thinner! Kurusan, Boss! Dan hey. Buat perempuan yang tubuhnya montog seperti saya, terlihat kurus adalah kebanggaan tersendiri. Catet!🙂

Tapi, ya, ya, ya. Untuk mendapatkan semua kenikmatan itu, semua perasaan GR berlebihan itu, saya musti merelakan kaki saya pegel-pegel karenanya! Berulangkali mampir ke suatu tempat untuk meluruskan kaki, lalu berjalan lagi menuju tempat lain. Ketika mulai capek lagi, saya segera berburu tempat duduk dan mulai memijit kaki saya lagi.

Haha. That annoying, kan?

Lalu saya teringat kembali dengan apa yang selalu disebut orang, that, “Beauty, is supposed to be painful!”

Ya. Kalau ingin terlihat cantik, ada harga yang musti dibayar. Terkadang memang tidak dibayar dengan uang, tapi dibayar dengan sesak nafas (saat memakai korset dengan tujuan supaya perut nampak rata), kelopak mata berat (saat memakai bulu mata palsu), perut menahan lapar (karena diet ketat ala Kambing seperti yang kini saya lakukan — ya, ya, sekarang saya ‘merumput’, Sodara-Sodara!), atau kaki yang pegel-pegel (saat memakai stiletto yang bisa membuat perempuan terlihat elegan).

Beauty is supposed to be painful.

Terkesan dull and stupid, kan? Seolah perempuan (okay, saya, deh!) adalah pemuja penampilan fisik semata, padahal yang terpenting adalah good personality and good manners.

Tapi apakah salah kalau seorang perempuan ingin memiliki tiga paket itu semua? Kepribadian yang menyenangkan, perilakunya yang sopan, dan penampilannya yang drop dead gorgeous? Apakah perempuan yang ingin mempercantik diri semerta-merta adalah perempuan bodoh yang mengagung-agungkan fisik di atas segala-galanya?

Ketika saya berniat untuk menurunkan berat badan dan mengubah pola makan saya, banyak yang berisik, “Kenapa musti diet sih, La? Segitu banget, deh, sama penampilan?”

Let me ask you something. Kalau saya merasa akan lebih cantik dengan tubuh yang tidak terlalu montog, would it be a crime?

Ketika saya memakai stiletto cuman karena saya ingin terlihat elegan dan percaya diri saat berjalan-jalan di mal, banyak yang menertawakan saya lalu bilang, “Aih, kayak mau kemana aja, sih, Neng!”

Let me tell you something. Apakah saya meminta mereka untuk memijit kaki saya saat sedang pegal-pegal?

Maksud saya adalah.. mind your own business. Itu bukan peduli, Sayang. Maaf. Setidaknya bukan itu yang saya dengar di telinga saya ketika mereka mengucapkan kalimat-kalimat seperti itu.

Lagipula, saya memakai stiletto ketika sedang berjalan ke mal, dan bukannya ketika saya sedang ikut lomba lari maraton, kan? Atau, saya memang sengaja menguruskan badan karena merasa sudah terlalu montog. Toh, tubuh saya sekarang tidak sekurus fotomodel ceking seperti Indah Kalalo, kan? Hell, kalau Indah masih ingin diet segala, saya juga nggak bakal protes kok! Silahkan saja… 

Tapi, sudahlah.

People may say whatever they want to say. Saya tidak bisa melakukan apa-apa sekalipun orang-orang mencemooh ketika saya merasa cantik dengan stiletto, bobot tubuh yang berkurang beberapa kilo, rambut keliwat pendek, dan wajah terpulas make up yang beberapa kali saya touch up terutama setelah sembahyang.

Mereka bilang, “Fashion kills you.”

Tapi saya bilang, “Yes, it kills me. But I’ll die way more beautiful than you…

Haha. Najis banget, kan?🙂

***

Kantor, Kamis, 28 Mei 2009, 2.17 Siang
Akhirnya bisa nulis blog juga… ffiiuuhhh! :D 

 

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

14 thoughts on “Fashion Kills!

  1. yeah..selain menyiksa jg menguras kantong niy. Tapi merupakan kepuasan tersendiri untuk berdandan cantik yah jeung hehehehehe. Beruntunglah mereka yg dah terlahir dengan bentuk badan bagus, jd g prlu diet, beruntunglah mereka yang sudah proporsional tingginya jd ga perlu pake stilleto etc
    Akh bagaimanapun jg, hrs tetep bersyukur, dibalik kekuranganku tersimpan senyum yg manis n inilah yg membuatku terlihat cantik
    *ngaca-ngaca sndiri*😀

    Sini, aku pinjemin cermin.. hehehe… Mari ngaca bareng2…
    Cakep cakep benel cih…😀

    Posted by ipi | May 28, 2009, 3:06 pm
  2. yeah.. i agree with u darling..
    gw juga akan melakukan hal yg sama untuk ngebuat diri gw jauh terlihat cantik dan lebih percaya diri.. walaupun memang ada harga yg harus dibayar hehehe..

    tapi bodo amat, yg penting saat gw berjalan.. semua mata tertuju kagum ke gw.. hahaha.. *lebay*

    Tos dulu ah!🙂

    Posted by nanzzzcy | May 28, 2009, 4:16 pm
  3. Wakakakak, kalimat penutup elo mantaps, Laa, ahahahaha😀 Wah, sesama Indah kok beda body ya antara gua and si Kallalo itu, hi3 :p Diet ala kambing tuh apaan sih, Laa? Makan sayur aja and ga boleh makan daging?

    Kalimat penutup gue emang harus dimasukkan dalam buku katalog kecantikan tuh, Ndah! wakakaka..
    Soal beda body? haha… gue juga beda body sama Luna Maya, padahal jelas2 dia kembaran gue..😀
    Diet ala kambing tuh, gue harus makan sayur2an doang setiap hari… Daging cuman boleh sepotong… Nggak boleh makan nasi, roti, mie… Pokoknya RUMPUT! hehe

    Posted by Indah | May 28, 2009, 4:53 pm
  4. it’s all between your ears, mbak lala
    😀

    Hm…🙂

    Posted by silent reader | May 28, 2009, 5:01 pm
  5. Saya pake sepatu paling tingginya hak 7 cm..itupun dulu sekali….belakangan semakin pede, lagipula pake sepatu nyaman tapi tetap bisa enak dilihat…rata2 hanya 5 cm.
    Dan makin berusia, hak makin rendah…hehehe

    Wah, Bunda Enny.. Lala kangen sekali sama Bundaaa… huhuhuhu…
    Soal sepatu itu, semakin berusia, hak semakin rendah? hehe… mungkin Lala juga bakal begitu, Bunda… Makanya ini lagi menikmati usia muda! tsah.. gaya bahasaku… hehe

    Posted by edratna | May 28, 2009, 5:15 pm
  6. wew,,,
    cuantik ituh mmg sakit yak mabk??

    huehue,,,,

    Sakit banget, Dek..
    Apalagi cantik kayak mbakmu ini.. banyak yang sirik!
    huakakaka.. mbakmu lagi lupa ngaca nih..😀

    Posted by Myryani | May 28, 2009, 10:11 pm
  7. Huaduuuhhhh… Mungkin ga’ ya tetep cantik tanpa stiletto? :p

    bisa kok… bisa.. itu kan tergantung dari pola pikir aja… Kalo aku, sih, the taller I am, the prettier I will be… hihihi… *tapi hari ini aku pake flat shoes! hihi*

    Posted by Neng Keke | May 28, 2009, 10:37 pm
  8. Wao, 9 cm. tinggi banget tan??? BTW pertanyaan2 yang tante anggap mengusik (knapa harus diet , dll) menurut saya ada yang bener2 peduli dan ada juga yang cuma main2 aja tergantung orang yang menanyakan.
    Kalo ada yang menanyakan sesuatu dengan kenapa dengan serius, aku rasa orang 2 itu bener2 peduli ama tante. Hanya menurut ku aja kok tan. tapi kalo kalimat terakhir udah bener2 ga bisa diubah lagi ya gimana lagi, aku ga mau ikut-ikutan.
    Tapi menurut ku (dengan melihat foto tante), tante lala cantik kok. Inner beauty tante itu keluar..😛 suwer….

    Hehehe…
    mereka ngomonginnya dengan nada yang nyebelin banget, nih, jadinya aku malah ngerasanya itu bukan care lagi namanya.. ya, ya, kali-kali emang aku yang keliwat sensitif yah.. hehe..
    Stiletto 9 cm udah tinggi? aku pernah punya yang 11 senti… hihihi…
    Makasih ya udah dibilang punya inner beauty… *no rekening kamu berapa?* hehe

    Posted by Soni Satiawan | May 29, 2009, 12:35 am
  9. Wuah…Mbak, sejak menikah beberapa hari lalu, aku berhenti diet, dan makan semau dan semua..hehehe..mulai dari makanan berat sampe aneka cemilan. basah kering, asin manis, besar kecil. Pokoknya semua. Untungnya, tulisan Mbak yang ini bikin aku termotivasi untuk ngatur pola makan lagi. Mudah-mudahan belum telat, ya…sepagi ini, jam 8, aku udah makan nasi dan roti bakar soalnya…hihih!

    Posted by miSSiSSma | May 29, 2009, 8:17 am
  10. tidak dipungkiri, mindset kita sudah terbentuk dg paradigma bahwa cantik itu adalah tinggi langsing, kulit putih mulus, rambut panjang terurai, yg tentunya itu tidak berlaku di negara berkulit hitam, hehe…

    maka, demi itu semua, banyak perempuan rela “menyakiti” diri sendiri… wajar sajalah, toh itu manusiawi…

    tapi, benarkah semua lelaki menyukai perempuan dg stilleto? aku adalah jawabannya. aku sama sekali tidak suka. capek banget bila mengiringi perempuan menggunakan hak tinggi bila berjalan. ribet…!

    sorry La… aku melarang uni-mu untuk berhak tinggi, bikin diriku repot… egois ya kedengarannya… tapi, bukankah kalian berdandan untuk menyenangkan lelaki…?🙂

    Posted by vizon | May 29, 2009, 8:35 am
  11. beauty is pain, darlene
    itu quot seumur idup yang galekang oleh waktu

    Posted by jones | May 29, 2009, 9:25 am
  12. Nggak ada makan siang yang gratis. Ada barang ada harga. Mau keliatan cantik ya harus menderita. Tinggal pilihan setiap individu, mau semenderita apa yang rela dia alami untuk terlihat cantik. Pakabar La???

    Posted by Hery Azwan | May 29, 2009, 10:03 am
  13. Hi La.. lama gak mampir nich gue…
    btw beauty is a pain indeeed ! Hahahhaha
    but its worth the feeling u mention : the sexy feeling !!
    and the bull’s eyes of the men who watch us

    huahhahahha
    mantaaaps !

    Posted by Eka Situmorang - Sir | May 29, 2009, 10:18 am
  14. sepakat Fashion kills you
    sepakat bangetttt….makanya aku kekantor selalu pake seragam
    (emang ada hubungannya yak)

    Posted by AFDHAL | May 29, 2009, 6:52 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

May 2009
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: