you're reading...
Fiktif

Cinta Kekasih

‘Seberapa dalam kamu mencintaiku?’
‘Jangan pernah bertanya.’
‘Mengapa?’
‘Karena cinta bukan hal-hal yang terukur, tapi soal rasa, soal hati.’
‘Tapi yakin kau memang jatuh hati?’
‘Aku rasa kamu sudah mengetahuinya…’

***

Adalah langit. Mendung, kelabu, atau cerah seperti langit di musim kemarau, yang bercerita lebih banyak tentang aku, penantianku, kepedihan dan kelaraan karena sendiri yang tak kunjung habis, kerinduan meletup-letup hampir dalam setiap detik yang berlalu, kepada dia, pemilik hati dan penyempurna kebahagiaan duniawiku.

Adalah langit yang kemudian menjadi sosok bernyawa ketika aku menangis, ketika aku tersipu karena rayuan dari mulut sang Pencinta, atau ketika aku merasa letih meredam rajaman rindu yang tak putus-putus karena bentangan jarak dan waktu.

Langit menjadi satu-satunya penghiburan akan ketiadaan kekasih ketika saat terbutuhkan, menjadi pelukan paling nyaman ketika hari-hari kelabu tanpa sentuhan, dan menciumku dengan tenang sampai aku terlelap kembali dalam ketegaran penantian.

Karena dia, yang kucintai, yang hingga detik ini masih menjadi seseorang yang begitu ingin kujadikan pasangan sejiwa, terlalu berharga untuk terlupakan begitu saja. Karena dia, yang harum napasnya adalah udara untuk napasku, masih menjadi kelopak-kelopak untuk benih cinta yang tumbuh seiring waktu di dalam ruang-ruang hatiku. Karena dia, yang jauh, tapi masih menggenggamku dengan hati yang penuh cinta.
Karena dia, aku menganggap langit adalah teman sejiwa.

‘Aku ingin selalu ada di dekatmu.’
‘Siapa yang tak ingin? Aku juga.’
‘Rasanya hampa ketika kamu tak ada, letih dan ngilu semua persendian setiap menyadari betapa jauh kekasihku berada.’
‘Percayalah, aku tidak sejauh itu.’
‘Maksudmu?’
‘Karena aku di sini, di dalam ruang-ruang jiwamu. Menjelma dalam setiap bilik-bilik jantungmu. Ada dalam setiap hembusan napasmu. Percaya. Aku ada di mana-mana, jika kamu mengizinkan hatimu untuk meraba, menyentuh, dan merasa.’

Ramai, ulang mengulang mengatakan bahwa aku sendiri. Ketika sahabat-sahabat mulai menyangsikan kehebatan cinta di saat semua serba digital, semua tak lagi monolog, aku menyepi sendiri di bawah naungan langit sore yang kadang-kadang membawa awan hangat yang seperti ingin memelukku yang membutuhkan satu kekuatan untuk bertahan.

Hampa benar.

Seperti pesawat ulang alik yang membawa penumpangnya melayang-layang tanpa kendali, bentur ke kanan kiri, sampai tiba waktu untuk bisa menyesuaikan keseimbangan, aku menemukan panel untuk membuatku bisa berdiri lagi.

Karena dia, yang tak pernah berhenti mengurai kata cinta dan menjanjikan kebahagiaan tak berujung bila saatnya tiba.

Apa yang lebih indah dari janji kekasih?

Apa artinya penolakan dari sahabat ketika kekasih berjanji untuk selalu sehati?

“Jangan mendustai diri sekali lagi.” Sahabatku berkata.
“Aku tidak pernah berdusta.”
“Kamu akan lebih bahagia jika dia ada di sini, kan?”

Ah, aku tak tahu harus menjawab apa…

Kekasih-kekasih. Datang pergi, mengambil yang ada, meninggalkan yang tak ada.

Berulang kali aku mengurai pedih, mengatasnamakan cinta pada pengorbanan, padahal sia-sia ketika hari penuh romansa tak lagi berulang.  Mereka datang dalam topeng penuh kepedulian akan hati yang rapuh karena waktu. Merengkuh semua hati, membelai-belai penuh rasa kasih, membawa semua harapan membumbung tinggi, pergi, melayang, seakan besok adalah hari akhir dan aku akan masuk surga, tetapi mereka malah berlari, jauh, tak lagi peduli, dan menganggap bahwa sudah waktunya untuk mengangkat sauh dan berlayar kembali.

Tak hanya satu. Atau dua. Mungkin lebih dari tiga kekasih yang membuat hatiku seperti tertanam ranjau, di mana ketika seseorang yang akan datang nantinya akan terletup dan kesakitan karena aku sudah tak bisa lagi membedakan. Sungguh-sungguhkah dia mencintaiku? Atau hanya mencoba mereguk secangkir madu yang selalu berusaha kupenuhi sewaktu-waktu?

“Aku hanya tak ingin kamu sakit hati… Lagi.”
“Aku juga tidak ingin. Hanya orang bodoh yang menginginkan untuk jatuh di lubang yang sama untuk kesekian kalinya, kan?”
“Maaf. Tapi seingatku, ini bukan yang kali kedua, kan?”

Aku diam.

“Atau yang ketiga? Atau bahkan yang keempat?” Sahabatku memelukku. “Tidakkah kamu belajar? Mengapa kamu harus mengorbankan dirimu hanya untuk meraih satu kesempatan yang hasilnya tak terlalu menguntungkan?”

Urusan cinta, tidak seperti matematika. Atau ilmu eksakta yang hasilnya pasti. Ada kalanya cinta bisa menjadi sangat ajaib karena polah dan tingkahnya, di mana hasil untuk satu orang akan beda untuk orang yang lain.
Keajaiban cinta itulah yang menjadi ilmu eksakta untuk penantianku yang tak kunjung berakhir. Kujadikan tempat acuan bahwa cinta memanglah ajaib, paling tidak untuk seorang aku yang berkali-kali hatinya meradang perih karena harapan yang terbang menjauh tinggi.

‘Semua meragukan kita, Sayang.’
‘Semua? Termasuk kamu?’.
Ya… aku, terkadang… atau sering? Entahlah. ‘Bantu aku.’
‘Percaya padaku.’
‘Aku berusaha.’
‘Jangan hanya berusaha, tapi berikan seluruhnya.’
‘Aku tak bisa.’
‘Kenapa?’
‘Karena kepercayaanku untuk orang lain sudah tak lagi utuh…’

Aku telah kehilangan hatiku. Dalam suatu episod di masa lalu yang menghantarkan pedih tak kunjung habis. Melangkah lagi bukan hal mudah untukku, ketika hati dan perasaanku mulai beku… dan juga ketakutan…

Ah, aku ingin percaya padanya.
Memberikan dia tak hanya sekeping hati, tapi utuh kedua-duanya. Terserah apa yang akan dia perbuat dan lakukan pada hatiku, karena aku yakin, ingin sekali yakin, bahwa apapun itu tak akan menyakitkan dan membuatku mengejang karena luka yang memerah basah.

Tapi pembentukan masa lalu yang tak bahagia membuat aku memandang cinta adalah luka. Esensi sebuah cinta adalah pengorbanan untuk mencapai kebahagiaan yang tidak anti klimaks, tapi percaya, adalah hal yang sangat berbeda.

Aku percaya, cinta tidak selamanya harus menyakiti. Aku hanya belum percaya bahwa dialah yang bisa memberiku sebuah cinta dalam definisi dan deskripsi yang paling sejati.

Dalam kepedihan menanti masa depan, seorang sahabat mengusik ketegaran.

“Jika ada seseorang yang benar-benar mencintaimu di sini, apa yang kamu lakukan?”
“Dari mana aku tahu dia benar-benar mencintaiku?”
“Pertanyaan yang sama. Dari mana kamu tahu kekasihmu itu benar-benar mencintaimu? Jika cinta bukan ilmu eksakta di mana sebuah kejadian A adalah A, dan B adalah B.”
“Aku hanya merasakan cinta darinya ada di mana-mana.”
“Cukup hanya merasa?”
“Iya.”
“Lantas kapan dia akan mewujudkan keindahan yang paling indah itu? Yang kutahu, kalian menjalani semua ini seperti air yang mengalir menuju muaranya sendiri..”

Itulah mengapa aku selalu bertanya padanya tentang seberapa dalam dia mencintaiku. Bukan untuk membuktikan bahwa dia memang benar-benar menginginkan aku untuk terus bertahta dalam hari-harinya, tapi lebih untuk menguatkan ketegaran dan ketangguhanku dalam menanti masa depan yang kan terjelang bersamanya.

Aku merapuh, jujur aku mulai merapuh. Ketika sahabat mulai meragu, ketika bayang-bayang kabur masa lalu tak lagi menjadi intermezzo melainkan bingkaian hari-hari letih karena kekasih yang tak bisa terengkuh dalam satu pelukan, dan ketika kekasih menjawab bahwa dia tak pernah dengan hasrat yang sungguh-sungguh untuk datang dan membawaku pergi… saat itulah aku merasa, aku tak bisa merasa apa-apa…

‘Dekat padaku, Sayang, rasakan aku. Tidakkah kamu merindukan hari-hari itu?’
‘Ketika kamu bisa terpeluk sempurna dalam satu rangkulan saja? Tentu.’
‘Tapi kamu tidak melakukan apa-apa…’
‘Apa yang kamu inginkan dari kita?’
‘Aku ingin memiliki kamu seutuhnya.’
‘Kamu sudah.’
‘Tapi di antara kita ada bentangan jarak yang tak tertempuh dalam satu kedipan mata.’
‘Aku tahu, Sayang. Aku tahu.’
‘Jadi lakukan sesuatu.’
‘Apa yang bisa aku lakukan? Katakan.’
‘Datanglah kemari.’
‘Untuk melegakan satu keinginan paling dini dan melupakan bahwa yang indah-indah itu bisa muncul prematur lalu mati?’
‘Aku tak tahu, Sayang. Kamu membisukan semua keinginanku.’
‘Maaf. Aku hanya mencoba untuk mengatakan padamu, bahwa semua akan tiba, jika memang waktu mengizinkan.’

Sahabatku berkata:

“Dan kau percaya?”
“Antara iya dan tidak.”
“Kenapa?”
“Karena aku tidak tahu, apa yang harus kupercaya. Intuisi? Kata hati? Dirinya yang terlihat begitu tulus? Atau bayangan masa lalu yang datang pergi tanpa kendali? Jujur, aku tidak tahu.”
“Sampai kapan kamu memberinya kebebasan untuk bermain-main dengan waktumu?”
“Bermain dengan waktuku?”
“Iya. Karena dengan tidak melakukan apa-apa seperti hari ini, artinya sama saja dengan bermain-main dengan waktu, umur, dan mimpi-mimpimu.”

Siapakah yang benar? Mungkinkah intuisi berdusta?

Aku sangat mencintainya, berusaha untuk memberikan sepenuh hatiku untuknya. Merambat dalam setiap nadinya dan selalu berdoa semoga selalu ada aku di sana. Yang kutahu, dia mencintaiku, dia mengharapkanku, dia berdoa agar Tuhan memberikan kesetiaan pada hatiku, tapi satu hal yang ingin kudengar dari mulutnya yang hingga kini tak pernah sekalipun muncul untuk mampir di gendang telingaku, yaitu kata-kata tentang ketakutannya akan jarak. Atau tentang kelaraannya karena jauhnya aku. Kuingin mendengar ketakutan-ketakutan itu, kelaraan-kelaraan yang aku rasakan setiap putaran jam berlalu, karena dengan begitu, aku tahu, dia sangat menginginkanku seperti aku…

Dia hanya berkata:

‘Tak perlu merasa jauh, karena kita dekat. Karena jauhnya kamu, masih bisa tertempuh.’
‘Tapi aku takut kamu merasa lelah…’
‘Untuk orang yang aku cintai, apa bisa aku merasa lelah?’
‘Kuharap tidak.’
‘Aku tidak lelah, atau takut, atau meragukan apa aku bisa melewati semua ini… karena kita dekat.’
‘Kita jauh, Sayang.’
‘Tidak. Kita dekat. Sangat dekat.’
‘Ng… maksudmu?’
‘Coba lihat langit itu…’
Aku diam. ‘Kau harus tahu, Sayang, jika aku merindukanmu, aku hanya memandang langit itu dan kerinduanku padamu sedikit demi sedikit akan terobati…’
‘Maksudmu?’
‘Karena kita masih ada di bawah langit yang sama. Langit yang kamu lihat, adalah langit yang kulihat. Meski mendung, meski kelabu, atau cerah…langit itu adalah langit yang sama. Percayalah, kita akan selalu merasa dekat…’

Sejak saat itu, aku mulai berhenti meragu. Dan tahu, apa yang harus kulakukan untuk menghentikan degup-degup aneh karena tak kunjung bertemu.

Dia benar.

Langit kami adalah langit yang sama. Langit yang menaungi kotanya adalah langit yang menaungi kotaku juga. Meski terpisahkan ratusan kilometer yang membuatku harus menanti berjam-jam untuk bertemu, tapi dengan satu keyakinan bahwa kami masih ada di bawah langit yang sama, akan menyempitkan jarak antara aku dan dia.

Ketulusannya.
Ya. Aku melihat itu semua dalam binar-binar pengharapan di matanya, ketika terakhir kami bersua, dan kami melekat seperti dua insan manusia yang terlahir tak sempurna. Kami seperti tak ingin terpisahkan, tapi kami menyadari bahwa kami memang harus berpisah.

‘Janjilah padaku untuk tak putus-putus bermimpi.’
‘Kau juga harus berjanji untuk tak putus-putus mewujudkan mimpi itu.’
‘Satu hal yang pasti, jangan pernah meragukan aku, atau bertanya-tanya kapan aku akan menjemputmu, karena, Sayang… aku juga menginginkanmu, sangat.’

Selingkar cincin di jari manis, sepotong janji untuk selalu kembali, sekecup hangat bibir basah di atas bibirku, dan sentuhan lembut di bawah tengkuk, membuatku tahu, jawaban apa yang bisa kuberikan untuk sahabatku yang meragukanku dengan bertanya:

“Kamu percaya semua kata-katanya?”
“Aku mencoba. Karena aku tahu, tak pernah ada lelaki-lelaki di masa laluku yang bisa membuatku bergetar ketika mengatakan bahwa dia bersyukur telah bertemu dengan perempuan seperti aku.”

Sahabatku terdiam. Aku memandangnya.

“Dan satu hal yang pasti, jika ini lagi-lagi adalah sebuah kesalahan, aku tak akan menyesalinya. Karena aku tahu, ini adalah kesalahan paling manis yang bisa aku lakukan…”

Aku percaya. Setiap jalinan waktu akan menjanjikan kenikmatan, meski awalnya perih atau ujungnya malah tidak bahagia. Ada sebuah makna yang terselip di antara tetesan keringat atau air mata, ada sebuah arti dalam setiap kesal dan lara.

Ya, kini aku percaya. Bahwa cinta akan tetap bisa bergelora seperti yang kita mau. Atau redup seperti yang kita inginkan. Tapi cinta juga salah satu misteri kehidupan yang ujung dan pangkalnya tak jelas, kita hanya bisa merasakan dalam hati apa esensi dari kehadirannya dalam hidup kita.

Yang kutahu, aku sangat percaya bahwa keajaiban itu terjadi sekali lagi. Keajaiban yang paling ajaib, ketika aku bertemu dengan dia yang sangat kucintai. Dia, yang semalam telah memberiku kesempatan pada Tuhan untuk berterimakasih padaNya, bersyukur di atas hamparan sajadah dan memohon semua restu atas cinta yang mulai tumbuh di hatiku ini.

Dia, yang kini aku yakin betul, juga sangat mencintaiku.

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

15 thoughts on “Cinta Kekasih

  1. panjang amat siy…ntar baca lagi ya….
    pantengin nomor satu komentar asyiiikkk…

    EM

    Posted by Ikkyu_san | May 19, 2009, 3:24 pm
  2. aih La…

    komennya langsung di telpon aja yaaaaaa😛

    Posted by Yessy | May 19, 2009, 3:55 pm
  3. Lagi dalam bayang2 cinta rupanya. Panjang sekali.😀

    Posted by Hp | May 19, 2009, 3:58 pm
  4. Siapa dia itu La..? si Fe itu balik lagi ?

    Btw setuju untuk pernyataan bahwa cinta itu bukan maktematika karena ada rasa disana.
    rasa yang tak terukur.

    Salam, EKA

    Posted by Eka Situmorang - Sir | May 19, 2009, 4:59 pm
  5. ah,,, ternyata fiktif toh??

    Posted by Myryani | May 19, 2009, 6:56 pm
  6. Hm…
    Bahasa jiwa yang dalam banget..
    Sebuah kerapuhan, tanya dan upaya tetap berjalan dengan kepala tegak..
    Manusiawi..

    Panjang, tapi mengalir deras..
    Terobang-ambing arus sungai bahkan sampai ruang hampa udara
    Alur nya asyik banget.
    Another good and naturally expresive words from Lala.

    I like the optimism at the end. Nice..
    Betul gak ada kesalahan jika kita gak pernah mencoba (lagi).
    Walaupun tentu, gak ada yg suka efek perihnya kesalahan itu.
    Namun, gak ada yg “real” kalo gak berani mencoba dan jalani.
    Keindahan atau kepedihan, hanyalah sebuah efek samping.
    Proses, usaha dan tindakan nyata sesungguhnyalah yang terpenting.🙂

    Posted by Nug | May 19, 2009, 7:38 pm
  7. Duh La.. kagum deh ma pengolahan kata2nya.. begitu lembut mengalir..

    cinta memang tak seperti matematika
    cinta memang kadang meninggalkan luka
    tapi cinta juga mengajarkan indahnya berbagi dan mendamba..

    Posted by Ade | May 19, 2009, 9:37 pm
  8. manissss😉

    seperti biasa😀

    Posted by natazya | May 19, 2009, 10:04 pm
  9. Aih.. aih ……
    yang pasti sih, aku gak pernah nanya ma kekasih (halah) seberapa dalam cinta dia ke aku ..
    Selain karna terdengar konyol, juga karna aku gak bisa jawab kalo dia balik nanya ..
    hehee ….

    Jadi aku tau, gak bisa jawab bukan berarti gak dalem,, kan itu cuma bisa dirasa …

    *berasa kaya’ ngerti aja gue ma cinta, ghahaha*

    Posted by Muzda | May 20, 2009, 12:35 pm
  10. Dia ituu.. dia ituu.. yang lagi nun jauh di sana yaa, Laa?😉

    Aahh.. so sweet bangets neeh cerita😀

    Biasanya seeh yaa.. sebagus2nya orang merangkai kata, kalo dia ngga menuangkan perasaannya sendiri ke dalam rentetan kata yang dijalinnya, maka ceritanya kurang ‘bernyawa’, hihihi, soo.. gua yakin sedikits banyak pasti ada ‘jiwa’ Lala di dalam cerita ini ^o^

    Laa.. Laa.. kata temen gua sih gini..

    Elo biasanya lebih senang duduk sebelahan atau hadap2an ama kekasih eloo?

    Ngga nyambung yaa ama nih cerita? Hihihi.. Katanya sih dari jawabannya bisa ketauan tipe yang bisa long distance apa kaga, ahahahaa😀

    Posted by Indah | May 20, 2009, 10:29 pm
  11. 2x baca baru ngeh…

    Lam kenal Mba…

    Salam kenal balik…
    Kalo tiga kali baca, ceritanya jadi beda lagi lho… hehehehe

    Posted by erza | June 3, 2009, 1:46 pm
  12. yakin ini fiktip? kok sepertinya tidak yah ?
    be strong, girl.. relationship yang dekat aja susah banget dijaga, apalagi long-distance one..tapi once it works, that’s mean a “hell-great-superduper LOVE”!! (mind my terms hehe)..cinta hanya bisa ketauan berapa besarnya, setelah diuji..dengan jarak, waktu dan cobaan ‘kerikil2 kecil maupun besar’

    *nyampe ke sini karena status FB lu*

    Posted by hawe69 | September 29, 2009, 11:18 pm
  13. so sweet… and hiks hiks hiks.. terharu nih

    Posted by shinta | September 30, 2009, 2:52 am
  14. kok aku sedih ya bacanya
    sama persis pengalaman pribadi tp sayang endingku menyakitkannnnn

    Posted by cah ayu | January 23, 2010, 2:47 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

May 2009
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: