you're reading...
Fiktif, Just a Thinking

Ingin Seperti Dia

siluet2Senja sedang muram ketika sepasang kaki jenjangnya berjalan menyusuri gang sempit menuju tempat tinggalnya. Telapaknya yang berselimut sepatu bertungkai tinggi itu mulai melangkah lebih cepat seiring dengan tetesan air hujan yang mulai tumpah dari langit. Rambutnya berkibar ke kanan dan ke kiri, mengikuti gerak langkah ayunan kakinya. Meskipun tubuhnya terguncang-guncang karena belari menghindari hujan, tetap saja gerakannya seperti partitur nada yang membentuk melodi indah. Terlihat cantik, terlihat anggun, dan menawan semua mata yang melihatnya.

Ah, perempuan itu memang sangat cantik!

Aku melihatnya dari balik kelambu yang tertutup. Ya, aku mengintipnya dari dalam rumah, persis di teras lantai dua tempat kamarku berada. Dari sini, kedua mataku bisa bebas menikmati keindahannya yang tidak mirip manusia. Kupikir, dia malah salah satu Bidadari yang kehilangan selendangnya ketika sedang main ke bumi. Kupikir, dia adalah Bidadari yang lupa bagaimana cara untuk terbang lalu memutuskan untuk tinggal di bumi saja, di sini, di sebuah rumah dengan puluhan kamar-kamar tempat ia tinggal bersama dengan perempuan-perempuan seumurannya.

Di rumah kos yang setiap malam mendadak mengeluarkan wangi yang menusuk hidung. Bukan harum bunga segar seperti kembang Sedap Malam yang memang mewangi setiap malam menjelang, melainkan harum buatan yang keluar dari mulut botol parfum yang beraneka ragam.

Tapi cuman satu wangi yang aku suka.

Wangi perempuan serupa Bidadari itu. Yang melenggang dengan cantik setiap pukul sembilan malam, dengan harum segar sabun bercampur parfum, dan seringkali mendongakkan kepalanya, persis ke terasku, lalu melihatku di sana. Menangkapku tanpa sengaja. 

“Belum tidur?” tanyanya setiap aku kepergok menatapnya.

Aku menggeleng usai menyembulkan kepalaku keluar dari jendela.

“Sudah malam, lho… Besok harus sekolah, kan?”`

Aku mengangguk.

“Ya sudah. Mbak pergi dulu, ya…”

Dia melemparkan senyumnya yang manis lalu melangkah meninggalkanku yang sedang megap-megap karena menghirup wanginya dalam-dalam lalu menyimpannya dalam rongga paru-paruku sampai sesak. 

Aku melihatnya menjauh. Melangkah sedikit tergesa dan segera masuk ke dalam mobil mewah yang menjemputnya di ujung gang. 

Mobil mewah yang tak pernah sama.

Mobil mewah yang menjemputnya setiap pukul sembilan lalu entah kapan membawanya pulang…

***

“Mbak Bunga cantik sekali, ya, Bu,” kataku setiap kali.
“Hmm…” Ibu cuman berdehem.
“Rambutnya bagus, ya, Bu.. Panjang, tebal, hitam.. Kayak yang di iklan-iklan itu, lho, Bu…”
“Hmm..” Ibu berdehem sekali lagi.
“Kalau Mbak Bunga lewat, baunya wangi banget, Bu… Nggak seperti Ibu…”
“Hmmm…”
“Badannya nggak gemuk kayak Ibu, ya?”
“Duh, duh. Yo, mesthi, Nduk,” kata Ibu. “Kalau gemuk kayak Ibumu gini, ya jelas mana laku, tho…”

Aku selalu tersesat setiap kali Ibu berkata soal ini.
Jelas saja dia cantik…
Jelas saja rambutnya bagus seperti yang di iklan-iklan…
Jelas saja keringatnya wangi, tidak seperti Ibu yang bau asap dapur…
Dan jelas saja tubuhnya langsing seperti peragawati, tidak seperti Ibu… 

“Laku? Maksud Ibu, laku gimana, tho?” tanyaku.
“Wis, wis. Sudah. Cepet diselesaikan makannya, nanti kamu terlambat sekolah…”

Dan aku selalu berangkat ke sekolah dengan pikiran yang sama: “Kenapa Ibu benci sekali setiap aku bicara soal Mbak Bunga? Dan kenapa Ibu selalu bersungut-sungut setiap Bapak menyapa Mbak Bunga setiap menjelang senja?”

Aduh, Ibu. Mbak Bunga adalah perempuan yang cantik dan berperilaku sangat santun. Suatu hari, aku ingin menjadi perempuan seperti dia saja! Tidak seperti Ibu yang gemuk, berambut panjang ikal lalu dikuncir seadanya, suka memakai daster yang terkadang bolong di tempat-tempat yang tidak semestinya, dan seringkali berbau asap kompor karena masak setiap hari.

Aku ingin seperti Mbak Bunga. Tidak seperti perempuan-perempuan lain tetanggaku yang senang bergunjing. Tidak seperti perempuan-perempuan lain yang malah terlihat menor dengan pulasan lipstick yang mencong sana mencong sini. Tidak seperti Ibu-Ibu yang lain… aku ingin seperti Mbak Bunga saja.

Perempuan paling cantik yang seringkali menjadi bahan gunjingan teman-teman Ibu setiap aku pulang sekolah…

***

Pernah, di suatu senja, aku bertemu dengan Mbak Bunga ketika sedang membeli sesuatu di warung dekat rumah. Baru kali ini aku melihatnya sangat dekat. Sangat, sangat dekat. Sampai-sampai aku melihat jelas rambut-rambut halus yang tumbuh di kulit lengannya yang putih mulus berbau wangi.

Mbak Bunga menemaniku berjalan menyusuri jalanan kampung yang sempit. Sepanjang perjalanan, aku melihat banyak lelaki-lelaki yang memandangnya sampai tak berkedip dan banyak perempuan-perempuan yang memandangnya dengan sebal. Aku memperhatikan semua itu sambil tetap berjalan di samping Mbak Bunga. Aku memperhatikan semua itu sambil menghirup banyak-banyak aroma wangi Mbak Bunga yang berasal dari kulit dan setiap helai rambutnya.

“Mbak Bunga cantik, ya?” kataku.
“Adek juga cantik,” katanya sambil menoleh ke arahku.
“Mbak Bunga cantik sekali, nggak seperti Ibu,” kataku lagi.
Mbak Bunga tersenyum. “Ibumu juga cantik, Dek.”
“Ibu nggak cantik, ah. Mbak Bunga yang cantik.”
“Semua perempuan itu cantik, kok, Dek.. Termasuk Ibu, juga Adek.”
“Tapi aku nggak kepingin jadi seperti Ibu, Mbak. Ibu jelek, suka marah-marah, kadang sering keringetan, sering pake daster yang sudah kotor…”
Mbak Bunga tersenyum dalam diamnya.
“Kalau Mbak Bunga, kan, wangi… pakaiannya bagus-bagus… rambutnya rapi… dan suka tersenyum…”
Mbak Bunga tersenyum lagi.
“Suatu saat nanti, kalau aku sudah besar, aku kepingin jadi seperti Mbak Bunga aja, ah….” kataku sambil tersenyum.

Mbak Bunga menoleh dan memandangku dengan lembut. Kebetulan, aku sudah sampai di depan pagar rumah.

“Adek, jangan jadi seperti Mbak Bunga, ya?” katanya sambil mengelus rambutku. “Jadi seperti Ibu saja… Jangan seperti Mbak Bunga, ya?”

Mbak Bunga mencium keningku, mencubit pipiku dengan lembut, lalu berjalan meninggalkanku menuju rumah kosnya.

Dari depan pagar rumahku, aku melihat sosok perempuan langsing itu berjalan menjauh lalu menghilang ke dalam rumah pojokan yang mulai ramai dengan kicau perempuan-perempuan wangi berbalut pakaian-pakaian yang sering kulihat di layar televisi.

Dalam hati aku berjanji, “Aku ingin menjadi seperti Mbak Bunga saja… Aku ingin menjadi seperti dia saja…”

Karena Mbak Bunga adalah seorang perempuan yang sungguh cantik, sangat lemah lembut, dan dicintai siapapun juga. Buktinya, sekalipun digunjing dan dihujat sana-sini, tetap saja, Mbak Bunga selalu disebut kupu-kupu oleh Ibu. Jenis binatang paling cantik yang pernah aku tahu… 

 

14277-sad_butterfly1

 

***

 

Kamar. Minggu, 17 Mei 2009. 7.51Malam
Sambil nungguin rendaman cucian.. hehe… 

 

Keterangan gambar:
Gambar diunduh dari sini dan sini

 

op-kala-cinta-dari-dunia-maya-menghampiri

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

28 thoughts on “Ingin Seperti Dia

  1. Kalau saya ingin seperti siapa ya ? (jangan-jangan pengen seperti superman … hehehe)🙂

    Lah, bukannya sekarang udah jadi Superman?
    Kok pake celana di luar? hihihi… Kapan lagi godain Dosen pinter kayak Pak Grandis…😀

    Posted by Oemar Bakrie | May 17, 2009, 10:45 pm
  2. Ironic…

    Indeed….

    Posted by Jazili | May 17, 2009, 11:12 pm
  3. Uh.. Kupu2 ya..
    Khayalan, kehidupan dan kenyataan
    Gak selalu semuanya bisa sejalan

    Tulisan yang bagus sekali, La..🙂

    He eh, Mas. Kupu-kupu…
    Andai khayalan, kehidupan, dan kenyataan bisa sejalan. Life couldn’t be better…🙂
    Makasih buat pujiannya, Mas…
    Tulisan ngebut tuh…

    Posted by Nug | May 18, 2009, 1:33 am
  4. Bisa dimengerti bahwa seseorang mempunyai idola, yang ingin ditirunya. Sayangnya belum ada orang yang bisa menjadi idolaku. not in the fairy tales and not in the reality. hiks….

    EM

    Bukannya Sis mengidolakan adiknya yang gembul ini? Hehehe…

    Posted by Ikkyu_san | May 18, 2009, 3:52 am
  5. cerpennya bagus…
    ak jg ingin menjadi seperti jeunglala😀

    Makasih, Ipi..
    Jadi pingin nraktir kamu makan di manaaaaa gitu…🙂

    Posted by ipi | May 18, 2009, 8:37 am
  6. mksdnya bkn ingin seperti mbak bunga tp seperti jeunglala

    Iya, Pi.. Iya… jangan kayak Mbak Bunga… Mending kayak Luna Maya aja.. hihihi

    Posted by ipi | May 18, 2009, 8:39 am
  7. Bisa2 nya orang lagi nungguin rendaman cucian nulis.. Dasar penulis!😀

    Asyik nih, ceritanya.. ada kelanjutannya gak La?..

    Ntar gue bikin tulisan sambungannya sambil nungguin elo bakar kemenyan. Gimana kalo gitu, Boss? Kapan elo bakar kemenyan lagi? hihihi…

    Posted by p u a k | May 18, 2009, 8:40 am
  8. kalau aku perempuan
    kuingin seperti Lala….
    morning sista🙂

    Makasih, Abang…
    Jadi kembang kempis nih hidungku…

    Posted by mikekono | May 18, 2009, 9:04 am
  9. karena aku laki-laki
    aku juga ingin
    seperti Lala…
    yang smart dan sll ceria🙂

    Bukan yang centil dan keganjenan, ya, Bang? hihi….

    Posted by mikekono | May 18, 2009, 9:05 am
  10. Lala …
    Seriously …
    This is a great writing …

    Saya suka …

    Salam saya
    NH

    Terima kasih, Oooommmmm….
    Your compliment always means a lot to me..
    And you know that, don’t you?

    Posted by nh18 | May 18, 2009, 9:43 am
  11. sambil nunggu rendeman cucian aja bisa nulis keren gini
    ho ho ho

    Kalo nunggu angkot lewat, tulisannya nggak bakal keren.. Yang ada ngamuk dan bete terus.. hehehehe

    Posted by depz | May 18, 2009, 11:50 am
  12. Kalau menurut aku, mending lala tetep menjadi “lala” bukan mbak bunga. Lala yang sekarang yang pinter, cantik dan selalu gembira….( Tapi ini cerpen yah?, olah…). Tetep semangat yah… Cerpen yang sangat bagus.

    Aduh, Nazar.. muji terus.. sampai gedhe kepalaku..🙂
    Makasih, makasih… tetep semangat dong… harus…

    Posted by Nazar | May 18, 2009, 1:57 pm
  13. cara penyampaian yang menyentuh mbak. salut!

    Makasih, Mas Stein…🙂

    Posted by mas stein | May 18, 2009, 3:06 pm
  14. Mbak La, aku sukaaaa banget, eh, jatuh cinta ma tulisan lu ini🙂

    Mb’ La, gue juga cinta lah ma elu juga..
    Oh no no … jangan panik dulu .. Aku emang senang menebarkan cinta sama perempuan yang kukagumi ..
    (nah kok malah tambah parah kedengerannya …)

    Gini aja deh ..
    Love you, Mb’ Lala😀

    Love you too, Dek..🙂
    Makasih udah mengagumi diriku yang emang cantik ini..
    *hahaha, dasar ga tau diuntung nih Mbakmu iki.. hehe*

    Posted by Muzda | May 18, 2009, 3:53 pm
  15. Kupu-kupu cantik yang indah sekaligus misterius.
    perempuan itu tetap cantik karena di hiasi oleh senyuman apapun masalah yang di hadapinya…

    ada lanjutannya ga?

    Itu alasannya kenapa Ria selalu tersenyum, no matter how hopeless, ya?🙂
    Lanjutannya? Kayaknya nggak ada, Ya.. Tapi bisa jadi ada lanjutannya kalo gue mau nyuci baju lagi… hihihi…

    Posted by Ria | May 18, 2009, 4:01 pm
  16. ah, la…
    wanita itu cantik. makanya banyak sekali godaannya, dan tentunya juga selalu menggoda.
    bunga, kalau kau juteks dan bau, mana mungkin kau bisa laku… oh, aku ingin seperti kau saja…:mrgreen:

    Ingin juteks dan bau? Bukannya suudd… ups, nggak jadi ah. Ntar disuntik pake suntik buat kebo…🙂

    Posted by marshmallow | May 18, 2009, 4:07 pm
  17. Saya pikir ending-nya: “ternyata Bunga itu aku. Aku yang berlari dalam setiap mimpiku, yang berharap menjadi seorang yang cantik. Cantik seperti Bunga, cantik seperti ku”😀

    PS.
    Kenapa setiap wanita ingin dibilang cantik ya?

    Kenapa wanita ingin dibilang cantik?
    Karena nggak ingin dibilang ganteng, pastinya.. hihihi

    Posted by HP | May 18, 2009, 4:42 pm
  18. Aku malah ingin seperti Lala, bisa nulis sebagus ini..🙂 suka banget La…
    cup cup..😆

    Hehe.. si Yuyunnnn… apa kabar Neeennnggggggg….
    Makasih udah suka ya..
    Pingin jadi penulis? Bukannya udah, Neng?

    Cup cup…

    Posted by Yuyun | May 18, 2009, 5:16 pm
  19. cantiks😉
    sering2 gin dunk La🙂

    Hihi..
    ntar bosen lagi, Buuu…

    Posted by Eka Situmorang - Sir | May 18, 2009, 7:45 pm
  20. hmmm,,, tulisan mbakku ini memang top bgt dech,,,

    Posted by Myryani | May 18, 2009, 10:24 pm
  21. tulisannyaa bagussss……
    ayo kapan buku keduanya muncul….🙂

    Posted by liswari | May 19, 2009, 2:00 am
  22. ooh jadi selama ini lala tidur didalam kelambu?
    banyak nyamuk yee??

    Posted by AFDHAL | May 19, 2009, 9:34 am
  23. Deskripsi tentang Mbak Bunga sangat kuat. Deskripsi tentang bisikan hati bahwa Adek pengin jadi Mbak Bunga juga kuat. Cara menyelesaikan cerpen ini juga manis, meski penulisnya menuang kata tatkala sedang menunggu rendeman cucian yang berarti ia menulis saat senggang waktu yang sepertinya pendek.

    Coba saja kalau ia menulis ketika waktu begitu longgar, ditemani kopi dan gladiol yang tengah mekar di bawah jendela …

    Posted by GLADIOL | May 19, 2009, 9:36 am
  24. rendaman cucian kok ditunguin, buruan dicuci *dilempar lala pake sikat cucian*

    Anyway, reading your detailed description about Bunga made me create a figure inside my mind. Really brought me into the story…..two thumbs up, babe🙂

    Posted by 1nd1r4 | May 19, 2009, 1:51 pm
  25. siang jeung lala
    pa cabar>

    pstingannya memang keren jeung, namanya juga penulis.
    salam hangat selalu

    Posted by dobleh yang malang | May 19, 2009, 2:01 pm
  26. Mbak Bunga apa kabarnya sekarang ya, Laa?😀

    Btw, ngga ada salahnya juga khan yaa biar udah jadi seorang istri and ibu, tapi tetap berpenampilan seperti Mbak Bunga? Hehehehe..

    Walau pastinya bakal repots dhee.. apalagi kalo musti ngurus semuanya sendirian, aww..😛

    Posted by Indah | May 20, 2009, 10:39 pm
  27. Lala, aku enjoy baca cerpenmu. Aku jg lagi iseng2 pengen nyoba nulis cerpen nih…

    Hai, Fanda… Makasih ya.
    Aku sempat BW ke tempatmu… I really think that you could be a great writer, lho… Selamat nulis, ya…

    Posted by Fanda | May 28, 2009, 1:55 pm
  28. apa yg kita rencanakan dan harapkan sometimes tidak
    seindah yg dibayangkan…..good job la…

    Posted by she | May 31, 2009, 3:49 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

May 2009
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: