you're reading...
Just a Thinking

Necessary or Too Much?

Saya nggak tahu. 

Musti ketawa, musti merasa miris, atau manggut-manggut setuju.

Saya nggak tahu.

Musti mengakui kalau ini penting, kalau ini berlebihan, kalau ini, in some level, adalah satu hal yang harus dilakukan.

Saya nggak tahu musti bereaksi seperti apa. Sama sekali nggak tahu musti berkomentar apa. Sama sekali kehilangan ide untuk berkata apa, saat seorang teman bercerita soal Perjanjian Pra-Nikah sepupunya, yang terasa getir sekaligus geli ketika terkunyah oleh rangkuman saraf di otak saya.

Yang bisa saya lakukan cuman bertanya:

Perjanjian Pra-Nikah. Is it necessary? Or is it too much?

***

Suatu pagi, teman saya bercerita tentang sepupu lelakinya yang hendak menikah tetapi sedang bingung dan uring-uringan saat disodori selembar kertas oleh calon istrinya (yang baru kemudian saya tahu, mereka sudah menikah secara siri) yang memuat delapan belas pasal tentang what not and what have to do  saat mereka menikah nanti. 

Dari kedelapan belas pasal yang tercantum di atas kertas yang sudah diketik rapih, bermaterai, dan menunggu tanda tangan mempelai pria itu, teman saya tidak ingat satu persatu, kecuali empat pasal yang menarik perhatiannya.

Pertama; Wajib menyekolahkan istrinya sampai S2.

Kedua; Tidak boleh selingkuh.

Ketiga; Dilarang kawin lagi.

Dan keempat; Tidak boleh merokok.

Seperti yang saya tulis di prolog tadi, saya nggak tahu harus berkomentar apa atau bereaksi bagaimana. Perasaan saya cukup kumplit-plit-plit. Ada gelinya, ada getirnya, ada mirisnya, bahkan perasaan ya-emang-penting-sih. Cukup nano-nano seperti rasa permen manis-asem-asin itu.

Dasar naluri iseng dan suka menganalisa, saya pun segera menginvestigasi beberapa orang; mulai dari teman kantor, mantan pacar, gebetan, sampai teman-teman blogger via Facebook, beberapa saat yang lalu.

Pertanyaan saya sederhana saja: Perjanjian Pra-Nikah. Necessary or Too Much?”

Dari hasil investigasi kurang kerjaan itu, saya menemukan banyak sekali pendapat yang bisa saya kategorikan menjadi dua: Penting dan Tidak Penting

Beberapa menilainya penting, seperti yang dibilang beberapa orang kawan saya ini:

Ningsih (teman kantor), “Setahuku, perjanjian pra-nikah itu, kan, bertujuan untuk melindungi aset yang sudah dimiliki sebelum menikah, Dek… Untuk berjaga-jaga saja, siapa tahu kelak bakal terjadi sesuatu yang nggak menyenangkan…”

Donny Verdian (teman blogger), “Perlu, di sini (Australia) sangat dibutuhkan. Bukan untuk apa2 cuma untuk tertib hukum ajah. So, kapan nikah?” Okay, Don. Pertanyaan gue kayaknya cuman sampe ke necessary or too much, deh..🙂

Dan Mas Nug, blogger yang juga lawyer hebat, pernah berkata, “Tujuan awal dari perjanjian pra-nikah adalah untuk melindungi aset masing-masing.” Itu adalah jawaban dari pertanyaan yang saya lontarkan via Yahoo!Messenger beberapa saat yang lalu.

Namun, dari banyaknya komentar yang masuk ke wall Facebook saya pagi ini, rata-rata di antara mereka menganggap bahwa perjanjian pra-nikah terdengar too much, bahkan ridiculous!

Prima Susanty (teman SMP) berkomentar, “Nurut aq se too much la.. Karena dg prenup itu kan seakan ada unsur ketidakpercayaan thd pasangan apapun alasannya. Klo udah unsur ketdk percayaan gitu ya ngapain nikah?”

Yoenoes (teman kantor) juga berpendapat serupa, “Ga perlu, pamali, blm nikah kok udh rencanain divorce.” 

Ya, jika belum-belum sudah membuat perjanjian pra-nikah, kesan yang terbentuk adalah tidak adanya kepercayaan terhadap masing-masing pasangan. Dan ya, kesannya: “Belum-belum kok udah ngomongin cerai!” Hal ini saya simpulkan dari beberapa teman yang bersentimen negatif terhadap perjanjian pra-nikah itu sendiri. 

Meskipun tentu saja, ada komentar-komentar yang membuat saya meringis geli saat membacanya, seperti komentar dari teman saya ini:

Pre-nup? If we think to put up the rest of our life with someone that we love…then it’s never gona come to an end with a pre-nup😉 ujung2nya mesti divorce :0 thats what my lawyer said... lagian kalo ga tajir2 amat…apa yang mau dipisahin ya??? unless we inherit an emporium like hilton perhaps😀 walah… comment koq panjang bener…intinya too much La :)” (Indah Simanjuntak, via FB

Haha. Tentu saja, seorang Lala Purwono, yang harta kekayaannya cuman keping-keping DVD romantis berikut dengan DVD playernya itu nggak akan perlu membuat surat perjanjian pra-nikah segala! Suami saya juga nggak bakal tega rebutan DVD (bajakan pula! ck-ck-ck!) sama saya, kan?😀

Okay, balik ke soal kepercayaan terhadap pasangan dan belum-belum sudah punya asumsi negatif terhadap lembaga pernikahan, saya kemudian malah berpikir-pikir iseng begini:

Gimana kalau Kakekmu yang kaya raya, sangat kaya, punya 10 rumah mewah, mobil Jaguar-Mercedes-BMW yang nangkring berdebu di garasi mobil, perusahaan yang menggurita dan beromset triliunan Rupiah per tahunnya, lalu memutuskan untuk menikahi seorang perempuan muda umur dua puluh lima tahun, masih kinyis-kinyis, sementara Kakekmu, sorry to say,  sudah delapan puluh tahun? Do you still think that prenup agreement is too much and not necessary?

Kalau semisal saya menjadi seorang cucunya lalu menyarankan kakek saya untuk membuat perjanjian hitam di atas putih agar aset-asetnya terlindungi dari istri barunya; masihkah kamu beranggapan bahwa saya keliwat sadis dan tidak percaya pada ketulusan cinta?

Entahlah. Saya sendiri percaya dengan kekuatan cinta, the magic of love, atau apalah namanya. Saya percaya bahwa cinta mampu menjembatani apa saja, termasuk perbedaan usia yang sangat jauh tadi.

But I also do believe, kalau waktu bisa mengubah segalanya. Saya tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi, sekalipun satu detik di depan nanti. 

Jadi, ini bukan soal saya tidak percaya dengan suami saya atau tidak cukup mencintai dia. Ini adalah soal tindakan berhati-hati saja, menciptakan safety net bila suatu nanti saya harus jatuh. Toh, kalau ini memang soal cinta, saya tidak akan segan-segan untuk menjual mobil/rumah/tanah untuk membantu bisnis suami saya, kan? Sekalipun sampai saat ini, saya cuman punya koleksi DVD doang… hihi…

 It’s not about how deep my love is.
It’s all about being careful in every step of the way..

***

Perjanjian Pra-Nikah. Necessary? Or too much?

Akhirnya saya bisa menemukan jawaban yang tepat untuk pertanyaan itu. Tentu saja ini didapat setelah saya banyak bertanya dan bertukar pikiran dengan beberapa teman saya.

Apa jawaban saya untuk pertanyaan itu? Hm. Jawabannya singkat: it depends.

Depends on what?

Tergantung dari butir-butir perjanjian nikah yang diajukan, pastinya. When it comes to my valuable assets, tentu saja saya akan bilang, “Sure, it’s important.

Tapi kalau soal: nggak boleh kawin, musti nyekolahin sampai S2, musti ngasih duit belanja sekian-sekian ribu setiap harinya, nggak boleh merokok, nggak boleh selingkuh.. well, hello… bisa, nggak, ya, kalau itu diperoleh dari kesepakatan bersama tanpa harus menulisnya di atas selembar kertas berkekuatan hukum?

Lagipula, kalau seandainya suami saya selingkuh, sekalipun saya memegang surat perjanjian yang sudah ditandatanganinya sebelum menikah, apakah saya tetap menuntutnya untuk tetap berada di samping saya? When I know that his heart is some place else? Dan apakah dia akan masuk penjara cuman karena rasa cinta itu hilang di tengah jalan?

***

Saya adalah lajang berusia 29 tahun. Knows nothing about marriage and stuff.

Yes. Saya mungkin tidak tahu menahu soal perkawinan, soal prenup agreement, soal ini itu yang menyangkut dunia yang belum saya jejaki sampai hari ini.

Tapi boleh nggak sih, saya merasa sangat aneh and find it ridiculous ketika saya mengetahui kalau saudara sepupu teman saya itu akhirnya memutuskan untuk tidak menikahi istrinya karena dia keberatan untuk menandatangani perjanjian pra-nikah dengan delapan belas pasal itu tadi dan istrinya pun memilih untuk tidak mau dinikahi sebelum tandatangan calon suaminya menempel kuat di atas materai?

Hanya karena calon suami menolak, pernikahan di depan mata itu akhirnya berakhir juga.

Ridiculous, eh?

***

Special buat:
Temen-temen kantor dan temen-temen FB yang udah ngasih komentar di wall FB-ku tadi pagi… Makasih ya, Guys… 
 

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

29 thoughts on “Necessary or Too Much?

  1. Special buat:
    Temen-temen kantor dan temen-temen FB yang udah ngasih komentar di wall FB-ku tadi pagi… Makasih ya, Guys…

    *sammma-samma&

    Posted by AFDHAL | May 12, 2009, 12:51 pm
  2. wuihhh pertamax…
    — mumbul2, salto, koprol —

    Posted by AFDHAL | May 12, 2009, 12:52 pm
  3. pre-nup rasanya semakin ke sini semakin perlu karena wanita juga sudah banyak yang punya karir bagus bahkan sebelum menikah. (dan cowok sekarang juga banyak yang matre. hihi…)

    *ditimpuk para cowok!*
    ouch! sakit tau?

    terlebih orang sudah semakin sadar hukum. tapi kalau merujuk hukum islam sih pre-nup tidak perlu karena sudah diatur hak pembagian suami dan istri bila terjadi perceraian (cerai hidup ataupun cerai mati. lengkap banget ya dalam islam?)

    apa pun alasannya, jangan sampe pre-nup menjadi penghalang kebahagiaan dalam hubungan kasih suami istri. untuk tujuan yang baik, kenapa nggak?

    Posted by marshmallow | May 12, 2009, 12:53 pm
  4. bukan necessary, bukan to much, bukan juga depend…bagi saya pre-nup tidak perlu

    apalagi suruh berhenti merokok…arghhh tidakkk🙂

    Posted by AFDHAL | May 12, 2009, 1:02 pm
  5. gw ikut jawaban Om Nug aja yang pengacara..
    kalo memang tidak ada aset yang perlu dilindungi, yah gak perlu pre-nup.

    Posted by hawe69 | May 12, 2009, 1:26 pm
  6. Kalau kamu mau kawin sama George Clooney sih PERLU banget la. Rugi ntar dia kalo kamu dan dia cerai kan?

    Yang soal gono gini di prenup sih gue ngga mau singgung. Keberadaannya aja memuakkan.

    But, dalam agama katolik ada perjanjian, bahwa si penganut agama katolik (ibu) mempunyai kewajiban mengajarkan agama katolik pada anaknya (terlepas harus dibaptis atau tidak– intinya mengajarkan), dan hal ini ditandatangani /disetujui oleh calon suami (yang berlainan agama). Well, sebelumnya juga untuk pernikahan katolik dengan orang beragama lain juga wajib mengajukan surat dispensasi kepada Paus sih.

    Itu perjanjian sebelum nikah yang bukan soal harta dunia.

    EM

    Posted by Ikkyu_san | May 12, 2009, 1:30 pm
  7. Bukannya kalau mau nikah sudah ada perjanjian yang paling sakral (Ijab_kabul)?, itu perjanjian yang lebih mengikat daripada materei. Untuk masalah harta warisan dalam agama maupun negara sudah diatur. Tinggal aturan mana yang digunakan. Jadi ngapain buang buang energi untuk memikirkan pre-nup , apalagi harus bayar-bayar untuk notaris dll.(mending bayaran notarisnya untuk buat perusahaan he..he).

    Posted by Nazar | May 12, 2009, 2:16 pm
  8. well.. necessary or too much itu sebenernya dari mana kita memandang faedah dari perjanjian tersebut La..

    this is profesional answer as a lawyer…
    perjanjian pra nikah itu adalah perjanjian dibuat untuk kepentingan perlindungan hukum terhadap harta bawaan masing-masing,suami ataupun istri, meskipun undang-undang tidak mengatur tujuan perjanjian perkawinan dan apa yang dapat diperjanjikan, segalanya diserahkan pada pihak calon pasangan yang akan menikah. Biasanya berisi tentang pemisahan harta kekayaan, pemisahan utang, dan tanggung jawab terhadap anak-anak hasil pernikahan tersebut.

    nah di sini point pentingnya La… Di kalangan orang-orang tertentu, perjanjian ini penting untuk dibuat bukan karena ketidakpercayaan terhadap pasangan atau terlalu pesimis atau gimana. Tapi lebih ke penyelamatan asset pribadi.

    contohnya giini: si suami adalah seorang penguasaha yang terlibat diberbagai bisnis.. biasanya pebisnis ada perjanjian hutang dengan bank dooongs.. asset-asset pribadi dijaminkan dong ke bank.. Dengan adanya perjanjian pra nikah, asset-asset beratasnama si istri, tidak akan masuk ke dalam jaminan tersebut dengan kata lain ga akan diganggu gugat karena ada pemisahan harta sejak awal, Just in case si suami gagal bisnisnya dan jaminan di sita, well harta milik si istri masih ada dan masih bisa dipergunakan untuk kebutuhan rumah tangga mereka.

    That’s necessary.

    Lah kalo sudah ditambah dengan syarat-syarat harus nyekolahin sampe S2, tidak boleh merokok de es be… That’s so much!
    karena secara hukum sendri, itu ga ada.

    so, necessary or too much? sekali lagi, tergantung dari sisi mana kita memandang..:mrgreen:

    Posted by Chic | May 12, 2009, 2:33 pm
  9. salam kenal jeung…🙂
    orang surabaya ya *sama dong🙂 *

    untuk soal pre nup aq setuju ma comment “Chic”
    kalo ada syarat “harus nyekolahin ampe S2” itu sich too much..
    bilang aja pngn sekolah ampe S2 sec gratis..
    hihihihihi..🙂

    blh tukerin link ya jeng..🙂
    jangan lupa maen ke rumah saya ya..

    Posted by piepiet | May 12, 2009, 3:03 pm
  10. wah saya juga jadi nggak tahu
    kesannya aneh gitu

    Posted by mascayo | May 12, 2009, 5:15 pm
  11. too much!

    karena menikah bukan perniagaan…tidak ada untung dan rugi. Semuanya tanggung jawab dan milik bersama.

    Posted by yessy muchtar | May 12, 2009, 8:41 pm
  12. Kalo soal aset,, haiyah .. gak mau banyak opini ah gue, lagian udah ada yang tahu masalah itu ..
    Kalo diterapin ke gue pribadi sih, apa yang musti gue bagi ?? komputer ?? na emang itu harta berharga gue ..

    Depends juga ma calon suami, keluarga, dan semua faktor lain ..

    Na soal tetek bengek remeh temeh,, kok bukan cuma too much, tapi juga kaya’nya memperlihatkan adanya ketidakpercaya dirian sekaligus keegoisan satu pihak, kan ??
    itu baru satu, na kalo dua-duanya punay daftar yang harus ditandatangani, misalnya si istri harus mijitin tiap malem, gak boleh keluyuran ke mall ..??

    Cari calon baru aja deh🙂

    Posted by Muzda | May 13, 2009, 2:16 am
  13. jawaban Om Nug aja yang pengacara.. ngikuuuttt

    Posted by mrpall | May 13, 2009, 5:34 am
  14. berhenti merokok…arghhh tidakkk🙂 suliiiit

    Posted by mrpall | May 13, 2009, 6:09 am
  15. Tergantung orangnya kali ya ??😀

    Posted by Fenty | May 13, 2009, 6:54 am
  16. walah,,, kalo ada perjanjian pra nikah,,
    berarti ada rencana pisah dnks??

    Posted by Myryani | May 13, 2009, 7:41 am
  17. Perjanjian pranikah? Kayaknya itu berasal dari budaya barat deh. Saya sependapat dengan Mbak Yulvi, kalau mengenai harta, bagi penganut Islam sudah ada aturannya. Untuk yang menyangkut hati (dilarang selingkuh, nggak boleh kawin lagi, dll.) hmm …. kayaknya kok nggak pe-de banget ya. Atau malah terasa seperti ancaman terhadap pasangan.

    Posted by Tuti Nonka | May 13, 2009, 7:55 am
  18. definetely TOO MUCH!!!

    Posted by depz | May 13, 2009, 10:25 am
  19. perjanjian pranikah
    kayaknya sih perlu…
    tapi janjinya supaya
    saling setia antara
    suami istri aja…….,
    siapa yg tak setia,
    misalnya bisa dikenai sanksi
    tak dapat harta gono gini
    sepeser pun…….hihihihi🙂

    Posted by mikekono | May 13, 2009, 10:37 am
  20. Saya copykan jawaban dari sudut finansial menurut Ligwina Hananto seorang Financial Planner ya………(maaf nyampah)

    Pre-Nuptial Agreement, perlu gak sih?
    Tuesday, 19 August 2008
    Hari ini pagi-pagi buta gue sudah di jalan. Ceritanya produser dari TVONE mengundang gue untuk datang dan membahas tentang Perjanjian Pranikah atau Pre-Nuptial Agreement.

    Belum apa-apa, caller yang hadir sudah protes. Atas nama Islam, si Bapak ini menyatakan kalau Pre-Nuptial Agreement bertentangan dengan Al Qur’an dan sangat kebarat-baratan. Halah…

    Menurut gue ini sangat menarik. Karena semua laki-laki yang pernah berdiskusi dengan gue soal Pre-Nup selalu bilang begini:

    gue percaya pada agama
    gue percaya kalau laki-laki harus menafkahi istrinya
    tidak perlu pre-nup karena niatnya menikah harus total
    Halah…

    Alasan menentang Pre-Nup ini sering gak nyambung. Alasan agama dibawa-bawa, padahal tau gak sih latar belakang dan isinya apa?

    Perjanjian Pranikah itu isinya begini : pemisahan harta dan utang antara suami dan istri. Yang menjadi dasar adalah, Undang Undang Perkawinan tahun 1974 yang berlaku untuk semua Warga Negara Indonesia tanpa kecuali kira-kira bunyinya menyebutkan sbb:

    harta dan utang suami istri sebelum menikah adalah milik masing-masing
    harta dan utang suami istri setelah menikah adalah milik bersama kecuali ada perjanjian sebelumnya.
    Mau dari sisi agama? Dalam agama Islam, seorang laki-laki WAJIB menafkahi istri dan anak-anaknya. Sementara jika seorang perempuan mampu bekerja, ia TIDAK WAJIB memberikan hasil kerjanya itu kepada keluarganya.

    Sampe situ dulu deh. Artinya apa? Artinya kalau istri bekerja, ia BERHAK menyimpan hartanya sendiri. Artinya, harta istri dipisah dari harta keluarga kan? Artinya lagi, kalau seorang laki-laki mau menafkahi istrinya, prenup atau tidak prenup gak ada hubungannya. Nafkah itu WAJIB kok. Jadi kenapa menolak prenup?

    Ketakutan utama melakukan prenup adalah : kesannya kok siap-siap cerai? Siapa juga yang mau cerai? Gak ada kan pasangan menikah yang cukup waras dan menyiapkan akan cerai suatu saat. Tapi meninggal dunia itu pasti kan? Tinggal kapan akan terjadinya aja. Nah ini dia… prenup bukan sekadar melindungi harta gono gini kalau bercerai, tetapi juga harta dan utang gono gini jika salah satu meninggal duluan.

    Alasan utama laki-laki tidak mau pre-nup bukan karena agama. Agama Islam menyarankan harta perempuan dipisahkan dari suaminya kok. Gak percaya? Tau kan kalau mahar pernikahan itu milik si istri sampai kapan pun? Tau kan kalau dapat warisan/pusaka dari keluarga ya itu milik masing-masing.

    Alasan utama laki-laki tidak mau prenup adalah : gengsi. Ego laki-laki akan sangat terluka kalau hartanya dipisah-pisah dari istrinya. Pasti deh ada rasa kuatir, jangan-jangan harta istri lebih banyak dari harta suami. Hayo ngaku!

    Gak mau Pre-Nup?
    Ya gak apa-apa dong. Itu kan pilihan. Tapi harus sudah tau dari awal. Gue & Dondi tidak melakukan Pre-Nup.

    Kesatu. Karena memang terlambat. Sudah menikah 7 tahun baru sadar kok kita gak bikin Pre-Nup ya.
    Kedua. I don’t think Don will ever let me run down on his ego as a man

    Seriously… he said this to me.

    “Sayang… kalau kita Pre-Nup, kamu jadi gak punya apa-apa…”
    Buset deh hahahahahha… telen tuh niat mau Pre-Nup, or in this case Now-Nup. Tapi emang bener juga. Gue kan dulu ibu rumah tangga tidak bekerja. Sebelum menikah sama-sama gak punya apa-apa juga. Punya perusahaan sekarang juga kan Dondi yang modalin. Jadi kalau kita punya Pre-Nup gue gak punya apa-apa nih… hihihihi…

    So we come to a point that we agree not to have a Pre-Nup even if we could turn back time. Nope… we’re happy the way we are. I asked him once… so which one is mine? Kan katanya dalam Islam harta istri harus dipisah dari suami… (masih gak percaya juga?)

    Dengan enteng Don bilang… semua perhiasan, pakaian, sepatu dan tas yang gue pake sehari-hari adalah milik gue. Termasuk juga mahar perkawinan dari 8 tahun lalu, semua hadiah yang pernah dia, orang tua gue dan orang tuanya berikan untuk gue. Thank you very much baby… Semua yang ada di rekening bank, reksadana, aset-aset lain mulai dari rumah, apartemen, bisnis, mobil, apapun harta dan utang adalah milik bersama. Oh by the way, girls listen up you can quote me for this.

    “Sayang, semua boleh atas nama kamu, asalkan ATM nya aku yang pegang semua ya….”
    ngomongnya pake nada manis manja ya supaya dibolehin

    Apa sih implikasinya dari ‘deklarasi’ ini?

    Ini bukan urusan cerai ya. We’re both prepared to grow old (read : gembrot in my case and botak in his case heheheheh) together. So we work very hard on our marriage. Always making sure we evolve to a new level together. Always making sure that both are happily married.

    Tapi salah satu pasti akan meninggal duluan. Gak tau kapan. Nah urusannya panjang sampai ke warisan. Harta dan utang yang kami miliki adalah milik bersama. Artinya kalau salah satu meninggal duluan, harta dan utang ini menjadi harta dan utang peninggalan. Dibagi 2 dulu. 50% milik yang masih hidup, 50% lagi milik yang sudah meninggal. Nah yang bagian kedua inilah yang menjadi Harta Warisan yang kemudian harus dibagi lagi.

    Karena kami beragama Islam, maka pembagian Harta Warisan harus mengikuti hukum Islam. Ada hak pasangan, anak dan orang tua di dalam nya. Tapi sebelum urusannya pembagian, harus tahu dulu kan yang mana yang akan dibagi. Inilah kenapa Pre-Nup jadi penting banget.

    We both understand the consequences of not having a Pre-Nup. Artinya kalau kami berutang, keduanya harus saling mengetahui karena urusannya secara hukum sesuai UU Perkawinan tahun 1974, keduanya bertanggung jawab membayarkan utang itu. Artinya juga kalau kami memiliki aset (bisnis, properti, surat berharga) semuanya adalah milik bersama. Semuanya saling dijelaskan, diceritakan. Tidak ada harta yang disembunyikan.
    Utang? Semua utang juga gue ikut tanda tangan lho. Jangan salah… artinya gue juga ikut bertanggung jawab melunasi utang-utang itu. Jadi menurut gue sih, kalo sampe terjadi utang yang gue gak ikut tanda tangan, gue akan hajar gak terima

    Masih mau kasih alasan agama? Syariah itu sederhana, yang penting semuanya penuh transparansi, tanggung jawab dan integritas. Jangan diartikan, Pre-Nuptial Agreement = bahasa Inggris = Barat = haram. Apa siiiiih? Gak gitu deh. Dalam agama Islam jelas-jelas ada pemisahan harta kok. Istri gak perlu ‘menafkahi’ keluarganya, artinya istri boleh menyimpan hartanya sendiri kan?

    Suami gue mengijinkan gue untuk menyimpan gaji gue sendiri. Terserah deh buat apa aja. Tapi gue pribadi merasa… gak cukup kalau gue gak ikut kontribusi. Semua serba mahal. Jadi ya sudah… gaji gue ikut digabungin aja dalam keuangan keluarga. Jadinya harta suami harta gue juga, harta gue harta suami juga. Kecuali beberapa yang memang dideklarasikan milik gue sendiri.

    Dulu gue sempet ngotot bikin ‘now-nup’. Gue gak pre-nup karena gak mau menyakiti hati suami yang egonya besar banget itu. Tapi dengan pengertian, akhirnya dapat tuh ‘deklarasi’ dari suami yang menyatakan barang-barang apa yang jadi milik gue seorang. Dan gue gak berani deh minta mobil yang atas nama gue atau bisnis yang atas nama gue sebagai milik gue. Gak fair karena belinya pake uangnya Dondi juga kan? Jadi gue juga tahu diri, yang gue minta cuma isi Safe Deposit Box heheheh… bukan gue gak percaya sama Dondi. Tapi kita sudah bahas, kalau ada apa-apa sama gue, perhiasan gue yang gak seberapa itu, maunya sebagian besar jadi peninggalan untuk anak-anak, bukan 50% punya Dondi. Makanya dideklarasikan sebagai milik gue pribadi, bukan milik bersama.

    Kesimpulan?
    Pre-Nup perlu. Gak usah takut dulu… atau menganggap haram dulu…
    Kita banyak yang gak Pre-Nup karena memang bukan kebiasaan kita aja.
    Ditambah lagi, Pre-Nup itu gak romantis banget deh hehehehe…

    Kalau memutuskan gak pake Pre-Nup ya gak apa-apa juga.
    Tapi kalau begitu caranya, kita harus tahu apa konsekuensi dari keputusan gak mau Pre-Nup itu… kenapa gue ngotot banget? Karena gue sudah muak ketemu kasus demi kasus yang bunyi nya begini :

    Istri kerja. Suami punya utang segunung terus ngumpet…
    Menurut lo, siapa yang dikejar-kejar debt collector?
    Kalo ada pre-nup, si istri itu punya keleluasaan untuk bilang : eh itu yang ngutang laki gue bukan gue…
    Karena tidak ada pre-nup, maka si istri berkewajiban ikut melunasi utang-utang suaminya walaupun dia gak tau apa-apa!

    Jangan curigaan dulu ya. Ini berlaku juga kalau istrinya yang ngutang segunung. Tapi masalahnya yang datang ke kantor gue selalu perempuan yang curhat merasa disiksa secara finansial sama suaminya. Belum pernah ada laki-laki yang datang mengadu gak dikasih uang sama istrinya hehehehe… paling-paling ngadu karena gak boleh membelanjakan bonusnya untuk dandanin mobil atau liburan…

    So much for saying… “Anti Pre-Nup karena menurut agama Islam, laki-laki itu WAJIB memberi nafkah.”

    Yes that is so true and I believe in that too. Gue termasuk perempuan yang kurang ajar dan sebelum menikah berani-berani bilang begini :

    “Sayang… aku siap diajak berjuang dari nol. Tapi gak mau tau gimana caranya kamu harus ngasih aku makan ya.”
    Tapi ceritanya, faktanya di lapangan, banyak lho laki-laki yang gak ngasih makan anak bininya… Waktu mau menikah kan si perempuan gak tau kalo lakinya gak akan mau ngasih makan… waktu pacaran kan semuanya penuh bunga-bunga indah… masih gak boleh minta Pre-Nup sama yang begini?

    Kasus terakhir yang paling sedih adalah… si istrinya lagi memikirkan mau bercerai karena udah gak tahan lagi harus bekerja banting tulang sendirian menghidupi 3anak + bayar utang suaminya terus menerus… tapi ternyata kalau bercerai pun, dia gak bisa menghindar dari utang itu. Karena utang itu adalah utang bersama yang terjadi pada saat mereka masih menikah. Jadi kalau mereka bercerai, si istri ini tetap harus membayarkan utang suaminya… hmmm….

    Finance Should be Practical!
    Ligwina Hananto

    Posted by Permana D | May 13, 2009, 11:09 am
  21. weleh…melindungi aset ya la?

    walaupun gw gak mengutuk orang2 yg punya perjanjian pra nikah tetapi gw pribadi merasa kayaknya gak perlu deh, kecuali memang dua2nya tajir abizz…think about it…aneh aja kesannya la…

    Posted by Ria | May 13, 2009, 12:34 pm
  22. wew!!!!!
    kalau buat gw sich gak perlu mbak….secara gak ada juga harta yang gw punya….hahahaha…..

    btw edan juga tuch cewek ya minta disekolahin mpe S2 segala..kalau ada cowok yang mau memenuhi permintaanya itu, gw juga mau donkk… pesan satu yakkkk!!!!!

    kwkakwka…🙂

    Posted by joicehelena | May 13, 2009, 3:10 pm
  23. Gue baru sadar..
    ternyata gue gak ditanyain sama Lala, gak dimintain pendapat.
    Lala emang sayangnya ama Om Nug and DV aja.
    huh.. (memalingkan wajah tanda kecewa)
    😀 ahhahahha
    anw Pre-Nup..? dulu siiy ngotot2 pengen punya, ada byk pertimbangan lah. Tapi tujuan pernikahan kan membuat duaa menjadi satu.
    SATU.. lha kenapa dikotak2in lagi ?😉

    Posted by Eka Situmorang - Sir | May 13, 2009, 5:53 pm
  24. Bagi kebanyakan orang ini emang dinilai sering gak perlu dan bahkan dianggap berlebihan.
    Tapi bagi orang2 yang sudah pernah berhutang atau menjadi penjamin hutang akan tau dan bagi yang gak siap bisa terkejut kenapa tiba2 suaminya yang berhutang atau menjamin hutang usahanya atau lebih parah lagi menjamin hutang usaha orang lain, kok istrinya mesti ikut diseret-seret turut menandatangani atau menyetujui hutang atau jaminan hutang tsb?
    Tandatangan si istri itu, artinya = izin kepada pihak yang dijamin (bank misalnya) untuk mengeksekusi SELURUH harta suami istri itu yang susah payah dikumpulkan mereka selama kehidupan perkawinan mereka.
    Hal itu tidak terjadi atau setidaknya harta istri akan terselamatkan (karena secara hukum tidak turut menjadi jaminan) jika mereka punya perjanjian pranikah.
    Ini gak ada urusannya dengan orang yang belum kawin kok udah berniat mau pisah atau kesan matre atau apa. Emang sih, itu bisa menghambat seseorang tiba2 menjadi sangat kaya karena menikah dengan orang yang berpenghasilan sangat besar, namun sesungguhnya kekayaan dan kewajiban (assets and liabilities) itu adalah satu paket.

    Sangat situasional. Mestinya jika seorang Penghutang Besar atau Pemberi Jaminan Pribadi untuk hutang usaha (yg bisa besar dan usaha selalu bisa rugi) emang cinta sama istri dan anak2nya, justru dia akan cederung memnuat perjanjian pra-nikah untuk melindungi orang2 yg dicintainya. Dalam bisnis sangat lazim jumlah hutang JAUH lebih besar dari jumlah Aset/kekayaan pribadi.

    So, perjanjian pranikah penting gak..? Tergantung.. dan balik lagi ke masing2 kita.. Sikon tiap orang bisa sangat beda satu dengan lainnya..🙂

    Makasih buat penjelasannya, ya, Mas Nug… Sekarang baru benar-benar ngerti…🙂

    Posted by Nug | May 13, 2009, 10:21 pm
  25. Saya punya perjanjian pra nikah, tapi hanya dibicarakan, dan ditulis diatas kertas bermeterai, mungkin saat itu belum jamannya mengenal notaris dsb nya.

    Bagi saya, membahas secara detail, apa visi dan misi kita tentang pernikahan, apa yang boleh dan tak boleh…sangat penting. Banyak yang janji bahwa isteri boleh sekolah..bla..bla… pada akhirnya cuma jadi ibu rumah tangga biasa. Bagi yang cinta banget, dan kebetulan suami baik, akhirnya bisa berdamai untuk menjadi ibu rumah tangga yang bahagia. Tapi ada juga tipe yang eneginya berlebih, yang kalau tak tersalurkan, akan berakibat negatif (saya banyak melihat contoh di sekelilingku).

    Saya pernah pacaran cukup lama, sejak awal si Dia tahu, kalau saya ingin bekerja setelah menikah, dan dia setuju (mungkin dalam hati, jika udah cinta saya bisa berubah)…setelah lama berhubungan dan saya udah cinta banget, dia bilang, bahwa dia akan menjadi kepala keluarga yang bertanggung jawab, dan memohon saya akan tetap menjadi ibu rumah tangga yang mendidik anak-anak. Apa yang saya lakukan? Langsung membuat keputusan, tak diteruskan…walau saya sedih, kecewa, patah hati…tapi itu putusan terbaik bagiku, karena saya dibesarkan dari kedua ortu bekerja, dan merasakan bagaimana rasanya jungkir balik kuliah dengan menambah uang saku sendiri. Siapa yang tahu masa depan? Suami bisa aja baik, bagaimana kalau meninggal muda, sakit2an, di PHK…pada saat anak-anak membutuhkan biaya. Saya tak sanggup membayangkan itu. Bagiku, saya bisa jungkir balik bekerja, maupun menyelenggarakan rumah tangga dan tetap memperhatikan anak-anak…tapi tetap punya kebebasan berekspresi. Yahh, tak semua sependapat denganku, bukankah kita memang berhak punya pendapat berbeda?

    Jadi La, biar bagaimanapun, bagi saya perjanjian itu penting, persoalannya mau dibuat tertulis apa tidak, dibawah tangan (hanya tanda tangan di atas meterai), atau di warmeeking atau malah perlu notariil, terserah pada masing-masing. Kita tak tahu hari depan kita kan? Apalagi setelah menikah, baik suami atau isteri punya tanggung jawab membesarkan anak-anak….

    Bunda,
    Lala setujuuuuu banget dengan pemikiran Bunda. Itu adalah pemikiran yang sangat realistis, keputusan yang paling tepat untuk orang-orang tertentu, dengan kondisi-kondisi yang spesifik. Setiap orang berhak memiliki pendapat, Bunda.. dan aku setuju sekali dengan kata-kata Bunda bahwa tidak akan ada yang tahu dengan masa depan. Jadi, ini adalah tindakan untuk berjaga-jaga.. Supaya kalau jatuh, nggak terlalu sakit…

    Makasih untuk pendapatnya, Bunda. Sangat, sangat mencerahkan…🙂

    Posted by edratna | May 14, 2009, 9:40 am
  26. La, itu tadi hanya dari sisi pandangku, bahwa saya harus punya penghasilan, jika terjadi apa-apa, agar anak-anak tetap sekolah.
    Yang dikutip Permana, juga cerita mas Nug memang benar. Saya percaya karena mas Nug, memahami masalahnya dan sering menemui hal-hal seperti itu dalam hubungan pekerjaannya, demikian juga denganku.

    Pernikahan bisa bahagia, tapi juga bisa menjadi neraka, jika kita ternyata menikah dengan orang yang suka berhutang. Karena jika kita mengikuti hukum Islam, maka harta suami adalah juga harta isteri setelah menikah, ada unsur tanggung renteng. Jadi pembedaan harta, dimaksudkan sebagai melindungi keluarganya, jika usahanya gagal.

    Posted by edratna | May 14, 2009, 9:45 am
  27. Hm..
    Jadi inget moto para perempuan bekerja ini:

    “Uang hasil kerja suamiku adalah uangku dan uang hasil kerjaku adalah uangku (sendiri)”

    Moto ini sering buat para lelaki nyengir dan senyum2…
    Pada dasarnya walaupun prakteknya suami gak mengutik-utik sama sekali penghasilan istri yang tetap dikelolanya sendiri, secara hukum, moto itu sama sekali gak berlaku, jika diantara mereka gak ada perjanjian pranikah. Artinya, jika oleh karena suatu sebab apapun suami berhutang, maja harta istri yg dikumpulkannya dari hasil kerjanya sendiri itu dan dikelolanya sendiri itu, OTOMATIS menjadi jaminan hutang suaminya juga.

    Trus.. gara2 lobby2 suami ditemani “Caddy” di lapangan Golf gagal, bisnisnya hancur, harta istri yg susah payah dikumpulkannya dari hasil kerjanya sendiri itu dengan harapan buat menyekolahkan anaknya hingga ke luar negeri misalnya, ikut ludessss…

    Bahasa hukum yang jelas dan terang soal moto tadi (tanpa perjanjian pranikah) harusnya gini:

    “Uang suami adalah uangku dan hutang suami adalah hutangku juga”

    Pasti deh pada mikirrrr lagi…:mrgreen:

    Posted by Nug | May 15, 2009, 2:23 pm
  28. setahuku sich buat melindungi asset, ga tau deh kalau sekarang jadi dipake buat menghalangi suami merokok, selingkuh, kawin lagi….dst…necessary atau too much is depending on the purpose say

    Posted by 1nd1r4 | May 17, 2009, 10:27 am
  29. Penting ngga penting :p

    Btw, gua baru tau lho perjanjian pra nikah itu ternyata isinya ngga hanya menyoal harta aja ya?

    Kalo yang di luar harta, misalnya perjanjian tentang hak dan kewajiban githu, kalo dilanggar, bisa diperkarakan secara hukum kah?

    Rasanya samar2 gua inget di Oprah pernah dibahas dhe *Oprah lagi, Oprah lagi, hahaha :D*

    Isi perjanjian pra nikah-nya kok tentang siapa yang punya kewajiban buang sampah, hihihi..

    Mungkin lebih supaya masing2 pihak tau apa yang diinginkan dari pasangannya kali yaa?

    Hmm..

    Posted by Indah | May 20, 2009, 10:59 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

May 2009
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: