you're reading...
Just a Thinking

I wanna die…

 

I wanna die…
“Kenapa?”
“Aku ingin bebas dari pikiran-pikiran ini…”
“Pikiran apa?”
“Pikiran-pikiran ini. Semuanya!”
“Hmmm…”
“Aku ingin berhenti berpikir. Aku ingin berhenti mengunyah masalah ini sendiri…”
“Cerita sama aku.”
“…Tapi aku nggak ingin berbagi…”
“Jadi kamu lebih memilih mati?”
“Iya. Aku ingin mati.”
Okay. Kalau kamu nggak ingin berbagi, lantas kenapa kamu cerita ini sama aku?”
“Ng…. kamu tahu, nggak, cara mati yang paling enak?”

***

Aku sarankan padanya, “Gimana kalau potong nadimu dengan silet?”

Dia menggeleng. Wajahnya murung. “Kamu tahu kan, kalau aku takut ngeliat darah… Dan iya kalau aku mati? Kalau aku cuman kejang-kejang terus malah berakhir di rumah sakit… lalu masih hidup seminggu kemudian, gimana?”

Aku tersenyum. Lalu aku bilang lagi, “Kalau mengumpan diri di atas rel kereta api dan membiarkan kereta itu melindasmu… how?”

Dia terlihat berpikir sebentar. “Nggak kebayang aja kalau tiba-tiba ada kereta api melindas tubuhku. Gila, ah! Aku nggak mau. Terlalu serem!”

“Jadi, maumu apa? Minum racun serangga? Biar pelan-pelan aja?”

“Aduh, aduh,” katanya sambil menggeleng. “Susah ngebayangin kalau musti mati pelan-pelan…”

Aku bangkit dari kursi, duduk di sebelahnya, lalu mengusap punggungnya. “Nyiletin urat nadi? Takut sama darah. Ngumpanin di kereta api? Takut mati mendadak. Minum racun serangga? Takut mati pelan-pelan.” Aku menatap matanya yang kosong. “Mana ada mati yang enak?”

“Makanya aku tanya sama kamu…” katanya sendu. “Aku cuman ingin mati saja. Kalau boleh bereinkarnasi, aku ingin tumbuh menjadi burung aja.”

“Reinkarnasi jadi burung? Kalau matimu dengan cara bunuh diri, yang ada kamu terlahir kembali jadi cacing-cacing busuk. Mau?”

Dia menggeleng. “Kenapa kamu musti sejahat itu sih?”

“Dan kenapa kamu musti sejahat itu dengan dirimu sendiri?” Aku balik bertanya. Perempuan itu tertunduk. Air matanya bergulir dan membasahi pangkuannya. Melihatnya, aku tak sampai hati. 

“Justru aku ingin berhenti menjahati diriku sendiri dengan terus hidup.”

“Tapi kamu akan menyiksa rohmu sendiri kelak, di neraka sana, entah sampai kapan. Gimana?”

Dead air. Suasana mendadak hening. Aku hanya bisa mendengar hela nafasnya yang berat. Kulihat rambut perempuan ini yang kusut masai. Kulihat kedua bola mata bundarnya yang kini kehilangan cahaya. Ah, lingkar hitam di bawah mata itu. Kenapa kini nampak jelas terlihat seperti bayang-bayang gelap yang mengurangi kecantikan wajahnya?

Dia adalah perempuan yang ceria. Aku mengenalnya sepanjang umurku. Dia jarang menangis, setidaknya dia hanya menangisi masalah-masalah sepele lalu tertawa sesudahnya seperti layaknya perempuan yang moody. Dia hanya menangis ketika perutnya melilit pedih. Dia hanya menangis, ketika tak ada satu pasang matapun yang melihat. 

Dia adalah pemain sandiwara; bahagia karena tuntutan peran di depan mata-mata penontonnya.

Dan kini, ia ingin turun dari panggung. Menyudahi semuanya. Termasuk hidupnya.

Aku tak ingin kehilangan dia. Setidaknya, bukan karena pikiran-pikiran sintingnya sekarang ini! 

***

“Aku tahu caranya…” kataku memecah keheningan.

Dia mengangkat wajahnya. “Gimana?”

“Berdoa saja supaya Tuhan mencabut nyawamu, setiap malam, setiap saat kamu hendak tidur.”

Dia tercenung. “Bisa?”

“Aku nggak tahu. Tapi mati karena kehendak Tuhan pasti lebih menyenangkan daripada mati karena bunuh diri…”

“Kalau aku nggak mati?”

“Doa lebih kencang!”

“Kalau masih nggak mati juga?”

“Berarti Tuhan tidak mengijinkan kamu mati…”

***

Kubilang pada perempuan itu tentang indahnya Surga. Di sana ia akan bertemu dengan bidadari, mengunyah makanan apapun yang dia inginkan, tidak memiliki rasa iri, dendam, tapi hanya rasa damai yang membuat hati selalu terasa hangat.

Kuceritakan padanya tentang seramnya neraka. Bulu kuduknya berdiri, tubuhnya meremang seketika. Wajahnya memucat, bibirnya juga. Bayangan tentang siksa kubur, bayangan tentang setiap jengkal tubuh yang memiliki mulut untuk mengadu, bayangan melintasi sehelai rambut yang dibelah tujuh, kuceritakan untuk menakut-nakutinya.

“Bayangkan. Kamu sudah sholat sepanjang umurmu, tapi kamu sia-siakan hanya dengan satu tindakan konyolmu.”

Dia terdiam.

“Bayangkan. Puasamu setiap tahun, sejak usia tujuh tahun, kamu sia-siakan dengan satu keputusan goblok.”

Dia masih terdiam.

“Bayangkan. Semua hal baik yang sudah kamu tabung itu akan menjadi sia-sia hanya karena kamu lelah…”

Kini dia terisak.

“Jawab aku. Apa kamu masih mau bunuh diri?” tanyaku dengan suara bergetar. 

Hening sekali lagi.

“Jawab aku!”

Perlahan-lahan dia mengangkat wajahnya. Butiran air mata memenuhi kedua bola matanya lalu menatapku dengan kuyu. Perempuan itu.. perempuan manis itu… perempuan yang mengajariku tentang hidup yang tak perlu ditangisi.. perempuan yang mengatakan bahwa setiap badai tidak datang untuk mengacaukan, tapi untuk menguji ketangguhan seseorang… bahwa setiap ujian adalah penting untuk menguji kesiapan seseorang saat naik ke tingkat kedewasaan selanjutnya…

Perempuan itu mengajariku tentang banyak hal yang membuatku kembali ke jalur yang semestinya. Kini, giliranku untuk memeluk tubuhnya yang menggigil, bergetar, dan berjalan tanpa arah. Kini, giliranku untuk mengelus rambutnya dan membisik di satu cuping telinganya kalau semuanya akan baik-baik saja, seperti yang selalu dia bisikkan di telingaku setiap masa-masa terberatku.

“Ah, sudahlah. Kita sholat aja, yuk?” Aku mengakhiri keheningan itu sambil meraih tangannya. “Lama-lama, ngeliat wajahmu kayak gitu, bikin aku nafsu pingin googling cara aman dan nyaman serta tepat sasaran untuk mati dan masuk Surga!”

Kutarik tangannya dengan satu sentakan halus lalu menyeretnya ke kamar mandi untuk berwudhu. Dengan satu pengharapan yang terus kuucapkan dalam hati, supaya dia tahu kalau dia tak pernah sendiri… Setidaknya… ADA AKU.

***

Sesaat sebelum sholat Ashar
3.05 Sore 

 


 

 

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

15 thoughts on “I wanna die…

  1. Aktris yang ingin turun panggung ? jadi sutradara saja
    Pemain bola ingin gantung sepatu ? jadi pelatih saja
    Lelah hidup ? tidur saja, nanti juga mati sendiri
    hehee …

    Hmm, bener sih, kata mamaku …
    bunuh diri, emang urusan dunia habis, tapi silakan bertemu dengan malaikat di kubur sana,, jlegerr.. dicambuk deh.
    Makasih sudah mengingatkan sholat, Mbak …

    Nah, kalo urusan jadi sutradara itu yang repot.. lha wong nggak akan pernah jadi sutradaranya jeh.. hehehehe…
    Mari sama-sama mengingatkan, ya, Dek..🙂

    Posted by Muzda | April 28, 2009, 4:35 pm
  2. Btw …
    Banyak kali aku baca postingan tentang mati hari ini …😦
    Aku bahkan nulis tentang hantu,, haiyah ….
    Kenapa ini ..?

    Dunia sedang muram kali, ya, Dek?🙂
    Kamu lagi nulis tentang hantu? Haduh… serem…😀

    Posted by Muzda | April 28, 2009, 4:36 pm
  3. wah…wah..
    kalo aku ada masalah…boleh curhat donk
    kayaknya ibu yg satu ini bisa buka “LIFE COUNSELOR” deh🙂

    Posted by AFDHAL | April 28, 2009, 7:12 pm
  4. Hmm.. sebisa mungkin sih lebih baik dia jangan sampe sendirian dhe, Laa.. pastikan selalu ada orang di sekitarnya, yaa.. emang sih kita tetap ngga bisa mencegah pikiran2 yang timbul dalam otak dia tapi setidaknya kalo dia mo take it into actions, ada orang yang bakal mencegahnya..

    Semoga teman kamu itu baik2 saja ya, Laa😉

    Posted by Indah | April 28, 2009, 9:00 pm
  5. kayaknya ga etis beritahu cara paling enak buat die. Padahal mudah lho.. tapi cara paling enak buat hidup, bagi saya jauh lebih menantang dari pada itu. Ah, padahal waktu masih berwujud mikroskopik, kita berlombalomba untuk hidup.

    Bayangkan, dari ribuan benih, cuma satu yang bertahan dan bisa hidup sampai sekarang. Itu sudah rekor! Sama seperti lulus UMPTN dengan satu bangku yang tersedia dan diperebutkan ribuan lulusan SMU se-Indonesia. Ya, pengertianlah dengan kawankawan seperjuangan yang tidak sempat untuk dibuahi.

    Life is beautiful, even it wasn’t😀

    Posted by HP | April 28, 2009, 9:22 pm
  6. wahhh menggugah sekali…ini kejadian beneran apa gak siy mbak ? kok kayaknya real banget….

    Posted by imoe | April 28, 2009, 9:37 pm
  7. Aku nggak pernah bisa mengerti sebesar apa batu yang berada di pundak para pembunuh diri itu…, sehingga jalan pintas itu yang hanya ada di pikiran mereka…, klo kita selalu melihat kedalam kita nggak akan pernah tau mereka2 yang berhasil melewati 1000x masalah yang lebih puyeng dari masalah yang kita hadapi…, life is always be a never ending story, live it…

    Posted by jazili | April 28, 2009, 10:10 pm
  8. Dia beruntung punya Lala..
    Good job, my girl..😉

    Posted by p u a k™ | April 28, 2009, 10:22 pm
  9. Lala baik kayak gini koq masih ada ya cowok yang tega nyakitin Lala….

    Lala…. salam untuk temanmu itu ya sego pecel masih enak jangan mati dulu ahhh….

    Posted by Retie | April 29, 2009, 12:17 am
  10. Cara mati yang paling manjur di jepang adalah:

    terjun dari gedung 30-50 tingkat

    bisa ngerasa jadi superman juga loh!!!

    makanya 30.000 lebih orang Jepang mati per tahun krn bunuh diri.

    Dan untung situs kamu ini dlm bhs indonesia. Kalau bahasa Jepang,
    kamu sudah ditangkap polisi karena secara tidak langsung mengajak pembaca untuk bunuh diri. Dan ini benar!!! Banyak situs yang berisi cara-cara bunuh diri di Jepang. Mau tahu bagaimana bunuh diri? Ask the japanese.

    Jangan tinggalkan orang yang bunuh diri itu seorang diri. Ajak dia melupakan kesusahannya. Karena mungkin cuma kamu yang dia mau dengar, palagi kalau dia sudah tak mau dengar suara hatinya.

    EM

    Posted by Ikkyu_san | April 29, 2009, 7:14 am
  11. serem ah
    pagi2 bacanya yg beginian
    untung ujung2nya sholat
    ga bunuh diri beneran

    –life is beautiful-

    Posted by depz | April 29, 2009, 7:36 am
  12. nggak banget deh kalau ada yg bilang soal pingin commit suicide. Tuhan menganugrahi kesempatan untuk mnghirrup nafas di dunia yg indah ini, why bother killing yourself…..

    Bener tuh, banyak2 shalat buat yg kepikiran buat bunuh diri

    Posted by 1nd1r4 | April 29, 2009, 12:32 pm
  13. Hmm.. Laa.. Pas baca2 lagi kok.. Gua berasa.. Apa ini percakapan antara elo dengan diri elo sendiri? Hmm.. Mudah2an gua salahh.. Cai yo yaa, Laa, and jangan lupa ingatkan juga orang yang elo ceritain di atas itu kalo hidup itu indah, siapa tau dia lupa🙂

    Posted by Indah | April 29, 2009, 1:18 pm
  14. cara mati yang bakal gue pilih,
    1. mati dalam tidur
    atau kalo mau yang tragis,
    1. tusuk dada pas di jantung, dan lempar ke jurang..

    –> biar ga usah ribet2..

    dan reinkarnasi? hmm.. jadi kucing aja deh

    Posted by Billy K. | May 1, 2009, 10:19 am
  15. dalem banget siy…….

    Posted by i | May 3, 2009, 5:43 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

April 2009
M T W T F S S
« Mar   May »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: