you're reading...
Kelana Lesmana Dewi

What’s So Special About Sakti?

Kelana Lesmana Dewi (2)
(baca seluruhnya di sini

 

You look at me and you don’t understand
You know I’m not the one that could fill your dreams
I can’t believe that this is how I am
Still won’t you stay, let me love you for awhile
You know I’m not that strong when I see you smile
(Can’t You See — Tiffany) 

 

“Jadi lo nekat ketemuan sama Sakti?”

Usai mengantarkan Sakti ke airport, aku mampir ke apartemen Kanisha, sahabatku, yang masih molor kayak sapi potong yang sudah disuntik obat bius. Ketika aku sampai di depan pintu apartemen-nya aja dia masih kumel dan dugaanku adalah dia memang baru bangun tidur dari hang overnya semalam.

Kanisha memang perempuan yang hobi dugem. Menghabiskan uang beratus-ratus ribu hanya untuk jogat-joget nggak jelas dan menenggak beberapa gelas  minuman beralkohol yang membuatnya hang over keesokan paginya. Dia sudah lupa umur, kayaknya. Usianya sudah tiga puluh lebih sedikit. Seharusnya acara dugem sudah terhapus dari must do list di setiap ujung pekannya dan menggantinya dengan mengunjungi Gereja aja. Dia sudah banyak dosa. Sudah seharusnya dia insyaf.

Ups! Dosa? Ah, memangnya aku sesuci apa, sih? Apa yang sudah aku lakukan dengan Sakti semalam pastinya bukan kelakuan orang suci!

Ya, ya, ya. Aku memang pendosa. Duh, kaplingan tanahku di neraka sana bisa dibaliknama nggak, sih? 

“Kenapa musti dibilang nekat, sih?” tanyaku sambil menyeruput kopi susu yang sudah dibuat Kanisha beberapa menit setelah aku sampai di apartemennya.

Saat Kanisha menyiapkan kopinya di dapur tadi, aku merasa seolah melihat keajaiban dunia. Kenapa coba? Hm, tentunya karena dengan mata merem pun, Kanisha bisa tahu persis di mana letak cangkir, coffee maker, air panas, dan bubuk kopi yang terletak di lemari. Gila!

“Ya jelas nekat, lah, Lan. Kita ngomongin Sakti, bukan ngomongin Ramon, Kemal, atau cowok-cowok yang ngerubungin elo kayak lebah madu itu.”

Ramon adalah ahli komputer yang aku kenal di acara kawinan June, teman kantorku, dan Kemal bekerja sebagai graphic designer di sebuah majalah dengan oplah gila-gilaan. Mereka jelas bukan lebah madu, meskipun sumpah, bibir mereka legit banget! Hehe.

“Elo segitu bencinya sama Sakti, ya, Sha?”

“Lah, bukannya dia emang pantes gue benci, Lan? Dia itu bukan lelaki yang baik buat elo, Kelana. Gue benci banget sama cowok kayak dia, tauk.”

“Cowok kayak dia?”

“Iya. Kayak dia. Sok kecakepan padahal biasa banget.” 

“Kayak James lo itu cakep aja, Sha,” kata gue sewot.

“Heh. Paling nggak, James cuman neleponin gue, cuman nyiumin gue, cuman dateng berkunjung ke apartemen gue. CUMAN SAMA GUE. Kalau Sakti?”

Aku diam. Kalau ini adalah ruang pengadilan, silahkan aja, deh, Bapak Hakim yang terhormat untuk mengetukkan palunya dan menjebloskan aku penjara untuk kasus ‘Perempuan Gebleg’.

“Dan lo masih nanya, kenapa gue bilang elo nekat karena elo ketemuan sama Sakti?”

Dead air. Seolah seluruh dunia kompak banget untuk diam sejenak. Yang bergerak hanya angin yang menyambar-nyambar pipi dan rambut kami berdua yang tengah duduk di teras apartemen Kanisha sambil mengamati lelaki-lelaki berperut sobek  (iya, six packs itu) yang sedang asyik berjemur di pinggir kolam renang.

Aku tahu, Sakti bukan favorite Kanisha. Malah, ketika terakhir kali aku curhat soal Sakti sambil menangis-nangis darah beberapa waktu yang lalu, Kanisha berkomentar dengan sewotnya, Sakti bukan lelaki yang baik buat elu, Lana. Dia adalah lelaki paling jenius yang sudah berhasil bikin satu formula untuk membuat sahabat gue yang pinter ini menjadi perempuan paling bego sepanjang sejarah. Sakti tuh Ilmuwan kampungan yang berhasil menciptakan obat-obatan paling keren sehingga sahabat gue bisa dengan cueknya membuka tangannya lebar-lebar buat memeluk cowok geblehg macam dia. Iya, Lana. Sakti udah bikin elu bego dan gue nggak suka itu, Lana… Cuman itu maksud gue. “

Saat itu aku nggak memberikan pembelaan sama sekali. 
Saat ini, aku juga nggak punya kata-kata apapun untuk membela diri.

Kanisha benar. Sakti adalah ilmuwan hebat. Dan aku adalah kelinci percobaannya.

“Gue nggak ngerti, ya, Lan,” kata Kanisha memecah dead air yang sempat terbentuk beberapa saat. 

Aku menghela nafas. Ah, kata-kata apa lagi yang akan keluar dari bibir sahabatku ini? Jujur, aku sedang tidak ingin dicela atau dinasehati. Aku cuman ingin didengarkan. Dan aku pikir, Tyas, sahabatku yang lain, yang pikirannya sangat suci dan berpikiran super lurus, bakal terkena serangan jantung seketika kalau mendengarkan curhatku soal Sakti.

Nggak. Aku memang pendosa, tapi aku bukan pembunuh. Apalagi sahabatku sendiri. Tapi entahlah, mungkin Ninit boleh jadi proyek uji coba.

“Nggak ngerti apa, Sha?”

“Nggak ngerti sama ketololan elo,” lanjutnya sambil menyesap kopi sekali lagi.

“Hm..”

“Karir lo hebat…”

Ya, karirku malah sangat hebat. Di usia awal tiga puluhan ini, aku sudah menempati kursi yang empuk, di ruanganku sendiri, dan menjadi kepercayaan Boss. 

“Elo cantik…”

 Hm. Banyak yang menyangka kalau hidung tinggiku ini adalah hasil kreasi seni dokter Hendrawan, dokter bedah plastik paling happening di kota metropolis ini. Kedua pasang mataku mirip sepasang mata kucing yang seksi. Bibirku? Penuh seperti milik Angelina Jolie. Tubuhku, meski tidak langsing-langsing amat, tapi cukup bikin lelaki manapun menoleh saat aku melewati mereka. Ya. Aku memang cantik!

“Elo pinter banget…”

Setahun kemarin aku berhasil menyelesaikan program Master-ku di London. Lulusan terbaik dan diiming-imingi pekerjaan mantap di sebuah perusahaan iklan yang menaungi banyak anak perusahaan yang tersebar world wide. Tapi aku memilih untuk tidak menjadi Maling Kundang karena melupakan kalau kuliah di luar negeri itu disponsori oleh Perusahaan yang menaungiku sekarang.

“Tapi herannya… elo itu goblog banget kalau ngadepin Sakti sialan itu.”

There. Kanisha mengatakannya seolah tanpa hati. Pandangan matanya lurus dan suaranya datar. Dia memang tak pernah punya hati kalau sudah berurusan dengan Sakti.

“Kenapa sih, Lan, elo bisa jadi cewek bego kayak gini? Emang Sakti punya apa yang nggak ada di Ramon, eh?”

Tiba-tiba aku kehilangan semua kata-kata.

**

What’s so special about Sakti?

Wajahnya tidak seganteng Ramon, tentu. Tapi… oh my God! Matanya itu.. Senyumnya itu.. Hidungnya itu… Bibirnya.. Aduh! Perpaduan yang sempurna.

Karirnya? Hm. Dia memang eksekutif muda yang sukses. Tapi jika dibandingkan dengan Ramon, seorang ahli komputer yang kini sedang bertugas ke luar negeri, tentunya Sakti tidak ada apa-apanya. 

Cinta dan sayangnya buat aku? Hey. Ramon adalah Juaranya!

Lantas, what’s so special about Sakti? Dia hanyalah lelaki dengan wajah biasa saja, karir yang tidak lebih hebat dari Ramon, dan buku teleponnya penuh dengan nama-nama perempuan yang siap ditelepon. Dia cuman lelaki standar, tapi aku tergila-gila padanya.

Sepanjang perjalanan pulang dari apartemen Kanisha beberapa jam berikutnya, aku memacu Jazz-ku dengan kecepatan 40 kilometer perjam saja. Jalanan Surabaya di Sabtu pagi yang lengang membuatku ikut malas-malasan. Apalagi dengan pikiran-pikiran yang seolah menggigit habis kesadaranku, aku sampai-sampai malas sekali untuk menginjak pedal gas.

Tiba di lampu merah, henponku berdering. Kebiasaan buruk itu aku lakukan sekali lagi; mengaduk-aduk isi tas sampai bego. Beberapa detik kemudian aku berhasil menemukan henpon itu dan melihat tulisan Unknown Caller. Hm. Aku menghela nafas.

“Halooo…”
“Sayang… good morning…”
“Selamat pagi, Babe. Kok tumben telepon jam segini?”

Perbedaan waktu di antara kami adalah enam jam lebih. Kalau sekarang sudah jam 9, berarti di belahan bumi Eropa sana masih dini hari.

“Kangen aja sama kamu.”
“Ow…”
“Mm.. lagi di mana, Sayang?”
“Lagi di mobil, Babe.
“Lho, abis dari mana? Atau mau kemana?”

Abis dari tempat Kanisha. Abis curhat soal Sakti yang tadi pagi menciumi kekasihmu habis-habisan. Dan pulang dengan rasa berdosa sama kamu dan diriku sendiri.

Tapi tentu, bukan itu yang aku bilang.

“Dari apartemen Kanisha. Mendadak pingin ditemenin bubur ayam di jalan Jawa.”

Well, aku nggak bohong soal itu. Aku memang ke apartemen Kanisha. Aku mengajaknya makan Bubur Ayam di jalan Jawa. Aku nggak bohong, aku cuman nggak bilang semua detil yang lain. 

“Ow… Senangnya maem bubur… Aku pingin cepet pulang, nih, Sayang. Di sini semuanya berbau keju. Bikin enek.”

“Ya, pulang gih.”

I wish, Sayang. Tapi gimana bisa cepet pulang kalau kerjaan nggak habis-habis kayak gini… Duh, padahal aku kangen banget sama kamu, Sayang. Kangen banget…”

“Aku juga…”

Ini nggak bohong. Aku kangen dia.

“Aduh… aku bener-bener kangen sama kamu… “

“Aku juga, Sayang…”

Ini juga nggak bohong. Aku kangen banget sama dia.

“Kamu setia sama aku, kan, Sayang?”

“Ow, pasti, Sayang. Aku setia sama kamu…”

Ini baru bohong.

Siapapun juga tahu, kalau tidur dengan lelaki lain sementara kekasihnya sama sekali nggak tahu, tidak pernah masuk dalam kategori setia.

Jadi barusan aku berbohong. Dan berbohong adalah salah satu dosa besar. Apalagi mendustai seorang Ramon yang memujaku setinggi langit, yang mencintaiku seolah aku adalah Bidadari minus cela, dan mengharapkan aku bisa menjadi pelabuhan terakhirnya.

Aku. Kelana Lesmana Dewi. Bukan Bidadari.
Aku cuman Pendosa.
Dan sedang mengemas barang untuk berangkat ke neraka..

“Kelana…”

“Ya, Ramon?”

“Kamu tahu aku cinta banget sama kamu, kan?”

Gleg. 

“Tentu, Sayang. Aku tahu itu.”

You’re the best thing ever happened in my life, you know that?

Aku nggak bisa ngomong apa-apa. Seluruh energiku seolah tersedot habis hanya untuk memikirkan betapa tololnya aku seperti yang dibilang Kanisha sesaat sebelum menurunkannya di lobby apartemen usai makan bubur ayam.

“Cuman perempuan tolol aja yang lebih milih lelaki yang dateng dan pergi kayak tukang odong-odong, ketimbang lelaki yang memujanya setinggi langit dan mencintainya seolah energinya cuman untuk mencintai perempuan itu…

…gue nggak nyangka kalau elo, sahabat gue, ternyata setolol itu.”

Mungkin aku memang tolol.
Dan butuh brainwasher segera supaya aku bisa menghapus Sakti dalam setiap keping ingatan…

***

Surabaya, Senin, 20 April 2009
1.13 Pagi

 

 

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

9 thoughts on “What’s So Special About Sakti?

  1. Aih.. aih.. kenapa bisa ‘double cheese’ gini sih Lan?
    What’s wrong with ya?

    Bukankah Big Mac itu enak banget, Chris? Hehe…

    Posted by p u a k | April 20, 2009, 8:33 am
  2. Hai Lana..
    Sorry tadi aku pakai Login nya Puak.
    Mulai sekarang, aku akan pakai login ku deh..

    Love you,
    Lou!

    Hai Lou…
    Kelana lagi sibuk kerja..
    Yang ada cuman aku, Lala Purwono. Tadi Lana bilang, “I love you too, Louisa…”
    Gitu katanya… 🙂

    Posted by Louisa | April 20, 2009, 8:42 am
  3. Fiksi lagi kan ???
    Lewat lagiiii … pass lagiiii …

    🙂

    Posted by nh18 | April 20, 2009, 10:30 am
  4. ini bukannya si?????
    dear…cman lewat dulu nih…nanti aku balik lagi setelah report selesai ya…hehehehehehehehe….

    Posted by Ria | April 20, 2009, 11:16 am
  5. A girl with a lost mind…,or heart…
    Lanjut gih ceritanya jadi penasaran….

    Posted by Jazili | April 20, 2009, 6:30 pm
  6. what’s so speacial about Sakti ..??

    Karena dia lebih hijau, Lan.. biasa, rumput tetangga …
    Dan karena,, Sakti memberikan bling-bling, sementara yang Ramon tawarkan adalah life..
    hehehe…

    PS : Kurang ajar banget deh Muzda ngutip judul blognya Lala yang lovely gini buat nasihatin si Lana yang geblek ituuuuu …..
    *Ampuuuwwn*

    Posted by Muzda | April 20, 2009, 6:44 pm
  7. Lala….Kanisha itu mirip gue ya???

    *kabur sebelum disembut kopi*

    Posted by yessy muchtar | April 20, 2009, 10:35 pm
  8. sakti brings something new to Lana’s life….tantangan untuk bepetualan 😀 …huehehe…bahasane rek…

    Hayah… bahasamu, In… bahasamuuuu….. kikikikik

    Posted by 1nd1r4 | April 22, 2009, 6:47 am
  9. wah, cocok dibuat novel ceritanya bagus juga bahasanya

    Makasih yaahhh….. Semoga aja…

    Posted by Nazar | May 5, 2009, 4:43 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

April 2009
M T W T F S S
« Mar   May »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: