you're reading...
Fiktif, Kelana Lesmana Dewi, Uncategorized

Womanizer

Hari masih belum terlalu larut ketika aku sampai di pelataran parkir sebuah mal.  Alih-alih segera keluar dari dalam mobil Jazz hitam yang sudah lama nggak tersentuh sabun itu, aku malah mengaduk-aduk tasku, mencari sebiji henpon yang biar kata segede gaban itu, tetep aja suka nyelip-nyelip nggak jelas di belantara isi tas.

Semua perempuan pasti punya masalah yang sama seperti aku. Beli tas yang super besar, dengan alasan bisa muat banyak barang, tapi sering memaki-maki sendiri ketika mencari-cari sesuatu di dalam sana. Entah itu kunci mobil, sisir, henpon, lipstick, dompet, atau apalah.

Tapi kalaupun cuman aku perempuan satu-satunya yang punya masalah seperti itu… well, artinya… I am the chosen one! Yay! Penghiburan yang hebat, nggak, sih?

Aku masih mengaduk-aduk isi tasku ketika henpon itu berdering. Aduh, Gusti! Betapa senangnya hidup yang serba pas-pasan gini. Pas lagi butuh nyari tahu henpon itu ada di mana, eh kebetulan dia lagi berbunyi nyaring banget! Tinggal menajamkan pendengaranku (yang belakangan, entah kenapa sering budek mendadak — apalagi kalau dipanggil Boss! hihi), lalu bereslah sudah. Ketemu.

Ugh, ugh. Mana, mana, manaaaa…. sssiipp… ini dia!

“Ya, Sak?” Di layar henpon muncul nama Sakti.
“Sudah sampai mana?”
“Sudah di parkiran, kok. Elo?”
“Ini sudah cangkir kopi yang ketiga kayaknya, Lan,” kelakar Sakti.

Malaikat juga tahu kalau aku baru terlambat setengah jam kurang dikit. Sakti memang lelaki yang hobi ngelebih-lebihin fakta. Termasuk kehebatannya di urusan yang tabu itu. Iya. Urusan tabu buat perempuan seperti aku alias benah-benahin mobilnya yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa itu. Bagiku, ngurusin mobil itu tabu banget, karena takut kuku yang habis di-manicure ini malah patah-patah kayak goyangannya Anisa Bahar!

“Gue pesenin minum dulu, dong, Sak.. Biar ntar begitu sampai, gue bisa langsung nyeruput minuman. Haus nih!”

“Seruput punya gue aja, Lan,” kata Sakti sambil cekikikan. Haha. Aku tahu banget kalau pikirannya ngeres dan memancing komentarku.

“Nggak, lah! Frappuccino Java Chip aja. Enak, bisa ditelen!”

Sakti ketawa ngakak. Dasar cowok gebleg. Pikirannya mesum mulu. Memang sudah seharusnya dia cepet kawin supaya aku nggak jadi sasaran perilaku edannya itu.

“Ya udah. Cepetan jalannya. Kalau sampai kopi gue abis duluan, elo yang traktir cangkir keempat gue. Deal?”

“Bawel lo!” Aku menutup telepon sambil cengar cengir sendiri.

Usai menutup telepon, aku mengaduk tas sekali lagi. Mencari lipgloss lalu segera mengoleskannya ketika berhasil menemukannya di antara isi tas yang sungguh tidak layak untuk aku sebutkan satu persatu. Aku menyemprotkan sedikit parfum di belakang telinga lalu seketika paru-paruku penuh dengan aroma manis legit yang menggoda selera.

I’m all set.
Aku turun dari mobil. Menepuk-nepuk rokku sebentar. Merapikan rambut merah  keriting (aduh, kenapa aku mendeskripsikannya seperti cabe di pasar, ya?) buatan salon dengan ujung-ujung jariku. Dan keluar dari sana, melenggang ke Starbucks, di atas kaki-kaki beralaskan stiletto
 maha tinggi milikku.

Hatiku berdebar kencang.
Sakti, Sakti, Sakti.
Apa yang bakal terjadi nanti malam dengan kita berdua, ya?

** 

Starbucks selalu menjadi tempat kencan favoritku dengan Sakti. Ada satu sudut Starbucks yang sudah kami tahbiskan sebagai our corner yang artinya, kalau tempat itu nggak available, kami berdua akan muter-muter dulu ke tempat lain, lalu datang kembali ke tempat itu untuk mencari tahu apakah sepasang sofa marun empuk itu sudah bisa kami duduki.

Nah, karena Sakti bilang dia sudah menyesap cangkir kopi-nya yang ketiga, itu artinya our corner is available. Bagus, deh. 

Dan memang benar. Dari kejauhan, aku sudah melihat Sakti dengan laptop yang terbuka di depannya, dengan cahaya yang keluar dari layarnya dan menimpa wajahnya yang maskulin. Huh. Kenapa, sih, cowok ini selalu terlihat manis di mataku? Kedua matanya itu lho. Dalem! Lembut! Memesona banget… Ugh..

“Lan, sini!”

Sakti sudah melihatku. Ups. Dia tadi sempat melihat aku mengagumi wajahnya, nggak, ya? Ah, sudahlah. Toh Sakti sudah tahu banget kalau aku memang mengagumi dia. Jadi aku melemparkan senyum saja dan berjalan ke sofa kami.

Sampai di situ, kami bertukar ciuman. Dia mencium pipiku, aku juga mencium pipinya. Aduh. Lelaki ini harum banget, sih? Dia mandi pakai air plus sabun atau parfum, sih? Edan. Aku mencium aroma tubuhnya dengan sangat kelaparan!

“Apa kabar, Cantik?” Sapaan standar seorang Sakti. 

“Baik, Ganteng…” Aku membalas sapanya.

Sorry gue ngabarinnya mendadak banget, Lan,” kata Sakti sambil menutup laptopnya, lalu meraih tanganku dan menyuruhku untuk duduk di sampingnya. Persis di sebelah tubuhnya yang masih berbalut kaos buntung Giordano warna putih dan celana jeans dari merek yang sama. Ganteng! 

“Iya, nggak apa-apa,” kataku deg-degan karena Sakti mulai menggenggam jemariku. “Jadi, ada urusan apa kamu sampai terdampar di sini?” Aku berusaha mengalihkan pembicaraan. 

“Ada seminar gitu deh, di sini.”

“Oh ya? Sampai kapan?”

“Udah dari dua hari yang lalu, sih, Lan…” katanya tenang sambil menyeruput kopinya sampai tandas.

“Mmm… jadi ceritanya, elo udah mau balik, nih?” 

“Besok pagi. Penerbangan jam tujuh.”

“Owww… Jadi kemarin-kemarin elo kemana aja, Sak? Seminar sampai subuh?” tukasku mulai sebel. 

Sakti memang sering memancing emosiku untuk urusan yang satu ini. Dia selalu mengundangku ketemuan, at the very last minute. Kali ini masih mending karena Sakti mengajakku satu hari sebelum dia pulang. Biasanya, dia baru menelepon setelah sudah sampai di Juanda lalu menyuruhku untuk menyempatkan waktu ke sana. Dia akan segera terbang dalam dua jam dan aku, dengan goblognya, memacu Jazzku sampai pontang panting demi dia! Gila, kan?

“Hey, Cantik… Kenapa, sih?” Dia mencium pipiku. “Yang penting kan, akhirnya kita ketemu…” Dia memandangku dengan pandangan kelincinya yang menyebalkan. Tahu pandangan kelinci? Itu lho, pandangan yang nggak bakal bisa bikin orang sewot. Dan itulah yang dia lakukan sekarang. Memandangku seperti anak kelinci!

Saat aku terbius dalam pandangannya, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dia memberiku isyarat untuk diam sebentar setelah melirik layar ponselnya. Oh, aku tahu siapa yang menelepon. Aku sangat tahu.

“Ya, Sayang? Iyaa.. aku masih di sini… Nggak lah, aku sendirian aja. Lagi pengen sendiri, nih… He eh. He eh. Nanti malam aku telepon kamu, ya? Love you too, Baby…

Dia menutup telepon, memasukkan henponnya ke dalam saku celana, lalu menoleh ke arahku. Senyumnya terseringai seperti serigala. Aku menatapnya dengan sebal. Ah, Sakti. Kapan kamu bisa berubah, sih, Sak?

“Ninit, ya?”

“Iya.”

“Kenapa lo nggak kawinin dia aja, sih, Sak?”

“Udah, kok.”

“Gila, lo.”

“Tapi lo suka, kan, Lan?”

Dia mendekatkan bibirnya ke arahku dan menciumnya dengan lembut. Aku mendorong tubuhnya, menjauh. Pertama, ini di Starbucks, di mana orang dateng ke sini untuk membeli kopi, ngobrol, atau sibuk dengan gadgetnya masing-masing, bukan untuk nonton adegan film biru gratisan! Lalu kedua. Whoa, whoa. Barusan dia ngomong lop yu bebeh ke orang lain tapi malah mencium bibirku dengan nafsu? Oh plis!

“Sakti, elo itu emang gila, ya?” kataku. “Lo itu sinting, tau, nggak, sih?”

“Ayo dong, Lan.. Kok elo sekarang gini banget, sih? Apa kabar Lana yang dulu, yang dengan cueknya ngebiarin public display affection?”

“Dia udah mati, gara-gara Ninit.”

“Ah. Elo nyebutin nama Ninit kayak dia bakal jadi istri gue aja, sih, Lan…”

“Yang gue tahu, elo nggak pernah bilang cinta ke gue, Sakti. Elo cuman nyium-nyium gue doang, tapi nggak pernah bilang lop yu-lop yuan.”

“Emang segitu pentingnya kata cinta itu buat elo, Lan?” tanya Sakti dengan mata kelincinya. Ugh! “Kalau itu penting buat elo… okay. I love you banget, Kelana Lesmana Dewi. I really do.”

Aku terhenyak di sofa. Sakti. Dengan segala reputasinya yang menjajah banyak perempuan. Selalu bersikap manis pada setiap perempuan yang hadir dalam kehidupannya. Menciumi mereka satu persatu seperti lebah yang mencicipi setiap kembang yang mekar. Tapi tak pernah bilang cinta itu… kini bilang kalau dia mencintaiku. Meskipun tidak seperti yang selalu pernah kukhayalkan selama ini, tapi kata cinta itu menyerupai mantra yang berhasil membuatku meleleh seperti mentega di atas wajan panas.

Apalagi dia menambahkan satu kalimat yang ajaib ini, “Kalau gue nggak suka ama elo, Lan.. Nggak cinta ama elo… Ngapain gue ngajakin elo ketemuan setiap gue ke sini? Ngapain juga gue meluangkan waktu gue untuk nyesap kopi ama elo? Semata-mata, gue ngelakuin itu, karena gue kangen ama elo, Lan.. Karena gue pingin berbagi nafas sama elo..”

Aku nggak tahu. Kata-kata Sakti memang menyerupai mantra yang selalu berhasil membuatku seperti kebo yang dicocok idungnya. Seperti orang kena pelet. Seperti seorang perempuan dengan karir hebat, penghasilan tinggi, cantik, digilai lelaki, tapi bertekuk lutut di bawah kakinya.

Sakti memang selalu berhasil membuatku membuka mulut untuk menerima ciuman-ciumannya.

He always does.

Seperti yang kulakukan lima menit berikutnya…

**

Pukul empat pagi, aku terbangun.
Dengan tubuh yang kedinginan, topless, dan berbungkus selimut tebal.
Dengan rambut yang sedikit lembab karena keringat yang berpadu dengan hembusan angin dari pendingin ruangan.
Dengan hati yang berdebar seperti pendosa yang ditanyai Malaikat pencatat amal baik dan buruk.

Oh, tentunya.

Dengan Sakti, yang mendengkur halus di sampingku…

He’s maybe a womanizer… But he is MY womanizer

 ***

Surabaya, 19 April 2009

 

Catatan penulis:
Ini adalah serial Kelana Lesman Dewi yang semata-mata ditulis cuman karena lagi pingin nulis fiksi. Biar idup lebih seru aja… :) 
 

 

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

12 thoughts on “Womanizer

  1. Pagi harinya.

    Sakti : You looking hot as usual beib…you know that arent you?
    lana : Sure, i knew that…i always knew.

    Dan dia kembali menciumku dengan penuh nafsu, menjamah setiap bagian tubuhku, tepat di titik titik yang aku inginkan, yang aku nikmati, ouw Yes…kami mengulangi lagi perbuatan kami semalam.

    Satu hal yang pasti …Sakti tau betul cara memainkan gadgetnya, membuat ku tak sanggup menolak…atau jual mahal.

    Tenang sayang…aku tidak cinta pada lelaki milik orang lain ini..kami tidak bercinta..tidak pernah…Kami hanya memuaskan nafsu dan menikmati tubuh kami masing masing…ouw Yeahh…dan itu sangat menyenangkan.

    hey Nit…taukan kamu bahwa lelakimu sedang dalam pelukanku hari ini ?

    Kamu bisa bilang, kamu memilikinya…
    Kamu bisa bilang, dia mencintaimu…
    Kamu bahkan bisa bilang hanya kamu satu satunya wanita yang membuat dia mengatakan “i love you”

    But you know what my darling?

    His Penis not always stuck in your vagina,and this moment…the penis of your lovely guy…is MINE…is it clear baby?

    Posted by yessy muchtar | April 19, 2009, 5:46 pm
  2. Mantap bener…KAlo sakti akhirnya mendua gimana tuh kira kira ?

    Posted by imoe | April 19, 2009, 6:30 pm
  3. test.test..test

    Posted by ATM TUKANG™ | April 19, 2009, 8:30 pm
  4. Pukul empat pagi, aku terbangun.
    Dengan tubuh yang kedinginan, topless, dan berbungkus selimut tebal.

    Yang less… top aja ??
    gyahahaaa😀

    Posted by Muzda | April 19, 2009, 9:03 pm
  5. Hahaha…, kirain ceritanya sist beneran ki kekeke…
    🙂.

    Posted by Jazili | April 19, 2009, 9:26 pm
  6. @ Yessy :
    Yay! Ceritanya jadi sekseh gitu, ya, Boss? hihihi… Nice!

    @ Imoe :
    Tunggu kelanjutannya aja, ya, Moe.. Kelana lagi pingin berkelana di blogku, nih.. hehehe

    @ ATM tukang:
    Lah, kok malah kayak keran bocor? tes,tes, tes.. ^_^

    @ Muzda:
    Topless aja, deh. Soalnya kalo ga, kedinginan kali yaa… hehehe..

    @ Jazili:
    Hihi… maaf, rada nipu dikit…🙂

    Posted by lala | April 19, 2009, 11:29 pm
  7. Yak!.. akhirny fiksi lagi..
    Lou punya temennya sekarang.. Lana!😉
    Bisa dibagi jurus bawah selimut itu Lan? …hahahah

    Jurus di bawah selimut?
    Jiakakakak..
    Elo yang lebih expert kaleeee….😀

    Posted by p u a k | April 20, 2009, 8:19 am
  8. cerito tok to?
    tak kirain tenanan lho?
    huuuhhh pembaca kecewa…
    tapi kalo ada filmya, asyik juga tuh…
    btw setelah jam 4 terbangun, lan n sakti dah mandi besar blm?🙂

    Posted by AFDHAL | April 20, 2009, 9:36 am
  9. Fiksi kan ???
    Lewat … pass …

    Posted by nh18 | April 20, 2009, 9:39 am
  10. Real life is not a fiction (ya iyalah …) Sometimes it’s better that fiction …

    Posted by Oemar Bakrie | April 20, 2009, 7:36 pm
  11. Pas juga ah…

    Posted by Hery Azwan | April 21, 2009, 3:24 pm
  12. aku jadi esmosi jiwa bacanya, la…(even I knew It’s just a fiction). Masih aja ada cewe yang mau ama cowo sejenis sakti, padahal tau pasti dia playboy duren tiga…

    nah…. kenapa coba masih ada yang mau sama playboy seperti Sakti? *jawabannya ada di episod berikutnya! tsahh!*😀

    Posted by 1nd1r4 | April 22, 2009, 6:55 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

April 2009
M T W T F S S
« Mar   May »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: