you're reading...
Just a Thinking, Thoughts to Share

a huge landmines…

Ladang ranjau.

Apa yang terbayang di dalam pikiranmu kalau saya nanya, “Apa kamu berani berjalan di atas ladang ranjau yang masih aktif? Apa kamu berani melangkahkan kaki di sebuah ladang ranjau yang sewaktu-waktu peledaknya bisa meremukkan kaki-kakimu?”

Dan apa yang terbayang di dalam pikiranmu kalau saya nanya, “Atau kamu malah diam di sebuah titik, di sebuah tempat, yang kamu yakin benar di situlah satu-satunya tempat kamu akan selamat, meskipun akhirnya kamu tidak bergerak ke mana-mana?”

atau jangan-jangan yang terbayang adalah, “Idih, bawel amat sih, Lala ini.. Nanya mulu….” hehehe…

Asal tahu saja, saya bertanya seperti ini, karena saya perah berada di sebuah titik, yang saya pikir sangatlah aman, saya tidak akan merasa tersakiti, saya akan baik-baik saja… sampai saya sadar, saya tidak bergerak kemanapun…

**

Saya pernah cerita tentang London, kan? Tentang sebuah mimpi anak perempuan bernama Lala, yang ingin sekali suatu saat kelak dia bisa duduk di sebuah bangku kayu di taman kota dan menikmati udara London yang dingin, yang menyesak di paru-parunya, tapi yang terasa bukan dingin yang menggigil melainkan kegembiraan yang tak terbilang? 

Tapi setelah mengetahui saya memiliki phobia terbang yang cukup akut (kecuali terbang sambil dirangkul Superman yang ganteng dengan celana dalam…. yang letaknya di dalam, ya… ntar saya suruh bajunya dikeluarin aja, biar rada nge-trend sedikit.. hihi) dan memilih berkendara darat kemana-mana, kamu semua bilang, “Gimana bisa nyampe London kalau naik pesawat terbang aja kamu takut setengah mati?”

Saya tercenung juga mendengar kalimat-kalimat yang keluar dari bibir teman-teman saya… iya, kamu-kamu semua.

Bagaimana saya bisa menyentuh daratan London, kalau saya masih bermimpi untuk digendong terbang oleh Superman yang hanya ada di lembaran komik saja?

Bagaimana saya bisa sampai di sana, kalau saya tidak punya banyak waktu dengan numpang kapal yang mengangkut kontainer-kontainer (mentang-mentang kerjanya di Shipping Company) untuk sampai di sana? Dengan kru yang semuanya adalah laki-laki, saya nggak berani ngebayangin betapa senangnya saya di sana… (bukannya takut diapa-apain, tapi takut ngapa-ngapain! hihi)

Selama saya takut naik pesawat, London akan hanya menjadi mimpi saja, kan?

“Coba ada kereta jurusan London, ya, Om?” 

Suatu kali saya menelepon Om NH18; untuk bertukar kabar karena sudah cukup lama saya tidak berkomunikasi dengan blogger kesayangan yang sudah saya anggap sebagai Om saya sendiri ini.

“Kenapa, La?”

“Ya, kan enak, Om, aku bisa pergi ke London tanpa harus terbang…. Tanpa perlu takut jatuh dari pesawat terbang terus entah gimana nasibnya. Masih trauma sama Adam Air yang waktu itu, Om… Nggak kebayang aja gimana ngerinya…”

“Hm, kalau ke London, berarti keretanya musti lewat bawah laut, dong?”

“Hehe… ada nggak, sih? Mau ah, kalau ada…”

“Kayaknya sih sudah ada, La. Di Hong Kong sana. Aku lupa untuk menghubungkan tempat mana ke tempat mana, tapi sepertinya ada kok.”

Wow! Naik kereta bawah laut? BAWAH LAUT? Di beberapa detik pertama, saya tersenyum lebar; membayangkan betapa senangnya kalau suatu saat kelak saya memiliki alternatif lain untuk bisa sampai ke London. Tapi beberapa detik berikutnya, senyum saya hilang.

“Ah, ogah, Om. Pasti malah serem, deh… Naik kereta di bawah laut, kanan kiri yang keliatan cuman tunnel aja. Malah sesak nafas, Om!”

Banyak maunya, deh, lo, La! 😀

“Iya, pasti malah lebih serem tuh, kalau naik kereta di bawah laut. Mending juga naik pesawat, kan, La?”

Kalau pesawatnya nggak terbang terlalu tinggi, bisa nggak sih? Atau muluk nggak, sih, kalau saya memaksa seorang ahli untuk menciptakan mesin teleportasi sehingga saya bisa berpindah-pindah ke manapun? (ntar malah nyasar ke dunia klenik terus nggak bisa balik, rasain lo, La… hihi)

 Hm,

Memang akan lebih mudah kalau saya berhasil mengatasi phobia nggak penting saya akan terbang tinggi itu. Saya tidak perlu bersusahpayah numpang di kapal kontainer kantor (dengan resiko saya menggoda para kru kapal! yay! ^_^), tidak perlu menunggu bertahun-tahun untuk jalur kereta bawah laut (dan merasa sesak nafas karenanya!), atau bahkan menanti terciptanya sebuah alat teleportasi sampai bego, dodol, buduk, ditambah resiko saya bakal tersesat ke dunia lain!

Kenapa saya tidak melawan saja semua ketakutan itu sehingga saya bisa mewujudkan impian saya (oh, selain ngumpulin keberanian, saya juga musti ngumpulin duit, lah! Emang naik pesawat gratisan, apa? hihi)

“Gimana caranya biar berani naik pesawat, ya, Om?” tanya saya. “Biarpun misalnya udah tobat, tapi tetep aja takut mati.. Masih pingin hidup lebih lama… hehe… kawin aja belum…” Saya tertawa. Om NH18 juga.

“Caranya? Mikir yang indah-indah, aja…”

“Hah? Mikir yang indah-indah?”

“Iya. Bayangkan aja betapa menyenangkannya setelah kita sampai di sana. Turun dari pesawat… terus bertemu dengan orang yang kita sayangi… berada di tempat yang kita ingini… Dengan membayangkan yang indah-indah saja, kita pasti akan bisa mengatasi ketakutan-ketakutan itu, La…”

“Hmm…. gitu, ya, Om?”

“Gini, La. Nanti, kalau kamu sudah ada di dalam pesawat yang akan terbang membawamu ke sebuah tujuan yang kamu inginkan atau untuk bertemu dengan seseorang yang kamu sayangi….. kamu akan lupa pada phobia terbangmu ini. Percaya, deh…”

**

Tidakkah hidupmu seperti itu?

Ingin melangkah ke suatu tempat, a very special place, tapi kamu ketakutan saat melangkah menujunya?

Kamu ketakutan akan tersandung, terjatuh, tergelincir, terpeleset… atau bahkan sangat ketakutan sehingga punya imajinasi berlebihan soal ‘kecelakaan’ dahsyat yang malah akan membuatmu tidak pernah sampai ke sana?

And instead of believing that you’ll be okay, kamu malah berpikir untuk tetap di tempat, mengetahui bahwa kamu akan selamat dan tidak terluka, meskipun keinginan itu akan terus dan terus menari dalam setiap kedip matamu?

Setidaknya, begitulah hidup saya. Setidaknya, begitulah yang saya rasakan, beberapa saat yang lalu, ketika saya benar-benar tidak ingin melangkah maju karena ketakutan akan merasa sakit, luka, dan kekecewaan.

I want to stay 29, kata saya.
Then be 29 at heart, kata Om NH. But keep walking…

Belakangan, saya selalu merasa sedang berdiri di depan sebuah ladang ranjau yang maha luas. Di mana sejauh mata memandang, yang terlihat hanyalah tanah yang kosong yang dengan jahatnya menyembunyikan bahan-bahan peledak di bawah permukaannya; bahan-bahan peledak yang akan meremukkan kaki-kaki saya saat saya menginjaknya tanpa sengaja.

Peristiwa demi peristiwa yang pernah terjadi dalam kehidupan saya malah menciptakan ranjau-ranjau yang tak pernah bisa tertangkap oleh mata telanjang dan membuat saya sangat ketakutan dalam melangkah ke depan. I wanted to stay right here in this moment, where I felt safe and sound. Saya tidak mau terluka, saya cukup di sini saja!

Tapi, betulkah saya ingin di sini saja? Merasa cukup di sini saja? Tidakkah saya memiliki keinginan untuk berada di tempat yang lain? Tempat yang di dalam isi kepala saya adalah tempat yang sangat indah? Jauh lebih indah dari tempat yang saya tinggali sekarang…

Saya teringat dengan kata-kata Om NH.

“Bayangkan aja betapa menyenangkannya setelah kita sampai di sana. Turun dari pesawat… terus bertemu dengan orang yang kita sayangi… berada di tempat yang kita ingini… Dengan membayangkan yang indah-indah saja, kita pasti akan bisa mengatasi ketakutan-ketakutan itu, La…”

Kenapa saya musti menganggap perjalanan di depan mata saya adalah ladang ranjau? 

Kenapa saya musti menuduh Tuhan telah menciptakan ladang ranjau buat mahkluk yang diciptakanNya paling sempurna?

Kenapa saya musti menghilangkan kesempatan untuk menikmati keindahan, hanya untuk memanjakan perasaan ketakutan saya?

Tidak seharusnya luka dan pedih masa lalu membuat saya tidak ingin melangkah. Sudah seharusnya saya mengolah energi ketakutan itu menjadi sesuatu yang lain; be wiser, be more careful, and be ready. Bukan menjadi penakut yang bermimpi kepanjangan…

Jadi,

Sudah saatnya saya mengubah persepsi saya terhadap perjalanan yang membentang di depan mata. 

The road ahead me….
It is not a huge landmines, any more.
It’s now a beautiful savannah… with flowers every where… with greeny trees… and also, of course, with animals’ shits in some places.

Tapi paling tidak, meskipun saya menginjak kotoran itu,  saya masih bisa mencuci kaki saya dengan air… lalu melangkah maju lagi, kan? 🙂

***

Freedom day at office
Wed, April 8, 2009; 12.01 PM

thanks Om, untuk inspirasinya…
 

 

 

 

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

25 thoughts on “a huge landmines…

  1. ‘memilih tidak melangkah, kamu aman, tapi kamu menjadi bukan manusia…’
    itu dulu bisikan hatiku saat aku berada di posisi yg sama dengan kamu La. Kamu ngerti maksud kalimat di atas kan 🙂

    Posted by de asmara | April 8, 2009, 12:50 pm
  2. bagaimana kalau ada orang yang kamu sayangi berada di tengah ladang ranjau itu? Kamu tidka mau ke sana dan mati berdua? hehhehe
    Saya? pasti akan ke sana….. meskipun dengan resiko saya akan mati duluan 😉

    EM

    Posted by Ikkyu_san | April 8, 2009, 1:03 pm
  3. kenapa musti takut?

    Aku pernah phobia ruang tertutup ..panic syndrome, tapi kalau aku takut aku tidak pernah bisa melihat orangtua dan kota halamanku lagi.

    So? apa yang kulakukan? membeli obat tidur, membayar tiket teman untuk mengantar hanya sebagai teman ngobrol…. dan …aku sampai di Jakarta just for 3 days….

    banyak cara… termasuk ML di pesawat hahahahhaa
    (Makan Lontong, Minum Limun dsb dsb )

    EM

    Posted by Ikkyu_san | April 8, 2009, 1:06 pm
  4. Berarti kalau udah nulis begini.. lu gak boleh takut lagi dong.
    Udah nempel tuh harusnya di jidat. NO FEAR. Kalau bisa ditato sekalian.. hehehe..

    Posted by p u a k | April 8, 2009, 1:42 pm
  5. Cinta… takut itu hanya membatasi ruang gerak…
    Hadapi and liat aja ternyata begitu banyak yang bisa dilalui 🙂

    Posted by Eka Situmorang-Sir | April 8, 2009, 1:44 pm
  6. gitu aja kok takut la…
    jangan takut…ingat kamu harus pimpin klasemen
    mau ladang ranjau kek, ladang buaya kek, ladang orang ganteng kek…hajar bleh..
    yang penting NIAT

    btw aku mau nelpon OM ahh…
    aku jg punya masalah yang sama nih, tp bedanya aku gak takut terbang….pengen ninggalin “tempat ini” tapi gak ada tujuannya….
    ups (sambil ngelirik om yang lagi sedakep)

    Posted by AFDHAL | April 8, 2009, 1:48 pm
  7. saya ngga takut terbang, saya cuma takut jatuh :p

    Posted by cut qezzia fa | April 8, 2009, 1:50 pm
  8. pinjem pintu kemana saja nya Doraemon kayaknya lebih gampang deh La :mrgreen:

    Posted by Chic | April 8, 2009, 2:04 pm
  9. sampayan nulis takut terbang saya jadi ngliat diri sendiri, inget jaman-jaman istri di jakarta sedangkan saya di jawa timur, awalnya saya naik bis terus, soale saya ini takut ketinggian (plus takut norak soale belom pernah naek pesawat), suatu saat ada barengan naik citilink, duh pas take off orang-orang liat pemandangan saya pegangan sambil keringetan 😆

    lama-lama nggak gitu takut, walaupun tetep waktu take off pasti rada deg-degan.

    Posted by mas stein | April 8, 2009, 4:26 pm
  10. aduh,,masa naek kereta bawah aer ajah takut,, palingan ntar kaca kereta nya pecah,trus aer nya masup smua k dalem kereta,, trus kelelep,, ntu ajah,, :mrgreen:

    Posted by kahfinyster | April 8, 2009, 6:10 pm
  11. hi la …
    pa kabar …
    rumah baru heheheh …..

    salam kenal hihihi ….
    gak pernah komen meski tiap hari mampir hehehe …

    Posted by ruanghati | April 8, 2009, 6:42 pm
  12. gue tau…lo tulis postingan ini buat manas manasin gue doang kan???secara si om gak pernah mau ngobrol sama gue??/
    *minggat sebelum disembur Om Trainer*

    Hai La….

    Posted by yessy muchtar | April 8, 2009, 7:28 pm
  13. Kalau superman-nya digantiin Po in pink-thong gimana kak…, swear deh nyampe sana in safe and sound, tapi po nggak mau nganterin sampe london ah takut my precious tanned-butt jadi biru and keriput karena kedinginan kekeke…

    Just go for it kak…, the fear and all the land mines is not worth to be worried of, just focus on your love one…, who will be by your side…., on that wooden bench…., in the city park…., hold you…, kiss you…, Aaaahhh…., so damn beautiful…., beautiful….

    Ngeces yo…, udah sono berangkat…, kekeke….

    Posted by Jazili | April 8, 2009, 8:11 pm
  14. pokoknya :
    maju terus pantang mundur !
    hehe… ini yel2 pejuang apa tulisan di buritan truk ya ?

    hati2 di ladang ranjau, jalan aja dengan hati2. bila ada bom meledak, anggap saja itu resiko, paling nggak udah usaha kan ?

    🙂

    Posted by goenoeng | April 8, 2009, 9:38 pm
  15. gni aja mbak,,,
    berfikir bhw hidup, rezeki, jodoh dan mati di tangan Allah,,
    pasti lebih berani dechh…

    Posted by Myryani | April 8, 2009, 10:18 pm
  16. lifes matter of choice kata org2

    n live the consequences

    *bnr ga tuh nulisnya ya 😀

    Posted by depz | April 9, 2009, 11:17 pm
  17. Dear..

    perjalanan kita masih sangat panjang, jangan berhenti di satu titik dimana kita mencari aman karena takut sesuatu terjadi…toh pun kalau sesuatu itu terjadi yang paling burukpun sekalian, kita tetap bisa mencuci kaki dan melangkah lebih mantap kedepan…

    Kamu, aku dan semua orang pernah mencapai titik itu, yang paling harus dipikirkan adalah bagaimana kita melewati dan menuju jalan yang tepat…tanpa tergesa berjalan…

    Love u

    Posted by Ria | April 11, 2009, 8:59 am
  18. hoho…pertama kali naik pesawat,, saya baca do’a terus-terusan selama 9 jam. tanpa tidur. tapi tetap makan. hehehe…
    benar, lho…kita harus menyadarkan diri kalo yang akan didapatkan di tempat tujuan sangatlah sepadan dengan perasaan parno selama duduk di pesawat.
    ayo, mbak…semangaaaaat!!!

    Posted by miSSiSSma | April 11, 2009, 9:36 am
  19. Apa kamu berani berjalan di atas ladang ranjau yang masih aktif?
    –> bukan nggak berani tapi NGGAK MAU
    Apa kamu berani melangkahkan kaki di sebuah ladang ranjau yang sewaktu-waktu peledaknya bisa meremukkan kaki-kakimu?
    –> once again bkn ga berani tapi NGGAK MAU
    * karena gw udah beres nulis daftar seserahan, ga mau mati sebelum menikmatinya
    * karena belum merit
    * karena masih pingin ngerasain honeymoon di ubud di villa yang harganya semalam = gaji gw sebulan 😦

    karena…kalau ada jalan yang lebih aman, kenapa kita harus menempuh daratan beranjau itu. Kalaupun itu the one and only way yang ada, I’ll risk my life…BUT I’ll carefully watch my step 🙂

    Posted by 1nd1r4 | April 13, 2009, 11:57 am
  20. And I say … You’re welcome …

    (nggak nyangka aku bisa bijak juga ya …)(gumun …)(geleng-geleng kepala …)(da*n I’m good …)

    hahahaha

    Posted by nh18 | April 13, 2009, 2:43 pm
  21. Mb’ .. Minta nomor Om Trainer juga dong ..
    Aku lagi krisis juga nie …

    Sambil berharap Si Om denger nie … hehee ..

    Om Trainer?
    Ngasih nomer ke kamu?
    Sebentar-sebentar…..
    Telpon Om Trainer dulu, boleh nggak ngasih nomer telepon….
    hiihi… 🙂

    Udah, curhat sama aku aja.. dijamin, kalo ga lebih lega, pasti lebih bete… trust me! ^_^

    Posted by Muzda | April 14, 2009, 9:10 pm
  22. Hahha…
    Kalo nggak lebih lega, ato bete.. yang pasti gue bisa ngakak kalo curhat ma elu
    😀

    Huahahaha..
    daripada aku bikin nangis, kan……..
    Yuk, yuk, ketawa ketiwi ajeee… hidup udah susah, nggak usah dibikin susah lagi *sok-nasehatin-padahal-cengeng-juga* hihi
    Jadi penasaran, nih. Emang kamu kenapa, yaaaaa…..

    Posted by Muzda | April 15, 2009, 6:17 pm
  23. Kalo udah ada di tengah landmines-nya gimana donks, Laa? 😛

    Hmm.. sebenernya kalo gua pribadi seeh pengen sekalian nginjek ranjaunya biar meledak2 dhee, huahahaha..

    Tapii.. masalahnyaa.. gua ngga sendirian di ladang penuh ranjau ituu..

    Yaa.. gua mungkin bisa cueks akan akibat dari ledakan itu, tapii.. yaahh.. khan ngga bisa membiarkan orang lain yang sama2 ada di ladang itu ikut merasakan kerusakannya padahal mereka ngga siap, huhuhu..

    Waduh, kayaknya cerita elo bakal bisa jadi postingan sendiri nih, Ndah.. hehehe…
    Emangnya di landmines-nya ada berapa orang sih?

    Posted by Indah | April 17, 2009, 9:22 pm
  24. Atau muluk nggak, sih, kalau saya memaksa seorang ahli untuk menciptakan mesin teleportasi sehingga saya bisa berpindah-pindah ke manapun?

    Ngga.. ngga muluk kok, Laa.. sama ngga muluknya khan dengan gua berharap Doraemon mo meminjamkan “pintu-ke-mana-saja” nya buat gua, wakakakakak 😀

    *jadi jawabannya muluk apa ngga yaa?* 😛

    Haha…
    11 12 deh, Say! 😀

    Posted by Indah | April 17, 2009, 9:24 pm

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: will he turn into a monster one day? | The Blings Of My Life - April 10, 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

April 2009
M T W T F S S
« Mar   May »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: