you're reading...
I'm In Love, It's About Me

investment

Just a blah-blah yang kemudian berkembang menjadi obrolan serius dengan seorang sahabat yang baru saja menjejakkan kakinya kembali ke pelukan kota Surabaya, sebuah kota yang ditinggalkannya dua tahun yang lalu.

Sambil berkendara di atas sepeda motornya, dengan angin yang malam tadi melambai cukup dingin sementara tubuh saya masih kurang fit karena flu berat (tapi tidak cukup berat untuk membatalkan niat saya makan tahu telor dan tahu campur di warung dekat rumah bersama sahabat saya itu! hehe), dan jaket yang menutup rapat, sahabat saya itu menggiring obrolan haha-hehe menjadi obrolan yang sangat serius.

“Lo tau nggak, Jek, tentang duit Bapak yang ilang itu?”

“Yang diinvestasiin dan akhirnya ditipu orang itu, ya?”

“He-eh. Lo tau nggak, sih, kalau ternyata he put every thing in the table?”

“Apa?”

“Ya, ya. You hear me. Semuanya!”

Saya terdiam.

It was quite a lot of money…

Oh, yeah, Baby Darlene. I know how much.

“Gue pikir masih ada berapa gitu.. tapi ternyata… nada. Nggak ada…”

Sahabat saya menyangka, paling tidak, sang Ayah menyisihkan sedikit dari seluruh tabungan pensiunnya untuk ditabung saja, tidak untuk ditaruh dalam suatu lembaga pengembangan uang yang tidak jelas yang menjanjikan uang menjadi berlipat-lipat dalam waktu sekejab.

Tapi ternyata, lewat percakapan mereka semalam tadi, dibarengi dengan air mata sang Ayah yang menitik perlahan, sahabat saya tahu, his dad just an old regular guy who couldn’t say no and had a dream to give his family his best shot. 

“Kalau inget gini, gue jadi kepikiran untuk balik aja, Jek…”

Kembali ke sebuah kota, di belahan bumi Asia yang berjarak empat jam dengan pesawat dari Surabaya, dan menghabiskan waktunya jauh dari orang tua, keluarga, dan teman-teman yang sangat mencintainya. Di kota ini, paling tidak, she could do something. She could provide her family, much much better. Tidak seperti sekarang; ketika ia masih harus sibuk melamar kerjaan sana sini dan berjanji untuk menghadirkan senyum di wajah sang Ayah. Segera!

Percakapan kami itu membuat saya sadar akan sebuah kenyataan bahwa too much in to anything is dangerous. A great deal investment is risky and we should manage ourselves how to deal with it.

Mencari tahu bagaimana bersikap: win or lose.

Dua pilihan sikap yang musti ada ketika mempertaruhkan hidup kita dalam sebuah investasi, yang only God knows bagaimana hasil akhirnya. Menang? Kalah?

Sikap-sikap itu harus dipersiapkan dari awal, karena seperti yang saya bilang barusan, cuman Tuhan yang tahu kemana roda hidup kita menggelinding. Kita bisa saja beruntung seperti Paman Gober yang punya uang keping segudang dan perusahaan di mana-mana. Tapi kita bisa jadi seperti Donal Bebek yang apes melulu dan ujung-ujungnya ngepel lantai di gudang uang pamannya. Okay, bisa saja kita jadi seperti Untung Bebek, who always lucky all the time… in any occassion and all… tapi percayalah, keberuntungan tidak datang berkali-kali kecuali di komik Donal Bebek! So stop dreaming and wake up, Darlene… 

Play to win, but please, prepare to lose.

Ya, ya. Untuk urusan Ayah sahabat saya itu, sebaiknya beliau tidak menginvestasikan semua yang beliau miliki. Tapi sudahlah. Shit happens. Apa yang sudah terjadi, ya terjadi saja. That’s how a life works. Menggelinding kemanapun dan be ready. Meskipun kalau urusan investasi ini, paling tidak, we could be a  little more clever not to invest all of the money for we should be prepared for the worst.

Tapi saya tidak bisa berhenti bertanya-tanya.

When it comes to love… or a feeling…. can you manage to give a good share of heart and keep the other share just for you, supaya kamu tidak kehilangan semuanya when you lose the game?

**

Masih ingat apa yang dibilang orang-orang (bisa keluarga, teman, sahabat) ketika kita sedang jatuh cinta dengan seseorang?

“Jangan kasih seratus persen, deh… Sisain buat kamu sendiri supaya nggak terlalu sakit kalau ternyata musti udahan…”

“Beri lima puluh persen saja, sisanya buat kamu…”

“Gimana kalau kamu beri dia dua puluh persen? Perlahan-lahan tambahkan beberapa persen, tapi jangan sampai seratus!”

So, are you familiar with these sayings? Tentang berhati-hati saat ‘menginvestasikan’ hati kamu pada seseorang? Sekedar jaga-jaga saja agar kamu tidak perlu kalah dan mendadak bangkrut karena kehilangan semuanya? Don’t put every thing in the table for you might end up losing every thing?

Hhh…

I’m tired listening all these sayings. Berhati-hati. Jangan beri seratus persen. Sisakan buat dirimu sendiri (atau bahkan orang lain). 

Tapi saya ingin tanya sama kamu.

Does Math really work in feelings? 
Well, I don’t know how it works with you or not, but surely, it doesn’t work with mine.

Saya bodoh soal matematika.
Saya bodoh soal neraca laba rugi.
Saya bodoh soal hitung-hitungan.
Dan saya merasa drop dead stupid kalau menggunakan matematika untuk urusan perasaan saya. I’ve had enough Math in my life; jadi saya tidak ingin  menggunakannya  untuk urusan hati dan cinta saya.

So?

Buat saya… loving someone so much isn’t an investment… Saya tahu, sepertinya tidak jauh berbeda dengan menginvestasikan dana segar ke stock market dan berharap saya beruntung mendapatkan hasil yang terbaik. Kalau saya membeli terlalu banyak sementara roda ekonomi berputar dan tiba-tiba harganya jatuh, saya akan kehilangan semuanya. Tapi kalau saya membeli sedikit saja lalu kalah, saya masih bisa tersenyum dengan separuh dana segar yang tidak jadi saya belikan di awal investasi.

Tapi…

I cannot manage my own feeling, menjaganya sampai ke batas tertentu supaya kelak saya tidak terluka.

I am maybe naive or stupid, but for me, love is too precious to be assumed as a stock market.

Ini adalah cinta; yang memiliki kehendaknya sendiri… untuk bertumbuh, berkembang, atau mati…. in any ways that it likes…

Dan FYI, saya tidak malu untuk menangis when every thing is not as good as my expectation…

***

my bed, 25 Maret 2009
1.15 AM 

 

 

 

 

 


Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

20 thoughts on “investment

  1. sejak kapan cinta mengenal matematika?
    kala 1 ditambah 1 sama dengan dua atau memang cuman satu?
    love? feel; and enjoy it!!

    EM

    Posted by Ikkyu_san | March 25, 2009, 4:58 am
  2. math q juga payah…cinta memang ga pake itungan, kalau uang belanja baru pake itungan 😀

    Posted by 1nd1r4 | March 25, 2009, 6:04 am
  3. love reminds nothing else matter, darlene…

    Posted by jones | March 25, 2009, 8:32 am
  4. Mmm.. Either giving it all or not in loving s’one, semua ada plus minusnya masing2, Laa 😀 Kenali tipe diri sendiri n know what can make u happy n just do it *udh kaya iklan sepatu :p*

    Posted by Indah | March 25, 2009, 9:24 am
  5. like an ice darling 🙂
    Fell it, enjoy it with sugar n tea = ice tea
    kekekekekeke….

    Posted by Ria | March 25, 2009, 10:16 am
  6. Yes Indeed …
    What the so called Cinta itu bukan urusan perniagaan …
    bukan urusan hitung-hitungan …

    As I sad bfore …
    Tuhan menciptakan manusia lengkap … “feeling” and “thinking” …
    perasaan dan logika …
    We have to use it both …

    Dan yang namanya Logika … Thinking …
    Itu tidak hanya digunakan untuk berniaga atau berdagang atau berhitung saja …

    Salam saya La

    Posted by nh18 | March 25, 2009, 10:18 am
  7. setuju banget La…
    Cinta bukan persoalan matematika.
    cinta adalah soal keyakinan yang lahir dari logika dan perasaan terdalam… 🙂

    Posted by vizon | March 25, 2009, 11:09 am
  8. hmm…sepertinya mbak Lala ini pecinta sejati yah… 🙂

    Posted by luvnufz | March 25, 2009, 11:10 am
  9. Sama, sy jg merasa bodoh dan stupid banget klo udah berurusan dgn logika dan matematika, apakah merasakan tak cukup dgn hati sj? Mmmm…

    Posted by SaRaH | March 25, 2009, 1:00 pm
  10. @ Ikkyu_san :
    itulah Sis… seharusnya nggak perlu mengenal matematika, kan… Dinikmati aja, kan… Lagian, serem aja kalo terus menerus dihitung… 🙂

    @ Indira:
    Kalau dibelanjain? Hihi…

    @ Jones :
    Nothing else matters? Hmmm….

    @ Indah :
    know myself, my own profile, and what I need? Ya, ya, ya… I know that don’t wanna use Math for a relationship… so, I know what I need, dear…

    @ Ria :
    Like an ice lemon tea in a summer day? Hihihi…

    @ NH18 :
    Ya, Om, tidak perlu hitung-hitungan seperti kala berniaga untuk urusan cinta. Logika tetap dipakai? Itu pasti. Tapi sikap terlalu berhati-hati justru merusak letupan dan kenikmatan cinta itu sendiri… So… I am just what I am today… Cewek bodoh yang lagi jatuh cinta… ck-ck-ck, bahasa gueeeee….! 😀

    @ Luvnufs:
    Hai, Joice…
    Pecinta sejati? Nope. I am just a woman in love…. Aih, aih, aih! Biasa aja deh, La… 😀

    @ Sarah:
    Hai,Sarah.. Lama nggak blogwalking euy.. Apa kabar, Sar? Baik kan?
    Okay, soal cinta itu…. ternyata kita sepaham, ya? 🙂 Kenapa nggak santai saja, dinikmati saja… menggelinding kemanapun ia mau?

    Posted by Yang Punya Blog | March 25, 2009, 3:12 pm
  11. cinta..cinta cinta..udah lama gw ga jatooh cinta….kalo cinta sekarang ma suami, penuh perhitungan,

    Posted by cutemom cantik | March 25, 2009, 4:30 pm
  12. nikmati aja la…jangan dihitung-hitung.expresikan cintamu…:)

    Posted by s3roja | March 25, 2009, 5:04 pm
  13. nikmati aja la…expresikan cintamu…:)

    Posted by s3roja | March 25, 2009, 5:07 pm
  14. itu makanya saya ga nyimpen di satu saku aja..

    jadi, biar aman 😉

    Posted by Billy K. | March 25, 2009, 5:35 pm
  15. Hmm… mana bisa perasaan diatur2 sekian persen, sekian persen, hihi.. memangnya bunga bank (^^,) Setuju… ya dirasa sepenuh rasa sajalah.. toh percuma mau dipersen2in kalkulator “rasa” kan ga bergerak dihitungan matematika (^_-)

    Posted by G | March 25, 2009, 6:01 pm
  16. Ooo….. begitu yah…. ya..ya..ya.. manggut manggut sambil tangan kiri mengusap dagu…. padahal kagak ngarti juga….
    PANGLATU …. tau apa dia tentang Cinta…?! he.. he.. he….

    Posted by Panglatu | March 25, 2009, 9:39 pm
  17. Yup, dan kenapa harus malu kalo memang itu gak sesuai ekspektasi kita 🙂

    Posted by Deddy Huang | March 26, 2009, 3:57 pm
  18. elo bego matematika La?
    Gue di bilang orang bego bahasa Inggris…

    Ya Allah…..ijazah gue dulu sembilan lo….*masih sebel*

    Hehehe…
    Dari kemarin sensi mulu.. 🙂

    Posted by yessy muchtar | March 28, 2009, 8:33 am
  19. mbak….itu realitanya kali ya…cinta juga gak boleh buta…harus ada itungannya gitu….Lha kalau gak diitung….bisa defisit…
    Nggak lah…Bunda becanda….

    Hehe…
    Ajarin itung-itungannya dong, Bun… Nanti aku ke Jogja buat ambil les privat yah… hehehe

    Posted by dyahsuminar | March 29, 2009, 4:52 pm
  20. wah kalo bener2 cinta adalah investasi…hmmm investasiku udah banyak juga ya…tinggal memungut “bunga” aja nih

    Uhui! Siap petik bunga, neh… Makan-makan! Hehehe…

    Posted by AFDHAL | March 31, 2009, 1:32 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

March 2009
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: