you're reading...
It's me... today, Just a Thinking, Thoughts to Share

Obrolan Pagi dengan Tuhan

Tuhan sedang menyindir saya.

Tuhan tidak lagi sedang berbisik lembut di telinga saya, tapi berkata sedikit lebih kencang dan membuat gendang telinga saya malu mendengarnya.

Tuhan tidak sedang mengelus pipi saya, tapi menjewer telinga saya. Sakit, tapi saya tahu, Dia menyayangi saya, dengan caraNya yang sangat luar biasa.

Tuhan sedang ingin menatap mata saya.

Tuhan sedang ingin saya menatap balik ke arahNya.

Tuhan sedang ingin saya lebih pintar; lewat sebuah obrolan, pagi ini.

**

Percakapan pagi hari, dengan seseorang yang saya kenal betul wajahnya, saya sapa setiap pagi, atau dengan lemparan satu senyum dan anggukan kepala jika saya terburu-buru.

Dengan seseorang yang sampai hari ini tidak saya kenal namanya (ironisnya, ketika saya tanya pada seluruh orang yang bekerja di kantor ini, tidak satupun di antara mereka yang mengetahui nama Ibu yang berasal dari Madura dan terlihat sangat cantik di mata saya, meskipun lusuh dan berkeringat).

Saya tidak pernah tahu nama seorang perempuan berusia 50-an lebih ini, tapi saya memanggilnya dengan sebutan Mak saja.

Beliau inilah yang rupanya tadi pagi menjadi media tempat saya bercakap-cakap dengan Tuhan tercinta saya…

**

Baru beberapa menit yang lalu saya sampai di depan kantor. Turun dari mobil nyaman milik kakak saya dan melangkah menuju kantor yang masih sekitar 50-an meter. Ini memang sengaja dilakukan untuk menghemat waktu karena Bro harus memacu mobilnya ke kantor dengan jarak tempuh puluhan kilometer dari sini.

Berjalan ke kantor dengan angin yang membelai-belai memang terasa menyenangkan, apalagi ditambah dengan udara yang masih bersih… dan semakin menyenangkan, ditambah dengan keceriaan Mak yang saya temui di depan pintu kaca kantor dan tersenyum saat saya mengelus pipinya (ah, saya memang terbiasa mengelus pipi Mak ketika bercakap-cakap. Seperti kebiasaan saya mengelus pipi Mami dulu… Hehe… apa saya ini termasuk anak kurang ajar, ya?).

Pagi ini, usai saya mengelus pipi Mak, beliau malah bercerita panjang lebar tentang hidupnya; satu sodoran fakta yang membuat hati saya ngilu seketika.

Mak bilang (untuk memudahkan, saya tulis dalam bahasa Indonesia saja ya… beliau berkata dengan bahasa Jawa – dialek Madura! – sehingga repot juga nulisnya di sini..), “Aku ini sudah tua begini, kok ya masih nggak punya apa-apa, ya, Nak…”

Oh, ya. Mak memanggil saya dengan sebutan Nak. Klop sudah! ^_^

Saya tersenyum. Jujur, kelu bibir saya untuk berucap, “Ah, Mak punya segalanya… punya tubuh yang sehat… punya organ yang lengkap… ” karena saya tahu, Mak tidak butuh nasehat. Mak hanya butuh didengarkan.

Lalu beliau mulai curhat tentang kehidupannya sehari-hari. Membereskan sampah-sampah, mengumpulkan barang bekas, tidur di pinggir jalan, mandi di tempat-tempat pemandian umum atau menumpang di ruko-ruko sebelum pukul enam pagi (karena beliau kenal betul dengan penjaga ruko-nya), dan makan seadanya… bahkan pernah tidak makan karena tidak ada uang sama sekali dan memilih berpuasa.

Saya mendengarkan.

Telinga saya terbuka.
Tapi hati saya berdebar. Seluruh energi saya gunakan untuk menahan air mata yang segera ingin jatuh.

Lalu beliau cerita tentang hidupnya yang seorang diri, tanpa sanak-saudara. Tentang tempat tinggalnya yang tak tentu; menunggu semua aman dan tak tergusur satpol atau preman yang setahun belakangan ini menyuruhnya pergi dari area kantor kami dan menempatkan seorang lelaki pemalas untuk menggantikan pekerjaannya bebersih pelataran ruko. Tapi alhamdulillah, Mak dipekerjakan kembali meskipun dengan upah yang sangat rendah.

“Aku cuman dibayar 40ribu/minggu, Nak,” katanya dengan getir, “Jaman sekarang, dapet apa?”

Saya tahu dapat apa, Mak…

Dengan empat puluh ribu Rupiah, Mak bisa beli satu cup Frapuccino Java Mocha yang biasa saya beli untuk sekali minum.

A cup of my favorite coffee.
One. Single. Cup.

ONLY.


**

Saya menunduk. Ingin menatap balik ke arahNya, tapi saya malu. SindiranNya begitu melesak ke dalam hati dan membuat saya tak berani memberikan argumentasi yang cukup hebat pada tingkah-tingkah nggak penting saya, belakangan ini…

Bought stupid pair of shoes…. padahal saya masih punya banyak yang layak pakai.

Spent a lot of money only for a blouse…. padahal saya tidak butuh!

Dan banyak hal lain yang membuat saya tak berani membantah saat Tuhan bilang, “Sebaiknya kamu harus bercermin kembali…”

Tuhan memang sangat baik. Dia menyuruh saya bercermin, sekaligus memberikan sebuah cermin untuk saya.

Cermin itu bernama Mak.

Seorang perempuan, yang tadi pagi mengelus pipi, pundak, dan rambut saya, lalu melangkah pergi… entah kemana… tanpa alas kaki….

***

And once again, saya ingin menjadi seorang Milyarder…

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

29 thoughts on “Obrolan Pagi dengan Tuhan

  1. tuh kan, kadang secara sadar atau enggak, langsung atau enggak, kita bersikap dzalim terhadap orang lain. seperti contohmu, yg dengan entengnya membelanjakan duit 40 ribu rupiah hanya untuk beberapa teguk kopi *kalo aku mending beli kopi sachet-an, biar dapat banyak, terus diminum sepuasnya, hahaha…lanjooot…*, sedang ada yg mencari uang segitu selama 1 minggu, 7 hari, entah berapa jam peluhnya mengalir, entah berapa kali helaan nafas panjang dia lakukan, untuk sekedar melegakan sesak. banyak kok, la. kejadian2 nggak penting disekeliling kita yang ternyata adalah sebuah kurikulum yg mesti disimak untuk menyikapi hidup. tinggal membuka mata lebih lebar, memasang antena tambahan buat hati lebih peka. wis, gitu aja ah.

    yang masalah mengelus pipi itu, kayaknya korbannya nggak cuma Mak, deh.😀

    Sik, sik, sik.
    Komentarmu sing terakhir iku kok krungu ora pathi enak, yo, Mas Goen?😀
    Padahal aku wis kadung terharu maca sing dhuwur.. Betapa oh betapa bijaksananya BeCe alias Bro Cyber-ku….. Eh, ndadak, langsung ilfeel! Ediaaann… ediaannn…..

    Posted by goenoeng | March 13, 2009, 10:18 am
  2. better watch slumdog millionaire, fantastis muvie

    Posted by jones | March 13, 2009, 10:19 am
  3. This is what I always call …
    “Go outside … and talk to somebody …”

    Remember ??

    Posted by nh18 | March 13, 2009, 10:50 am
  4. milyarder ? slumdog millionaire dong😀
    sekarang aku lagi mencoba, beli baju baru, baju lama yang masih layak pakai kasih ke orang.

    Posted by Indahjuli | March 13, 2009, 11:12 am
  5. beautiful story…sekaligus sindiran yang menohok…
    thanks for sharing, Mbak..

    Posted by miSSiSSma | March 13, 2009, 11:40 am
  6. Hmmmm. hiks-hiks-hiks ( serius lho ) … sepertinya Tuhan juga ikut menjewerku melalui cerita kamu.
    Thanks 4 sharing ini ..it is really inspiring.
    Kata kunci disini menurutku adalah Syukur.

    Posted by yuneldi.nurzain | March 13, 2009, 12:00 pm
  7. terimakasih Tuhan, telah membuat saya ikut bercermin melalui cermin yg Kau berikan pada mba’ Lala.

    salam kenal, mba’🙂

    Posted by de asmara | March 13, 2009, 12:43 pm
  8. 40 ribu perak sering kami — saya dan Mas Goenoeng — bayarkan ke kasir sebuah kafe di Perumahan Banyumanik: untuk sekali duduk dengan beberapa gelas capuccino dan teh panas.

    40 ribu perak kerap kami — saya dan istri — rogoh untuk beberapa potong bebek goreng di Solo.

    Saya merana karena banyak kaca cermin di sekitar kita yang membuat saya pilu dan tak tahu malu …

    Posted by firhanusa | March 13, 2009, 12:47 pm
  9. senangnya Lala masih dikasih kesempatan buat bercermin lagi🙂

    Posted by carra | March 13, 2009, 2:59 pm
  10. dalem banget ya…jadi merasa bersalah telah membuang rupiah2 hanya untuk segelas kopi itu…klo jadi millionaire jangan lupa ngajak2 gw ya😛

    Posted by Ria | March 13, 2009, 3:32 pm
  11. salam kenal,
    gue jadi ikut terhanyut neh…, langsung introspeksi diri.hihihi

    Posted by anakdel | March 13, 2009, 5:03 pm
  12. coba jeung kalo dalam satu minggu nggak beli frapuccino java mocca sekali aja, trus dikasih ke Mak. pendapatannya Mak seminggu bisa 2 kali lipat.

    saya juga kadang masih sering lupa…musti lihat cermin lagi.

    Posted by geRrilyawan | March 13, 2009, 5:11 pm
  13. waduh kok tega ya digajinya hanya 40 ribu seminggu. Atau mungkin emak punya penghasilan lain dan pekerjaan ini hanya tambahan aja?

    Posted by Rafid | March 14, 2009, 11:39 am
  14. @Lala
    hohoho… adikku terharu ? terharu kok senyum2…😛

    @firhanusa
    nah mas Arief, itu artinya kita sedang -secara nggak langsung- mendzalimi Mak atau Mak2 yang lain. bukan berarti setelah itu langsung berpantang dengan hal2 seperti itu kan ? no ! paling tidak, itu membuat kita lebih berhati2 melangkah, bertindak. yg paling penting, bisa sekedar berbagi rejeki dan lebih bersyukur.
    akur bro ? kapan kongkow lagi😛 ? *whalaaah…*
    *uh, sok buanget sih aku iki*

    Posted by goenoeng | March 14, 2009, 12:35 pm
  15. hiks..postingan yg mengharu biru……thanks for sharing….

    Posted by novnov | March 14, 2009, 9:31 pm
  16. Mmm… Gue aja yang baca ngerasa sedih banget, apalagi lo yang ada si sana ya, La…

    Jadi gimana nih? Masih mau beli Frapuccino Java Mocca lagi ga’? :p

    Posted by Neng Keke | March 15, 2009, 2:29 am
  17. boss..baca tulisan lo kok gue malah inget sosok avatar seseorang yang berjilbab dan suka sok sok baik diblognya ya…

    *dibakarmassa*

    Posted by yessy muchtar | March 15, 2009, 6:49 am
  18. Oucchh.. Jadi berasa kesentil juga, Laa🙂

    Thanks for sharing ya, Jeng, jadi berasa diingatkan juga😀

    Happy Mingguu ^o^

    Posted by Indah | March 15, 2009, 7:00 am
  19. ah…

    dan tau apa yang membuat gw malu bu?

    karena akhir akhir ini tujuan gw pengen kaya dan banyak duit benar benar egois… ah… malu rasanya…

    Posted by natazya | March 15, 2009, 10:46 am
  20. I got my mirror, hon. Thanks.🙂

    Posted by p u a k | March 15, 2009, 1:10 pm
  21. trims membuat aku selalu bersyukur atas apa yang Allah berikan padaku.salam kenal mampir ke gubukku ya.

    Posted by lintang | March 15, 2009, 1:38 pm
  22. hmmm…yang penting setelah disentil, harus benar2 ada perubahan lho mbak…😉

    Posted by luvnufz | March 16, 2009, 9:24 am
  23. namanya cermin itu memang bagus kalo “dibawah”
    kalo cermin “diatas” atau “sejajar” kita gak bisa melihat kehidupan secara keseluruhan…

    hiks..hiks…hiks..terharu aku🙂

    Posted by AFDHAL | March 16, 2009, 9:55 am
  24. Kalo lagi merasa at the lowest point of your life, emang harus sering liat ke bawah.thx for sharing, salam kenal juga…

    Posted by Kiky | March 16, 2009, 3:58 pm
  25. Jadi milyader atau jadi bininya seorang milyader mbak?😀

    Posted by Deddy Huang | March 16, 2009, 4:44 pm
  26. speachless. kadang memang tuhan harus nampar kita supaya sadar ya mbak?

    Posted by ika | March 16, 2009, 8:05 pm
  27. jadi kesimpulannya, jangan ngopi di starbuck, ngopi di warung kopi pinggir jalan ajah..
    jangan beli air minum di supermarket, beli ama tukang asongan ajah..
    jangan beli kebutuhan bulanan di carefour, tapi belanja di pasar tradisional ajah..

    heh? *baca tulisan diatas*
    kok kayak partai ‘alat pemotong besi’ yah ? wekekeke

    Posted by hawe69 | March 17, 2009, 3:31 pm
  28. cermin…cermin di dinding… siapakah yang paling dzalim saat ini ? *sambil nyruput almoneta frappe* abis itu..
    *dikaplok massa*

    Posted by frozzy | March 19, 2009, 4:53 pm
  29. Nice posting Lala.Salam kenal ya..

    Posted by Frederick | March 26, 2009, 5:18 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

March 2009
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: