you're reading...
Just a Thinking, Thoughts to Share

it’s got a hell sense of a humour

Semalam, Surabaya diguyur hujan yang sangat, sangat deras.

Air yang tumpah dari langit itu seolah tidak berkompromi sama sekali pada satu manusia di bawahnya yang tengah bergegas pulang ke rumah, usai menghabiskan berjam-jam hidupnya di sebuah bilik kantor dengan telepon yang mungkin tidak berhenti berdering sampai pukul setengah enam sore.

Pada manusia yang ingin segera keluar dari kantor, mampir sebentar ke mal untuk membeli bedak, lalu pulang karena mata yang berat menahan kantuk.

Pada manusia yang ternyata malah disambut dengan hujan deras dan kilat menyambar-nyambar ketika mobil yang dikendarai kakak tercintanya keluar dari lahan parkir gedung tinggi dan meluncur, menyusuri jalanan menuju rumahnya.

Pada manusia yang sebetulnya kepingin tidur saja daripada terjebak banjir dan macet sampai berjam-jam; tidak bergerak sama sekali!

Ya. Ya. Ya.

Manusia itu memang saya.

**

Surabaya dan Banjir; entah kapan mereka mulai menjadi sahabat yang akrab. Jujur, kalau saja saya tahu siapa yang menjadi Mak Comblang hubungan percintaan mereka berdua, saya akan tuntut di Pengadilan, siapapun dia! ๐Ÿ˜€

Saya memang pecinta hujan.

Saya pecinta bau harum tanah basah sesudahnya, yang menusuk-nusuk indera penciuman saya dan melegakan rongga pernafasan saya. Ada semacam kesenangan tersendiri saat mendengar bunyi rintik hujan dan melihat hujamannya ke tanah seperti ribuan garis tembus pandang. Dan betapa menyenangkannya; menadah air hujan dengan telapak tangan atau malah membiarkannya membasahi wajah. Totally awesome!

Tapi, hujan seperti ekstasi. Atau batang-batang rokok yang ujungnya terbakar. Atau bergelas-gelas minuman beralkohol.

It’s maybe OK for a little.

But it won’t be OK for a lot.

Seperti hujan yang turun deras semalaman dan membuat saya, Bro, dan Mbak Ira terperangkap di ruas jalanan yang banjir, lalu diam di situ, tidak bergerak, sampai dua jam…. sambil menahan pipis!

**

Saya tidak pernah suka dengan kata-kata, “I’ve told you so” atau “Kan gue udah bilang apa tadi…

Karena jelas, ini tidak akan membantu. Malah, tidak akan mengubah apa-apa, kecuali mengubah moodย yang mendadak emosi jiwa karena terlalu cerewet.

It happened and please deal with it. Mengatakan “Apa aku bilang” bukanlah hal yang dewasa, jadi saya diam saja ketika kami bertiga harus diam menunggu dalam antrian kemacetan yang luar biasa, dengan hujan yang terus mengguyur, kilat yang menyambar (dan sukses membuat listrik seketika padam! Ngeri!), dan perasaan was-was karena banjir semakin tinggi, tinggi, dan tinggi. Tuhan, tolong!

Jalan ini memang terkenal rawan banjir; tapi Bro dan Mbak Ira tetap keukeuh sumerekeuh dengan pendapat mereka, “Baru sebentar kok, hujannya…

Karena memang baru sebentar. Baru beberapa menit yang lalu hujan turun dengan sangat derasnya; siapa yang bisa menyangka kalau banjir sudah keburu membuat jalanan menjadi kolam renang?

Oh, saya sudah menyangka… hehe…

Tapi, seperti yang sudah saya bilang, pamali hukumnya kalau berkata, “I’ve told you so” karena malam itu, mobil sedan milik Bro sudah terjebak di jalanan banjir, dihimpit-himpit oleh sepeda motor dan mobil-mobil lain yang saya berani sumpah, mereka juga mengalami rasa khawatir yang sama.

Ya sudah, lah. Dinikmati saja.

Apalagi dari kemacetan yang luar biasa itu, saya menemukan sesuatu yang berharga…

**

Life’s about choices.

Contoh yang paling nyata adalah ketika Bro memilih untuk nekat menyusuri jalan yang terkenal rawan banjir di musim penghujan. Keukeuh dengan pendapatnya sendiri dan melupakan bahwa Adik tersayangnya mungkin saja kali ini tidak bodoh. Hehe..

ย 

Dan pilihan itu telah diambil.ย 
once it is taken, then no looking backward.

Menyesali apa yang sudah kita lakukan adalah boleh-boleh saja dilakukan; tapi terus-menerus mengutuk diri tentang kebodohan yang telah kita lakukan adalah hal yang tak perlu.

Yang terpenting adalah: what you’re going to do next, bukan memikirkan seharusnya kamu nggak pernah mengambil keputusan itu…

Semalam, kami menikmati saja ‘kesalahan’ kami. Saya tahu persis; meskipun berkali-kali Bro bilang, “Akses manapun pasti akan semacet ini..” tapi saya bisa merasakan kalau di dalam hatinya dia berkata, “Ah, sebetulnya ada jalan lain….”

Kelelahan yang menggayut di wajahnya membuat saya merasa sedih. Bayangkan saja. Kami terburu-buru keluar dari Mal karena Bro mengeluh matanya berat dan ingin tidur. Ingin segera sampai rumah dan tidur saja. Tapi yang terjadi adalah sebaliknya dan jauh di luar perkiraan. Bukan kasur empuk yang menyambutnya, tapi banjir dan macet!

Saya duduk di belakang. Mengaktifkan e-buddyย dan mulai bercakap-cakap dengan beberapa orang teman. Ngobrol dengan mereka tentu saja jauh lebih menyenangkan daripada harus meratapi nasib karena terjebak macet, kan?

Mobil sedan hijau Bro merapat di sisi paling kanan, hendak mengambil ancang-ancang untuk belok ke kanan, menuju ke dataran yang lebih tinggi, sekalipun akses menuju kesana cukup mengkhawatirkan karena banjir sudah setinggi ban mobil sedan. Tapi sayang sekali, banyak sekali yang ingin melakukan hal yang sama, sehingga kami harus betah menunggu antrian sampai berjam-jam!

But you know what?

Saya selalu percaya; no matter how hopeless or how painful life is, it’s got a hell sense of a humour.

Kenapa begitu?

Karena ketika Mbak Ira memutuskan untuk keluar sebentar dari mobil untuk melihat situasi (Sekedar ilustrasi saja, sisi kiri jalan kosong melompong sementara sisi kanan tak bisa berhenti bergerak. Jika kita lurus ke depan, jalanan telah berubah menjadi danau, jadi pantas saja tidak ada mobil yang berebut di sisi kiri, kan? Memangnya mobil mereka bisa berenang?), ternyata dia berkata, “Mas, coba ambil kiri, terus lurus, dan ke kanan, langsung belok aja…”

Ada apa gerangan?

Haha.

Rupanya, dua jam tadi, kami mengantri di belakang mobil yang tengah PARKIR menanti banjir yang surut! Beberapa mobil di depan kami memang sengaja parkir di sebelah kanan karena mungkin mereka takut untuk belok ke kanan atau lurus ke depan. Pilihan untuk belok ke kanan bukanlah mudah diambil karena untuk menuju ke dataran yang lebih tinggi, kami harus ‘tenggelam’ sebentar.

Saat berhasil melewatinya, kami tertawa terbahak-bahak sampai mata saya berair. Perut saya sampai sakit mengingat betapa konyolnya kami barusan. Sok terjebak dalam kemacetan selama dua jam padahal kami berhenti di belakang mobil parkir! Haha. Kurang konyol apa, coba?ย 

Dalam perjalanan menuju ke rumah, menjelang pukul sepuluh malam, saya berpikir.

Life’s about choices.

Sometimes…. or for so many times, we make mistakes or take stupid and un-clever decisions.

‘Kesalahan’ itu membuat perasaan kita cemas, tidak bahagia, dan merasa tolol, bodoh, konyol, serta tidak berarti.

Tapi tahukah kamu? Seberapapun menderitanya kamu… okay, kita saat menghadapi keputusan yang (mungkin) bodoh itu, suatu saat kelak, kita pasti akan tertawa?

Seperti saya, Bro, dan Mbak Ira, yang tertawa terbahak-bahak ketika tahu bahwa kami telah mengantri di belakang mobil parkir sampai berjam-jam lamanya…ย 

ย 

**


Life’s about choices.
No regret; because once it is made, there’s no U-turn in the path of life.
Deal with it.
Make it a good end.
And no matter how painful life is, just remember, that somehow… it’s got a hell sense of a humour.
So… smile and wait for the surprise, will ‘ya!

(Lala Purwono, Mar 12, 2009)ย 

ย 

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

14 thoughts on “it’s got a hell sense of a humour

  1. apakah ini juga tentang ‘kemacetan’ yg sempat kamu nikmati ?
    paling tidak, ada indikasi jalan yg lancar di depan mata kan ?

    tentang hidup. Tuhan kadang punya selera humor yg aneh. ๐Ÿ˜€

    Posted by goenoeng | March 12, 2009, 10:54 am
  2. HUahahha …
    Kalo yang ini mah …

    Life is all about …
    To be observant to your sorrounding …

    hehehe

    Posted by nh18 | March 12, 2009, 10:57 am
  3. Aww, gua juga suka ujan, he3 :pBtw, kemarin lagi kejebak banjir toh?Ha3, untung aja si Mbak Ira memutuskan buat turun ya, Laa :DHmm, mantapss nih bisa menemukan hikmah di balik kemacetan ๐Ÿ˜‰

    Posted by Indah | March 12, 2009, 11:32 am
  4. Tapi, Mbak…
    sometime there will be some possible U-turns to allow us fixing our mistakes and then return to the right path…
    hehehe…just a thought…

    Posted by miSSiSSma | March 12, 2009, 11:47 am
  5. idup memang soal pilihan.. jadi, kalo ujan, gue pilih supaya ga macet apalagi banjir..

    kantor gue sekarang ini jauh bangets.. jadinya, kalo ujan pasti macet.. belum lagi kena genangan banjir.. (doh)

    *ngeluh mulu yak?

    Posted by Billy K. | March 12, 2009, 11:51 am
  6. LOL
    Ironic..

    Posted by hawe69 | March 12, 2009, 12:30 pm
  7. Wah, banjir sudah menyerbu Surabaya rupanya…
    Kebodohan menunggu di belakang mobil parkir ini kayaknya banyak dilakukan oleh kita. Aku pernah melakukannya dalam konteks lain. Kalau diingat kembali dengan kaca mata sekarang, benar-benar merasa stupid deh kita….
    Tapi, pasti selalu ada hikmahnya kok…Jadi, jangan menyesal pernah mengalami ketololan itu.

    Posted by Hery Azwan | March 12, 2009, 2:11 pm
  8. Komen lagi aaahhh …
    Your quotes … “Life’s about choices ..”

    So …
    Becareful then …
    install our self with a lot of eyes, ears, heart, senses … ALL …
    SO that our choice will be the best one …

    Dan kalaupun nanti kita ketahui bahwa itu bukan yang terbaik …
    At least we learn something from that …

    Posted by nh18 | March 12, 2009, 2:13 pm
  9. jam segitu aq udah meringkuk dibalik selimut tebal sambil sesunggukan menagisi another melodramatic episod from greysanatomi

    Posted by jones | March 12, 2009, 2:46 pm
  10. hihihi, pernah tuh ngalamin, tapi bukan parkir, mobil mogok ๐Ÿ˜€

    Posted by Indahjuli | March 12, 2009, 4:28 pm
  11. hahaha….

    untung aja ada yang inisiatif keluar yah mBak. ๐Ÿ˜‰

    Posted by luvnufz | March 13, 2009, 2:49 pm
  12. Saya geli…jadi lain kali, memang sebaiknya cari info ya, apalagi jika benar2 macet tak bergerak.
    Saya mengalami seperti itu…dan keukeuh terus…ternyata karena di depan banjir, dan mundur nggak bisa lagi, karena dibelakang macetnya juga berderet-deret….hahaha

    Posted by edratna | March 13, 2009, 4:52 pm
  13. hahahahhahaha kebayang gondoknya begitu sadar sia sianya buang waktu :p tapi bagusnya, semuanya jadi tawa ๐Ÿ˜€

    even GOD i guess He Loves humor

    makanya kadang suka mencengangkan cara yang dipilihNya buat manusiaNya ๐Ÿ˜€

    Posted by natazya | March 15, 2009, 10:41 am
  14. and i choise to BW in to ur blog :p

    Posted by Deddy Huang | March 16, 2009, 4:53 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

March 2009
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: