you're reading...
Jogjakarta's Stories, Memorable Meetings

Hidden Angels…

I’ve never touched my own skin; betapa beruntungnya seorang saya, yang pagi ini sedang menyisip kopi susu pelan-pelan sambil menghidupkan laptop saya dan mulai mencoba merangkai kata-kata.

 

I’ve never touched my own skin; betapa hebatnya koleksi boneka barbie saya yang nasibnya mengenaskan karena rambutnya acak-acakan akibat ulah tidak bertanggung jawab si kecil Lala yang memotong rambut Barbie-Barbie itu dengan gunting sembari berharap suatu saat kelak akan tumbuh juga.

 

I’ve never touched my own skin; betapa ironisnya sebuah keluhan hanya karena saya melirik seorang lelaki yang duduk di depan saya, mengeluarkan blackberry warna hijau dan asyik surfing di internet, sementara saya memiliki ponsel yang masih layak pakai.

 

I’ve never touched my own skin, until that one afternoon… I touched their skins

 

**

 

Saya ingat ketika pertama kali seseorang-yang-sudah-saya-anggap-sebagai-kakak saya, Imelda Coutrier Miyashita, mengajak saya untuk liburan bersama. Jambore, katanya. Tadinya terpikir untuk berkumpul di Bali; betapa menyenangkannya liburan di sana. Sampai akhirnya kami memutuskan untuk ke Jogja saja: lokasi yang mudah diakses juga biaya yang lebih murah (yang akhirnya musti say thanks ke Imelda Coutrier untuk mobil, villa, dan makan-makan selama molor di villa… buat Bunda Dyah dan Bunda Tutinonka yang sudah memberikan suguhan yang luar biasa enak, mengesankan, dan… gratis! hehe)

 

Betapa menyenangkannya ketika mengetahui bahwa Sis Imelda mempunyai pemikiran yang luar biasa yaitu mengadakan acara sosial bersama anak-anak Yatim di sebuah daerah bernama Kweni yang bukan kebetulan merupakan anak-anak asuhan Uda Vizon dan istrinya yang cantik sekali, Mbak Icha. Anak-anak usia sekolah dasar yang meskipun beberapa di antaranya ada yang bandelnya luar biasa (hey, mereka toh pada akhirnya nurut sama saya karena saya melotot dan menakut-nakuti mereka! hihihi), tapi semuanya adalah anak-anak manis yang kurang beruntung; tidak seperti dua bocah perempuan yang lahir dari perut kakak perempuan saya, yang kemarin memperoleh boneka barbie seharga ratusan ribu tanpa perlu menunggu sebuah acara yang digelar (mungkin) tak setahun sekali itu…

 

“Jadi nggak hanya kumpul-kumpul, La… tapi ada acara sosialnya juga dengan Anak-Anak Kweni…”

 

It wasn’t all about laughing, sipping coffee, and or eating like crazy (hehe), but it was something else. Sharing a little something for those unfortunate children was my vi*gra in life!

 

“Kita kumpul di sana hari Sabtu, tanggal 7 Maret ya, La… Acaranya jam tiga sore.. Kita berangkat dari Hani’s (villa) paling nggak jam dua…”

 

Saya sudah sampai di Jogja pukul tujuh pagi. Dengan menumpang sebuah bis malam cepat dan berangkat pukul setengah satu pagi dari Terminal Bungurasih, sejam setelah usai menghadiri acara tahunan yang diselenggarakan di sebuah cafe dan sukses membuat saya capek-capek dan molor terus di dalam bis, saya akhirnya berhasil sampai di Jogja dengan selamat.

 

Tiba di sebuah hotel dan mendapati kamar yang kosong. Where is Sis Imelda and her son? Menurut rencana, saya akan menemui Sis Imelda dan Riku-Chan di hotel Rumah Mertua, tetapi saya tidak menemukan mereka berdua di sana, hanya sebuah pesan yang disampaikan oleh resepsionis yang cantik.

 

“Mbak Lala, ya? Ini kunci kamarnya. Ibu Imelda pesan kalau Mbak Lala datang, silahkan masuk kamar saja…”

“Ibu Imelda-nya kemana, Mbak?”

“Saya kurang tahu, Mbak. Dari kemarin malam belum pulang…”

Gawd!

Okay, Mbak.. Makasih..”

 

Saya menggendong ransel ke kamar yang paling belakang, melihat kamar yang kosong. Beberapa tas plastik berisi alat-alat tulis yang dibawa dari Jepang cukup berhasil meredakan gelisah saya yang mulai tumbuh karena saya tak bisa mengetahui di mana keberadaan kakak perempuan saya itu.

Kegelisahan saya makin menjadi ketika mengetahui paket berisi alat-alat tulis titipan Sis Imelda yang saya kirimkan dari Surabaya belum juga sampai. PANIK! Saya benar-benar panik. Saat itu sudah pukul sembilan pagi dan acara dengan Anak-Anak Kweni akan dimulai sebentar lagi!

 

Saya menghubungi pihak delivery service, menanyakan keberadaan barang, dan memohon (bukan memohon, tapi MENGIBA!) agar kiriman itu bisa sampai sebelum pukul dua belas siang, tapi mereka belum bisa memberikan jawaban yang pasti.

 

Saat tidak tenang itulah, saya menghubungi seorang kawan, Mas Goenoeng Moelyo yang mampu menghilangkan resah hati saya.

 

“Wis, turu wae. Kamu baru sampai, kan?”

“Iya, Mas..”

“Ya wis, istirahat aja. Aja kuatir…”

 

Dan dia benar.

 

Ketika saya memutuskan untuk tidur saja, beristirahat saja dan percaya bahwa semuanya akan baik-baik aja, saya terbangun dengan dua kejutan yang luar biasa menyenangkan.

 

Sis Imelda menelepon; mengabari bahwa dia baru saja bangun dan tidak mendengar dering telepon dari saya. Rupanya karena kesalahan informasi, Sis menambah satu malam lagi di Vila Hani’s untuk menyambut dua orang kawan, Tyan dan Ipi, yang sudah datang tanggal 6 Maret.

 

Resepsionis menelepon; mengabari bahwa paket dari Surabaya sudah ada di depan.

 

Tuhan memang benar-benar menyayangi saya!

 

Pukul dua belas lebih, Sis Imelda menjemput saya dengan mobil pinjaman beserta seorang sopir yang baik hati. Rupanya, jarak tempuh antara hotel Rumah Mertua dan Villa Hani’s tidak terlampau jauh, sehingga hanya beberapa menit saja saya sudah tiba di sana dan mulai menyiapkan paket alat tulis ke dalam plastik hadiah.

 

Bertiga dengan Riku-Chan dan Sis Imelda, kami bahu-membahu memasukkan alat-alat tulis tersebut. Waktu yang mepet membuat kami senewen karena jumlahnya tidak klop. Tapi hey… hari terlampau indah untuk dirusak dengan mood swing, kan? Apalagi ketika satu persatu teman-teman saya berdatangan…

 

Mas Goenoeng Mulyo datang bersama Mas Arief Firhanusa, wartawan koran yang tulisannya superb

 

Diikuti oleh dua teman yang kedatangannya tidak pernah saya sangka sebelumnya; Mas Daniel Mahendra dan Mbak Noengki Prameswari. Ada sedikit kesel juga, sih, karena selama ini saya menunggu kepastiaan dari Mbak Noengki  tentang keikutsertaannya di acara Jogja ini. Akibatnya, saya musti naik bis malam karena tidak mendapatkan tiket kereta yang seharusnya sudah bisa saya beli sebulan yang lalu, hanya karena menunggu kepastian dari Mbak Noengki untuk berangkat bersama dari Surabaya, juga beberapa kawan saya (Lin dan Mboi) yang membatalkan ikut serta ketika tiket sudah habis dijual… But hey, life goes on! Toh bis malam tersedia kapan saja, meskipun saya berangkat dengan diantar dua muka cemberut milik Bro, kakak saya dan istrinya! Hehe.

Setelah Jeung Ipi dan Tyan, dua orang blogger yang lain sudah sampai di villa maka lengkaplah sudah kawan blogger yang berjanji untuk kumpul, sehingga ketika waktu sudah menunjukkan pukul dua lebih, kami memutuskan untuk segera berangkat ke tempat Uda Vizon. Dengan dua mobil, kami akhirnya sampai di lokasi dengan disambut senyum Uda yang sangat manis. Friendly face. Sungguh sesuai dengan perkiraan saya sebelumnya.

 

“Aku ingin membuktikan dahsyatnya bacotmu, La,” katanya suatu kali.

 

Dan sore itu dia berkata, “Ternyata Abang Azwan benar. Bacotmu memang luar biasa!”

 

Saya tertawa. Siapa suruh membuktikan sesuatu yang sudah pasti benar? Malaikat Juga Tahu kalau saya ini tukang bacot yang hanya berhenti kalau makan saja? hehe…

 

Bersama teman-teman, saya berjalan mengikuti Uda Vizon. Melangkahkan kaki bersama-sama menuju sebuah pendapa yang isinya riuh dengan manusia-manusia kecil yang duduk di atas lantai kayu dan senyam-senyum dengan manisnya menyambut kami semua.

 

Jantung saya berdegup kencang. Diikuti dengan air mata yang susah payah saya tahan agar diam saja di pelupuk mata saya…

 

**

 

I’ve never touched my own skin. I’ve never touched mine, til I touched theirs.

 

Bersentuhan dengan anak-anak manis yang tak malu memamerkan gigi mereka ketika tertawa bahagia. Bersentuhan dengan anak-anak manis yang menarikan tarian khas Padang, hasil didikan Mbak Icha yang bersuamikan seorang Uda yang tak kalah manisnya. Ehm!

 

Acara menggambar bersama seluruh teman-teman blogger… Acara bernyanyi bersama… atama kata hiza pong… hiza pong… hiza pong… atama kata hiza pong… me.. mimi… hana kuchi… lagu pundak lutut kaki dalam bahasa Jepang yang membuat riuh suasana… Acara berbagi bersama.. pengetahuan tentang cara menggosok gigi yang baik dari dokter gigi yang cantik, Mbak Noengki… dan beberapa wejangan dari Bunda Dyah Suminar, istri Walikota Jogjakarta yang luwes dan cantik, yang datang bersama dengan Bunda Tutinonka dan Vivi, si pemilik toko kue yang super delicious itu… 

 

Saat itulah saya sadar; mereka bukanlah sekedar anak-anak manis yang tak memiliki figur seorang Ayah… mereka bukanlah sekedar anak-anak manis yang hidup di sebuah rumah dengan lantai tanah basah… mereka bukanlah sekedar anak-anak manis yang beberapa di antara mereka telah kehilangan rumah dan keluarga karena gempa bumi Bantul, beberapa tahun lalu..

 

Mereka bukan sekedar anak-anak manis. Mereka adalah Malaikat-Malaikat yang bersembunyi di dalam tubuh-tubuh kecil, yang berebutan menyalami tangan saya ketika hari berakhir dan berhasil memancing air mata saya turun karena terharu…

 

In the endsaya memeluk tubuh Sis Imelda dan berbisik di telinganya:

Makasih, ya, Sis… for giving me this beautiful experience yang nggak bakal aku lupain…”

Dan Sis berbisik, “Sama-sama, Lala…”

Dari suaranya itu, saya tahu, seorang Malaikat lagi bersembunyi di dalam tubuhnya… 

 

***

Malaikat-malaikat lain bersembunyi di sini…
Bunda Dyah Suminar; Bunda Tutinonka; Uda Vizon; Mas Goenoeng; Mas Arief; Mas Daniel Mahendra; Mbak Noengki; Tyanjogjack; Jeung Ipi; Mbak Vivi 

 

 

 


gaya-sebelum-berangkat1

 

anak-anak-kweni1

 

bunda-dyah

 

dengan-anak-anak-kweni

 

uda-vizon

 

tyan-and-kids


dbloggers1

 

the-teams

 


 

 

 

 


 

 

 

 

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

21 thoughts on “Hidden Angels…

  1. Senang membacanya Lala, betapa blogger juga bisa berperan didunia nyata, seperti Uda Vizon yang menggalang anak-anak tak mampu di dusun Kweni.

    Seperti yang kuduga sebelumnya, acara kopdar Imelda di Yogya yang paling top…semoga makin banyak acara blogger yang bisa bersentuhan langsung dan berbagi dengan orang2 yang kurang beruntung.

    Posted by edratna | March 10, 2009, 11:24 am
  2. […] Malaikat Juga Tahu kalau saya ini tukang bacot yang hanya berhenti kalau makan saja […]

    ah, siapa bilang ? kalimat itu nggak terbukti waktu di rumah Bunda Dyah. 😛

    Posted by goenoeng | March 10, 2009, 11:52 am
  3. Dear…ini lebih seru dari kopdar kita kemarin, kenapa??? karena kalian semua membuat orang lain juga merasa bahagia, anak2 itu pastinya sangat senang..
    semoga dirimu juga bahagia setelah membuat mereka bahagian…

    love u…muach

    Posted by Ria | March 10, 2009, 12:49 pm
  4. mbak lala kangen lama tak sua… 🙂 hmm…terkadang kita kurang bersyukur ya mbak…
    dengan berbagi kita jadi lebih bisa bersyukur…senangnya bisa ngumpul seperti ini….tanggal 7 Yaya di Salatiga hehehe sapa yang tanya ya mbak…
    salam hangat

    Posted by cahaya | March 10, 2009, 2:25 pm
  5. wah… serunya bisa maen2 sama anak2 itu..

    kapan2 kalo jalan lagi, kasitau dong la,, kali aja bisa ikut dan sambil ngejalanin project kita..

    *halah.. project kita? 😛

    Posted by Billy K. | March 10, 2009, 2:27 pm
  6. wished I can be there with u all 🙂

    Posted by 1nd1r4 | March 10, 2009, 2:50 pm
  7. Malaikat-malaikat dan peri-peri menyuguhiku malam yang luar biasa. “Namaku Lala,” bisik seseorang pada dinihari yang indah itu.

    Posted by Arief Firhanusa | March 10, 2009, 2:51 pm
  8. Sweet is’nt it …
    Ini wisata hati …
    Yang sangat indah …

    Berbuat untuk sesama …
    yang simple-simple saja …

    Namun percaya …
    Ini dampaknya luar biasa …
    Bagi kita …
    Juga …
    Bagi Mereka …

    I should say Bagi semua …
    Termasuk pembaca La …
    (saya berkaca-kaca )

    Salam saya
    NH18

    Posted by nh18 | March 10, 2009, 3:56 pm
  9. 20 tahun lagi, saat anak2 itu sudah dewasa, pasti mereka masih ingat siapa yang telah mengunjungi mereka di Yogya. Saat itu mereka sudah tersebar ke seluruh dunia. He he…..
    Kopdar blogger paling top tahun ini….

    Posted by Hery Azwan | March 10, 2009, 5:12 pm
  10. Hei La…seru ceritamu….dan Jogja tak akan ramai tanpamu…hehehe

    Aduh La….aku gak tahu kalo kamu kesel menanti kepastian dariku. Maafkan ya La.. Aku baru memutuskan keberangkatan 2 hari sebelumnya, sebelumnya aku dah pamit ma Mbak Imel kalo aku gak bisa ikutan. Untungnya urusan kelar, dan tiket keretapun kudapat lewat calo, sayang… sorry banget ya….

    Kapan2 kalo kopdar gini lagi…. musti ada kamu deh…. takkan sama ramainya deh….hehehe

    Posted by prameswari | March 10, 2009, 6:00 pm
  11. Saya sungguh nyesel kemarin datang telat. Saya pikir, jam 15.00 pas waktu ‘Ashar, jadi sholat dulu langsung berangkat, paling-paling jam 15.30 udah nyampai. Eh, ternyata karena ini-itu, jam 16.00 baru tiba dalam hujan deras.

    Tapi sungguh membahagiakan sekaligus mengharukan bisa berbagi dengan anak-anak kemarin. Saya kira kita bisa menjadikannya agenda tetap, dengan tempat dan waktu yang bisa berbeda …

    Posted by Tuti Nonka | March 10, 2009, 7:02 pm
  12. ..hidden angels or angels without wings…
    🙂

    Posted by tanti | March 10, 2009, 7:44 pm
  13. ahhh mudah2an suatu saat bisa bergabung dengan kegiatan bloger seperti ini ya…amin

    Posted by AFDHAL | March 10, 2009, 7:54 pm
  14. seperti nya saya kapan2 harus ikutan jg yak kopdaran bareng2 wanita2 hebat seperti mbak mbak,,,,,,,

    Posted by Myryani | March 10, 2009, 11:38 pm
  15. La… seperti nyanyian yg membuatmu menangis bombay di balai melayu; “that what friends are for…” dirimu telah membuktikannya… saya benar2 merasa punya makna dalam persahabatan maya ini, luar biasa!

    salut saya buat kalian semua, you’re all the angels..!

    Posted by vizon | March 11, 2009, 8:50 am
  16. waduh mbak lala, theme yg baru cantik banget….
    btw, postingannya menyentuh banget…

    Posted by gwgw | March 11, 2009, 10:10 am
  17. Saya terharu membaca tulisan ini, mudah-mudahan lain kali saya bisa ikutan “wisata qalbu” yg mencerahkan ini. Salut buat teman-teman yg telah merealisasikannya.

    Posted by Oemar Bakrie | March 11, 2009, 11:13 am
  18. coba kalo saya tau ada kegiatan ginian…wahhhh seru tuh kalo bisa ikutannn

    Posted by imoe | March 11, 2009, 6:47 pm
  19. Nice jeung. Saya baca juga di tempat Miss Ikyusan. Two Thumbs for You….kalian mengalahkan aku uhuk uhuk…

    Kesan yang temen2 tunjukan akan terpatri dalam nurani mereka sampai mereka tumbuh besar, dewasa, dimasa yang akan datang. Sebagian dari mereka akan lupa wajah kalian….namun percayalah….mereka takkan melupakan peristiwa ini dan akan mencari kalian, mengikuti jejak dari kalian smeua….(I Did)

    Nice blog…berdotcom sekarang ya….!

    Posted by pakde | March 11, 2009, 9:58 pm
  20. lalaaaaaaaaaaaaaaaa

    suka gw suka gw suka bacanya!!!!

    hm… harus selalu yah liat yang begini, biar sadar, biar ingat…

    hm… thanks for the reminder 😉

    Posted by natazya | March 15, 2009, 10:37 am
  21. uh uh jeunglala, ipi br tau klo skg dah domain sndr.Hebat hebat…
    ck..ck..ck…semenjak jd pns, ak kurang apdet niy hiks hiks

    Posted by ipi | March 15, 2009, 2:14 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

March 2009
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: