you're reading...
Thoughts to Share

it has nothing to do with it…

Suasana ruang IT ketika pagi tadi saya masuk ke sana untuk scanning beberapa gambar dan mentransfer data absensi untuk laporan harian cukup hening. Hanya ada saya dan seorang teman yang in charge untuk segala urusan komputer dan tetek bengek pemrograman di kantor. Ya, hanya ada saya dan Pak Set, lelaki yang sudah saya anggap sebagai seorang teman diskusi yang menyenangkan.

Topik diskusi kali ini adalah tentang Yoenoes dan bayi-bayi kembarnya yang kemarin lahir prematur. Bukannya kebetulan kalau Yoenoes juga dekat dengan Pak Set; apalagi yang membuat kami dekat kalau bukan karena Pak Set adalah teman diskusi yang menyenangkan sehingga kami bisa bebas bercerita dan meminta pendapat?

“Syukurlah bayi-bayinya lahir dengan selamat ya, Pak…” kata saya sambil membayangkan dua bayi yang total bobotnya tidak seberat Ms Notey, notebook  yang selama ini menjadi media buat menyalurkan hobi menulis saya.

“Iya, tapi kasihan juga, ya, La…”

Tentu saja. Meskipun tidak terlahir cacat dan organ tubuhnya lengkap, membayangkan bayi-bayi ringkih yang penuh dengan selang infus bukanlah pemandangan yang menyenangkan. Saat keponakan saya harus diinfus saat sakit beberapa bulan yang lalu saja, saya sudah meremang dan merasa hati saya nggak karuan, apalagi ini bayi. Iya. Bayi. Bobotnya hanya seribu gram. Bayi perempuannya malah hanya delapan ratus gram saja!

I’m sorry for ruining your morning, tapi coba bayangkan betapa ngilunya melihat tubuh bayi sekecil itu harus ditusuk-tusuk dengan jarum infus dan penuh dengan selang-selang yang terhubung dengan banyak alat-alat medis? I am an outsider. They are not my precious babies. Can you imagine how painful it is to see your very own flesh blood like that? Berjuang di dalam inkubator, di mana semestinya bayi-bayi itu kini menetek Ibunya dan hangat di dalam rangkulannya?

“Kira-kira sampai kapan, ya, Pak, mereka musti ada di dalam inkubator?” tanya saya. Pengetahuan saya soal ini sangat, sangat minim. Saya tahu, memang musti menunggu sampai bobot tubuhnya mencukupi, tapi jumlah persisnya saya benar-benar tidak tahu.

“Hm, berapa ya, La? Apa sampai seribu lima ratus, kali, ya?”

Ah, still five hundreds more to go for the boy and seven hundred for the baby girl.. Berjuang terus ya, Dek!

Hope for the best, Pak. Tadinya aku mau telepon Yoenoes, tapi aku takut nanti salah bicara atau bikin dia merasa sedih…”

Tepat ketika saya mengakhiri kalimat saya, muncul seorang teman yang lain. Ruang server memang tempat kongkow yang menyenangkan! Tersembunyi dan sangat dingin! 🙂

“Hei, Lus, udah denger kalau Nia melahirkan?” Paulus adalah teman ngopi dan gila-gilaan di kantor. Ya, termasuk Yoenoes juga.

“Sudah. Katanya musti tinggal di inkubator sampai tiga bulan, ya?”

“Ha! Lama bener…” Pak Set terbelalak. “Nggak sampai selama itu, kali, Lus…” katanya. “Mungkin sampai bobotnya cukup aja.”

“Hm, mungkin, ya? Dan katanya, tahu nggak, ongkos untuk perawatan per bayi, bisa kena sejuta-an lebih sehari, lho.” Paulus mengucapkannya dengan mimik wajah yang luar biasa ‘terpesona’. “Yoenoes punya dua bayi. Berarti at least dia keluar uang sekitar dua jutaan. Gila, ya?”

Gila, eh?

“Kenapa dibilang gila?” tanya saya.

“Ya, bayangin aja. Kalau sehari dua jutaan lebih, gimana nanti kalau mereka harus tinggal setidaknya satu bulan? Mari hitung-hitungan, bakal habis berapa mereka berdua…”

I don’t really need a calculator to calculate all the expenses. All I know, they are all worth every penny!

“Lantas kalau duitnya abis banyak, apa dikorbanin aja?” tanya Pak Set. It was a tense morning, I guess.

“Realistis; minta keringanan, misalnya,” kata Paulus.

“Kalau nggak dapat, so?”

Saya diam saja; memperhatikan dua lelaki itu saling melemparkan argumentasinya masing-masing.

Paulus tidak salah; he was trying to be realistic with his own condition. And furthermore, dia sama sekali belum merasakan bagaimana harus memakai sepatu seorang Yoenoes, teman yang biasa duduk di sebelah kanan mejanya setiap hari.

Dan Pak Set pun tidak salah; bahkan saya sangat sependapat dengannya sehingga saya menambahi kalimatnya dengan hasil pemikiran saya sendiri:

There’s something that has nothing to do with money.”
Saya menghela nafas.
And being a father of two babies who need all the best medical treatment In the world, is one of them,” lanjut saya dengan mata sedikit berair.

Saya berlalu dari ruang server, meninggalkan kedua teman saya untuk kembali ke meja dan memulai hari dengan membuat reports yang due besok pagi.

And on my way there, I instantly remembered how my Daddy used to say when he found out that he’s not getting well by years. Words which came from a father who raised me so well; and pronounced in a bitter and painful voice.

“Kalau suatu saat nanti Papi sakit sampai harus cuci darah, biarin Papi meninggal aja, ya, La.. Kasihan kalian kalau musti menghabiskan uang tapi ujung-ujungnya Papi mati juga…”

Ow, no, Dad. No fu*king way.
I won’t let you die and suffer.

Yeah.
Maybe I’ll be the poorest daughter in the whole world, but one thing for certain, I’ll be the best daughter you could ever have.
I love you.
And, mmm….. ’bout the money?
Well, it really has nothing to do with it…

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

22 thoughts on “it has nothing to do with it…

  1. jeung, kalo udah soal kesehatan, uang berapa pun juga saya relain deh yang penting ga sakit lagi..

    siapa pun itu, terutama keluarga dan juga termasuk calon keluarga 😉

    mudah2an bayi2nya yoenoes cepet sehat,, dan bisa bikin ceria rumahnya..

    Calon keluarga?
    Kenalin dong, Bills… 🙂

    Terimakasih, ya. Kabar terakhir, bayi-bayinya dalam kondisi yang baik…

    Posted by Billy Koesoemadinata | March 2, 2009, 12:07 pm
  2. kadang dalam kehidupan ini ada hal hal yang nggak bisa dibeli dengan uang… tetapi terlalu banyak hal yang harus kita bayar dengan uang juga…
    I wish all the best and getting well soon for your Friend’s Babies…
    Salam dari jauh…….

    Got to be agree with this.
    Money isn’t everything, but it’s truly something.
    🙂

    Yeah, let wish them for the best, like I wish you all the best, too, Bang.

    Posted by michaelsiregar | March 2, 2009, 12:11 pm
  3. duh kalo menyangkut keluarga – anak, adik, kakak, orang tua – berapa pun biaya nya yang akan dikeluarkan tidak pernah menjadi masalah asal tetap bisa melihat mereka tersenyum, menangis dan tertawa meskipun mungkin itu untuk yang terakhir. karena senyum tangis dan tawa itu yang membuat mereka tetap hidup di hati saya…

    salam buat Yunus, istri nya dan bayi-bayi mereka La… 🙂

    Ah, Chi..
    Senyum, tangis, dan tawa orang-orang yang tercinta seperti resep dari Tuhan yang tak bisa ditebus dengan apapun kecuali kasih sayang, ya… 🙂

    They’re fine and thanks a lot ya, Chi…

    Posted by Chic | March 2, 2009, 12:19 pm
  4. Yes … It has nothing to do with Money …
    Ini masalah yang jauh lebih penting dari sekedar uang …

    Semoga Yoenoes dan sekeluarga di beri kekuatan …

    Salam saya

    That’s why I always admire you, Om. Masih teringat banget ketika Om melakukan apapun caranya supaya Ibu sembuh…

    Posted by nh18 | March 2, 2009, 12:43 pm
  5. Anak saya yg kedua dulu ketika lahir meski tidak prematur (bobotnya malah kegedean) tapi harus disinar karena berwarna kuning, jadi harus dipisah dari bayi-bayi lainnya. “Cuma” begitu saja kami sudah nangis-nangis apalagi dokter bilang kalau beberapa hari masih kuning harus ditinggal di RS dulu sementara ibunya boleh pulang … Istri saya maksa nggak mau pulang dan extend 1 hari, syukur alhamdulillah akhirnya bisa pulang bareng.

    Mudah-mudahan Om Yunus dan keluarga diberi jalan terbaik ya … Amin.

    Posted by Oemar Bakrie | March 2, 2009, 1:03 pm
  6. haduuuh… kasian bgt ngebayangin bayi-bayi itu La.. 😦

    Posted by Yoen | March 2, 2009, 3:07 pm
  7. Apapun La.. jika memang menyangkut keluarga sendiri, apapun harus dikorbankan.
    Daku suka postingan ini…dan untuk Yoenoes semoga buah hatinya segera bisa merasakan kehangatan orang tuanya di rumah.

    (Sstt.. aku pengen banget lho punya anak kembar,..cowok semua gitu.. seru kali yaa.)
    Muaachh..

    Posted by p u a k | March 2, 2009, 3:19 pm
  8. Mbak Lala, ingat Ponari kan ?
    dia itu yg selama ini jadi gantungan harapan orang-2 yg gg bisa berobat dengan uang mbak. bayangkan mbak, ribuan masyarakat gg mampu selalu menunggu keajaiban lewat ponari. gg ada uang ponaripun datang…..
    bagi kita memang gg masuk akal, tapi bagi mereka, setidak-2nya ada sedikit harapan buat kesembuhan mereka dan keluarganya.

    ** kok gw jadi ikutan sedih seh **

    Posted by gwgw | March 2, 2009, 3:57 pm
  9. kata2 terakhirnya mengharukan sekali mbak..

    Posted by life choice | March 2, 2009, 4:04 pm
  10. Yang sudah diberikan kesehatan adalah sangat baik bila menghormati dan menjaga karunia yang ada, dan biaya kesehatan memang tidak murah untuk beberapa kondisi medis. Mengupayakan kesehatan dibalut keyakinan dan doa sangat penting untuk pemulihan 🙂

    Salam hangat
    Ben

    http://benedikawidyatmoko.wordpress.com
    http://benagewe.blogdetik.com

    Posted by Benedict Agung Widyatmoko | March 2, 2009, 5:17 pm
  11. Membaca tulisan ini saya tahu yang dimaksud Lala, darimana mencari uang, kecuali jika ditanggung oleh kantor. Dan saya tahu maksud teman-teman, apapun harus dilakukan, agar bayinya sehat. Mudah2an keluarga Yunus diberi kemudahan oleh Nya, agar kedua bayinya selamat, sehat dan bisa berkumpul dengan orangtuanya.

    Posted by edratna | March 2, 2009, 7:55 pm
  12. There are many things in this world that cannot be measured by the amount of money you had or spent. Yes….talking bout families, friends, love and happiness, they are among those that money can’t buy. Just like u, even if I have to be the poorest person in the universe, I’ll do and give anything for my beloved ones….

    Posted by 1nd1r4 | March 3, 2009, 9:11 am
  13. waw…
    mudah2an temenmu tabah ya, dan diberi kekuatan

    btw gimana kabar si bos with “f***** treat” 🙂

    Posted by AFDHAL | March 3, 2009, 9:24 am
  14. You know la…gw pernah harus hampir tiap hari dirumah sakit, karena anak pertama adek gw masuk ICU…umurnya itu 3 bulan waktu meninggal dan dia menghabiskan 2 bulan umurnya di rumah sakit….sedih banget ya…

    Posted by Ria | March 3, 2009, 9:40 am
  15. wah repot memang kalau bicara kesehatan sekarang…mahal…padahal sudah jadi kebutuhan yang sangat penting untuk dialokasikan. Buat yang mampu memang akan mengerahkan segala daya untuk pulih, tetapi bagaimana yang untuk makan saja mesti berpeluh, dimana ya mereka bisa minta harga kesehatan murah?

    Posted by ladangkata | March 3, 2009, 12:17 pm
  16. Gimana keadaan kedua babies itu sekarang, Laa?

    Semoga Yoenoes dan istrinya bisa segera menyambut kehadiran kedua buah hatinya di rumah yaa 😉

    Posted by Indah | March 3, 2009, 2:52 pm
  17. La, sori nih.. ini input aja, terserah mau info ke temennya ato gak.
    Temen suami gw juga punya anak prematur, lahir 6bulan, inkubator 2bulan-an. Mereka baru diberi anak sesudah 12th menikah. Dan ternyata banyak saraf yang belum kuat untuk bayi seumur itu. Makanya setelah 1th divonis buta tetap, gak bisa donor mata karena sarafnya sudah rusak. Semoga dokter2 yang handle bayi2 kembar temanmu itu hebat-hebat yah…because they are so so so fragile, bukan luarnya saja, tapi juga dalamnya. Tidak seperti bayi yang sudah 9bulan diperut.
    Gitu aja. Semoga Tuhan memberkati.

    Posted by hawe69 | March 3, 2009, 4:23 pm
  18. hmmm…

    demi yang tersayang (ayah n adik”ku)… apapun akan kulakukan..

    btw, pasti sedih ya waktu ayah Lala bilang gitu..

    Posted by utaminingtyazzzz | March 14, 2009, 12:39 pm
  19. malem mbak maaf ganggu, kalo boleh mang mo ikutan promosi disini…boleh yah…pleassss…..

    Mari bergabung bersama kami di Flexter, suatu bisnis pulsa jaringan yang membuat anda mendapatkan kesempatan memperoleh passive income hingga jutaan rupiah setiap tahunnya. Sakrang saatnya ganti kebiasaan anda dalam melakkukan transaksi isi pulsa, dengan hanya melakukan transaksi melalui flexter dari hp anda sendiri, tanpa harus pergi ke counter, atau tanpa perlu kuatir kehabisan pulsa saat sedang dalam perjalanan. Pastikan anda bergabung bersama kami di http://flexter4u.com?id=shanny dan raihlah kesempatan untuk mendapatkan bonus hingga ratusan ribu setiap minggunya yang akan menambah pundi-pundi rekening anda. Karena itu pastikan anda bergabung bersama kami hanya di http://flexter4u.com?id=shanny
    Untuk informasinya bisa anda lihat di http://shannypersonalblog.wordpress.com/?page_id=1727&preview=true

    Makasih yah mbak……..

    Posted by mang shanny | March 19, 2009, 12:08 am
  20. HOI,
    GIle blog mu ini nyah…
    KEREN……..

    oea,
    kunjungi blog aku lah…….
    oea jgn lupa komen yah…..(kalo boleh mohon,4 komen yah.kalo gag boleh.1 aja cukup)

    Posted by daniel | March 27, 2009, 12:49 pm
  21. Loh, baru tahu kalau Lala kerja bagian IT (wah hebat), padahal yang saya tahu lala sarjana pangan dan gizi (koreksi apabila salah)…..

    Posted by Nazar | June 16, 2009, 3:32 pm

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: Hans & Felice | The Blings Of My Life - April 22, 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

March 2009
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: