you're reading...
Fiktif

And, that was it

Do you have the tickets?”

“He eh.”

He knows that you’re coming, right?”

“Seharusnya begitu.”

So, he knows that you’re going to say something really important?”

“Nggak tahu juga.”

“Lah, what’s the point, then, Darl?”

“Aku nggak tahu.”

So?”

What ‘so’? I have no idea and I don’t care.

Dia menghela nafas. Dia tahu, aku adalah perempuan yang keras kepala; seolah tahu apa yang kuinginkan tapi sebetulnya tak pernah tahu apa yang aku butuhkan. Dan seperti hari-hari sebelumnya, dalam ratusan… bahkan ribuan hari sebelum saat ini, dia hanya menghela nafasnya, sebuah tanda bahwa dia memang tak bisa meladeni argumentasiku yang tak mungkin patah (saking keras kepalanya aku).

Careful, alrite?!”

Every time, Babe…. Every time!”

**

Took me forever to get there, kataku di sebuah SMS, untuknya.

Then why now? Tanyanya di balasan SMS untukku.

Because I have to know, balasku. Aku nggak ingin larut dalam imajinasiku tentang dia. I HAVE TO KNOW HIM. MEET HIM.

And then what? Tanyanya. Masih via SMS yang muncul terlambat karena signal ponsel yang memburuk di tengah hutan.

Nothing. I never had a plan. I’m a TODAY person, remember? I live for today. F**k tomorrow. It’s another kind of story and I don’t even want to know, kataku.

Ayayay. Whatever, Darlene. But, please. Be a good girl, will ‘ya? Katanya.

Like I’m not one of them, Silly!😀

Haha. I know you too well…😀

SMS penutup.

Aku tertidur.

**

He is the kind of man; the charming kind of one. I know that from the first moment I laid my eyes on him.

“Hey!”

“Hai!”

Bertukar ciuman di pipi.

“Lapar?”

“He-eh!”

Dan kami berjalan ke mobilnya. Masuk ke dalam mobilnya yang penuh dengan buku-buku. Aku duduk. Dia mulai mengaktifkan stereo set di dalam mobilnya. Hm… lovely choice, my friend!

Lagu itu memenuhi seluruh isi mobilnya yang melaju pelan. Kudengar ia ikut bersenandung seperti aku yang mengerti sepotong kecil lirik lagunya.

Soft music was playing in his stereo set.

I have no idea what was playing inside his mind, but I know exactly what kind of music was playing inside mine.

It was a calm music.

It was something familiar.

It was something that used to make me feel good.

…rrr…. Wasn’t it?

**

“Bagaimana?”

“Apanya?”

“Dia!”

“Dia?”

“Jangan bego!”

“Hus!”

“Aku pingin tahu…”

“Oh, Dear… He’s much better than I’ve thought. But my feeling for him is… mmm… how do I say… empty?”

“Lho. Kenapa?”

You tell me. I have no idea!”

**

Was it because all those stupid calls in his cellphone?

Was it because he was so busy on answering those chicks in the phone with his polite way?

Seketika aku merasa kehilangan gairah. Seketika semua rasa yang menggebu itu luntur sudah. Bisingnya bunyi dering telepon itu membuat gendang telingaku seolah pecah. Hey! Aku nggak mau budeg cuman karena teleponnya berdering seperti nggak kenal kalau hari ini sudah terlalu larut!

The more I know, the more I hate myself, kataku lewat SMS.

Why? Dia bertanya, membalas SMSku.

Because I wasn’t born to become a lunatic like I am today, masih kataku. Dan aku menangis.

**

I deserve happiness, aku ingat kata-katanya. I could never make you happy, lanjutnya.

Bahagia? Apa yang dia tahu soal kebahagiaan? Aku tidak melihat kebahagiaan di kelopak matanya yang lelah. Aku hanya melihat matanya berbinar saat kugoda dan kucandai. Apa itu bahagia, eh? Aku yakin, dia sendiri tidak tahu apa definisi bahagia.

But hell.

It was his decision, not mine.

If he feels something, he’d say something else.

But he chose to say that.

 

And yes. Again, I say, it was his, not mine.

Jadi aku berhak untuk bahagia; jenis kebahagiaan yang sumpah mati nggak akan pernah bisa dia suguhkan untukku. Jenis kebahagiaan yang… oh well, entah apa itu.

**

So, that was it?” Sahabatku bertanya.

“Memang apa yang kamu harapkan, hm?”

Anything, but this.”

“Kamu kelamaan hidup di dunia dongeng, Culun!”

“Dan kamu… mm… are you fine with this?”

“Menurutmu?”

You seem so fine.”

Well, I am, Babe. Every inch of my body agrees that I am still as gorgeous as always.” Aku menyisip kopiku pelan. “I’m okay.”

“Atau jangan-jangan kamu faking, Say?”

Like you always fake your orga*m, huh?” Aku nyengir. Dia memukul bahuku. Saat itu, cengiranku langsung berubah menjadi seringai kesakitan. Haha. Ini perempuan memang lebih perkasa ketimbang atlit binaraga!

“Aku cuman kuatir.”

Well, don’t.”

“Yakin?”

A hundred percent sure…”

**

Seperti aku yang masih bertanya pada seorang lelaki; apakah definisi kebahagiaan di dalam isi kepalanya.

Seperti itulah hatiku bertanya pada diriku sendiri; apakah definisi a hundred percent sure, kalau setiap malam aku masih menangisi lelaki yang bilang padaku di ujung sebuah hari:

You’ll deserve someone much better than me.

Dan kalau saja dia tahu, seluruh hatiku terpaksa aku culik lagi darinya dan kusimpan dalam lemari besi, dengan kode yang sangat rahasia, dan berharap, hati itu tak pernah terluka lagi.

Tidak olehnya.

Tidak oleh siapapun juga.

Selamanya!

Who do you think you are standing in the dark?
Are you waiting for me?
Why can’t I reach you from here?
And how do I get to you?
Won’t you let me through?
Don’t you think maybe we have something special to be shared?

**

My room, 02/03/09, at 12.23 AM

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

9 thoughts on “And, that was it

  1. Mmm…..

    cuma mau bilang …segala keputusan ..ada ditanganmu..*kedip kedip penuh arti*

    Posted by yessymuchtar | March 2, 2009, 8:13 am
  2. yang terpenting dalam ngambil keputusan kan, gimana kita siap dan ngejalanin segala risiko dan konsekuensi dari keputusan itu.. bukan masalah siapa yang memutuskan😉

    thanks ya jeung,, buat ucapan MY DAY-nya..

    Posted by Billy Koesoemadinata | March 2, 2009, 11:04 am
  3. Untuk tokoh fiktifnya Lala …
    “Sabar ya dik … sabar … ”

    Salam saya

    Posted by nh18 | March 2, 2009, 11:13 am
  4. Definisi kebahagiaan menurutnya?😀

    Aku g tahu kalau itu🙂
    Coba nanti kalau ketemu tak tanyakan yach🙂

    Yang sabar sabar🙂

    Salam🙂

    Posted by aribicara | March 2, 2009, 11:27 am
  5. Tentunya kamu berhak menentukan hidupmu sendiri… Kamu sendiri yang akan menjalani bukan….?! I wish all the best for you…
    BTW FYI, your English getting better… semakin banyak F****ng nya… he.. he.. he…
    Salam dari jauh….

    Posted by michaelsiregar | March 2, 2009, 12:18 pm
  6. mbakku ini memang produktif sekale menulis,, ampe2 my kebut baca postingannya nech,,
    sekale2 ajarin emy dnks,,,
    :))

    Posted by Myryani | March 2, 2009, 10:17 pm
  7. to which direction you are going to is up to you dear….and little voice in your head will tell you the best way to go….🙂

    Posted by 1nd1r4 | March 3, 2009, 9:15 am
  8. gw mo menunggu kabar aja say….
    semoga kabar bagus ya😀

    Posted by Ria | March 3, 2009, 9:24 am
  9. blue selalu menanti apapun yg berkaitan about u jeung.
    met berpuasa
    salam hangat selalu

    Posted by bluethunderheart | September 6, 2009, 5:00 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

March 2009
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: