you're reading...
sahabat

20 Mei, Sabtu Besok

Tanggal 20 Mei, Sabtu besok, mas Andra pergi. Iya, pergi. Mas Andra benar-benar pergi. Bukannya pergi lantas seminggu berikutnya saya udah bisa ngeliat dia naik Feroza-nya keluar dari garasi, tapi benar-benar pergi dan sampai kini masih jadi tanda tanya besar kapan saya melihat dia lagi.

Persis hari Sabtu besok pagi, saya udah nggak bisa lagi dekat dengan mas Andra, cowok yang selama ini udah jadi temen yang pengertian, kakak yang penyabar, sekaligus orang yang bisa bikin hati saya berdebar-debar kalau jemarinya menyentuh tubuh saya meskipun sekilas. Sentuhan kasih sayang ala ‘kakak’-nya itu sudah lebih dari cukup untuk menggetarkan sebagian jiwa saya yang diam-diam menaruh perasaan buat dia. Sentuhan penuh kelembutan yang dibarengi tuturan kalimat nasehat itulah yang membuat alasan bagi saya untuk menangis ketika dia memberitahu saya akan rencana kepergiannya tanggal 20 Mei besok, hampir sebulan yang lalu.

“Sepertinya saya mau pindah ke Bandung, Nan. Ada peluang kerja di sana yang nggak bisa saya lewatin gitu aja. Nana tahu, kan, gimana susahnya mencari kerja saat ini? Ya mumpung ada kesempatan, saya harus berbuat sesuatu, Nan. Saya harus kesana, merebut kesempatan yang mungkin nggak akan datang lagi itu…”

Malam itu saya lihat ada binar-binar optimis di kedua mata mas Andra. Saya lihat, kilau mata itu memancar indah seiring dengan kalimat-kalimat yang keluar dari bibirnya. Saya heran, kenapa saat itu saya merasa persendian saya lemas seketika. Benar-benar lemas dan sepertinya tubuh saya ingin jatuh melorot ke bawah. Saya benar-benar kaget karena belum pernah saya men-dengar rencananya itu.

“Jadi mas Andra nggak bakal pulang lagi ke sini?” Saya mera-sa hopeless. Sepertinya ruang batin saya sudah penuh sesak dengan luka. Sudah sakit sekali karena menahan kekecewaan.

Mas Andra meraih jemari saya lalu berkata, “Tentu saya akan pulang, Nan. Tapi saya nggak bisa bikin janji dulu. Di sana saya nggak main-main, Nan, tapi ker-ja. Saya kan nggak bisa seenaknya pulang pergi Surabaya-Bandung?” Mas Andra menyentil hidung saya. “Tapi saya akan pulang, kok.”

Pulang…
Ah, saat itu, kata ‘pulang’ yang keluar dari bibir mas Andra terdengar begitu menyakitkan. Saya sadar, bukankah Bandung adalah tempat kelahirannya? Bukankah semua keluarga mas Andra mulai dari yang tua-tua sampai yang paling muda tinggal di sana? Lantas apa yang dimaksud dengan pulang? 
Malam itu, saya menangis. Perlahan-lahan, butiran air mata menggenangi pelupuk mata saya lalu jatuh menetes ke pipi. Mas Andra yang memperhatikan peru-bahan itu lalu menghapusnya dengan jemari tangannya.

“Kenapa, Nan? Kok nangis, sih?”
“Abis kamu pergi sih, Mas. Abis kamu ninggalin saya. Abis saya nggak tau harus gimana lagi selain nangis…”
“Saya nggak akan ninggalin Nana, kok. Mana ada sih kakak yang ninggalin adeknya…?”

Adik. Ah, saya ini emang hanya seorang adik buat orang sebaik mas Andra. Semestinya saya nggak pernah membiarkan perasaan saya berkembang lebih jauh karena sejak semula saya hanya seorang adik di mata mas Andra. Mas Andra memang menyayangi saya sebagai adik. Sentuhannya yang penuh sayang itu adalah refleksi sayangnya kakak ke adiknya. Bukan seperti sikap Ray dulu pada saya. Bukan seperti seorang lelaki ke gadis pujaannya. Cuma kakak ke adik. Ah, jika saya tahu sejak dulu, kenapa saya berharap ada kembang-kembang lain muncul di hatinya? Kenapa saya harus berdebar-debar setiap dia menelpon, setiap dia datang, setiap matanya bertemu dengan mata saya, setiap jemarinya merangkum lembut semua kegundahan saya? Kenapa?

“Bagi saya, Surabaya adalah rumah kedua, Nan. Saya akan pulang dan saya janji kepindahan saya ke Bandung nggak akan pernah jadi kendala buat kita berdua. Saya janji, semuanya akan tetap seperti dulu…”

Tapi ternyata semuanya tidak seperti dulu lagi.
Sejak mas Andra mengatakan rencana itu, tak ada lagi telepon yang berdering darinya. Tak pernah lagi muncul batang hidungnya di rumah saya. Tak pernah lagi saya mendengar sapaan lembutnya saat melewati rumah saya dengan Ferozanya. Sejak malam itu, saya kehilangan mas Andra. Saya sudah mulai kehilangan dia.

“Kamu ada di mana, Mas?” HP, satu-satunya bentuk komunikasi untuk melampiaskan rasa kangen saya. Tapi itupun sangat susah karena yang lebih sering menjawab telepon saya cuma mailbox. 
“Lagi ada di rumah temen.”
“Kok sekarang jarang ada di rumah, sih?”
“Sibuk, nih, Nan. Saya kan musti ngerjain skripsi saya. Ini aja lagi nanya-nanya temen yang udah selesai…”
“Ketemu, yuk, Mas? Saya kangen nih sama kamu…”
“Boleh… Tapi entar aja, ya. Nunggu skripsi-nya kelar. Eh, udah ya, Nan, entar-entar saya yang nelepon Nana, deh…”

Mas Andra nggak ngasih kesempatan pada saya untuk berdah-dah barang sedetik aja. Ah, mas Andra memang sudah berubah. Biasanya dia selalu menjawab, “Kangen? Iya… Nana kangen ya. Mau ketemu di mana?” Tapi sudah berkali-kali mas Andra selalu bilang, “Boleh…”, tanpa tau kapan bakalan terealisasi. Sepertinya saya sudah kehilangan dia, bahkan sebelum dia benar-benar pergi.

Pada Iis, saya ceritakan semuanya. Sahabat saya itu cuma mendengarkan saya dengan bijak. Dia nggak pernah sedikitpun menyela kalimat saya. Iis membiarkan saya menangis, menceritakan semuanya sampai tuntas, tanpa mengganggu sedikitpun. 

“Kamu suka sama mas Andra, ya, Nan?” tanya Iis setelah saya ceritakan semuanya.
“Saya nggak tau, Is. Saya nggak tau apakah perasaan se-dih ini karena saya kehilangan lelaki yang saya sayangi, atau karena saya kehilangan kakak yang sangat saya sayangi… Mas Andra udah ngasih begitu banyak nasehat buat saya, Is. Dia udah ngasih begitu banyak cerita-cerita dan sudah banyak pula yang saya ceritain ke dia, Is. Saya nggak tau apa saya udah siap ngejalanin hari-hari saya tanpa dia. Saya nggak tau bakalan cerita ke siapa kalo suatu saat saya terantuk tangga, saya ketemu cowok keren, saya dimarahin mama, saya lagi kena masalah sama temen-temen… Saya nggak tau, Is. Sepertinya perasaan ini lebih dari sekedar suka. Saya butuh dia, Is. Saya butuh mas Andra.”

Saya memang butuh mas Andra. Saya butuh perhatian-perhatian darinya. Saya ingat, ketika dulu mata saya gatal karena gigitan semut, saya mengadu padanya. Lalu jemari-jemarinya mengusap lembut mata saya. Sambil melakukan itu, mas Andra bilang, “Mana… Mana yang gatal… Nggak keliatan kok, Nan. Udah, sebentar lagi juga ilang gatalnya.” Atau saat saya sedih karena mas Angga, kakak semata wayang saya, akan menikah dan menetap di Jakarta, mas Andra-lah yang menyejukkan perasaan saya dengan berkata, “Semua orang pasti akan pergi, Nan. Awalnya memang terasa sakit, tapi lama-lama Nana pasti akan terbiasa. Toh mas Angga kan enggak bener-bener pergi. Masa sih mas Angga nggak pulang untuk menengok orang tua dan adik kesayangannya? Jangan sedih, ya, Nan… Saya jadi ikutan sedih kalau kamu sedih.”

Perhatian-perhatian itulah yang kemudian membuat perasaan saya semakin berbunga. Siapa sih yang nggak suka dengan perhatian? Apalagi saya perempuan. Apalagi yang memberikannya adalah lelaki yang ganteng, yang sabar, yang baik, yang sangat melindungi saya. Apalagi yang musti saya rasakan selain semakin meng-gelepar karena perasaan cinta yang tak terwujudkan? Selain semakin berat menahan rasa cinta yang diam-diam memenuhi seluruh ruang benak saya?

Dan saya merasa, cinta itu akan selamanya tak pernah terlukis jelas dalam hari-hari saya dan mas Andra. Karena tanggal 20 Mei, hari Sabtu besok, sayap-sayap cinta itu akan terbang membawa mas Andra pergi…

*

Sabtu, 20 Mei.
Besok mas Andra akan berangkat ke Bandung, tanpa kami sempat bersua apalagi bercerita-cerita. Skripsinya yang sudah kelar sama sekali tak mengingatkannya pada janji mas Andra untuk ketemu dengan saya. Bahkan mas Andra sama sekali tak menelepon saya atau main ke rumah seperti biasanya. Sepertinya tanggal 20 Mei sudah lewat hampir tiga minggu yang lalu, padahal jelas-jelas hari ini masih tanggal 19.

Pulang dari kampus, saya sengaja lewat depan rumahnya. Saya sempat melihat Feroza hijau kesayangannya dimasukkan ke dalam truk besar bersama barang-barangnya yang lain. Dari dalam Starlet, saya sempat melihat tante Anisa dan suaminya terlihat sibuk mengawasi orang-orang yang memindahkan barang-barang mereka ke dalam truk. Dari dalam Starlet pula, saya melihat mas Andra duduk di trotoar bersama Arif, Niko, dan Bastian, sahabat-sahabatnya.

Sebetulnya saya ingin turun dari mobil lalu mendekatinya, tapi sepertinya tubuh saya kaku dan kaki saya enggan untuk berjalan mendekatinya. Saya hanya memandang mas Andra dari dalam mobil, lalu menangis perlahan-lahan, seiring laju mobil saya meninggalkan rumahnya. Saya nggak tahu kenapa begitu bodoh saya meninggalkan rumahnya. Kenapa saya nggak mampir sebentar, just to say goodbye, sebelum dia pindah. Saya hanya bisa menangis. Saya hanya bisa duduk di dalam mobil, lalu menangis sepuasnya di sana. Saya nggak berani menyapa dia, saya nggak berani mengucapkan selamat tinggal, karena saya nggak mau percaya kalo mas Andra memang benar-benar akan pergi ke 
Bandung, until forever. Sampe selamanya…

Tuk-tuk-tuk.

Tiba-tiba saya mendengar seseorang mengetuk jendela Starlet saya. Ketika saya menoleh, saya melihat mas Andra tersenyum manis pada saya. Senyum yang sangat manis. Senyum yang sangat saya rindukan, hampir tiga minggu ini. Senyum yang akan selalu saya rindukan.

“Boleh masuk?” tanya mas Andra, masih dengan senyum manisnya.
Saya mengangguk lalu membuka pintu untuknya. Mas Andra segera duduk di samping saya lalu diam sebentar. Saya tahu dia memandangi saya dalam diamnya. Saya tahu itu lewat ekor mata saya. 

“Besok saya pergi, Nan,” katanya perlahan.

“Saya tahu.”

“Mulai besok kita nggak bisa seleluasa dulu untuk saling ketemu, untuk saling curhat… Saya sudah bilang Bastian untuk nyediain waktunya buat ndengerin curhat Nana.. Saya udah bilang juga sama Niko dan Erwin untuk ngejagain kamu.”
Saya diam.

“Mulai besok, kalau ada apa-apa, nggak usah ragu-ragu untuk cerita ke mereka, ya, Nan? Mereka semua sudah saya kasih tau, kok…”

“Tapi semuanya nggak akan sama, Mas. Saya nggak akan bisa seleluasa itu bercerita dengan mereka. Saya tidak mengenal mereka sebaik saya mengenal mas Andra. Mereka nggak akan pernah bisa menjadi seperti mas Andra. Kenapa sih mas Andra melimpahkan semuanya pada mereka? Kenapa, sih, Mas… Kenapa? Kenapa seolah-olah kamu harus mengakhiri semuanya? Saya ngerasa sudah kehilangan mas Andra, jauh sebelum kamu benar-benar pergi…” Saya berhenti sebentar untuk menangis. Saya biarkan air mata itu turun begitu banyak dari mata saya. Biarlah. Saya nggak peduli sejelek apa muka saya di depan mas Andra, sesembab apa muka saya sekarang. Saya ingin mas Andra tau kalo semua yang saya lakukan ini adalah refleksi rasa sayang saya buat dia. Refleksi rasa takut saya kehilangan dia…
“Mas Andra sendiri kan yang bilang kalo semuanya nggak akan berubah? Kapan sih mas Andra mau menepati janji? Kapan mas Andra berhenti mengucapkan janji-janji yang nggak bisa mas Andra penuhi?”

“Nan…”

“Sebetulnya saya nggak tau kenapa saya menangis,” kata saya sambil mengusap air mata saya. “Saya juga nggak tau kenapa begitu mudah kalimat-kalimat itu keluar dari mulut saya. Padahal dalam hati saya sakit sekali, Mas. Asal mas Andra tau, semua itu cuma tirai yang menyelubungi perasaan saya yang sesungguhnya… Sebenarnya, kalau saya bisa atau berhak, saya akan melarang mas Andra pergi meninggalkan saya, meninggalkan semua kenangan-kenangan yang udah kita lewati bersama… Tapi saya nggak bisa, Mas. Saya bukan orang yang tepat untuk melarang kamu. Saya cuma adikmu.”

“Kamu bukan cuma adik saya, Nana… Kamu juga seorang sahabat, seseorang yang membuat saya tertawa, seseorang yang bisa menjadi tempat cerita saya… Jangan dikira saya nggak merasakan semua itu. Saya merasakannya, Nan, sama seperti kamu.”

Saya terdiam. Terkejut.
“Saya sengaja nggak ingin bertemu kamu karena saya nggak ingin merasakan perpisahan. Saya ingin membiasakan diri saya untuk nggak ketemu kamu, supaya begitu kamu jauh dari saya, saya udah terbiasa. Tapi, Nan, begitu saya ngeliat kamu lewat di depan rumah saya tadi, entah kenapa saya ingin cepat-cepat berlari menemuimu. Entah kenapa saya ingin mendengar suaramu. Karena itulah sekarang saya datang ke sini. Saya ingin melihatmu, sekali lagi, sebelum kita ketemu lagi suatu saat nanti…”

Mas Andra merangkul tubuh saya lalu menyimpan saya dalam pelukannya. Saya sadar, mas Andra ternyata juga merasakan kepedihan yang sama. Tapi sepedih apapun, perasaan saya tetap lebih pedih, karena saya akan kehilangan tiga sosok sekaligus. Sahabat, kakak, juga belahan jiwa…

“Nan, nanti malam keluar, yuk?” kata mas Andra setelah melepaskan pelukannya. “Kita nonton, kita ke kafe, trus… kemana lagi, Nan? Ehm… kita ke…”

Saya nggak mendengarkan celotehan mas Andra berikutnya. Saya biarkan dia membuat rencana. Saya biarkan dia membuat janji-janjinya. Untuk yang pertama kali, saya melihat wajahnya berseri-seri saat membuat janji dengan saya…

Ah..
Besok, hari Sabtu, tanggal 20 Mei.
Mas Andra memang akan pergi. Tapi dia akan kembali lagi. Saya percaya, kalau masih ada umur, sepanjang Tuhan masih memberikan kesempatan, saya akan bersua lagi dengan mas Andra. Dan semoga Tuhan juga memberikan kesempatan pada saya untuk mengatakan bahwa saya membutuhkan dia… 

http://www.friendplay.com/ugc/audio/mp3player_1.swf?artist=BoyzIIMen&MariahCarey&title=OneSweetDay&url=http://www.friendplay.com/ugc/audio/mp3/1/1637_15002223.mp3&song_info=7+played++0+comments++posted+1+month%28s%29+ago

Surabaya, 2 Mei 2000
Kapan2 maen ke Surabaya, dong, Mas…

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

February 2009
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: