you're reading...
Bandung-Jakarta's Stories, Memorable Meetings

(Bandung-Jakarta’s Stories Part. 2) Girls Will Be Girls

I was in the bathroom.
Mengeringkan rambut pendek saya dengan hairdryer.

I was in the bathroom.
Memutihkan kulit wajah saya dengan dempulan moisturizer, alas bedak, mineral powder, dan bedak padat sebelum mulai melukis wajah saya; dari alis, mata, pipi, sampai bibir. Maskara? Tentu saja! Memangnya seajaib itu tiba-tiba bulu mata saya menjadi tebal dan lentik?

I was in the bathroom.
Mematut-matutkan tubuh bongsor saya di depan cermin; memakai pakaian terusan batik di atas lutut dan mesam-mesem sendiri mengagumi wajah cantik saya. Uhui! Pasti kacanya bohong! 😀 Berputar-putar dengan grogi di depan cermin, mencari-cari apa yang salah karena tiba-tiba perasaan saya berkata, “Idih, kok bukan gue banget, ya?” Dan membayangkan saya bakal seharian beraktivitas, saya khawatir rok selutut itu bakal robek atau tersingkap! Haha… I’m not a ‘real’ girl, btw. Saya terlalu urakan untuk disebut perempuan sejati!

I was in the bathroom.
Akhirnya memutuskan untuk mengganti pakaian saya dengan yang lebih casual. Baju model baby doll pemberian kakak saya dan memadukannya dengan celana jeans biru gelap. Supaya terkesan chic, saya putuskan untuk menyematkan sabuk berpita di pinggul saya. Ok, I think I’m ready, seru saya dalam hati. Tinggal mengenakan sandal warna coklat keemasan berhak tujuh senti, I was all set and ready to go.

 “La, udah siap?” Seseorang di luar memanggil nama saya. Suara yang berat dan sudah saya akrabi beberapa hari itu memanggil saya dari luar kamar mandi. Sebelum saya berdandan di kamar mandi, dia terlihat asyik membubuhkan make up di wajahnya yang kebule-bulean. Nampaknya sudah selesai, buktinya dia bertanya apakah saya sudah siap. Hm, arloji model unisex yang melingkar di pergelangan tangan kiri saya memang sudah menunjukkan pukul setengah sebelas lebih sedikit. It was time to go.

“Udah!” teriak saya dari kamar mandi dan masuk ke dalam kamarnya, melihat wajahnya yang sudah sangat cantik, as usual.  “Berangkat sekarang?”

“Tunggu,” katanya. Dia meminta saya untuk memilih anting-anting yang sesuai dengan kalungnya. Pink atau merah hati. 

I’ll go with red, Sis,” kata saya. Bukan pengkhianatan terhadap warna favorit saya, tapi karena dari sekian banyak koleksinya, saya melihat anting dan kalung berwarna merah itu yang paling pantas dikenakannya, berpadu dengan blus hitam yang dibiarkan terbuka kancing depannya, menutupi tank top hitam, dengan bawahan rok hitam panjang  menjutai menutupi kakinya. She looked so gorgeous!

“Sip.” Dia mengerling pada saya. “Kita berangkat sekarang, yuk!”

Kami berpamitan pada kedua anaknya yang lucu dan Oma. Menitip pesan pada babysitter untuk menjaga putra-putranya, terutama si Bungsu yang masih setahun lebih sedikit, lalu berjalan keluar menuju tempat pemberhentian taksi.

Tidak butuh waktu lama untuk mendapatkan taksi, karena rupanya, jarak antara rumah dengan tempat pemberhentian taksi bisa ditempuh dengan jalan kaki saja. Ah, paling tidak lebih dari seratus meter. Me with high heels are like bestfriends, jadi silahkan saja berjalan jauh. Saya nggak keder! Asal jangan mengajak saya untuk lari marathon, ya… 

Taksi berwarna putih itu terbuka dan kami masuk ke dalamnya. Saat itu sudah pukul sebelas kurang sedikit. Ah, bakal telat, nih. Yang terlintas di dalam isi kepala adalah satu wajah yang terkenal dengan kedisiplinannya. Bisa repot nanti kalau dimarahi sama seorang Bunda dengan dua putera-puteri itu! 

“Mau kemana, Bu?” tanya Supir taksi sambil melirik ke cermin spion dalam.

Segera perempuan cantik di sebelah saya ini menjawab, “Omah Sendok, Pak!”

Saat dia mengucapkan tempat itu, segera saja hati saya berdebar kencang. Ah, ah. Dalam hitungan menit saya akan bertemu dengan banyak manusia yang saya kagumi. Dalam hitungan menit saja saya bisa menempatkan sebuah wajah di atas nama yang berkali-kali saya sebut lewat telepon atau percakapan di mesin internet.

Entah kenapa, mendadak saya grogi!
Huf!
Nafas, La!

***

Omah Sendok adalah tempat kencan kami. Saya dan perempuan cantik ini saja? Oh tentu tidak. Kalau hanya kami berdua, saya nggak perlu mendadak merasa gatal-gatal karena grogi, kan? Saya dan Imelda Coutrier sudah kenal akrab sejak setahun kemarin dan ini adalah kunjungan saya ke dua di Jakarta untuk menemuinya. Ditambah dengan fakta bahwa saya berbagi kasur empuk di Aston Tropicana, Bandung dan semalam lagi di rumahnya, masa saya masih grogi, sih?

Yang membuat grogi adalah perempuan-perempuan yang nanti berjanji akan memenuhi ajakan kencan saya di Omah Sendok ini! Meskipun kami sudah akrab, tapi beberapa di antaranya masih berupa avatar saja, bukan lagi wajah yang harum bedaknya bisa tercium oleh hidung pesek saya.

“Sudah ada yang datang, Mas?” tanya Imelda, setelah memastikan bahwa kamar VIP-nya sukses di-reserved.
“Sudah, Bu…” sahut si Mas dan membuat saya makin grogi.

Hah! Huf!
Nafas, La!

Saya berjalan di belakang Imelda Coutrier sambil menata debaran jantung. Saya tahu, orang pernah bilang kalau saya hanya gugup di awal saja, karena setelah itu, saya bakal liar seperti Badut Ancol tanpa kostum warna-warninya! Aha! 

Tapi tetap saja, Badut tetap manusia, bukan? Saya pun berhak merasa grogi karena ini adalah pertemuan yang mengesankan buat saya, kan? Beberapa di antara mereka bahkan rela untuk cuti dan berbohong di kantornya, memberikan alasan ina-inu demi acara kencan yang sudah dirancang jauh hari. Ah, kalau saya malah garing dan membosankan, nanti mereka menyesal, dong, sudah bolos kerja…

Huf! Nafas, La!

Imelda berjalan menyusuri beberapa kursi dan meja. Saya mengedarkan pandangan. Hm, cafe yang dipilih ‘kakak’ saya ini memang secantik yang saya bayangkan. Sangat nyaman. Ambiencenya tenang sekali. Furnitur klasik berupa kayu-kayu, kolam renang di bagian belakang, dan kesan ruang keluarga di rumah Joglo-nya orang Jawa membuat saya kerasan. Apalagi ada satu butik yang menjual baju-baju batik cantik dan sebuah toko buku mungil di sudut kiri belakang. Sungguh menenangkan!

…tapi bukan hati saya!

Damn! Kenapa musti grogi, sih! Saya mengamuk terus dalam hati, sementara Imelda terus melaju sampai ke belakang. Tadi Mas di depan itu bilang sudah ada yang datang. Hm, siapa dia? Sambil menebak-nebak sekaligus menata perasaan, saya berkali-kali berbisik dalam hati, “It’s just a casual lunch with people you already knew, Lala. Singkirkan dong perasaan grogimu! They’re your friends, remember? They won’t judge your look, your outfit, your hair style, and compare it with a person who writes in a blog. Mereka temanmu!”

Huf!
Nafas, La!

Tidak lama kemudian, saya sampai di depan sebuah ruang VIP dengan daun pintu yang terbuka. Dua butir kepala dengan raut wajah manis tersenyum lebar menyambut saya dan Imelda, kakak saya. Wajah itu sudah saya akrabi betul, sebelumnya. Wajah dua ibu muda yang wajahnya sering saya lihat ketika berkunjung di blog mereka.

Di situ ada wajah Yessy Muchtar dan Christina Paska.
Ya, mereka memang teman-teman saya!

***

Rasa grogi itu rupanya memang tidak pada tempatnya; bahkan sepatutnya tidak pernah ada! Bagaimana tidak? Ketika saya berbagi cium pipi dengan Yessy dan Christine, segala gundah karena takut mendapatkan judgmental look luntur seketika, seperti kosmetik murahan terkena air hujan. Haha! Mereka memang teman yang baik dan percayalah, ketika lima menit bertukar cerita dan memberikan prolog bagaimana mereka sampai di tempat kencan ini, kami seperti sahabat yang lama tak berjumpa!

Kegilaan-kegilaan yang umum terjadi saat berkumpul dengan sahabat pun menghiasi jam makan siang kami. Satu persatu bermunculan wajah-wajah manis yang sudah saya akrabi benar.  Bunda Enny dan sepupunya yang cantik dan doyan makan bakso, Poppy ‘Si Bulet’, Mbak Rhainy yang membawa rombongan suami dan kedua buah hatinya yang super duper keren (anak-anakmu, Mbak Nen, bukan suamimu yang ternyata diajak kesana buat jadi fotografer itu! hehe), disusul Ria yang ternyata jauh lebih cantik daripada hasil bidikan kamera, lalu ditutup dengan kehadiran Mbak Indah Juli yang pandai menulis, yang datang tergesa-gesa dari kantornya lalu segera curhat soal kehamilannya. 

Acara kencan makan siang itu berlangsung meriah!
Saling melempar canda dan mengejek sayang (ada, ya? hehe), kami tertawa ngakak seperti lupa kalau sebetulnya ruangan VIP yang kami tempati ini tidak ‘berisik proof’. Beberapa butir kepala menengok ke dalam ruangan dan sempat mencuri dengar pembicaraan perempuan kami, dan serunya, yang menoleh dan berkomentar itu adalah lelaki-lelaki berpakaian rapi, berwajah manis, dan cukup potensial untuk dijadikan pasangan hidup! Haha! Nasib perempuan lajang seperti saya, Poppy, dan Ria; di mana-mana ketemu cowok potensial tapi saat kami berdua sedang dalam setelan GILA mode: ON! Hilang sudah kesempatan mencari jodoh… (hidih! Nggak se-desperate itu kali!)

Topik demi topik bergulir. Digulirkan oleh siapa, ditanggapi oleh siapa, begitu seterusnya sampai kami merasa heran sendiri. Memang sebelumnya kita sudah pernah ketemu? Kok akrab betul?

Bayangkan saja.
Di dalam ruang VIP yang mendadak sesak karena ukuran manusia yang hampir separuhnya melebihi ukuran manusia normal (hehe, kecantikannya juga jauh di atas standar, deh! Beneran!), terdapat perempuan-perempuan dalam generasi yang tidak sama. Saya dan Yessy malah berbeda satu putaran shio dengan Imelda. Ups! Apalagi dengan Bunda Enny? Perempuan hebat dengan karir cemerlang dan tetap sibuk meskipun telah pensiun ini masih terlihat cantik dan muda sehingga bisa mengimbangi gaya ngocol saya dan Yessy yang memang sudah dalam level GILA AKUT dan BUTUH DIREHABILITASI!

Seorang Ibu rumah tangga yang gaul habis seperti Mbak Rhainy pun tidak kalah ngocolnya. Bahkan kalau boleh dibilang, dia jauh lebih ‘nyablak’ ketimbang saya! Haha… Maaf, Mbak Nen… Daripada bilang kalau dirimu pendiam, ntar jadi fitnah namanya! Hehe…

Lalu Poppy yang ngakunya bulet padahal biasa aja itu juga super lucu! Meskipun baru pertama kali bertemu, kami seperti sudah belasan tahun tinggal satu rumah!

Bagaimana dengan Ria yang cantik dan manis? Ah, perempuan yang datang ke Jakarta untuk mengurus tesisnya ini ternyata pendiam juga, meskipun tidak bisa mengalahkan ‘pendiamnya’ Christina yang ternyata fake banget. Kenapa fake? Karena ternyata beberapa jam berikutnya di sebuah ruang karaoke, dia bisa nyanyi lagu dangdut Padang sambil berjoget! Haha! (Itu gue lakuin karena elo sama Yessy udah kayak petasan banting, kaleee… Gue cukup tau diri! Ini pembelaan Christina alias Mbak Puak.

Mbak Indah Juli yang saya kira pendiam, ternyata bocor juga. Aduh, Yessy, apa karena Mbak InJul baca blogmu, ya? 😀

Teringat kata-kata Yessy dan Mbak Nenny siang itu.
“Gue nulis begitu biar nggak gila, Mbak. Di kantor, di rumah, rutinitasnya begitu terus. Kalau nggak ngeblog, mungkin gue udah gila, kalee…”

Dan dengar apa kata Mbak Nenny yang ceplas-ceplos itu.
“Iya. Tapi tulisan lo bikin orang lain gila!”

Meledaklah tawa kami bersembilan dan cukup menggoyang cafe Omah Sendok sampai beberapa skala richter! 😀

Betapa menyenangkannya bisa bertemu dengan perempuan-perempuan hebat yang tadinya hanya bersentuhan lewat layar laptop saja, percakapan via telepon genggam, atau pesan pendek yang cukup rutin di layar ponsel. Betapa menyenangkannya bertemu, berbagi cerita, dan ketawa ngakak dengan perempuan-perempuan yang hebat, with their great jobs. From a cool house wife to a business lady. Mereka bercampur menjadi satu dalam suasana yang guyub dan menyenangkan.

It was a moment to remember.
It was one of those beautiful moment ever and will be created in my life.

A moment, where I met beautiful ladies in my naked eyes. Perempuan yang boleh saja memiliki selera yang berbeda terhadap jenis pakaian yang dipilih. Perempuan yang boleh saja punya selera bagaimana ingin menata rambutnya. Perempuan yang kantongnya tidak akan sama tebalnya. Perempuan yang memilih menjadi penikmat Badut atau menjadi Badutnya sekalian.

But girls will be girls.
Deep down inside, they’re just girls who enjoy to laugh and share stories.

Dan itulah kenapa saya menyesal:
Kenapa tadi saya grogi kalau akhirnya malah gila-gilaan seperti ini? Buang-buang energi!

So, Girls…
Take a look at our pictures.
Pastikan: apakah benar kita berbeda usia, minat, dan pekerjaan? Kok kayaknya seru-seru aja sih pas kumpul kemarin… hehehe…

Girls will be Girls, sebuah acara kopdar yang super fun!

Girls will be Girls, sebuah acara kopdar yang super fun!

 

Hari itu memang belum berakhir; masih ada beberapa potongan episod yang berhasil membuat saya merasa sangat beruntung telah menjelajah dunia blog setahun belakangan ini. Masih ada agenda kencan yang musti dilewati sebelum hari berakhir!

Setelah makan siang yang menyenangkan itu, saya dan empat orang kawan menuju karaoke Inul Vista dan melanjutkan kegilaan di sana. Dalam perjalanan menuju tempat berikutnya, saya tersenyum sambil membayangkan betapa serunya telah bertemu dengan perempuan-perempuan hebat seperti mereka. Saya jadi penasaran, bagaimana perasaan mereka saat itu, ya?

Hm…
I wanna take a moment to read their stories, here… Wanna join me, eh?
The Women by. Yessy Muchtar 
They were there.. for me by. Christina a.k.a Mbak Puak
Mencoba Makanan di “Omah Sendok” by. Bunda Enny
Dari dunia maya ke dunia nyata by. Poppy
The Unforgetable Moment by. Mbak Indah Juli

 

About Lala Purwono

Published writer (or used to be, darn!). A wife. A mom. A friend that you can always count on.

Discussion

23 thoughts on “(Bandung-Jakarta’s Stories Part. 2) Girls Will Be Girls

  1. Hehehe..La…

    I am so lucky to be there…so damn lucky…i love you La 🙂 Like always …hehehe

    Posted by yessymuchtar | February 26, 2009, 2:14 pm
  2. Boss…itu foto makanan dan piring piring agak agak ganggu yaaaa huahauhauahuhau….ketahuan deh makanan kita segambreng!! kekekeke

    Posted by yessymuchtar | February 26, 2009, 2:33 pm
  3. cinta….ketemu lu dan mereka semua adalah moment yg paling menyenangkan di liburan gw kali ini…

    let me the last one write about this…masih pusing dengan temen2 gw yg rusuh dijakarta, pengen cepet balik ke duri biar bisa konsen buat nulis…

    love u dear….and love them too…muachhhh

    Posted by Ria | February 26, 2009, 2:47 pm
  4. wah … cerita kopdar-nya makin seru aja nih. selamat ya, semoga persahabatan yg sudah dijalin bisa makin mengakrabkan semua (termasuk yg cuma bisa baca dari laporan pandangan mata … hehehe)

    Posted by Oemar Bakrie | February 26, 2009, 3:00 pm
  5. Daku pun begitu darlingku.. dadar gulingku..
    Kalian semua sudah membuat daku seneng.
    Thanks untuk keplokannya untuk lagu Padang itu.. hehehe
    Daku sudah menyiapkan beberapa lagu Padang yang lain… kalau kita berjumpa lagi di Inul :mrgreen:
    (sepertinya tempat itu cocok ama suaraku.. hahaha.. sempet dapet point 100, remember? 😉 )

    Posted by p u a k | February 26, 2009, 3:06 pm
  6. 😀 seruuuuu banget mba… 😀 wew… moga² besok kopdar di jogja lebih seru yuph 😉

    Posted by tyanjogjack | February 26, 2009, 3:59 pm
  7. Qoute:
    Yang terlintas di dalam isi kepala adalah satu wajah yang terkenal dengan kedisiplinannya. Bisa repot nanti kalau dimarahi sama seorang Bunda dengan dua putera-puteri itu!
    ——————————————————

    Ini pasti aku ya…hehehe…aku nggak marah kok La. Saat di Surabaya juga nggak marah kan, karena tahu alasannya….kesasar
    Kalau temenmu yg satu itu emang kebangetan…lha telatnya 5 jam. Jadi yang pintar EM, semua acara diberi batas waktu : a) Jam 11-15.00 di Omah Sendok, b) 15.00- 17.00 di Inul Vista, c) Malam di Pisa Cafe.

    Lain kali memang harus seperti itu….kemarin tuh saya salah mengatur jadualnya, belum pengalaman…

    Posted by edratna | February 26, 2009, 6:01 pm
  8. Uhuyy.. Seru benar ya, Laa, acara kumpul2nya itu 😉

    Posted by Indah | February 26, 2009, 7:40 pm
  9. wah. kopdar ibu2 nih..
    siapa yang menang arisannya?? 😀

    Posted by Billy Koesoemadinata | February 26, 2009, 10:20 pm
  10. bener2 dech,, wanita2 hebat yg ketemu,,,,
    tapi kq ndak ada saya ya mbak??
    heuheu,,,

    Posted by Myryani | February 26, 2009, 10:35 pm
  11. Hah …
    Ini kebayang ramainya …
    (meluncur membaca postingan serupa lainnya )

    This is the beauty of blogging …

    Salam Saya La …

    Posted by nh18 | February 27, 2009, 10:14 am
  12. wah, asiknya ya koppdaran. itu di poto mukanya pada sumringah semua. hehehe 😀

    kebayang deh celoteh en rame-ramenya.
    lam kenal ^^

    Posted by nie | February 27, 2009, 10:23 am
  13. Ada yang kurang, La.
    Dari semua perempuan yang bertemu itu, luput diceritakan:
    siapa yang paling kalap makan?
    Hihihi…

    Posted by Daniel Mahendra | February 27, 2009, 10:51 am
  14. Berhubung sekarang nggak musim Raja Minyak (karena direktur Pertamina juga perempuan), jadi aku nggak bisa hadir di sini. Halah…Padahal sih memang nggak berani bilang ina-inu ke kantor…Gubrak…
    Selamat ya Jeung buat kopdarnya yang dahsyat binti luarbiasa…

    Posted by Hery Azwan | February 27, 2009, 11:07 am
  15. Hurray, ngak nyesel nyolong-nyolong waktu dari kantor.
    Nyesel ngak bisa ikutan karaoke.
    Sekarang tinggal menunggu kedatangan Lala lagi, untuk the next kopdar heboh :))

    Posted by IndahJuli | February 27, 2009, 4:24 pm
  16. aku udah membaca beberapa versi lain dari kopdar ini, dan inilah versinya jeunglala.
    makin terasa deh gimana riuhnya omah sendok diacak-acak rombongan bloger cantik yang seleb ini.
    hmm… kopdar selanjutnya udah direncanakan belum?

    Posted by marshmallow | February 27, 2009, 9:28 pm
  17. Sebenarnya kemarin saya pengin datang. Hari Sabtu coba-coba cari tiket pesawat, eh … adanya yang sejutaan … ihiks …. emang sapa yang bau bayarin ? Hehehe ….
    Minggu depan aja deh, ketemu di Yogya. Sayangnya nggak semua teman bisa datang ya …

    Posted by tutinonka | February 27, 2009, 11:39 pm
  18. Wah… kayaknya semakin heboh aja nih yang kopdaran… kapan ya saya bisa ikutan…
    Salam dari jauh…..

    Posted by michaelsiregar | March 1, 2009, 7:03 am
  19. la…
    Nyesel gw enggak dateng pas siang harinya, padahal itu kesempatan emas untuk menjadi raja minyak …. 😀

    Posted by abindut | March 4, 2009, 12:23 am
  20. salam kenal………..
    semakin heboh aja nih ….

    Posted by sentrabaju | May 11, 2010, 3:35 am

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: The Story of Ria » Blog Archive » Pertemuan heboh itu - March 2, 2009

  2. Pingback: Cinderella inside | The Blings Of My Life - March 17, 2009

  3. Pingback: Twilight Express » Blog Archive » Hari ke 9 : Kopdar atau Narbar (narsis bareng) - June 16, 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

February 2009
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: