you're reading...
daily's blings, Thoughts to Share

We’re Growing Up, Aren’t We?

I read someone’s blog, today.
Membacanya pelan-pelan. Tertawa, pelan. Tersenyum, sedikit. Tertawa, masih pelan. Kadang merasa kedua mata saya memanas dan tanpa terasa beberapa bulir air mata terjatuh dan segera saya susut. Kali ini cepat-cepat, dengan ujung jari, sambil mendamaikan badai yang entah kenapa membuat hati saya tidak tenang.

Are you growing up?

Pertanyaan itu terlintas di dalam pikiran saya dari masa ke masa, dari kalimat pembuka sampai penutup, dari cerita yang satu ke cerita berikutnya. Begitu terus sampai usai. Begitu terus sampai saya kehabisan energi untuk mendamaikan perasaan saya.

Are you really growing up?

Masih pertanyaan yang sama. Masih pertanyaan yang berhasil membuat energi saya terkuras hanya dengan tiba-tiba memikirkan betapa banyaknya cerita yang ia tulis di sana dan membaca bahwa perlahan-lahan ia telah berubah menjadi sebuah sosok yang tadinya tidak pernah tervisualisasi dengan sempurna meski saya dan dia harus berebut oksigen, di tempat yang sama. Meski kulitnya kadang bersentuhan dengan kulit saya; tapi tetap saja, sosok itu tidak pernah terlihat sama sekali.

Dia menjadi perempuan yang sama sekali lain.

Bukan seperti perempuan yang beberapa tahun lalu melambai pergi dan saya tangisi diam-diam di atas ranjang kamar saya. Di depan televisi yang menyala dan sekeping disc yang merekam kalimat-kalimat yang tak sempat terucapkan olehnya ketika kami mengadakan farewell party untuknya di sebuah hotel, bulan Desember 2006. She’s different. She’s becoming someone else; but she’s better.

So, are you really growing up?

Yang terakhir saya tahu dari sahabat perempuan saya itu adalah dia masih menganggap cinta di prioritas sekian, jauh di bawah saya menempatkan cinta dan pernikahan dalam hidup saya. Dia tidak peduli dengan boy things, karena baginya, hidup adalah sesuatu yang sudah jauh sangat menyenangkan tanpa campur tangan mereka. OK, she’s been in several relationships, tapi tetap saja, baginya, lelaki bukanlah segalanya. Cinta? Apa itu definisi cinta?

Dia bahkan sempat bertanya, “Kenapa gue nggak kayak elo, ya, La?”
“Apanya?”
“Elo bisa nangis karena patah hati. Elo bisa kegirangan setengah mati saat ditelepon sama orang yang lo suka. Dan mata elo, La… beneran, deh. Berbinar-binar setiap elo bicara tentang lelaki yang lagi deket di hati elo.”
“Terus, kenapa?”
“Kenapa gue nggak kayak elo?”
“Hah?”
“Apa artinya gue nggak jatuh cinta beneran sama pacar gue, ya?”

 I can mention all her boyfriends. I remember every name of guys who came knocking at her door and left her with wounded heart. Tapi dia nggak pernah bisa menyebutkan nama-nama lelaki yang pernah dekat di dalam hidup saya. Dia selalu bilang, “Terlalu banyak lelaki dan nama mereka mirip!”

Haha. She could never notice the difference between Toyota Kijang and Isuzu Panther. She could never notice the brand of any cars. Jadi saya menganggap, itu bukan penghinaan, cuman masalah kapasitas otaknya yang hanya bisa menerima informasi yang penting-penting saja! Hihi.

“Gue pingin ngerasain jatuh cinta kayak elo, La,” katanya suatu hari.
“Jatuh cinta kayak gue?”
“He-eh.”
Define, please.”

Katanya, setiap saya jatuh cinta, saya nggak bisa berhenti menyebutkan nama lelaki itu. Katanya, setiap saya jatuh cinta, saya akan selalu bercerita bagaimana lelaki itu sudah begini, begitu, dan setiap perilakunya adalah keajaiban kecil yang sangat menghangatkan hati. Katanya, setiap saya jatuh cinta, saya menangis saat berjauhan dan overjoyed saat berdekatan.

Dan ya. Tentang the flying butterflies in my stomach; dia ingin tahu bagaimana rasanya. Dia ingin tahu bagaimana gelinya merasakan kepak sayap kupu-kupu di atas perutnya. Dia juga ingin melihat wajahnya sendiri di depan cermin ketika merasakan kepakan sayap kupu-kupu itu. Ingin memastikan bahwa di dalam biji matanya tersembunyi bintang-bintang yang berkilauan saat membisikkan sebuah nama.

“Karakter elo nggak hiperbolis kayak gue.”
“Tapi gue kepingin.”
“Berarti emang belum waktunya.”
“Atau gue emang nggak bakal bisa, ya?”
“Lah, kok jadi pesimis? Gini, deh. Elo bakal ngerasain itu,
some day.
“Kapan?”
“Sampai ketemu orang yang tepat.”
“Ah, kenapa nggak seperti elo aja, sih? Gampang ngerasainnya?”

Saya menghela nafas.

“Justru orang seperti elo yang gue cemburuin. When it comes not too often, you will appreciate more. Kamu bakal tahu bahwa seseorang itu benar-benar spesial, bukannya euphoria.

Dia diam. 
Percakapan itu berhenti dan menguap begitu saja. Kami sudah berhenti membicarakan tentang perasaan karena yang terpenting dalam dua tahun belakangan ini adalah: is she okay; what she’s been up too; when will she come home. Curhat tentang cinta bukanlah topik utama, karena buat saya, meluangkan waktu untuk bercanda-canda for old time sake adalah segalanya. 

Sampai suatu pagi, dia mengetuk jendela Yahoo!Messenger saya. 

“Waktu pulang ke Surabaya kemarin, gue jalan sama dia, La. Di Supermal.”
“Hm… asyik, dong. Terus?”
“Dia pegang tangan gue!”
“Asyik! Terus, terus, lo ciuman?”
“Gila! Di mal, kalee…”

Lalu kami cekikikan. Ya, ya. Lewat simbol emoticon kepala bulet kuning dengan mulut yang tertawa terbahak-bahak.

Then what happened?
“Gue biarin aja dia megang tangan gue.”
“Cihui! Terus, terus?”
“Gue ngerasa aneh, La.”
“Aneh? Kenapa? Anehnya gimana?”
“Gue seneng banget!”
“Idih! Pegangan tangan sama pacar ya pasti seneng, lah.”
“Bukan, bukan. Maksud gue… baru pertama kali itu, gue ngerasain apa yang lo rasain.”
“Apa?”
Butterfly!”

Are you growing up?

Saya selalu menganggap perempuan ini sebagai seorang Phoebe Buffay; perempuan lugu yang menganggap hidup hanya hitam dan putih. Saya, okay, juga sahabat-sahabat yang lain, menganggapnya sebagai anak kecil yang doyan membeli berbungkus-bungkus permen karet hanya karena kemasannya yang cantik. She was the kid in our gang, meskipun saya tahu persis, when I dig a little more,  she was a grown up in a child who refused to admit it.

Sehingga saya selalu menganggapnya sebagai seorang adik, meskipun seringkali dia menjadi safety net every time I take a bungee jumping without string attached. Dia selalu berhasil menenangkan saya, dengan caranya. 

Tapi tetap saja, she was a ‘kid’ yang nggak tahu apa itu cinta.
Tapi tetap saja, she was a ‘kid’ yang merasa hidupnya terlalu flat, boring, dan predictable.

Dan pagi tadi usai membaca blognya, saya bertanya dalam hati: Are you growing up?

Dia menulis tentang isi hatinya. Dia menulis tentang perasaannya. Lalu saya bermain ke profile friendsternya dan melihat tulisan statusnya sekarang: Female, 28, in a relationship. WOW!

In… a…. relationship.

Kalimat sederhana yang begitu luar biasa maknanya jika itu ditulis di belakang profile seorang perempuan yang dua tahun lalu masih bertanya, “Cinta itu apaan, sih?”

I wrote the same sentence, time after time. It wasn’t such a big deal. Percayalah! Ini terasa begitu berbeda ketika menemukannya di ujung namanya. Buset, buset! Saya benar-benar tak menyangka!

Maaf, ini bukan underestimate, tapi kalau kamu benar-benar mengenal sahabat saya ini, kamu akan tersenyum, terkaget-kaget, dan secara reflek akan bertanya:

Are you really growing up, eh?

“Bisa ngerasain cinta dan berkomitmen terharap seseorang, bukan satu-satunya indikator orang mulai dewasa, kali, La…” kata seorang teman.
But she is growing up.
“Banyak indikator lain dan gue rasa naif sekali kalau elo bilang dia dewasa setelah dia jatuh cinta dan mengakui perasaannya.”
But it works for her!”
“Maksud elo?”
Only grown ups know what they’re doing. And look, she really does know what she’s doing, what she wants, what she needs.
“Jadi?”
She’s growing up… and I’m not.
“Gila lo!”
“Kenapa?”
You’re growing up!
“Hah?”
“Apa elo nggak sadar bahwa apa yang elo kerjain sekarang dengan bangganya itu karena elo tahu bahwa menulis adalah jiwa elo? Bagian dari hidup elo yang nggak bisa elo tinggalin? Yang elo anggap sebagai penghiburan paling hebat? Yang elo anggap sebagai oksigen buat hidung elo?”
“…”
You’re both growing up. Period.

Dan ketika saya sadar bahwa saya dan sahabat tercinta saya itu sama-sama bertumbuh, sama-sama berubah, sama-sama menjadi perempuan di ambang batas dua puluhan… saya merasa takut. Sangat takut.

Will every thing be the same as it used to be?
Apakah akan tetap ada late night talks di MCD Surabaya Plaza sampai pukul lima pagi, setiap malam minggu? Apakah akan tetap ada agenda karaoke-an di NAV sampai pukul tiga pagi dan kena razia polisi yang mengaduk-aduk tas segedhe bagong saya untuk mencari tahu apakah di situ ada pil-pil maksiat atau senjata tajam? Apakah masih ada acara nongkrong dadakan di warung tahu campur yang berjarak lima menit dari rumah saya cuman karena tiba-tiba kami kelaparan?
Singkatnya: will every thing be the same as it used to be? Or it won’t be the same… ever again?

Dua tahun yang lalu, saya kehilangan sahabat yang selalu menjadi partner saya ketika lapar mendadak di tengah malam, butuh teman cerita, teman berburu DVD bajakan, plus one untuk setiap acara kondangan… 
Apakah terlalu muluk kalau saya berharap, ketika dia kembali pulang dua tahun kemudian, dia akan tetap menjadi seorang sahabat yang dulu saya kenal? Dia tetap bisa menjadi seorang sahabat yang paling bisa diandalkan, mengingat jarak rumah saya dengan rumahnya yang hanya beberapa kali helaan nafas saja?

Dan saya pun teringat dengan tiga episod terakhir serial favorit saya, Sex and The City, musim terakhir alias musim keenam.

Ketika Miranda Hobbs mengingatkan Carrie Bradshaw untuk mengambil keputusan yang tepat; she was in a relationship with a guy who asked her to move to Paris and leave her job as a fabulous coloumnist. Nyawanya. Hidupnya. Dan dengar apa yang Carrie katakan pada sahabatnya:

Carrie:  I can not stay in New York and be single for you!
Miranda: What?
Carrie: This is always about you. As long as I’m here. In the same place, writing coloumns, then nothing’s really changed. You moved on, Charlotte moved on. Even Samantha moved on.

Somehow, mengingat kembali potongan episod itu, saya merasa menjadi seorang Miranda; sahabat yang berjuang menggerakkan rodanya untuk berputar ke depan, menggelinding ke masa depan yang lebih baik, tidak diam di tempat, tapi berharap bahwa seorang sahabatnya tetap menjadi sahabat yang selama ini dikenalnya.

I’m moving on.
Why on earth I’m  so afraid that she’s doing the same thing?

 Malam ini; my sleepless night, pengaruh kafein kopi dan pikiran-pikiran yang melayang seperti balon gas tanpa benang, saya memikirkan sahabat saya dan merasa malu seketika. Kenapa saya harus takut kalau sahabat saya berubah? Kenapa saya harus takut kalau kelak dia akan menghabiskan waktunya dengan lelaki yang dicintainya dan melupakan agenda malam minggunya bersama saya?

OH MY GOD! I’ve been neglecting her for so many fuc*ing times when I was with my former boyfriends! Kenapa saya menuntut dia selalu ada buat saya? Damn, I hate Miranda for sneaking inside my thoughts! *Shoo, shoo! Go away!*

Dalam hitungan hari, tanggal 28 Februari, seorang sahabat akan kembali pulang, setelah dua tahun kami bercakap-cakap lewat teknologi canggih bernama internet.
Dalam hitungan hari, minggu depan, seorang sahabat akan berbagi oksigen lagi bersama keempat sahabat yang lain.
Dalam hitungan hari, Ria Lilyana, sahabat tercinta saya, akan pulang.

Will every thing be the same as it used to be? Or it won’t be the same… ever again?

Hm.
Sepertinya, saya harus menguatkan hati, membesarkan hati, dengan bilang, “Hm, I guess, it won’t be the same ever again…”

Dan kalau kamu bertanya pada saya, ada satu jawaban yang sudah saya siapkan sebagai peneduh segala kesedihan yang mungkin terjadi karena semua tidak lagi sama.

Apa jawaban peneduh hati itu?

“Because we’re growing up, aren’t we?”

Dan bertumbuh adalah salah satu indikator bahwa dia dan saya memang mempelajari sesuatu selama dua tahun ini… Dua tahun yang akan mengubah segalanya. Ya. S-E-G-A-L-A-N-Y-A.

Hm,
I really can’t wait to see you, Mboi.
Jangan lupa bawain oleh-oleh DVD original-nya Sleepless in Seattle, One Fine Day, sama When Harry Met Sally, yah…🙂
take care…
I love you!! 

***

My Room, 18 Feb’08, 12.37 AM 

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

40 thoughts on “We’re Growing Up, Aren’t We?

  1. aduhhhhh jadi nangis nich…. kangen ama Vita (inget khan say?? itu yg ketemuan di supermal)

    Aku juga sempat nangis waktu berpisah dengan di stasiun Pasar Turi, dia pun juga nangis….

    Salam kenal untuk sahabatmu, Ria Lilyana ya😀

    Posted by Retie | February 18, 2009, 12:54 am
  2. Aih, tulisan yang menyentuh!
    Aku juga grew up dulu nyampe menyentuh 183 cm tinggi tubuhku lalu berhenti hingga sekarang (kecuali sedang pake boots kesukaanku maka tambah deh jadi 185-an) hehehe🙂

    Selamat ber-kopdar Lala!

    Posted by DV | February 18, 2009, 5:14 am
  3. everybody changing (jadi inget lagunya sapa tuh)
    in 2 years or in 2 months or in 2 days.
    it doesn’t matter how long it will take,
    everybody will change….

    EM

    Posted by Ikkyu_san | February 18, 2009, 5:40 am
  4. Jadi abis ketawa ketawa ngakak sampe Tangguh bengong bengong gara gara ngeliat emaknya kayak orang kesurupan ngobrol sama Aunty Lala di telpon…lo bikin tulisan yang bikin nangis kayak ginih!

    Lo emang gila ya La?
    *Kemaneee ajeeeeeeee?*

    But La…

    This is sweet…really really sweet..:)

    Salam buat mboy mu, gue udah gak pernah lagi main ke blognya kekekekek.
    Masih pisang gak ya theme nya? huahuahauhua

    Posted by yessymuchtar | February 18, 2009, 7:20 am
  5. menjadi dewasa atau ga,
    setiap saat tidak akan pernah sama..
    berharap mungkin bisa, karena sifat dasar manusia dipenuhi dengan harapan-mimpi-keinginan, tapi realis mutlak diperlukan, agar kita bisa lebih fleksibel, dan memaknai hidup sekaligus menghargainya..

    Posted by Billy Koesoemadinata | February 18, 2009, 9:35 am
  6. HHmmm …
    SO …
    You are Growing Up ! Aren’t you … Lala ?

    Posted by nh18 | February 18, 2009, 9:53 am
  7. dear mb lala,

    setahun lalu ketika berkunjung ke rumah sahabat dekat saya di jakarta, saya merasa semuanya memang tidak lagi sama. pertemanan teteplah pertemanan tapi saya merasa esensinya mulai berubah.. jarak, perubahan status, pekerjaan, perubahan dunia ternyata berpengaruh. mungkin harusnya we dont expect too much..bertumbuh adalah bagian perjalanan kehidupan. akan ada fasenya kitalah yang berubah, bukan orang sekitar, tapi seringkali kita tidak sadar..

    thanks for share ya..

    Posted by hesty | February 18, 2009, 11:23 am
  8. Hmm…
    pengen growing Up juga…
    nothing permanent just change…

    Posted by ATM TUKANG™ | February 18, 2009, 12:45 pm
  9. bagaimanapun, bener kata emi chan…
    people changing dan alhamdullilah selama ini aku termasuk orang yang bisa menerima perubahan2 orang2 di sekitarku *mencoba melihat dari sudut pandang yang berbeda* ceiilee…maka semuanya akan tampak indah

    Posted by olvy | February 18, 2009, 1:20 pm
  10. really nice posting…🙂

    Posted by joicehelena | February 18, 2009, 1:50 pm
  11. Salam kenal dulu…………….he he he he….
    MInta masukan untuk blog kami (teman-teman bloger kebumen)

    Posted by dariman | February 18, 2009, 2:14 pm
  12. pertama2…
    g mw komen tulisannya dulu:mrgreen:
    mw ngucapin “happy Belated Birthday dear sistah!! ^^v hopely happy ever after….hhmmm…semoga cepat dipertemukan dgn sang adam dalam tali pernikahan hihihihi ” lope uuuu deh mbaak🙂

    kedua..
    mbak mbak.. potona yg jd premier di blognya ko kurus banget…🙂

    ketiga..
    mw komen tp babak selanjutnya:mrgreen:

    Posted by INDAH REPHI | February 18, 2009, 2:18 pm
  13. kok kelihatannnya sulit menemukan cinta sejati

    Posted by cipstuff | February 18, 2009, 2:25 pm
  14. mbaak…tulisannya bikin nangiiiiisss tauuuu T_T
    jd kangen sm temen2ku yg udah pada gendong anak😦

    yg ku tau hingga saat ini…setiap manusia, siapapun dia, pasti akan berubah *kedewasaan dan bla bla bla* seiring dengan berjalannya waktu…
    perasaan terberat yg saya alami adalah..ketika sahabat2 terdekat saya satu persatu pergi dari jogja, memutuskan menikah dan bekerja di kampungnya atau merantau lebih jauh lagi…walaupun pada akhirnya, saya jg pergi dari jogja…dan disaat itu saya benar-benar menyadari, mungkin, kami tidak akan bertemu lagi….

    Posted by INDAH REPHI | February 18, 2009, 2:38 pm
  15. nice article..
    Jadi inget, bahwa ketika ketemu sahabat lama, yang kami obrolkan hanya saat kita dulu bersama..sudah ga pernah berbagi perasaan terkini lagi..(karena sudah ada sahabat baru yang lebih mengerti kondisi terkini..)
    apakah karena kami growing up dengan sahabat yang lain sehingga seakan-akan tidak ada benang merah yang menyatukan antara dulu dan sekarang..?
    yang jelas…emang bener…it won’t be the same ever again…

    Posted by Dewi | February 18, 2009, 3:32 pm
  16. busyeet mbak lalal…jeung….
    ini posting benar-2 pencerahan bagi gw mbak…pasti ada saat kita harus berubah mbak…dan setiap saat kita memang berubah, beberapa tahun lalu gw masih kurus, sekarang malah jadi gendut, dulu gw gondrong sekarang rambut cepak,dulu gw pendiam tapi sekarang …cerewet.., dulu gw penakut tapi sekarang pemberani,dulu gw gampang emosi sekarang jadi tambah sabar……wah cocok banget ama posingan mbak lala.
    trims banget ya mbak….

    Posted by gwgw | February 18, 2009, 4:01 pm
  17. mbak lala emang perempuan yang cantik luar dalam deh , pokoknya juara …!!!

    Posted by gwgw | February 18, 2009, 4:03 pm
  18. kita pasti grow up ya mbak.

    se-kekanakkanak-an nya orang, pasti ada saat2 harus membuat keputusan dewasa yang bakal merubah kehidupannya.

    cuma kadang kita suka ga sadar kalo kita tambah dewasa…

    *iya ga sih?*

    Posted by yoan | February 18, 2009, 5:35 pm
  19. aku selalu menganggap umurku berhenti di 20, La hehehhehehhe

    Posted by ladangkata | February 18, 2009, 5:59 pm
  20. hayaaaaaaaah bukan dvd, tapi vcd jeung….

    kemaren pas gak nyari kok kelihatan dimana2, begitu lo ngomong dan gw mau nyari eh kok pada ngumpet, hihi….
    tapi sleeplessnya dah nemu….

    lohlohloh, katanya WHMS dah punya, kok mau lagi????
    one fine day juga????
    nah yg ini kl nemu gw jg maaaaaaau
    😉 Lilyana

    nb: some definitely will change, for i’ve left piece of my heart in san fransiscoooooooo( eh,malah nyanyi…hihi)

    nb: tapi KALIAN pada jahat,karna juarang sms gw, friend what!!! –> tp gw juarang sms lu pade sih…hihihi–> ceritanya LO pade balas dendam ya ama gw!!!! 😡

    nb3: penting gak seeeeeeeeeeeh, sban nulis tentang gw selalu ngutarakan ketidakjeniusanku!!!!
    isuzu panther dan kijang segala lah!!!huhuhuhuhuhuhuh!!!

    nb4: booking tiket sih tgl 28, tapi si mbok pake acara mudik sampe sabtu dpan neh…BETE deh!!!
    besok senen gw mau tanya
    ‘is it my lastday @ work??’
    kalo iye, lo bayangin aja itu dah tgl 23!!!
    masa gw cuma dikasih 5 ari buat leha2 di HK,
    jd (jangan protes bin sedih donk) mungkin aq bakal mundurin tgl terbang………….
    GAK jauh2 kok!!!, paling seminggu-dua😉

    nb: cariin lowker doooooooooonk!!!😀
    start-lah melingkari kolom lowker koran sabtumu sobat!!!! :*
    laporan on my desk!!!PRONTO!!! (jadi laper)😀

    Posted by lilyana | February 18, 2009, 7:13 pm
  21. congrat for your growing up La… I mean it!
    perbedaan kedewasaan seseorang adalah melalui cara pandangnya, dan dirimu telah menunjukkan itu…!🙂

    Posted by vizon | February 19, 2009, 8:34 am
  22. aku laki-laki ga boleh nangis.

    Posted by ubadbmarko | February 19, 2009, 9:50 am
  23. dulu aku merasa “kehilangan” ketika teman dekatku punya cowok. kami dulu sering main bareng setelah pulang sekolah, ngobrol sampai lama, cerita-cerita tentang cowok2 yg kita taksir (hehehe). tp ketika dia udah punya cowok, dia menghabiskan waktu dengan cowoknya itu. awalnya kesel dan merasa kehilangan. tp lama2 akhirnya bisa ikut senang melihatnya bahagia. dan akhirnya aku justru menemukan teman2 lain yang tak kalah menyenangkan…🙂 semua orang pasti berubah. sahabat kita berubah. dan kita sendiri juga berubah. dunia menjadi berwarna karena kita berubah😀

    Posted by krismariana | February 19, 2009, 10:18 am
  24. aku lebih terheran2 dengan kata2 ini..
    “karaoke-an di NAV sampai pukul tiga pagi dan kena razia polisi yang mengaduk-aduk tas segedhe bagong saya ”

    haa?? beneran mbak? gyahahaha… -geleng2 kepala- takjub.

    Posted by narpen | February 19, 2009, 10:31 am
  25. @ Ikkyu_San : lagunya Keane ^o^

    Laa.. I could relate to ur friend karena dari postingan ini gua ngerasa mirip ma dia.

    And gua juga punya teman yang mirip ma elo.

    And yes, sometimes I wish I could be like her, bisa segitu menghayati perasaannya ketika sedang merasakan cinta.

    Tapi yaa, maybe it’s not my time yet atau yaa we’re just having different ways dalam hal meresapi dan mengekspresikan perasaan jadi belum ada yang berubah, hehe😀

    And aww, elo growing up lah, Laa, khan di postingan sebelumnya elo bilang kalau elo yang sekarang ngga sama seperti elo sekian tahun yang lalu, hehehe😉

    Posted by Indah | February 19, 2009, 10:35 am
  26. pertanyaan yang kritis tuh La…
    we are growing up, arent we?
    karna memang lebih mudah untuk growing old rather than growing up…
    bener kan???

    Posted by indie | February 19, 2009, 10:56 am
  27. Dear Jeung Lala, salam kenal.
    Aku seneng baca2 di sini, bisa bikin ketawa ngakak atau mata ber-kaca2…

    Posted by Maria | February 19, 2009, 11:20 am
  28. We’re all growing up in different ways…it really happens dear, but sometimes it’s too small so that we didn’t notice🙂 ..lama ga mampir, kangen juga baca tulisan lala

    Posted by 1nd1r4 | February 19, 2009, 12:46 pm
  29. kyakyakya..jd ini ttg mba lilyana yah??protes tuh orgnya..
    klo ak sih mba..
    growing up itu pilihan tp growing older itu pasti
    saya pun ampe skrg msh bertanya2..”am i really growing up?”:mrgreen:

    Posted by ipi | February 19, 2009, 2:01 pm
  30. Hey La…

    Sumpah..sepanjang waktu gue kenal blog lo ini…ini adalah postingan terfavorit gue🙂

    Gue suka banget La..

    Dan gue bacanya berkali kali🙂

    Posted by yessymuchtar | February 19, 2009, 3:25 pm
  31. buat saya ini adalah postingan yang paling lama saya baca abisnya penasaran banget…asyik banget mba

    Posted by omiyan | February 19, 2009, 4:10 pm
  32. hmmm… sahabat yg udah lama “hilang” biasanya membawa cerita memang… bisa cerita yg menginspirasi kita… bisa juga cerita yang bikin kita miris…

    well… after all… setelah baca ini…

    kesimpulanku… kaenya kamu adalah sahabat yang baik buat dia, La…🙂

    Posted by carra | February 19, 2009, 4:20 pm
  33. saya punya sahabat yang deket banget waktu jaman kuliahan. kata orang kita tuh mirip angka 10, saya kurus, dia buletttt :))

    tapi setelah bertahun-tahun tidak bertemu, ketika bertemu lagi, memang ada sesuatu yang berubah. mungkin butuh waktu lagi utk lebih mirip spt waktu dulu, dan sayangnya waktu itu tidak ada… kita terlalu sibuk dengan urusan masing-masing

    yah… seperti kata lagu, everybody’s changing😀

    Posted by Cecep | February 19, 2009, 11:38 pm
  34. tumbuh ke atas?..nggak mungkin..
    tumbuh ke samping … itu iya…
    kekeke.. peace lala..peace:mrgreen:

    Posted by p u a k | February 20, 2009, 4:45 pm
  35. Hi Lala salam kenal ya…aku sering mampir, tp br kali ini comment soalnya ini jg terjadi ama aku sih..emang kyknya sedih banget ya kalo sahabat yg selama ini deket bgt ama kita tiba2 aja berubah,apapun alasannya.Tapi kita ga mungkin juga kan jalan di tempat dan terjebak pada rutinitas yang itu2 aja,betapapun menyenangkannya rutinitas itu.Karena kita perlu tumbuh,berkembang untuk kemudian menjadi besar.

    Posted by vica | February 20, 2009, 10:09 pm
  36. menjadi dewasa???
    grow up???

    rasanya kok aku enggak ya…
    sama aja dari dulu pe sekarang
    gini2 aja…..
    kanak2 terus…

    mungkin orang lain yang menilai ya??

    Posted by yustha titik | February 21, 2009, 1:19 am
  37. We’re Growing Up, Aren’t We?….nikmati pertumbuhan dengan mengalir seperti air….
    tulisannya sungguh menyentuh, La….hiks,hiks…

    Posted by salikha satiena | February 22, 2009, 3:22 pm
  38. ia jeung….kita berubah…meskipun mungkin kita belum menyadarinya..
    aku menyadari betapa aku berubah ketika menggendong anak pertamaku untuk pertama kalinya setelah ia lahir ke dunia ini…
    saat itu, aku mendapatkan kesadaran penuh tentang semua perubahan yang telah aku alami, dan perubahan – perubahan lain yang akan terjadi…, well, u’ll find out yourself jeung, mungkin pada momen yang berbeda, but u’ll find out!

    Posted by nadin | February 23, 2009, 11:09 am
  39. Hello dear,

    Nice blog as well as nice writing😉

    Salam kenal,

    Posted by Jeng Sri | February 24, 2009, 5:23 am
  40. Nah, jadi mana yang kau pilih:
    jatuh cinta atau tumbuh cinta?🙂

    Posted by Daniel Mahendra | February 24, 2009, 12:40 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

February 2009
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: