you're reading...
Thoughts to Share

Heartbeats

Untuk Mbak Dewi


Saya pernah menulis tentang kehidupan saya yang mirip dengan Roller Coaster; ada yang masih ingat? Tulisan itu menjadi tulisan favorit Om NH18 dan rupanya disukai juga oleh Penerbit Grafidia yang memutuskan untuk memasukkan tulisan itu ke dalam buku saya. 

Di situ saya bercerita tentang hidup yang saya ibaratkan sebagai Roller Coaster raksasa, dengan milyaran manusia yang duduk di atas keretanya, berharap-harap cemas, menduga-duga apakah mereka mampu menyelesaikan perjalanan nanti dengan sukses atau muntah di jalan dan ingin berhenti. Ups and downs, sentakan ke kiri dan kanan, berputar sampai tiga ratus enam puluh derajat, bukanlah perjalanan yang mudah. Anehnya, meskipun banyak yang ingin berhenti dan keluar dari permainan ini, masih banyak pula yang ketagihan untuk berteriak-teriak di atas kereta sambil memuaskan pacuan adrenalinnya yang justru membuatnya semakin semangat! Mengantri dan terus mengantri. Mungkin buat mereka yang menikmatinya; roller coaster is only a game ride, yang suatu saat kelak akan berhenti juga. It’s only a game that will end somehow.

Dan itulah kenapa saya menganggap hidup saya sebagai roller coaster; di mana ups and downs adalah irama yang perlu saya nikmati saja karena di situlah letak serunya! 🙂

Ya. Seru! Alive! Sangat hidup!
Tapi, di mana letak serunya? Mengapa ups and downs justru saya anggap so very alive alias sangat hidup?

Hm, 
I’m living my life for 29 years, so far. Dulu, saya sempat mengeluh dan iri hati dengan kehidupan teman-teman yang naik turun; karena saya menganggap, hidup saya terlalu flat, membosankan, dan tidak ada tantangan. Saya iri dengan seorang teman masa kecil yang harus bekerja sambil kuliah karena dari situlah ia bisa membayar uang kuliahnya setiap semester. Saya iri dengan seorang teman sekolah yang punya adik sampai lima orang sehingga dia harus berbagi fasilitas dengan adik-adiknya yang masih kecil dan harus segera pulang ke rumah karena harus baby sit adiknya yang masih kecil *kami masih duduk di bangku sekolah dasar, di mana saat itu yang ada di dalam pikiran saya adalah main, main, main, dan sedikit belajar* 🙂

In a nut shell, I was an average girl, from average family. Not too bright, not too stupid. Saya adalah gadis yang hidupnya ‘normal’; well, ini bila dibandingkan dengan teman-teman yang saya ceritakan tadi, di mana saya tahu, setiap hari mereka seolah berperang dengan cara mereka masing-masing. I know, saya memiliki issue yang cukup hebat untuk masalah fisik (as I’ve told you here), tapi it wasn’t even my downs. Saya masih merasa hidup saya datar-datar saja dan kurang berwarna-warni seperti kehidupan teman-teman saya, sampai akhirnya Mami meninggal dan saat itulah, dunia saya mulai naik turun.

Saya adalah anak perempuan usia dua puluh dua tahun yang sangat, sangat manja. Semua tersedia di depan mata saya; kasarnya: I could have anything that I wanted, only by saying, “Ambilin ini, dong… Beliin ini, dong… Bantuin, dong…” Dan moment of truth saya adalah ketika Mami meninggal dan segala privilege itu seolah ikut pergi meninggalkan saya.

There I was.
Perempuan yang sedang malas-malasan menyusun tugas akhirnya *yang molor sampai setahun cuman karena MALAS!*, yang setiap hari masih minta uang saku padahal sudah dikasih uang ‘gajian’ per bulan, yang seringkali disuapin Mbak Nem karena saya terlambat bangun padahal sudah harus segera berangkat ke kampus, yang minta disiapin baju (masih) karena saya terlambat bangun dan terburu-buru melesat ke kamar mandi buat mandi ala koboi… edan…
 saya adalah perempuan paling manja yang pernah kamu tahu!

Ketika Mami meninggal, privilege itu lenyap.
Mbak Nem pulang kampung setelah suaminya meninggal, hanya satu bulan setelah Mami berpulang.
Baju, sepatu, kaos kaki, celana jeans, makan… semuanya harus disiapkan sendiri. Memangnya saya harus minta tolong siapa? Mbak Pit? Bisa dikitik-kitik pakai kunci Inggris kalau sampai nekat! 🙂
Mau minta uang sangu ke mana? Yang ada juga Papi bilang, “Lah, duit yang bulanan itu, buat apa?” Karena Mami yang selalu memanjakan si Bungsunya ini…

My ups.
My downs.
Hidup saya naik turun, terus menerus sejak saat itu. Papi yang re-married, Mbak Pit dan Bro yang sudah berkeluarga sendiri, berjuang mencari kerja (yang, edaaaannn susah banget sih boss….), dan akhirnya mulai menjadi wanita pekerja… bersosialisasi dengan lingkungan yang sama sekali baru… dimusuhin istri Boss, dicemburuin rekan kerja, dimarah-marahin customer… Belum lagi issue di rumah, di mana saya merasa tak menemukan kehangatan di rumah saya sendiri dan harus berjuang untuk mencari kehangatan di rumah lain… Soal cinta? Wew, jangan tanya. Apes bener! 😀 Being dumped, neglected, cheated… apa lagi? Sebutin semua alasan-alasan kamu patah hati, I think I got them all! Haha..

Banyak sekali ups and downs yang tidak bisa saya tulis di sini, selain karena terlalu pribadi, saya takut kamu-kamu jadi jatuh kasihan dan rebutan ngirim cek, parsel, kado, atau memberikan George Clooney sebagai hadiah untuk saya! 

My ups.
My downs.
Dua jenis kejadian yang perlahan kemudian saya analisa pelan-pelan apa maknanya, apa esensinya, apa pelajaran yang terkandung di dalamnya, saya merasa jauh lebih beruntung daripada seorang perempuan manja, hampir tujuh tahun yang lalu, yang di dalam pikirannya cuman bersenang-senang dan tidak mengerti benar bagaimana sakitnya kalau terjatuh dan bagaimana gembiranya ketika bisa berdiri lagi.

Hidup saya menjadi jauh lebih hidup dengan irama yang naik dan turun itu. Menjadi lebih menyenangkan…  according to how many valuable lessons I’ve learned so far ’til today. Masa-masa kejatuhan, masa-masa saya diangkat naik kembali, adalah masa-masa yang kemudian terasa begitu berarti dan membuat hidup saya jauh lebih seru, challenging, dan patut disyukuri setiap detiknya.

Seperti saya mensyukuri the ups and downs of my heartbeats, yang menjadi sebuah parameter bahwa sebuah jantung disebut dalam keadaan sehat apabila grafiknya tidak flat, tapi naik turun, begitu terus sampai tak lagi berdenyut. Karena dari situlah saya tahu, bahwa I’m perfectly ‘healthy’. Justru setiap saya terjatuh, setiap saya berdiri lagi, setiap saya diuji dengan kemahsyuran, setiap saya diuji dengan kenestapaan, adalah irama jantung yang tak perlu saya risaukan…. because it means that my life is totally fine!

 

The Heartbeats (www.nae.edu)

The Heartbeats (www.nae.edu)

Jadi,
Stop worrying your ups and downs.
Because you’re living, you’re breathing, you’re learning!
Because that is how life works, Darling!

Biasa saja.
Nikmati saja.
Sampai batas waktu,
yang tak seorang pun akan tahu….
 

***

Special note for Mbak Dewi:

Masih ingat komentar Mbak pagi ini? Tentang naik turun itu? It suddenly inspired me to write this story and I specially dedicated this post for you, sebagai hadiah ulang tahun pernikahanmu yang hari ini menginjak tahun ketujuh
Semoga selalu berhasil menciptakan kebahagiaan-kebahagiaan kecil setiap hari, semoga selalu berhasil menemukan cara untuk semakin mencintai pasangan setiap saat, dan semoga akan selalu ada berpuluh-puluh perayaan seperti hari ini di kemudian hari….
Thanks for inspiring me, unconsciously.. 🙂

Kiss and hug,
Lala Purwono”

About Lala Purwono

Published writer (or used to be, darn!). A wife. A mom. A friend that you can always count on.

Discussion

28 thoughts on “Heartbeats

  1. wise and nice article sis.. sometimes kita emang gak nyadar bahwa saat kita sedang down, adalah sebuah kemenangan yg luar biasa kalo bisa mengatasinya dan up lagi. terkadang kita hanya terlenakan oleh gak enaknya rasa down itu..

    Posted by Pungky | February 16, 2009, 8:35 pm
  2. Hehehe, setiap orang punya pergolakannya sendiri yaa, Laa, cuman ada yang tergambar jelas di wajah mereka, ada yang pandai menyembunyikannya dalam hati ^o^

    Gua juga suka ngerasa kehidupan gua ‘datar’ ajee.. Kadang pengen githu lebih berwarna dikits, hihihi..

    Until one dayy..

    Temen gua sendiri yang mengalaminya, sesuatu yang menurut gua bisa menjungkirbalikkan hidup gua andai gua ada dalam posisi dia.

    Sejak itu..

    Gua coba menikmati hidup aja dhe, mungkin gua belum nyampe level ketahanan yang dibutuhkan untuk tahan banting menghadapi goncangan yang keras, ahahaha :p

    Thanks for the inspiring post, Laa 😉

    Posted by Indah | February 16, 2009, 8:35 pm
  3. Eitss.. Gua yang pertama komen yaa?

    Aww.. Terharu, ahahahaha ^o^

    Posted by Indah | February 16, 2009, 8:43 pm
  4. Sebenarnya saya pun mengalami ups and downs yang cukup dahsyat, cuma ‘nggak tega’ nyeritain di blog … sama seperti Lala, takut ntar orang rame-rame ngirim bunga dan coklat tanda simpati (padahal maunya transfer ke rekening aja … hehehe).

    Ups and downs itu membuat kita lebih arif, lebih kaya batin (semoga tidak lebih sinting … hehehe)

    Salam sayang,

    Posted by tutinonka | February 16, 2009, 11:31 pm
  5. Ibarat roller-coaster, when one reaches bottom there is no place to go but up …

    Posted by Oemar Bakrie | February 16, 2009, 11:53 pm
  6. Aih, kisah yang seru dan mengharukan

    Posted by DV | February 17, 2009, 4:40 am
  7. Duh, jadi tersedu-seduh (hayah, lebay!)

    Naik turun kan membuat kita makin tangguh (bukan Tangguh anaknya Yessy!).

    Coba kalau datar mulu, wah, ndak seruuu… ndak seruuu…

    Posted by Daniel Mahendra | February 17, 2009, 7:03 am
  8. Eh eh eh ..ada yang bawa bawa anak gue tuh La!

    Hehehe..

    La, somehow gue juga tersindir dengan postingan ini. Gue yang merasa belakangan hidup gue tenang aja, malah jadi cenderung basi.

    Anyway,

    Gampangnya aja kali ya say, ada masa masam meamng kita mesti ketawa girang, atau mungkin yellow mellow, atau ya mungkin….menghadapi tenangnya air sungai…menikmati sore hanya dengan segelas kopi dan pisang goreng.

    Tidak ada yang salah dengan ketenanngan, kalao kata kang Andri. Sungai yang tenang itu banyak buayanya La…

    Weeiitsssss …hehehehe..
    Morning La.

    Inhet nafas ya hari ini :)…jangan kerja mulu heheheh

    Posted by yessymuchtar | February 17, 2009, 7:12 am
  9. Lala, makasih ya…
    Sekarang-sekarang ini siy..daripada puyeng mikirin naik turunnya hidup ini, mending dinikmati sebaik mungkin dan cari hikmah dibelakang semua kejadian.
    Selalu ikhlas dan berpikir positif…
    kalau engga yang ada malah perilaku jadi negatif dan perilaku negatif itu menular…
    ……..
    (tapi susah bener La..selalu saja di hati kecil ini ada pertanyaan..why me – kalo pas dapet ga enak…why not me – pas ga dapet yang enak..)
    TETAP SEMANGAT..!!

    Posted by Dewi | February 17, 2009, 8:20 am
  10. What’s wrong with “tenang”
    What’s wrong with stable …

    Someday somehow …
    Kita akan merindukannya …

    “Ketenangan itu adalah sifat dinamis yang sesungguhnya”
    “Didalam stability … ada dynamic yang sejati … couse we need to be allert to make it stable all the way …”
    And that’s the real challange …

    For me …
    Tetep … Merry Go Round is the best …
    (still up and down … but manageable … and … full of music … a bit “limbung sikit” but … it’s enjoyable …

    Cheers La …

    Posted by nh18 | February 17, 2009, 8:47 am
  11. jeung,, naik turun selalu menjadi sebuah ritme yang kalo disadarin, ternyata membuat semuanya berwarna..

    hal itu yang memang kadang tidak bisa disangka, tapi yah.. itulah hidup.. berwarna-warni, naik-turun, berputar2 seperti roda.. dan, that’s life must be..

    yang penting, gimana cara kita bersikap.. akankah kita survive dan menjadi lebih hebat, atau justru menjadi down, dan kemudian hancur..

    keep your life.. 😉

    Posted by Billy Koesoemadinata | February 17, 2009, 10:42 am
  12. nice posting, yang entahlah.. buat saya it’s a nice story 🙂

    tulisan yang ini bisa masuk ke buku berikutmu, sis..

    cup cup 🙂

    Posted by Yuyun | February 17, 2009, 10:50 am
  13. nice 🙂
    inspi……..

    Posted by ATM TUKANG™ | February 17, 2009, 11:19 am
  14. life is a roller-coaster, kan? 😉 naik-turunnya hidup itulah yang membuat kehidupan ini worth living. dan membuat kita bertanya: “what’s next?” and be ready to embrace anything that life has to offer us. semoga hidupmu berbahagia, ya, jeung! 🙂

    Posted by hanny | February 17, 2009, 11:32 am
  15. kalau ngak seperti roller coaster malah ngak berasa hidup katanya, La 🙂
    tantangan hidup ibaratnya.

    Posted by indahjuli | February 17, 2009, 11:55 am
  16. Inspiring sekali tulisan ini …. cuma saya jadi ingin bertanya …. kalau Down nya aja masih bisa senyum dan cengengesan begitu ….. bagaimana up nya ya …?! he .. he.. he…
    Salam dari jauh……….

    Posted by michaelsiregar | February 17, 2009, 12:16 pm
  17. ak suka komennya bang Oemar Bakrie
    Intinya mah saat roller coaster lg di bawah, kita harus tegar dan bangkit. Krn hidup baru berarti saat kita bs bangkit dr kegagalan

    Posted by ipi | February 17, 2009, 1:07 pm
  18. @ipi
    yupe…aku juga setuju dengan comment itu…
    satu-satunya cara mengatasi keterpurukan adalah dengan bangkit dan menghadapi keterpurukan itu sendiri…

    keep chaiiiooo….

    Posted by joicehelena | February 17, 2009, 1:24 pm
  19. So let’s get the beat !! 😉

    Posted by tanti | February 17, 2009, 5:18 pm
  20. ehhh cintaku, mbakku sing ayu….

    Wis ya jangan sedih ya…

    Coba liat di luar sana, anak-anak yang umurnya lebih muda dari kita yang harus kehilangan ibu mereka.

    Aku dulu juga pernah ngga terima dengan keadaanku saat ibuku ngga ada aku masih 17 th tapiii begitu aku lihat tetanggaku umurnya masih 10 th ditinggal ibunya, aku jadi sadar keadaanku lebih baik dari mereka n ngga seharusnya aku jadi wanita lemah karena aku ngga punya Ibu, justru aku harus kuat dan lebih mandiri 😀

    Sekarang putri bungsu Mami udah jadi wanita hebat, udah jadi selebblog 😀

    Posted by Retie | February 18, 2009, 12:34 am
  21. tu tams ap buat mbak laaa!!! 🙂

    Posted by INDAH REPHI | February 18, 2009, 2:54 pm
  22. mbak lala nih puinter tenan yooooo….
    gw ampe terharu and so pasti tercerahkan dengan postingan mbak lala. buat gw, hidup tuh anugrah Yang Kuasa dan harus selalu disyukuri, karena hidup itu memang indah. 🙂

    Posted by gwgw | February 18, 2009, 3:38 pm
  23. jeunglala……….
    datang dong ke blog q yang baru yayaa………….
    jangan sampai tidak OK
    aneh ya si blue…salah aneh ya q pake maksakan kehendak hehehe…..
    salam persahabatan

    Posted by kezedot | February 18, 2009, 5:57 pm
  24. la….
    aku pernah di titik nol
    aku juga pernah di titik 10
    dan aku juga pernah di titik 5

    just enjoy life…whatever the graphic show…

    love u dear…muach

    Posted by Ria | February 19, 2009, 10:41 am
  25. semoga semakin bijak dari hari ke hari, Mbak.. 🙂

    Posted by krismariana | February 19, 2009, 10:45 am
  26. Ups and downs are parts of our life….even things which make us alive and always looking forward for the next episode in this full of surprises life 🙂 . You’re just getting wiser everyday sist… 🙂

    Posted by 1nd1r4 | February 19, 2009, 12:49 pm
  27. wah iya La… mirip banget ya apalagi pas aku baca quote yg ini

    “Jadi,
    Stop worrying your ups and downs.
    Because you’re living, you’re breathing, you’re learning!
    Because that is how life works, Darling!”

    Yg terpenting kita mau terus melangkah membuat setiap perbaikan yg kita bisa dalam hidup ini… ok La??!!

    ~reallyNicetoKnowU

    Posted by liswari | February 19, 2009, 9:19 pm
  28. jeung…aku sedih sekali baca tulisan ini…baru tau tentang ‘old story’nya jeung lala…tapi aku juga seneng jeung…bahwa pada akhirnya muncullah tulisan ini…tulisan yang menggambarkan kedewasaan dan penerimaan jeung secara total atas hidup jeung…

    ur ups and downs, always see them as your blessings jeung, the most important thing is not how the ups and downs happened, but how u deal with them! bless u jeung!

    Posted by nadin | February 23, 2009, 10:52 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

February 2009
M T W T F S S
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: