you're reading...
Fiktif, Sebelum Dia Pergi

Sebelum Dia Pergi (7 dan Terakhir)

1/2/3/4/5/6

Kulihat Rei sedang duduk di depan komputernya. Sebentar-sebentar menengok ke mesin print, sebentar-sebentar mengetik sesuatu di atas keyboardnya, lalu kemudian sibuk sendiri dengan teman-temannya.

Aku melihatnya dengan hati yang berdebar.
Jantungku seperti berlompatan keluar dari relnya.
Keringatku menjadi sebesar bulir jagung yang keluar tanpa kendali dari anak-anak rambutku.
Aku takut.
Aku tak sabar.
Aku takut.
Aku ingin segera bilang.

Semalam sudah kuputuskan, untuk bilang saja padanya, ungkapkan semuanya, tanpa membutuhkan jawaban, hanya satu kepastian kalau dia tahu bahwa selama ini aku tidak pernah bercanda saat aku mengatakan betapa inginnya aku dicintai olehnya.

Tak perlu dia mencintaiku juga.
Atau mendapatkan reaksi paling romantis ala Shakespears, yaitu dia berhambur memelukku dan bilang dia mencintaiku juga sejak bertahun-tahun yang lalu tapi menunggu saat-saat seperti ini.

Menunggu saat aku berani mengungkapkan perasaan.
Seperti aku yang menunggu dia mulai membuka pintu hati buatku.

Kubilang pada Mey, “Doakan aku, ya, Mey… Besok aku bilang sama dia.”
Pada Atta, juga kubilang, “Aku nggak ingin menyesal seperti kamu, Ta, jadi apapun yang terjadi, I’ll take my consequences.”

Pada hatiku, aku menuturi:
“Luna sayang…
Jangan meracuni dirimu sendiri dengan cinta yang hanya menyakiti, ya? Kamu berhak mendapatkan yang paling esensi. Kamu berhak mendapatkan lelaki yang bisa memberikan segalanya tanpa pamrih dan menilaimu bukan dari apa-apa selain hatimu.
Jangan takut, ya, kalau dia menggeleng dan menjauh.

Percayalah, jodoh itu seperti magnet.

Kalau dia bukan terlahir untukmu, apapun yang kaulakukan, takkan pernah bisa membuatnya berlari menujumu. Tapi kalau dia memang ditakdirkan untuk melengkapi hidupmu, bagaimanapun dia berlari, pergi, dan menjauh… percayalah. Dia akan pulang kembali. Untuk memelukmu. Dan menangis di bahumu. Dan menyesal karena telah menyia-nyiakanmu. Saat itu, kamu tahu, memang rusuknya-lah yang selama ini menghidupimu…”

Masih kulihat Rei di sana.
Masih sibuk dengan komputernya.
Masih sibuk menyelesaikan segala kewajiban yang tersisa sebelum dia pergi dan meninggalkan semua yang pernah dia sentuh di sini.

Hatiku berdentuman.
Aku meremas jariku sendiri. Menunggu waktu yang tepat. Saat ia benar-benar sudah sendiri dan detik itu hanya menjadi milik kami.

Satu persatu teman-temannya meninggalkan Rei dalam sendiri. Mereka berpamitan. Mereka berangkulan. Kulihat ada air mata yang berkilat sedikit saat Rei menyambut kehangatan mereka semua. Dia sedih. Meskipun dia bahagia.

Aku menguatkan hati.
Jangan sampai aku mundur lagi.
Tak ada waktu yang tersisa selain hari ini,
Karena besok…
Dia akan melayang pergi.

Aku menghela nafas.
Menata perasaan.
Membangun kekuatan dan ketegaran. Kekuatan untuk mengatakan padanya tentang perasaanku. Juga kekuatan untuk menahan air mata sebelum semua yang bermain-main dalam pikiranku meloncat semua, keluar dari rongga mulutku.

Saat aku memandanginya,
Ternyata dia memandangiku.
Pandangan yang heran.
Pandangan yang kurindu.

Sudah.
Ini waktunya.
Tak ada esok pagi.
Yang ada hanya malam ini.

Aku menghela nafas.

“Rei… ada waktu sebentar?” akhirnya aku bertanya.

Dia mengangguk.
Heran. Masih heran.

Aku berjalan masuk dan duduk di sebelahnya.

“Aku…”

…Nothing to lose, since you don’t have him at the first place…
…Better say it now, than sorry later…
…Semua pertanyaan hanya membutuhkan dua pilihan jawaban. Ya. Dan tidak…
…kamu mencintainya, kan?…

“Kenapa, Luna?”

Rei memandangku.
Aku melarut dalam pandangannya.
Sambil menghela nafas, mengumpulkan udara sebanyak-banyaknya dalam paru-paruku, aku menatapnya.

“Ngg…”

Dia memandangku.

“Aku…”

Dia masih memandangku.
Aku tercekat.

“Aku…”
“…”
“…”

Dan kata-kata itu lenyap.

*
Surabaya, March 15, 2007
(and yeah… it’s based on a true story ^_^)

 

Note:

Dear You,
Kemarin aku melihat atraksi Barongsai di Supermal, melihat Kepala Singa itu menari-nari, melompat di antara susunan bilah-bilah kayu dengan lincahnya. Kepala Singa berwarna merah keemasan yang sungguh cantik, menari-nari dengan indah sekaligus gagah.

And, I remembered you. How you love Barongsai more than anything in the world. Dan kamu memutuskan untuk melakukan sesuatu demi mencapai mimpimu itu. You did it. You recorded as one of four most talented Lion Head Artist in the whole world! Hebat banget! Bravo… You have no idea how I felt when I read your email, last year.

 

the Artist

the Artist

 

me and your work of art (19 Januari 2008)

me and your work of art (19 Januari 2008)

Bangga sekali melihat kamu berhasil merakit kepala Singa itu, perlahan-lahan, dari kayu yang mentah, sampai berbentuk menjadi kerangka, dan kamu percantik sedemikian rupa dengan lukisan tanganmu sendiri… Benar-benar seorang Artis yang sangat luar biasa! Dan aku bangga… sangat bangga sama kamu… *hey, aku doakan semoga buku tentang Barongsai itu bisa terbit di San Francisco, ya! Sehingga kamu punya banyak kesempatan untuk mengulangi perjalananmu melintasi jembatan Golden Gate yang menghubungkan SF dengan Napa Valley itu, on feet! Haha… Kamu masih se-keras kepala itu, ya? Yang punya keinginan aneh dan tak peduli apa kata orang lain tentang kamu…

Well…
Mungkin kamu nggak pernah tahu soal tulisanku ini… Soal perasaanku ini… Soal isi hatiku ini… Atau mungkin, kamu sudah tahu, tapi kamu diam aja… *okay, I respect you a lot for this! Biar aku nggak malu, Boss.. hehehe*

But let me tell you something.
You’re 40 and you’re not getting any younger by years.
So, find your soul mate…
And please, please… don’t ever invite me at your wedding…. bisa mati gue!!! wekekeke…

Ah, udah lah..
Just because I remembered you lantas kemudian aku jadi bocor seperti ini, Boss…🙂
Cuman mau sekalian bilang… Happy Chinese New Year, yah… Semoga keberuntungan selalu menyertai hidupmu, seperti di tahun-tahun sebelumnya…

I’ll see you again…
Entah kapan…🙂

It’s me,
LALA

Oh ya, I hold my speech… til now🙂

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

12 thoughts on “Sebelum Dia Pergi (7 dan Terakhir)

  1. plok plok plok ….
    tamat juga gue bacanya. nggak sampe keringetan seh, tapi emang bikin penasaran. Abis naga-naganya kok bukan fiksi semata, dan yah … jeung , atleast akhirnya terburai semua kan ? … meski nggak dapet jawaban, well setidaknya ada sedikit lega getho … ya nggak? hehehehe.
    yah … seperti si mbah bilang, kalo bukan jodoh ya nggak kan jodoh. diriku pun sama, merajut hati hingga 7 juta hari lamanya … teteuup aja akhirnya burbar. (glek! ikutan bocor neh hehehe).
    btw, kalo di 40nya sekarang terus dia baca ni bocoran, trus tiba-tiba nongol tanpa pemberitaan … dan saying: “Kenapa kamu dulu ngga ngomong?!, Aku juga …”
    dan kata-kata itu lenyap.
    Kira2 gmn reaksinya? (seru dah!) 🙂
    *thx yaa, boleh numpang baca. Fiksinya bagus lho .. asli!

    Makasih ya, Mas…
    Nanti aku bakal posting lagi soal pertanyaan Mas itu… *emang ada rencana sih, soalnya hari Sabtu kemarin aku banyak ngobrol sama sahabat soal ini… ntar deh, daripada bocor di sini duluan, aku posting utuh aja, yah… hehehe*

    Posted by mascayo | January 25, 2009, 6:22 pm
  2. duh la….

    duh Laaaaaaaaaaaaaaaa..

    LALAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA

    hehehe

    keren banget…
    gak bisa komen lagi…

    orang ini pernah lo ceritain sama gue kan ya kalo gak salah?😛
    yang pergi meninggalkan segala kemapanannya demi mengejar cita citanya😛
    ahh..kayak cerita yang lagi di buat si mbrat mbret mu itu! wekekekeke

    *gosipp lagiiiiii*

    Hehe.. si Ibu Yessy ini bisa aja..
    Makasih, Say.. Makasih banget… Ini sudah aku tulis dari tahun 2007 kemarin… Udah hampir dua tahun, ya? Buset deh, udah lama banget ternyata..🙂

    He-eh, aku pernah cerita soal dia…

    Mbret? Siapa ya? Aku kenal sama dia? Kok kayaknya nggak pernah denger nama itu ya…🙂

    Posted by yessymuchtar | January 25, 2009, 6:29 pm
  3. oh lala… pinter ya bikin cerita.. so gimana gituu… keep writing ya. n salam kenal. ada titiapn salam dari popeye

    Aduh, makasih yaa… Kalau udah curhat pribadi gini, emang suka ngalir nggak jelas, Masdjoen..
    thanks udah mampir ya.
    Bilang sama Popeye, salam balik dari Cinderella! hihihi

    Posted by masdjoen | January 25, 2009, 8:38 pm
  4. Tinggal di bukukan..😀
    Taon baru ini mau bagi-bagi angpau ya?🙂

    Siapa yang mau bagi2?
    Kamu?
    Mau dongg… hehehehe….

    Posted by Daiichi | January 25, 2009, 11:57 pm
  5. hmmmm senengnya rekk…salam knalllll

    Posted by mrpall | January 26, 2009, 12:37 am
  6. salammmm knalll dolo ya mas

    Haduh..
    cewek secakep saya dipanggil Mas…
    naseeb… naseebb….

    Posted by mrpall | January 26, 2009, 12:38 am
  7. jeung………..selamat sore!
    selalu ada kerinduan yang memuncak saat mampir di logmu….tanpa terluka! tanpa kesedihan dan tanpa disingkirkan…………..
    Oya!
    bisa bantu blue mancari jodoh?
    ha….ha!
    salam hangat selalu

    Salam hangat juga, Blue..
    Mencari jodoh?
    Boleh.. kriterianya apa?😀

    Posted by bluethunderheart | January 26, 2009, 4:38 pm
  8. ada seseorang yang memberikan kata-kata ini padaku : lebih baik dicintai daripada mencintai. Dan entah kenapa kata-kata itu terngiang terus ditelingaku bahkan sampai sekarangpun…. meski sudah lebih 18 tahun kata-kata itu kudapatkan..

    Mmm,
    aku inget sama tulisanku yang ini, Mbak.
    Itu Mami yang bilang.
    Nah, kalau dirimu, siapa ya yang bilang begitu…🙂

    Enakan dicintai?
    Gimana kalau sama-sama mencintai…. Kayaknya lebih seru begini, deh.. ^_^

    Posted by prameswari | January 26, 2009, 10:53 pm
  9. jadi pengen cepat2 selesai baca nya ampe habis nech……….

    Hayo, kok pingin cepet-cepet aja sih, Dek..😀

    Posted by Myryani | January 27, 2009, 12:10 am
  10. senang baca tulisan2 mu La…lam kenal yah

    Terimakasih, Mami Odi…
    Btw, kok nggak ada linknya?
    Kasih dong… ^_^

    Posted by mami odi | January 27, 2009, 8:41 am
  11. errrr… I’ve spend my one hour morning to read all the stories and find my self have nothing to say then well done!!! you’re amazing La…

    eh I’ve remembered that Barongsay story one in your past posting,… hmmm yang dia kirim email ke kamu itu kan ya?

    Thanks, Chi. Bisa aja deh, kalau muji orang…. *maksud lo, La? kalau muji binatang dia lebih luar biasa gitu? hehehe*

    Eniwei,
    Yep, you’re rite.
    Aku pernah tulis soal dia….. Iya, yang di buku itu… hehehehe..

    Posted by chic | January 27, 2009, 10:14 am
  12. hhmmmm……
    ternyata ada kisah yang hampir sama ya,mbak….
    “tak mampu mengungkapkan isi hati! ”

    hehehe…
    🙂

    Bukankah hampir setiap orang punya kisah yang sama, Joice?
    Gimana kalau kita bikin survey? hehehe…

    Posted by luvnufz | March 30, 2009, 10:23 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

January 2009
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: