you're reading...
Fiktif, Sebelum Dia Pergi

Sebelum Dia Pergi (5)

1/2/3/4

Hari-hari seperti berlari cepat semenjak dia berpamitan padaku untuk segera terbang ke langit di sebelah sana yang katanya menjanjikan terang yang lebih terang. Tentang tempat yang katanya banyak tertabur ribuan bintang dan memudahkannya mencapai semua mimpi yang pernah terkubur bertahun-tahun lamanya karena harus terperangkap dalam sistem 9 to 5 selama belasan tahun.

“Aku ingin bebas.”
Katanya di suatu hari yang cerah dan berlangit vanila. Senyumnya terkembang manis dan matanya bercerita lebih banyak dari bibirnya.

“Aku ingin terbang saja… Melayang-layang… tanpa perlu takut terjatuh… lalu terbang lagi sampai aku menyentuh tempat yang paling indah…”
Masih matanya yang berkata lebih jujur.

“Kamu tahu, Luna? Aku lelah… Aku ingin menciptakan sebuah dunia yang kumau, bukan yang mengaturku untuk berbuat sesuatu. Aku bosan terperangkap dalam aturan yang mengikat kaki-kakiku. Aku ingin pergi, Luna… Aku ingin berlari…”

Hatiku berdebar saat itu.
Berlari dari sini, berarti lari dari hidupku juga. Terbang dari sini, artinya sama saja dengan terbang dari kehidupanku juga. Dan aku tak pernah bisa sendiri tanpa dia. Membayangkan hari-hari tanpa wangi tubuhnya adalah hal yang paling menyiksa dan tak pernah berani kulakukan.

Jadi kutelan saja semua sedihku itu.
Lalu pura-pura bahagia.
Mulai bersandiwara kalau aku mendukung mimpi-mimpinya…

“Doakan aku, ya, Lun…”
Nggak mau, Rei… aku nggak mau…

“Semoga suatu saat nanti aku berani mengambil keputusan…”
Jangan, Rei… Jangan pernah lakukan hal itu…

“Aku ingin pergi meninggalkan tempat ini, lalu mengais mimpiku di tempat lain…”
JANGAN PERGI, REI!!!

…karena aku akan sangat merindukanmu…

*

Menjelang kepergiannya, aku menjadi lebih sensitif daripada biasanya. Aku tak berani mengajaknya berbicara. Aku tak punya nyali untuk mengisi remah-remah waktu yang tersisa bersamanya dan memilih untuk menghindari setiap pertemuan yang bisa menciptakan satu kenangan yang baru.

Terlalu banyak kenangan yang sudah ada, yang kini mulai berduri dan melukai.

Aku tak mau akan terbit satu kenangan lagi, yang akan melukai aku lagi, dan membuatku seolah menjadi makhluk paling menyedihkan yang pernah hidup di muka bumi.

Saat dia ramai bercanda dengan yang lain, aku menutup mata, telinga, dan membisu di balik kejudesan yang kubuat sedemikian rupa supaya dia membenciku. Saat kutangkap matanya berusaha menangkap wajahku, kupalingkan wajah dan membiarkan pandanganku menatap tembok yang merefleksikan wajahnya, hasil imajinasi tingkat tinggi yang mudah kulakukan hanya dengan mengingat dirinya.

Aku hanya tak ingin terluka lagi.
Cukup sudah.

“Kamu salah, Luna… Seharusnya kamu malah memanfaatkan setiap menit yang tersisa untuk menggali lagi perasaannya pada kamu, juga perasaan kamu buat dia. Jangan biarkan waktu terbuang percuma hanya karena kamu takut terluka, takut bersedih, karena bisa jadi mungkin bukan kamu yang selama ini diam menempati hatinya…”

“Aku masih nggak siap, Mey…”

“Sampai kapan kamu begini terus, Luna. Waktumu menghabis. The clock is ticking. Berdetak terus. Pasir sudah luruh jatuh ke bagian paruh bawah. Kamu harus melakukan sesuatu. Apapun yang terjadi.”

“Tapi, Mey, kamu nggak tahu sih gimana pedihnya kalau akhirnya aku tahu dia nggak pernah mencintaiku, dan semua yang indah-indah itu hanya terbayang lewat kedua lensa mataku semata… Aku takut selama ini aku berhalusinasi…”

“Dan sampai kapan kamu mau berhalusinasi terus, Luna? Sampai kapan kamu membiarkan hatimu merasa euforia tak jelas seperti ini? Atau penyesalan yang tak perlu, misalnya?” Mey memandangku, lamat-lamat. “Kamu tahu, Luna, semua pertanyaan hanya membutuhkan dua pilihan jawaban. Ya. Dan tidak. Tidak ada somewhere in between. Percayalah. Kamu akan lebih lega.”

“Aku nggak yakin bakal lebih lega setelah tahu dia nggak pernah memikirkanku, seperti aku yang tak pernah berhenti memikirkan dia setiap aku sempat, Mey.”

“Jadi kamu akan terus menipu dirimu sendiri, dan meyakini dengan bodohnya kalau dia mencintai kamu, dan hanya kamu satu-satunya perempuan yang bisa menggerakkan hatinya setelah sekian lamanya Rei sendiri? Nggak usah bodoh, Luna. Akan lebih menyakitkan kalau kamu nggak pernah tahu tentang perasaannya atau mengetahui kalau ternyata dia menyukai kamu tapi kamu nggak pernah jujur padanya…”

to be continued…

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

2 thoughts on “Sebelum Dia Pergi (5)

  1. karakter Rei yang sangat lelaki. Sangat lelaki!
    sayang dia egois ya …

    Oh, well… he is!
    Sangat lelaki!
    Sangat… sangat…🙂

    Posted by mascayo | January 25, 2009, 6:00 pm
  2. Terima kasih atas kunjunganya. nuhun

    Sama-sama, Pak Syaiful… Blognya bagus dan edukatif…

    Posted by syaiful | February 2, 2009, 5:49 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

January 2009
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: