you're reading...
Fiktif, Sebelum Dia Pergi

Sebelum Dia Pergi (4)

1/2/3

Sebaliknya, Rei sungguh berbeda dengan aku. Dalam sejarah napas yang kuhitung bersamanya, tak pernah kumelihat ada bunga-bunga yang sengaja mekar dan mewangi di sekelilingnya. Tak pernah terhembus berita tentang dia mencintai siapa, seperti apa yang bisa menarik hatinya, dan apa yang terjadi dengan dunianya sebelum dia masuk ke dalam hari-hariku.

Yang kutahu dia berbeda.
Kaku.
Jujur.
Sederhana.
Apa adanya.

Dia tak pernah menyadari tentang mukjizat Tuhan paling nyata yang pernah kulihat, ada pada dirinya. Kesempurnaan wajah, kesempurnaan tubuh, kesempurnaan hati, kesempurnaan yang nyaris sempurna.

Tak pernah dia menyadari tentang keindahan yang ada pada dirinya. Tak pernah sedikitpun aku mendengar tentang dia melukai hati, memainkan hati, mencubit hati, mengolok-olok hati… tak pernah sama sekali. Atau cerita tentang masa lalu yang membentuk Rei masa kini dengan segala keunikannya yang mempesona, tak pernah sama sekali.

Rei yang kukenal hanya seorang Rei yang:
Kaku.
Jujur.
Sederhana.
Apa adanya.
Dan satu lagi:
Dia tak pernah sudi memberikan hati buat perempuan yang diam-diam menggilainya…

Tapi aku tak pernah mencintai dia karena keindahan yang dia miliki. Entah itu senyumnya yang selalu merebut perhatianku setiap aku melewatinya, atau harum tubuhnya yang menerobos masuk tanpa permisi ke dalam hidungku, atau juga saat dia hanya melirikku sebentar saja dengan kedua matanya yang memabukkan.

Aku mulai mengagumi dia karena satu hal yang paling mendasar, yang anehnya tak pernah kudapati dari mantan-mantan pencuri cinta yang hanya membuat ladangku gersang dan meranggas.

Rei menghargai aku sebagai perempuan yang utuh.
Tak pernah melecehkan.
Tak pernah mencandaiku dengan nakal.
Tak pernah melukaiku dengan kata-kata yang vulgar.
Itulah Rei yang kemudian melambungku ke awang-awang dan membuatku bertahan untuk terus sendiri, sambil bermimpi suatu hari kelak, dia mengucapkan kalimat sakti yang mengakhiri hidup kesendirianku.
Empat kata ini.

WILL.
YOU.
MARRY.
ME.

*

Dan sekarang, dia pergi.
Pamit padaku di saat langit gerimis yang jatuh persis seperti ribuan garis. Kuharap ada sedikit rasa takut, rasa gelisah, karena sebentar lagi dia akan berhenti menemukan sosokku di sudut matanya. Karena sebentar lagi dia akan berhenti mendengar aku bernyanyi, berceloteh riang tentang hal-hal tak penting yang sering kubagi dengannya. Karena sebentar lagi, langit yang dilihatnya adalah berbeda dengan langitku sekarang.
Langit yang tak sama gelap.
Langit yang tak akan pernah sama terang.

Hatiku terkoyak.
Dia seperti tak punya hati.
Aku ingin berteriak dan mengucapkan ribuan kata-kata kecewa yang tersusun sempurna dalam benakku. Tapi ribuan kata-kata yang sama itu, akhirnya harus menjadi penghuni abadi dalam jalinan syaraf otakku.

Di tempat yang sama, saat aku menangis mengutuki sikapnya yang aneh dan menyakitiku tanpa sengaja, sahabatku memelukku lagi. Karena sekali lagi, aku tak bisa berhenti menangis.

“Kenapa kamu nggak bilang sama dia, Luna?”
“Apa? Kalau aku cinta sekali sama dia? Kalau dia adalah satu-satunya lelaki dalam hidupku yang mengajariku tentang cinta yang harus menunggu? Kalau aku menginginkan tubuhnya menjadi tubuh yang terakhir memelukku sebelum tertidur, dan pertama saat aku terbangun?”
“Iya, Luna. Itu. Kamu bilang sama Rei tentang hatimu, mimpimu, cintamu… tapi jangan tertawa. Jangan bercanda. Hilangkan nada tak seriusmu.”
“Tapi aku nggak bisa, Mey…”
“Nggak bisa apanya, Luna? Apa lagi yang menahan kamu untuk nggak bilang sama dia? Apa yang kamu tunggu?”
“Kesiapan hati… barangkali?”
“Kapan siapnya? Waktu nggak bisa menunggu siap nggak siapnya kamu, Luna. Waktu berjalan terus meski kamu kesulitan bernafas dan butuh time out sebentar…”
“Tapi, Mey… aku takut.”
“Takut apa?”

Aku terdiam. Perlahan-lahan kucoba mencari bayang-bayang Rei di setiap sudut hatiku. Ribuan kenangan ikut berloncatan keluar setiap kuucap nama Rei pelan dalam hati. Berlompatan kesana-kemari dengan tarian lincah yang seolah mengejekku yang tak berani.

“Takut apa, Luna?” Mey mendesakku. Matanya menyelidik, membuatku ngeri dan ingin berpaling. Tapi sahabatku itu memang sungguh paling bisa membuatku jujur. Jadi kuputuskan untuk mengungkapkan sekarang.
“Aku takut, Mey…”
“…?”
“…takut… kalau aku tahu… ternyata Rei… nggak pernah mencintaiku…”

Kami berdua membeku sesudahnya.

to be continued…

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

2 thoughts on “Sebelum Dia Pergi (4)

  1. di saat langit gerimis yang jatuh persis seperti ribuan garis
    bener-bener naturalis …🙂

    Dan tahu nggak sih, Mas..
    Aku suka banget sama kalimat gerimis yang jatuh persis seperti ribuan garis..
    nggak tahu kenapa…🙂

    Posted by mascayo | January 25, 2009, 5:54 pm
  2. secarah tidak sengaja kita mempunyai pengalaman yang sama?

    Posted by antoni alfarisi | November 13, 2012, 2:41 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

January 2009
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: