you're reading...
Fiktif, Sebelum Dia Pergi

Sebelum Dia Pergi (3)

1/2

 

Ribuan kali aku berkata,
“Aku cinta kamu, Rei.”

Tak terhitung berapa kali aku bilang padanya,
“Kamu adalah pencuri hatiku sejak pertama kita bertemu…”

Hampir selalu kubisikkan padanya,
“Aku ingin melahirkan anak-anak yang lucu buat kamu, Rei…”

Tapi di setiap ujung kalimat penuh romansa dan rayuan gombal itu, aku selalu menambahkan kalimat-kalimat tak penting, yang melenyapkan efek magis yang mungkin sempat tercipta karena betapa jujurnya aku mengungkap sisi terdalam sebuah hati padanya.

Seperti:
“Ahhh… jangan GR kamu.”
“Becanda, Rei… Aku cuman becanda…”
“Kamu percaya? Wah… aku berhasil dong bikin kamu keGRan…”

Dan seperti biasanya, kalimat itu menggelinding pada suatu ledakan tawa teman-teman yang seolah mendapat pertunjukan gratis setiap aku bersamanya. Lalu dia ikut tertawa. Dan aku ikut tertawa. Ruangan jadi riuh sesudahnya. Tapi mereka tak pernah tahu, jauh di dalam hatiku, aku menangis karena tak pernah punya nyali untuk menghujaninya dengan kalimat yang sesungguhnya.

Aku ingat soal Mey yang pernah memarahiku, beberapa kali, ribuan kali malah, saat aku selalu bercanda dan bermain-main dengan hatinya.

“Kalau kamu selalu bercanda seperti itu, Luna, dia nggak akan mengerti.”
“Kalau dia benar kenal aku, Mey, dia pasti akan mengerti.”
“Kalau dia nggak benar-benar mengenali kamu, dia akan berpikir kamu nggak pernah serius, Luna.”
“Tapi aku serius.”
“Serius? Kalau serius, kenapa kamu sisipkan banyolan tak penting yang mengurangi keistimewaan kata-kata semacam itu, Luna?”
“Aku… aku hanya nggak ingin dia tahu kalau aku mencintai dia.”
Mey menghela nafasnya. Dia tersenyum sinis.
“So, what’s the point?”

I really don’t know…

*

Aku pernah jatuh hati.
Lalu terluka.
Jatuh lagi.
Lalu dikhianati.
Kemudian terbang bersama mimpi.
Lalu dijatuhkan dari tempat tertinggi.

Lelaki datang dan pergi dalam hidupku seolah tak peduli. Mengambil segalanya, lalu mencampakkan begitu saja setelah aku memberikan apa yang bisa kuberikan.

Kuberikan hatiku.
Jiwaku.
Utuh.

Tak pernah ada celah kosong yang kusisakan buat orang lain, yang menjadikannya tempat terliar yang bisa ditumbuhi cinta milik hati seseorang yang bukan kekasihku.

Kecuali celah kecil ini.
Jauh sekali di dalam kegelapan, sempit, hampir tak menyisakan ruang bergerak, tapi selalu teraba nyata.
Entah kenapa.

Meskipun banyak lelaki yang merampas seluruh akal sehatku dan pergi setelah mendapatkan apa yang mereka mau, aku tak pernah membiarkan mereka tahu tentang celah yang gelap ini. Celah yang sempit ini.

Celah sempit, tempat seseorang kubiarkan mengukirkan namanya di sana. Memahat tiga huruf namanya, mematrinya sampai tak bisa terhapus dalam waktu.
Tempat Rei mengisi hari-hariku.
Tempat Rei membuat tangisku cepat mereda karena aku tahu selalu ada dia yang membuatku meyakini akan adanya lelaki baik dan menghargaiku.
Tempat itu, celah itu… tak berdaya kutahan, kini makin menganga luas, dan menempati ruang-ruang yang lain, menyingkirkan lelaki-lelaki lain, kemudian menutup inginku untuk terus berkelana mencari cinta.
Rei membuat aku yang haus akan sentuhan romansa, memburu cinta yang datang untuk melukai, menjadi perempuan tak berdaya yang menunggu.

Dia, satu-satunya lelaki yang pernah hadir dalam hidupku, yang perlahan-lahan menyusup masuk dalam setiap sel darahku, dan berteriak-teriak lantang hampir di setiap waktu sepiku.

“Aku cinta sejatimu… tunggulah aku…”

Dan aku menunggu.

to be continued…

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

5 thoughts on “Sebelum Dia Pergi (3)

  1. itu iseng2 berhadiah mbak…gayanya becanda, tapi kalo yang di tembak mau yah…lumayan..biasanya jaman saya SMA gitu banyak yang pake tak tik begituan…heee

    Wekekekeke..
    mendingan langsung lemparin aja, ya, Mas..
    siapa tahu.. 😀

    Posted by boyin | January 25, 2009, 11:41 am
  2. I luv U 2

    Lho?
    U2 yang Bono itu, kan? 🙂

    Posted by soulharmony | January 25, 2009, 12:23 pm
  3. oh jadi kalo ada yang suka becanda begitu sebetulnya jelas mau ya?
    ugh! betapa o-on nya aku!

    Haha..
    Pelajaran kan, Mas? 🙂
    Emang dulu ada apaan, nih.. cerita dong…

    Posted by mascayo | January 25, 2009, 2:33 pm
  4. aku menunggu…karena aku ingin…
    aku mencintai karena aku mencintai

    Posted by Ria | January 27, 2009, 9:22 am
  5. meyentuh..

    Posted by antoni alfarisi | November 13, 2012, 2:35 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

January 2009
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: